Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
142. Kebenaran


__ADS_3

"Apa benar yang di katakan oleh orang kamu tadi mas?" Tanya Fajira pelan kepada irfan.


Saat ini mereka sudah berbaring di atas ranjang. Fajira bersandar pada dada bidang Irfan sambil mengelus perutnya lembut.


"Aku rasa benar sayang, karna mereka gak mungkin menyampaikan berita bohong kepadaku!"


"Benar juga, Mas! Harusnya kalau memang mereka memiliki hutang, pasti akan menerima tawaran kita! ini malah mengatakan aku anak tidak tau di untung! huh dasar manusia yang tidak tau diri!" umpat Fajira.


"Sstt... udah ya! kamu lagi hamil, jangan ngomong yang jelek-jelek, gak bagus sayang!" ucap Irfan menenangkan Fajira.


"Sekarang, istirahat ya. Besok kita bicarakan lagi!" sambungnya.


"Iya, Mas"


Fajira memejamkan matanya, namun ia merasakan sesuatu yang sangat membuatnya terganggu.


"Apa kamu lupa?" tanya Irfan dengan seringainya.


"Hehehe, satu aja ya, sayang. aku sudah sangat mengantuk!" ucap Fajira menguap.


"aiihh... tadi dia katanya..."


"Satu lagi ngutang ya!" cengir Fajira.


Mereka segera melakukan pergulatan panas itu dengan perlahan. Sementara Fajri sudah tidur dengan nyenyak sambil memeluk bantal guling kesayangannya.


Hingga pagi menjelang, mereka masih terlelap dalam selimut tebal dengan saling berpelukan. Udara yang sejuk cenderung dingin, membuat mereka seakan betah berada di dalam kamar tanpa AC itu.


Irfan perlahan mengerjab mata, ia menelisik keadaan sekitar, netranya menangkap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


"Sudah siang, ya?" tanya Irfan. Ia melihat Fajira dan Fajri masih saling berpelukan sambil menjadikan lengannya sebagai bantal.


"sayang, Apa masih ngantuk? sayang?" panggil Irfan membangunkan Fajira dengan membelai perut buncit istrinya.


"Abang, bangun yuk nak! udah siang lo!" ucap Irfan.


"Iya ayah, sebentar lagi! peluk!" rengek Fajri sambil memeluk Fajira.


...🌺🌺...


Tok...tok... tok...


"permisi tuan, Nyonya!" ucap bibi sambil mengetok pintu.


ceklek...


"Ada apa bi?" yang Fajira yang masih mengenakan handuk.


"Di luar ada ibu-ibu yang ingin bertemu dengan Nyonya!" ucap bibi.


"Nanti saya lihat, bi. Saya mau pakai baju dulu!"


"baik 'Nya, saya permisi dulu!"


"iya, bi. Terima kasih."


Fajira kembali menutup pintu kamar dan segera memakai, pakaiannya.


"Siapa sayang?" tanya Irfan yang baru saja memakaikan baju Fajri.


"ada ibu-ibu yang ingin bertemu denganku, Mas. Tapi gak tau siapa"


"Ya sudah. Yuk, kita keluar dulu. Ayah sudah lapar banget. Ini sudah terlalu siang untuk sarapan!" ucap Irfan melihat jam yang menunjukkan pukul 9 pagi.

__ADS_1


Mereka segera keluar menuju Ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu. Namun Fajira memilih keluar agar bisa melihat siapa yang ingin bertemu dengannya.


"kemana sayang?"


"Keluar dulu, Mas! Aku mau lihat siapa yang ingin menemuiku,"


"Apa perlu aku temui?" ucap Irfan khawatir.


"gak papa Mas, Aku bisa sendiri" Fajira tersenyum dan mengelus lembut rahang tegas suaminya.


"Ya, sudah. Hati-hati ya!"


"iya!"


Irfan kembali ke ruang makan, sementara Fajira segera melihat siapa yang tengah menunggunya.


Ibu hamil itu mengintip di balik tirai jendela, memastikan jika mereka yang datang bukan orang jahat.


Matanya membola ketika melihat siapa yang tengah berdiri menatap rumahnya dengan tatapan sendu. Fajira langsung membuka pintu, netra mereka bertemu dengan tatapan haru dan kerinduan yang membuncah.


"ibu?" lirih Fajira.


"Ibu!" teriak Fajira. Ia berjalan cepat menuju wanita paruh baya yang masih termenung itu.


"Fa-fajira? Fajira anakku!" pekiknya berusaha untuk menembus penjagaan ketat yang tengah menghadangnya.


"biarkan dia masuk!" ucap Fajira.


Penjaga membiarkan wanita paruh baya itu berlari mengejar Fajira. Mereka berpelukan satu sama lain menyalurkan kerinduan yang amat dalam.


"Kamu kemana saja nak? ibu sudah mencari kamu sampai ke kota. tapi gak ketemu... hiks... maafkan ibu!" tangis ibu Nurma sambil memeluk Fajira.


"Maafin Jira, bu. Jira harus meninggalkan ibu kena mereka ingin berbuat jahat denganku!" isak tangis Fajira mengundang Irfan dan Fajri untuk menyusul mereka.


"Ibu kita masuk yuk!" ucap Fajira menuntun ibu Nurma untuk masuk ke dalam rumah.


"mereka bagaimana, nak?" ucap ibu menunjuk dua orang warga yang ikut bersamanya.


"Biarkan mereka masuk. Om!" ucap Fajira kepada penjaga.


Mereka segera masuk ke dalam rumah. Fajira masih menggenggam tangan ibu Nurma karna tidak ingin kehilangan wanita paruh baya ini lagi.


"sayang?" panggil Irfan dengan wajah yang bingung.


"Mas, sini! kenalkan dia saudara Bunda. Aku pernah tinggal bersama ibu setelah ayah dan Bunda meninggal," ucap Fajira dengan air mata yang menetes.


"Fajri sini salim dulu sama nenek, sayang!" ucap Fajira memanggil Fajri.


Pria kecil itu menatap Fajira lekat. Ia bahkan tidak menghiraukan perkataan ibundanya itu.


"Aji? salim dulu sama nenek, sayang!" Ulang Fajira.


Pria kecil itu patuh. Ia mencium tangan ibu Nurma dan menatapnya lekat, lalu membandingkan dengan wajah Fajira.


"Bunda mirip sama nenek itu!" ucap Fajri polos.


"Iya sayang, Ini Saudaranya nenek, Sama seperti Oma juga!" ucap Fajira tersenyum manis sambil membelai kepala Fajri lembut.


Irfan masih termenung sambil berdiri di dekat Fajira. Ia merasakan sosok orang tua istrinya ada pada ibu itu. Rasa bersalah muncul, ingin rasanya ia meminta maaf atas apa yang sudah di lakukan kepada Fajira namun ia mengingat masih ada orang lain di sana. sehingga Irfan mengurungkan niatnya.


"Mas?" Panggil Fajira ketika mendapati suaminya masih terdiam.


"sini!" panggil Fajira lagi.

__ADS_1


"I-ibu" ucap Irfan mencium tangan wanita paruh baya itu lama.


Ibu Nurma hanya tertegun melihat siapa yang tengah mencium tangannya. Walaupun ia tidak mengenal siapa laki-laki yang menjadi menantunya ini, namun desas desus mengabarkan jika pria tampan yang ada di hadapannya ini adalah Irfan Dirgantara.


"Ini mas Irfan, Bu. Dia suamiku!" ucap Fajira memperkenalkan anak dan suaminya.


"Terima kasih, nak Irfan. Karna sudah menerima Fajira dan menjaganya dengan baik," ucap ibu Nurma menatap Irfan sambil menahan tangisnya.


"tidak, bu! jangan berterima kasih. Aku lah yang beruntung karna Fajira mau menerima ku, ibu. Tolong restu kami!" ucap Irfan bersimpuh di kaki ibu Nurma.


Fajira terkejut dan membelalakkan matanya melihat perlakuan Irfan kepada saudara ibundanya.


"Jaga anak ibu ya, nak! bahagiakan dia. Fajira sudah banyak menderita setelah kepergian orang tuanya!" ucap ibu Nurma mengelus kepala Irfan.


"iya, Bu. Saya janji akan membahagiakan Fajira" Irfan kembali mencium tangan ibu Nurma. kemuadia ia berdiri dan duduk di atas sofa yang masih kosong.


"Ibu sudah makan?" tanya Fajira lembut.


"sudah, nak! Ibu sudah makan. Jira sudah makan, nak?" Ucap ibu Nurma dengan mata yang berkaca-kaca.


"Belum ibu. Jira tinggal dulu ya, bu. Jira mau sarapan!"


"Iya, nak. makan lah dulu"


Fajira berlalu meninggalkan ibu Nurma dan dua orang lainnya.


...🌺🌺...


"Ibu serius? mereka rentenir?" pekik Fajira terkejut.


"Ia nak, Bahkan kami di paksa untuk meminjam uang kepada mereka dengan bunga yang sangat besar!" Ucap ibu-ibu itu.


"Ternyata benar, mereka membohongiku semalam!" ucap Fajira emosi.


"tenang dulu, nak. Makanya ibu datang ke sini untuk memastikan apakah ini beneran kamu apa bukan!" Ucap ibu Nurma.


"pantas saja mereka bisa hidup dengan baik tanpa bekerja!" Ucap Fajira emosi.


Beruntung Irfan sedang berada di dalam kamar. Entah kenapa pria tampan itu tiba-tiba memiliki pekerjaan yang membuatnya tidak bisa di ganggu oleh siapapun.


"Dia juga sudah menyebarkan gosip yang tidak-tidak tentang kamu. Dia mengatakan, mentang-mentang sudah menjadi orang kaya saudara sendiri tidak di bantu, malah di usir dan bahkan hampir di tembak! ucap ibu-ibu itu mengadukan berita yang sudah tersebar di kampung itu.


"Astaga. Mereka benar-benar! Padahal semalam, paman Sandi mengatakan jika mereka terlilit hutang sebanyak 300 juta, bahkan beliau rela bersimpuh agar aku bisa membantunya!" ucap Fajira emosi.


"Sudah, biarkan saja, Nak! Ingat, kamu sedang hamil!" ucap Ibu Nurma membelai perut buncit Fajira.


"sudah berapa bulan?"


"kalau gak ada halangan, bulan depan sudah lahiran, bu!. Ibu ikut ya sama Jira ke kota! Jira butuh ibu!" ucap Fajira berkaca-kaca.


"Apa suami kamu gak keberatan nak?" Tanya ibu Nurma terkejut.


"Gak bu, Mas Irfan gak akan keberatan!. Ibu ikut Jira, ya!"


"Iya, nak! terima kasih!"


Mereka berpelukan dalam suasana haru. Ibu Nurma merupakan seorang janda tanpa anak. Ia adik kandung satu-satunya dari Bunda Fajira.Dan hanya ia kerabat yang memang benar-benar menerima Fajira di saat masa terberatnya. Namun karna ulah Sandi yang berniat akan menjualnya, ia memutuskan untuk pergi dari kampung dan meninggalkan ibu Nurma sendiri.


Mereka masih berbincang banya hal, hingga siang menjelang. Namun suara sirene mobil mengalihkan perhatian mereka.


"...."


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2