
Hanya beberapa orang pelayat saja yang bisa menemui Fajri untuk berbincang. Mereka tidak menyangka jika Andika adalah orang tua yang beruntung, karna memiliki menantu hebat seperti Fajri.
Namun pria tampan itu, tidak terlalu menanggapi mereka dan hanya fokus kepada Safira, mengikuti kemana gadis itu pergi dan memastikan jika kesedihannya tidak berlarut.
Sepupunya yang lain, begitu gemas karna ingin memaki Safira, namun tidak jadi karna ada Fajri di sampingnya. Sehingga mereka hanya bisa menahan emosi karna melihat gadis itu.
Semakin lama, Safira merasa tidak nyaman dengan perlakuan mereka. Ia terasa asing di dalam rumah itu walaupun semua orang menyapanya.
"Mas, Apa bisa kepergian kita di percepat? Sebenarnya aku masih ingin di sini, tapi perlakuan mereka membuatku tidak nyaman!" ucap Safira lirih sambil memakaikan baju kemeja Fajri.
"Baiklah, kita berangkat sore ini, tolong kemasi baju kita, sayang. Biar nanti, aku yang membereskan pakaian, Dede!" ucap Fajri memeluk pinggang Safira erat dan tersenyum mesum.
"Mas, ayolah! jangan menatapku seperti itu terus!" rengek Safira dengan cemberut.
"Habisnya kamu selalu menggodaku! I Love You, sayang!" ucap Fajri mengecup bibir Safira bertubi-tubi.
"hhmmpphh,... sudah, Mas! nanti kamu kebablasan!" ucap Safira dengan wajah yang merona.
"Bukannya kamu juga,..." Safira membekap mulut Fajri agar tidak berbicara ngawur.
Mereka kembali turun kebawah dan menyapa beberapa pelayat sambil menunggu sore menjelang.
πΊπΊ
Sementara di kediaman Dirgantara, Ivanna tidur bersama dengan orang tuanya. Karna ia juga takut sendiri jika tidak ada Fajri di rumah.
Fajira hanya bisa menghela nafas beratnya karna melihat Ivanna dan Irfan tengah tertidur lelap. Ia begitu mengkhawatirkan suami dan anak-anaknya. Apalagi Irfan yang semakin hari, kondisi jantungnya semakin lemah.
Aku harus apa tuhan?, jika Mas Irfan masih tetap menjalankan aktivitas berat di kantor maka kondisi jantungnya semakin lemah. Tidak mungkin Fajri juga harus mengurus perusahaan, ayahnya. batin Fajira.
Tanpa sadar, air mata Fajira mengalir di pipi mulusnya. Jika ia yang harus terjun mengurus perusahaan, maka siapa yang akan mengurus rumah, sementara Ivanna masih menempuh pendidikan, bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
"sayang?" panggil Irfan dengan suara serak.
Fajira yang tengah duduk di sofa terkejut dan langsung mengusap air matanya, agar Irfan tidak curiga.
"iya, Mas? kamu butuh sesuatu, sayang?" tanya Fajira berjalan menuju ranjang.
"Iya, aku mau di peluk!" ucap Irfan tersenyum.
Tanpa berkata. Ia langsung naik keatas ranjang dan tidur di antara anak dan suaminya
Pagi menjelang, waktu baru menunjukkan pukul 05.15 pagi. Ivanna sudah lebih dulu bangun dan melihat orangtuanya tengah berpelukan. Tidak ingin mengganggu momen itu, ia segera keluar dari kamar, setelah mengecup kening mereka satu persatu.
"Apa aku buat sarapan saja untuk Ayah dan Buna?" ucap Ivanna setelah keluar dari kamar.
"Sesekali bolehlah!"
Ivanna segera menuju kamarnya dan membersihkan diri. Walaupun hatinya masih merasa sedih dan takut, ia tidak ingin larut dalam kesedihan.
Setelah cukup segar, Ivanna segera keluar dan berjalan menuju dapur.
"Pagi, bik!" sapa Ivanna.
"eh, pagi Non, mau ngapain atuh?" tanya bibi.
"Mau bikin sarapan untuk Ayah sama Buna!" ucap Ivanna tersenyum.
__ADS_1
Ia membuat, salad dengan telur rebus, beberapa potong daging dan banana smoothies yoghurt. Hampir 30 menit, Ivanna membuat sarapan itu, akhirnya selesai bersamaan dengan datangnya Fajira.
"Bikin apa, sayang?" tanya Fajira lembut.
"Bikin sarapan, Buna. Dede bikin salad!" ucap Ivanna tersenyum.
"Waah kelihatannya enak. Sini bunda bantu untuk menata makanan di atas meja!" ucap Fajira tersenyum.
"iya, Buna."
Mereka segera menata makanan dan memanggil Irfan yang masih berada di kamar.
"sepi kalau gak ada, Abang!" ucap Ivanna cemberut.
"Banyak berdo'a, dek! Biar kakak bisa cepat hamil," ucap Fajira tersenyum.
"Semoga, nanti Abang dapat anak kembar dan banyak. Jadi rumah uni gak sepi lagi deh!" ucap Ivanna berbinar senang.
"Aamiin. Semoga nanti anak-anak Abang, IQ nya lebih sedikit lah di atas rata-rata 120-150. Jangan seperti kalian, yang selalu membuat Bunda pusing!" ucap Fajira terkekeh.
"Hahaha. Bagus dong, Buna. kalau misalnya Abang bisa punya anak yang lebih cerdas lagi, mungkin Dirgantara Grub bisa menjadi perusahaan terbesar di dunia!" ucap Ivanna terkekeh.
"Tentu, dan kamu memegang 30 persen perusahaan!" ucap Irfan.
"ih, kok Ayah gitu sih? kejam!" rengek Ivanna cemberut.
"Sudah, terima nasib kamu sebagai anak sultan!" ucap Fajira terkekeh.
Mereka menghabiskan sarapan itu sambil mengobrol. Walaupun menyalah aturan, namun hanya itu yang bisa menjadi pengusir rasa sepi mereka. hingga semua makanan yang di buat oleh Ivanna tandas tanpa bersisa.
Sambil mengendarai mobilnya secara otomatis, Ivanna menjawab panggilan video dari Abang dan kakaknya. Wah Ivanna yang tadinya murung, berusaha menjadi ceria karna mendengar jika Fajri akan pulang sore ini.
Hingga mobil berhenti di pusat pelatihan ilmu bela diri terbesar itu. Ia segera keluar dari mobil, tak lupa membawa tas yang sudah berisi perlengkapannya di sana.
"Eh, Nona Muda. Tumben datang nih,Tuan Muda kemana? bulan madu?" tanya Badol sang pelatih.
"Lagi di kampung kakak, Bang! Ntar sore pulang!" ucap Ivanna memperhatikan sekitarnya.
"Udah ada kabar bahagia belum?"
"Belum, bang. Do'ain aja biar aku cepat dapat ponakan!" ucap Ivanna tersenyum.
"Aamiin, apa ponakan kamu juga bisa pintar seperti kalian?" tanya Badol.
"Gak tau! tergantung gimana tuhan ngasih aja bang!" ucap Ivanna berlalu menuju ruang ganti.
Di sinilah Fajri dan Ivanna ketika bela diri sedari kecil. Bahkan Badol pun sudah menganggap mereka layaknya seorang adik, begitu juga sebaliknya.
"Bang, latihan yok! aku pengen nonjok orang!" ucap Ivanna sambil melakukan pemanasan.
"Gila! lo mau nonjok gua?" ucap Badol bergidik dan ia yang sangat hafal betapa kerasnya tonjokan gadis cantik itu.
"Hahaha, Ayolah bang, udah lama gak latihan ini!" ucap Ivanna terkekeh.
"Kalau mau nonjok, tuh ada anak baru. Culun banget tampangnya! kemarin dia baru masuk!" ucap Badol menunjuk pria culun yang tengah mendapatkan pukulan dari pelatihnya.
"Sepertinya aku kenal dia bang!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
__ADS_1
Ia berjalan mendekat kearah cowok itu dan menghadang serangannya.
"Hai, kita ketemu lagi!" ucap Ivanna menyeringai.
"ka-kamu!" Tono semakin pucat ketika melihat Ivanna ada di hadapannya.
Ketika hendak lari, Ivanna lebih dulu menarik kerah baju Tono, sehingga pria culun itu tidak bisa kemana-mana.
"Ngapain kamu di sini, Tono? aku sedang ingin memukul orang sekarang, apa kamu ingin menjadi samsakku?" bisik Ivanna di telinga Tono.
"Ti-tidak, ja-jangan, Nona muda!" ucap Tono ketakutan.
"Duduklah! saya tidak akan memukuli!" ucap Ivanna menarik Tono menuju sudut ruangan dimana ia sering berlatih.
"Siapa yang menyuruhmu untuk datang ke sini?" tanya Ivanna.
"Tu-tuan Fajri, Nona!" ucap Tono takut.
"Panggil Ivanna saja! Kamu beneran mau latihan?" tanya Ivanna.
"I-iya. Mohon bantuannya!" ucap Tono bersujud di hadapan Ivanna.
"Eh jangan seperti ini! Nanti image saya semakin buruk gara-gara perlakuan kamu!" ucap Ivanna sedikit kesal.
"Ma-maaf!" Tono menunduk.
"Kamu beneran ingin belajar bela diri?" tanya Ivanna menatap wajah Tono.
"I-iya, Mohon bantuannya!" ucap Tono mulai berani menatap Ivanna.
"Hal pertama yang di butuhkan adalah keberanian dan percaya diri! Lo harus berani menatap semua orang, buktikan kepada mereka jika lo bukan orang yang lemah. Lo harus percaya diri, jika ada kekuatan atau lelebihan yang terssmbunyi di dalam diri lo!" terang Ivanna.
"Apa lo bisa?" tanya Ivanna
"bi-bisa!" ucap Tono mengangguk dengan kepala yang masih tertunduk.
"Jangan gugup, harus tegas!" teriak Ivanna membuat Tono relflek berdiri.
"BISA!" Teriak Tono lantang dan membuatnya menjadi pusat perhatian.
Ivanna, juga ikut terjingkrak mendengarkan suara bass dari Tono
Glek, suaranya laki banget, gila! lebih laki dari suara Abang!. Batin Ivanna.
"Nah gitu dong! Laki-laki gak boleh lemah!" ucap Ivanna.
Mereka segera memulai latihan dasar ilmu bela diri Tae Kwon Do secara perlahan. Tono yang memang kutu buku dan memiliki otak yang cukup cerdas, dengan cepat memperlajari semua gerakan dasar yang yang di ajarkan oleh Ivanna.
Lumayan juga dia ternyata! Apa aku bantu permak penampilannya juga ya seperti kakak?. Batin Ivanna yang cukup kagum dengan kemampuan Tono.
Mereka terus latihan selama hampir 3 jam. Melihat Tono yang semangat, Ivannapun juga ikut bersemangat untuk melatihnya.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Kalau Ivanna ama Tono gimana ya? π
__ADS_1