
Ivanna, Fajira dan Irfan susah menunggu kedatangan Fajri di bandara. Sore ini, pesawat pribadi Fajri akan mendarat setelah 18 jam kurang lebih mengudara. Mata ivanna bebinar senang ketika melihat jet pribadi bertuliskan Dirgantara mendarat dengan selamat.
"Ayah, ayo! Dede mau jemput, abang!" ucap Ivanna yang sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Fajri.
"sabar, sayang!" ucap Irfan terkekeh.
Ivanna Cemberut dan memukul pelan lengan Irfan karna kesal. Sementara Irfan dan Fajira hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ivanna yang masih terlihat mengemaskan walaupun usianya sudah beranjak remaja.
Hingga mata cantik itu menangkap kedatangan Fajri. Ivanna langsung berlari mengejar Abangnya dan segera memeluk Fajri dengan erat.
"Dede, kangen!" ucap Ivanna menyandarkan kepalanya di dada bidang Fajri.
"Abang, juga kangen!" Ucap Fajri membalas pelukan Ivanna tak kalah erat.
"Abang, sehat kan di sana?" ucap Ivanna.
"Sehat, Abang sehat, sayang! Ah Abang kangen banget. Yuk kita pulang!" ucap Fajri mengurai pelukan mereka.
"Yuk! Ayah sama Bunda juga sedang menunggu kedatangan Abang di ruang tunggu," ucap Ivanna tersenyum manis dan menggandeng Fajri untuk bertemu dengan orang tua mereka.
"Bunda," panggil Fajri dan segera memeluk bidadari cantiknya.
"Akhirnya, Abang pulang, nak!" ucap Fajira berkaca-kaca sambil mengelus punggung Fajri lembut.
"Ayah," panggil Fajri sambil mengurai pelukannya dari Fajira dan memeluk Irfan.
"Ayah tau, Kalau Abang bisa mengatasi masalah dan menahan hati untuk berjauhan dari keluarga!" ucap Irfan bangga.
"Abang juga banyak belajar dari, Ayah!" ucap Fajri.
"yuk kita pulang!" Ajak Fajira.
Mereka berjalan sambil beriringan menuju loby, dan segera menaiki mobil.
"gimana Abang selama di sana, sayang?" tanya Fajira.
"Abang baik, Bunda. Banyak hal yang terjadi selama di sana," ucap Fajri.
Ia menceritakan apa saja yang ia lakukan, karena Fajri tidak pernah membahas tentang pekerjaan kepada Fajira agar bidadarinya tidak nekat untuk terbang ke jerman sendiri.
"Kenapa Abang gak cerita, nak?" tanya Fajira melotot.
"Maafin abang. Bunda. Abang hanya takut kalau nanti, Bunda kepikiran. Tapi semuanya sudah selesai," ucap Fajri tersenyum.
__ADS_1
Mereka segera pulang menuju ke kediaman Dirgantara. Fajira sudah memasak banyak makanan kesukaan Fajri untuk menyambut putra tampannya itu. Tepat ketika fajri memasuki rumah, aroma semerbak makanan kesukaannya sudah mulai membelai indra penciumannya.
"Abang, bersih-bersih dulu. Habis itu kita makan bersama," ucap Fajira tersenyum sambil mengusap lengan Fajri.
"iya, Bunda. Terima kasih!" Fajri mencium kening Fajira lembut an segera pergi ke kamarnya.
Sementara Ivanna sudah sibuk membuka beberapa box yang di bawa oleh Fajri, sebagai biah tangan dari Jerman. Ivanna mengernyit, ketika ia tidak menemui barang yang bertuliskan namanya, karna Fajri sudah memberi nama untuk setiap bingkisan itu.
"kok untuk aku gak ada?" sungut Ivanna kesal.
"Kenapa, dek?" tanya Fajira.
"Abang membeli banyak barang, tapi udah di namain, untuk dede gak ada!" ucap Ivanna cemberut.
"Mungkin masih di koper Abang yang satu lagi, sabar. Mana tau Abang menyiapkan sesuatu yang lebih besar lagi untuk, dede," ucap Fajira tersenyum.
"beber juga, Bunda. Kalau gitu Dede ke atas dulu!" ucap Ivanna segera berlari menuju kamar Fajri.
"Dek, Abang lagi mandi!" teriak Fajira.
Namun Ivanna tidak mendengarkan ucapan sang Bunda dan terus berjalan menuju kamar Abangnya.
tok,... tok,... tok,...
"Abang? bang, buka dong!" ucap Ivanna tidak sabar.
"Abang, hadiah untuk Dede kok gak ada?, Apa Abang masukin ke dalam koper itu?" tanya Ivanna dan menunjuk koper Fajri.
"Iya, ada di dalam itu, Terus hadiah untuk Dede masih di perjalanan, dari Jerman," ucap Fajri menggantung handuknya dan segera mengajak Ivanna untuk turun ke bawah dan menuju ke ruang makan, karna ia merasa begitu sangat lapar saat ini.
"Perjalanan dari Jerman?, kenapa gak Abang bawa sekalian? Abang pesan online kah?" tanya Ivanna.
"iya, dan Abang pastikan,kamu pemilik pertamanya!" ucap Fajri mengacak rambut Ivanna sambil tergelak.
Gadis manis itu semakin penasran dengan hadiah apa yang di maksud oleh abangnya. Ia cemberut ketika tidak berhasil menemukan jawaban dari dalam otaknya.
Mereka segera makan malam bersama dengan penuh kehangatan. Ivanna yang begitu merindukan Fajri sangat bersikap manja malam ini, ia meminta untuk disuapkan oleh Fajri.
"Dek, makan sendiri, sayang. kalau gak, sini Bunda suapi Dede!" ucap Fajira.
"gak papa, Bunda. Abang juga kangen nyuapin, Dede. apa Bunda juga mau?" ucap Fajri tersenyum.
"eh, kalau Bunda itu jatah Ayah!" sergah Irfan.
__ADS_1
"ish, cemburu masa sama anak sendiri!" celetuk Fajri usil untuk menggoda ayahnya.
Sementara Irfan hanya bisa melotot mendengar ucapan Fajri, yang selalu saja mengejeknya. Namun entah mengapa ia tidak bisa marah kepada anak dan istrinya. Jika pun mereka melakukan kesalahan, pasti Irfan akan membicarakan masalah itu dengan baik.
"bang!" ucap Fajira melotot.
"hehe, Abang bercanda, bunda." Fajri tersenyum.
Mereka menghabiskan semua hidangan yang sudah di buat oleh Fajira hingga tandas. Setelah itu mereka segera pergi ke ruang keluarga untuk sedikit berbincang sebelum beristirahat.
🌺🌺
Fajri membagikan beberapa oleh-oleh kepada para pekerja di rumahnya. Beberapa bingkisan yang sudah ia pesan ketika berada di Jerman. Ada sekitar seratus paket yang akan di bagikan kepada sahabat dan beberapa orang lainnya.
"bang, untuk Dede mana?" kesal Ivanna karna belum mendapatkan Jatah oleh-olehnya.
"kemarin Abang tanya kan, Dede mau Abang bawain apa, Dede jawab, hanya mau Abang cepat pulang. Abang kan sudah pulang, sini peluk!" ucap Fajri menahan senyum sambil merentangkan tangan.
Ivanna yang masih cemberut, membenarkan perkataan Abangnya. Dengan patuh, ia memeluk Fajri yang ada di sampingnya sambil cemberut. Semua orang terkekeh melihat kelakuan Ivanna. Namun, mata gadis itu berbinar ketika melihat Fajri menyodorkan satu kotak perhiasan mewah di hadapannya.
"ini, untuk adik Abang yang paling cantik!" ucap Fajri tersenyum.
Ivanna kembali membenarkan posisi duduknya. Ia menatap Fajri dan kotak itu secara bergantian. pria tampan yang masih melihat adiknya itu terdiam, memilih untuk membuka kotak itu sambil tersenyum.
Terlihat di sana, kalung permata biru yang bernama Oppenheimer Blue itu terlihat begitu cantik dan berkilau. Semua mata terpesona memandang keindahan kalung itu. Fajri segera memakaikannya kepada Ivanna dan tersenyum.
"Jangan bengong, sayang!" ucap Fajri.
"Abang," panggil Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.
"ini cantik banget, terima kasih!" Ivanna membeli memeluk Fajri dengan erat.
Pemandangan itu membuat setiap pasang mata terenyuh karna melihat Ivanna yang begitu dekat dengan Fajri. Mereka mengurai pelukan itu, lalu Fajri berpindah ke tempat Fajira dan melakukan hal yang sama. Ia sengaja membeli dua kalung untuk dua bidadarinya. Sementara Irfan, Fajri membelikan Ayahnya beberapa koleksi jam tangan mahal, langsung dari pabrik pembuatannya.
"giamana, Apa Dede suka?" tanya Fajri.
"suka banget, bang. terima kasih!" ucap Ivanna tersenyum manis sambil melihat kembali kalung itu.
"Ada satu lagi, tapi masih di dalam perjalanan. Itu Abang berikan untuk hadiah ulang tahun, Dede besok. Tapi kadonya sekarang aja ya!" ucap Fajri tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.
"iya, gak papa. Yang penting Abang selalu sayang sama, Dede. Itu aja udah!" ucap Ivanna yang kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Fajri.
Mereka sedikit berbincang sebelum, beristirahat. Ivanna juga menceritakan tentang teman baru yang ia temui beberapa waktu yang lalu. Beruntung ia tidak mendapatkan pertentangan dari siapapun untuk berteman dengan Safira.
__ADS_1
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE