
"Aku baik, Wah kebetulan, aku mau dong, nasi goreng buatanmu!" ucap Safira berbinar senang sambil bertepuk tangan.
DUAR!!
Fajri melotot mendengar permintaan Safira. Bahkan ibu hamil itu terlihat begitu antusias ketika mendapati kehadiran Tono di rumahnya.
"Hmm, maaf, Safira. Mungkin lain kali, soalnya,..."
"Apa kamu menolak permintaanku?" tanya Safira dengan mata yang berkaca-kaca.
Raut wajahnya berubah sendu dan hendak menangis karena penolakan Tono.
"Bu-bukan begitu!" Sanggah Tono cepat.
"Ya sudah. Pulang sana! jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini lagi!" ucap Safira menangis dan berjalan menuju kamarnya.
Fajri menatap Tono tajam. Sementara laki-laki itu terlihat pucat karna memikirkan bahaya yang akan terjadi kepadanya setelah ini.
"Kau berani membuat istriku menangis!" ucap Fajri geram.
Ia menarik kerah baju Tono dengan wajah yang merah padam.
"Ma-maaf, Tuan! ba-baiklah akan saya buatkan nasi goreng untuk, Safira!" ucap Tono semakin pucat.
"Awas saja kalau kau macam-macam!" ucap Fajri mengancam.
Ia masih mengenakan singlet yang mencetak di tubuh atletisnya. Karena Safira baru saja memintanya untuk membuatkan nasi goreng dengan pakaian yang seperti itu. Bukanya di makan, ia malah menyuapi Fajri hingga nasih goreng itu tandas. Bahkan Safira tidak mencoba masakan yang di buat oleh Fajri sedikit pun.
Pria tampan itu berlari mengajar Safira menuju kamar mereka. Sementara Ivanna hanya tersenyum melihat apa yang barusan terjadi.
"Apa kamu serius mau memasak untuk, kakak?" tanya Ivanna.
"Iya, harus bagaimana lagi, dari pada aku di kirim ke antartika!" ucap Tono pasrah.
"Baiklah, mari ikut aku ke dapur!" ucap Ivanna.
Fajira dan Irfan sudah ada di kamar untuk beristirahat. Kemungkinan mereka tidak mendengar keributan yang tengah terjadi di bawah.
Tono segera membuat sepiring nasi goreng spesial untuk Ibu hamil itu. Ia berdecak kagum melihat kemewahan dapur di rumah ini.
Ivanna masih terkekeh melihat Tono yang sudah siap dengan celemek kebanggan Fajira yang bergambar panda, lengkap dengan bebedapa tanda tangan chef terkenal di sana.
Semoga saja, Bunda gak melihat ini. Bisa gawat kalau Bunda bangun!. batin Ivanna meringis.
Tono segera memotong dan menggoreng semua bahan yang sudah ia persiapkan. Ada sosis, bakso, udang, dan telur. Terserah sang nyonya muda menginginkan toping apa, yang penting ia tidak bekerja dua kali.
🌺🌺
"Sayang, jangan nangis ya! Tono lagi memasak di bawah!" ucap Fajri membujuk Safira yang masih menangis.
"Benarkah?" tanya Safira sambil menghentikan tangisnya.
"Iya!" ucap Fajri tersenyum.
"Bukannya tadi?"
"Sudah, aku sudah ngomong sama dia!" ucap Fajri mengelus perut rata istrinya.
"Ya sudah. Yuk, kita ke bawah!" ucap Safira kembali bersemangat.
"Eh, sayang! Kita tunggu di sini saja ya!" ucap Fajri mencegat Safira.
"Kenapa, Mas? Aku mau lihat Tono memasak, seperti kamu tadi!" ucap Safira kembali cemberut.
"Apa nanti kamu akan menyuapinya juga?" tanya Fajri melotot.
"Kok kamu melotot! hua,... hiks,..." Safira kembali menangis sambil memukul Fajri.
__ADS_1
"Aduh, sakit, sayang! Aku gak melotot, mataku memang besar!" ucap Fajri gelagapan dan memeluk Safira.
"Jangan di besarkan lagi, aku takut! Apa aku boleh ke bawah?" rengek Safira penuh harap.
"Boleh, sayang. Tapi jangan dekat-dekat sama Tono, jangan suapi Tono nanti, jangan senyum-senyum sama Tono! aku gak mau anakku mirip Tono!" ucap Fajri menatap Safira lekat.
"Baiklah! Asal kamu juga janji gak boleh, marah!" ucap Safira mengangkat kelingkingnya.
"Janji!"
Jari mereka melingkar satu sama lain. Safira segera berjalan keluar sambil menggandeng mesra suaminya.
"Sayang, kamu mulai bau! lari di tempat dulu!" ucap Safira mengernyit.
"Huh, baiklah!" ucap Fajri pasrah.
Ia harus memastikan jika tubuhnya harus berkeringat agar Safira tidak merasa mual. Fajri harus menyimpan banyak tenaga ekstra untuk memenuhi keinginan Ibu hamil ini.
"Sudah, sayang!" ucap Fajri ngosngosan.
"Hmm, Sudah wangi! Ayo kita jalan lagi, sayang!" ucap Safira bersemangat setelah mengendus aroma tubuh Fajri.
Mereka kembali berjalan dan menaiki lift menuju lantai satu. Aroma nasi goreng khas masakan Tono sudah membelai hidung Safira. Air liurnya seolah sudah menetes tanpa bisa ia tahan, rasa makanan itu sudah terasa di tenggorokannya saat ini.
"Ayo, sayang. Aku sudah lapar!" ucap Safira bergegas.
"Hati-hati! kamu lagi hamil, sayang!" ucap Fajri terpaksa menggendong Safira.
"Ayo, aku sudah gak sabar! untung Dede bawa Tono ke rumah!" ucap Safira terkekeh.
Sementara Fajri hanya bisa cemberut karna cemburu melihat Safira yang begitu antusias dengan kedatangan Tono.
Ah, laki-laki itu meresahkan! aku akan melarang Dede untuk membawanya lagi ke rumah ini!. Batin Fajri menggerutu.
Terdengar gelak tawa Ivanna dari arah dapur, ketika melihat Tono di ceramahi oleh Fajira karna telah berani memakai celemek dan mengobrak abrik dapurnya.
"Maafkan saya, Bunda!" ucap Tono bersimpuh.
"Ihh, Dasar ya kamu! untung karena menantu saya, kalau tidak kamu saya cincang jadi sosis!" ucap Fajira pura-pura garang.
Padahal ia begitu terkejut ketika mendapati Ivanna tengah berduaan dengan laki-laki di dapur.
"Bunda?" panggil Safira yang bergegas untuk turun dari gendongan Fajri.
"Kak? Kamu belum kenyang makan nasi goreng?" tanya Fajira.
"Yang tadi di makan sama Abang, Bunda!" ucap Safira menatap Fajira dengan malu.
Sementara bidadari cantik itu hanya menggeleng melihat kelakuan menantu kesayangannya.
"Apa, nasi gorengnya sudah masak, Ton?" tanya Safira berbinar.
"Sudah, ini silahkan dimakan Tuan Putri!" ucap Tono tersenyum.
"Waah, terima kasih!" ucap Safira yang sudah sangat tidak sabar.
"Mas, sini cobain dulu!" ucap Safira kembali menyuap Fajri.
"Sayang, sudah ya! Aku sudah kenyang!" ucap Fajri memelas.
"Sedikit saja, ihh!" Safira kembali cemberut.
"Baiklah!"
Fajri pasrah memakan nasi itu beberapa suap. Perutnya sungguh sudah kenyang saat ini.
Baru lima minggu kamu hamil, sayang. Ya tuhan, bagaimana nasibku sembilan bulan kedepan!. Batin Fajri meringis.
__ADS_1
"Enak?" tanya Safira sambil melihat Fajri yang begitu menggairahkan.
"Enak, sayang!" Ucap Fajri tersenyum.
"Wah, Tono! boleh sering-sering ya!" ucap Safira mulai memakan nasi goreng itu.
Hap,...
Hap,...
Hap,...
Safira memakan nasi goreng itu dengan lahap hingga keringatnya keluar. Siapa saja yang melihat ibu hamil itu, pasti akan merasa lapar seketika dan merasa ingin makan juga.
"Ah, enak banget!" ucap Safira setelah menghabiskan separoh nasi goreng itu.
"Tono, kamu capek gak?" tanya Safira dan berhasil membuat Fajri was-was.
"Gak, Kok. Hanya saja, aku harus pulang. Soalnya ini sudah terlalu larut!" ucap Tono kembali was-was, ia juga melihat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Sebentar lagi, ya! Suapi aku dulu!" ucap Safira penuh harap.
Duar!
Semua orang melotot mendengarkan ucapan Ibu hamil yang mulai banyak tingkah itu.
"Sa-sayang, biar aku suapi, ya! ingat tadi apa yang aku bilang di atas?" ucap Fajri mengambil sendok yang tengah di pegang oleh Safira.
"Kamu cuma bilang, jangan senyum, jangan dekat-dekat, jangan suapi Tono. Berarti aku boleh dong di suapi sama, dia!" ucap Safira kembali mengambil sendok itu.
Tono, raut wajahnya sudah semakin pucat. Bahkan ia tidak menyadari jika tompelnya sudah tidak menempel lagi di pipinya. Dengan tangan yang gemetaran, Tono mengambil sendok itu dan menyuapi Safira dengan telaten.
Mati aku habis ini. Tuhan, aku masih ingin hidup, tolong selamatkan aku sari amukan, Tuan Fajri!. batin Tono.
Sementara Ivanna dan Fajira hanya bisa menahan tawanya melihat wajah Fajri yang memerah karna menahan rasa cemburu dan emosinya.
"Eh, tompel kamu kemana?" tanya Safira.
"Eh?" Tono meraba pipinya.
Ia mencari di dekat kompor untuk mencari tompel itu. Namun setelah lama, ia tidak menemukan keberadaan benda yang paling berharga baginya.
"Gimana, ketemu?" tanya Fajira tertawa.
"Gak, Nyonya!" ucap Tono pasrah.
"Apa? kamu memanggil saya apa?" tanya Fajira garang.
"Ma-maaf, Bunda!" ucap Tono takut.
Safira dan Fajri melotot mendengar panggilan itu. Apa mereka mendapatkan lampu hijau dari Bunda?. Batin mereka berpandangan.
Fajri segera mengambil sendok, menyuapi Safira dengan perlahan dan romantis. Satu suap, satu kecupan, suap lagi, satu kecupan di barengi dengan usapan di perut rata itu, suap lagi Fajri membisikkan kata-kata yang membuat Safira tersenyum manis dan juga gemas.
Huh, syukurlah. kamu gak jadi ngidam aneh-aneh. Awas kau setelah ini Tono!. batin Fajri menatap Tono tajam.
Hingga nasi goreng itu tandas, Tono segera berpamitan pulang sebelum hal lain terjadi dan semakin membuat nyawanya berada di tepi jurang kematian.
Sementara Safira sudah terlelap, tak lama setelah kepergian Tono. Fajri bisa bernafas lega, karena laki-laki yang meresahkan itu sudah pergi.
Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu, setelah membaringkan Safira. Tubuhnya yang letih di tambah semua keinginan Safira yang aneh-aneh, membuatnya lebih cepat lelah.
Setelah selesai mandi, Fajri langsung naik ke atas ranjang dan memeluk gemas istri cantiknya itu. Baru saja terlelap, tangan Safira sudah meraba kemana-mana.
"Mas, pengen!" ucap Safira lirih.
🌺🌺🌺
__ADS_1
TO BE CONTINUE