
Mobil berhenti di parkiran sekolah Fajri. Irfan segera mengantarkan pria kecil itu menuju kelasnya.
"sekolah yang rajin ya sayang" Ucap Irfan di depan kelas Fajri.
"iya ayah. Aji akan rajin belajar, biar bisa sehebat ayah dan sepintar bunda" Ucap Fajri bangga.
"Anak pintar. ya sudah masuk dulu sana, Ayah mau pergin ke kantor lagi" Ucap Irfan mengusap lembut kepala putranya.
"iya Ayah, salim" Fajri mengulurkan tangannya kepada Irfan agar bisa mengecup tangan kekar itu.
"Hati-hati ya sayang, nanti kalau ada apa-apa cepat beri tahu kepada Ayah ya nak"
"iya Ayah, dada" ucap Fajri melambaikan tangannya.
"dada sayang"
Irfan berlalu dari sana, ia melangkah menuju mobil dan segera pergi ke kantor karna hari sudah semakin siang. Badannya masih terasa bercampur aduk, antara mual dan pusing, ia merasa ingin beristirahat saat ini. Namun ada hal penting yang tidak bisa untuk di tinggalkan.
Hingga di pertengahan jalan, perutnya kembali merasa mual, memberontak ingin segera di keluarkan.
"pak tolong tepikan dulu mobilnya, saya mual" ucap Irfan kepada Pak Budi.
"baik tuan" Ucap Pak budi segera menepikan mobil, dan Irfan langsung keluar dari sana lalu mengeluarkan cairan-cairan yang membuatnya merasa sangat mual.
"hoeekk... hoeek... hoeek...." suara Irfan terdengar.
Ia menarik nafas secara perlahan agar masih memiliki Stok udara di dalam paru-parunya. Nafas sesak dengan rasa pedas yang membuncah karna mengeluarkan sarapannya pagi tadi.
"Tolong ambilkan Baju Fajira di dalam tas saya Pak" ucap Irfan terengah dan masih mengeluarkan isi perutnya.
Driver itu segera mengambil baju yang sudah di siapkan oleh Fajira di dalam tas kerja irfan dan segera menyerahkannya.
"ini Tuan. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Air minum" lirih Irfan.
Ia masih berusaha untuk berdiri dengan bersandar di tepi mobil sambil menghirup aroma yang ada dikeluarkan oleh baju itu.
Sayang, Aku butuh kamu. Mual banget ini. Bathin Irfan yang sangat membutuhkan Fajira.
"pak, parfum di dalam mobil aroma apa?" tanya Irfan terengah-engah.
"Maskulin, Tuan"
"Buang, Ganti dengan aroma mawar. Tapi kita harus pergi ke kantor terlebih dahulu karna saya sudah terlambat"
"baik tuan" Pak Budi segera membuang pewangi mobil itu dan menurunkan semua kaca mobil yang bisa di buka.
Irfan kembali masuk ke dalam mobil dan bersandar dengan lemas sambil mengendus baju Fajira. Ia menutup hidungnya agar bau yang lain tidak masuk, menembus indra penciumannya.
"ke kantor segera Pak!"
__ADS_1
"baik tuan."
Mobil terus melaju hingga berhenti di loby perusahaan. Irfan menjadi pusat perhatian karna kedapatan membawa sehelai baju yang ia jadikan penutup hidung agar terhindar dari aroma yang tidak sedap.
"selamat pagi tuan" sapa ray ketika nelihat keda
"pagi Ray, apa semua sudah datang?"
"sudah tuan"
"Kita mulai saja rapatnya"
Irfan berjalan menuju ruang rapat khusus untuk para pemegam saham. Laki-laki itu hanya menatap heran kepada semua orang yang berada di sana.
Kenapa semua orang menatapku seperti itu? astaga baju Fajira. Tapi kalau tidak di tutup menggunakan ini aku akan merasa mual.
Irfan dilema ketika melihat semua tatapan para pemegang saham menatapnya dengan heran.
"hekm... Apa bisa kita mulai rapatnya bapak-bapak?" tanya Irfan.
"apa anda baik-baik saja tuan?"
"Hemm? ya, sebelumnya saya meminta maaf kepada bapak-bapak semua jika tidak nyaman melihat saya dalam keadaan seperti ini. Kita lanjutkan saja rapat pada hari ini" ucap Irfan sedikit tidak enak.
Ray membuka rapat pada pagi ini dengan baik. Irfan mampu mempresentasikan laporan pendapatan pengeluaran dan hal lain yang di rasa perlu tanpa di tutup-tutupi. Ia juga mampu menjawab semua pertanyaan para pemegang saham terkait proyek-proyak yang tengah di kerjakan oleh perusahaannya. Termasuk proyek pembuatan Mesin Cuci Fajri beberapa waktu lalu.
Namun Irfan hanya menjawab, jika itu di produksi dengan biaya pribadi bukan menggunakan aset perusahaan.
"iya saya juga. Walaupun suara Tuan Irfan terdengar keras, lantang dan jelas"
"Baik lah saya mohon maaf atas ketidak tanaman Bapak-bapak semua!" Irfan melepaskan baju Fajira yang tengah di hirupnya.
Tepat setelah meletakkan baju itu di atas meja, aroma yang tidak enak menyeruak menembus hidungnya, membuat Irfan kembali merasa mual.
"Permisi," ucap Irfan segera.
"hoek hoeek" Suara Irfan di dalam kamar mandi terdengar hingga ke ruang rapat.
Ia bersandar di dinding kamar mandi dan berusaha untuk menopang tubuh lemasnya.
Sayang aku butuh kamu. Batin irfan menjerit.
tok... tok... tok...
"tuan apa anda baik-baik saja?" tanya Ray dari luar.
"tolong baju Fajira Ray"
"baik tuan"
Ray segera mengambil baju Fajira dan menyerahkannya kepada Irfan.
__ADS_1
"mohon maaf sebelumnya, Istri tuan Irfan sedang hamil muda, jadi tuan mengalami cauvade Syndrome. mohon pengertiannya" Ucap Ray sebelum berlalu dari sana.
"tuan, ini bajunya"
Irfan membuka pintu dan mengambil baju itu. Beberapa saat menghirup aroma baju itu irfan merasa sudah lebih baik. Ia segera keluar dari kamar mandi dan menyelesaikan rapat pada pagi hati ini.
Hingga siang menjelang, rapat selesai dengan hasil yang sangat memuaskan untuk para pemegang saham, karna setiap bulannya profitnya pendapatan perusahaan terus naik dan meningkat pesat.
"sekian rapat kali ini, saya pribadi mohon maaf jika bapak-bapak semua merasa tidak nyaman. Mohon pengertiannya" ucap Irfan menutup rapat.
Ia melangkah keluar ruangan rapat dan memilih untuk segera menuju ke ruangannya dan beristirahat.
"Apa kamu sudah selesai sayang? Aku sangat membutuhkanmu" lirih Irfan mulai terlelap diatas sofa ruangannya.
Ddrrtt... ddrrtt...
ponsel Irfan berbunyi, namun karna ia sudah terlelap, maka panggilan itu hanya berlalu begitu saja. Sehingga membuat orang yang tengah menelfonnya sedikit risau.
πΊπΊ
"kemana mas Irfan? apa dia baik-baik saja? sepertinya aku harus ke kantor, kampung perkuliahan masih 2 jam lagi" ucap Fajira melangkah menuju parkiran mobil.
"pak, kita ke kantor mas Irfan"
"baik Nya"
Mobil segera meninggalkan kampus dengan hati-hati karna membawa ibu hamil yang sangat berharga itu. Bisa di amuk tuan Irfan aku kalau nyonya sampai kenapa-napa, bathin pak Sakti menjerit.
Hingga 20 menit Fajira tiba di kantor Irfan. Ia segera menuju ke ruangan suaminya untuk melihat apa yang tengah terjadi. Ia juga tersenyum ramah ketika karyawan yang lain menyapanya.
ceklek...
Ia membuka pintu, pandangan pertama yang ia lihat adalah Irfan tengah berbaring di atas sofa sambil menutup hidungnya dengan baju yang ia bawa dari rumah tadi.
Huft... Fajira seketika merasa lega karna ia sempat berfikir jika Irfan pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.
Ia segera mendekati Irfan dan mengelus kepala suaminya lembut. Fajira menarik baju itu dan melihat wajah pucat Irfan dan mengelusnya pelan lalu tersenyum.
"Mas" panggilnya lembut.
"engh... sayang, kapan kamu datang?"
"baru saja. Bagaimana keadaan kamu?"
"hmm... Aku butuh kamu sayang"
Irfan bangun dari sofa dan segera menggendong Fajira menuju kamar pribadinya dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Fajira yang memang juga menginginkannya tidak menolak sedikitpun keinginan irfan untuk memanjakannya.
πππ
TO BE CONTINUE
__ADS_1