
Setelah melakukan aktivitas panas mereka, Fajira dan irfan masih berbaring di atas ranjang. Perempuan itu masih memainkan jarinya di dada bidang Irfan membuat ukiran abstrak yang tidak jelas. Nafas mereka masih menderu akibat pergulatan panas tadi.
"Mas?" panggil Fajira.
"iya sayang, mau lagi?" Ucap irfan genit.
"iih jangan mancing-mancing, Mas!" ucap Fajira cemberut sambil memukuk oelan dada Irfan.
"hehe, apa kamu hamil Fajri juga seperti ini, sayang?"
"iya bahkan lebih parah mas"
Deg...
"terus bagaimana caranya agar kamu butuh pelepasan?" Tanya irfan iseng.
"kenapa kamu bertanya seperti itu, Mas?" Ketus Fajira dan memunggungi suaminya.
"eh jangan gitu sayang, Aku kan hanya penasaran saja" Irfan memeluk istrinya dari belakang sambil mengelus pelan perut yang sudah terlihat sedikit menonjol itu.
"Aku mau mandi, Mas. Bentar lagi ada kuliah. Aku mau jemput Fajri dulu"
"Apa gak makan siang dulu sama Aku sayang?"
"jam berapa sekarang, Mas?"
"Baru jam 1 siang. masih ada waktu untuk kita makan bersama"
"Apa gak jemput Fajri dulu mas? aku mau makan bersama dengan pria kecilku"
Irfan mengambil ponselnya dan segera menghubungi Pak Sakti untuk menjemput Fajri di sekolahnya, lalu membawa pria kecil itu ke kantor untuk makan siang bersama sebelum Fajira pergi kuliah.
"Mas?" panggil Fajira kembali.
"iya sayang, mau mandi dulu?"
"baju aku gak ada Mas"
"Ada sayang, semuanya sudah aku persiapkan di sini. Ya antisipasi kalau kejadian seperti ini terjadi lagi kan"
"ihh... Ya sudah. Gendong tapi ya"
"iya sayang"
Irfan menggendong Fajira dengan hati-hati menuju kamar mandi. Ia meletakkan perempuan cantik itu di dalam Bath tube dan menyalakan air agar bisa mengisi bak mandi modern itu dan menambahkan beberapa tetes aromaterapi yang sama seperti milik Fajira di rumah.
"Mas, jangan lama-lama ya, Sebentar lagi Fajri akan datang. Aku gak akan bisa menjawab pertanyaannya dengan mudah" Ucap Fajira mewanti-wanti irfan ketika tangan nakal itu mulai beraksi.
__ADS_1
"iya sayang, Kamu juga lagi hamil kan. Aku bantu untuk membersihkan badan kamu ya"
"cuma di bersihkan Mas, jangan yang lain"
"okeh cinta"
Benar saja, Irfan hanya membantu Fajira membersihkan tubuh sintal itu dengan teliti tanpa tertinggal se inci pun. Dengan di bumbui kecup sana kecup sini, Fajira berusaha untuk menahan hasrat yang sangat mudah untuk membara semenjak hamil.
"Mas, sudah! Aku mau bilas lagi. Apa kamu mau aku bantu juga?"
"gak usah sayang, Kamu bisa sendiri kan?"
"bisa mas, Tapi apa gak papa aku duluan?"
"gak papa sayang, nanti kamu kedinginan,"
"Ya sudah"
Perlahan Fajira berdiri dan menyalakan shower untuk membilas badannya. Ia merasa lebih segar setelah berandam sebentar bersama suaminya. Setelah di rasa cukup bersih ia segera berjalan keluar menuju kamar pribadi Irfan.
"Mas, Aku sudah selesai. Aku keluar duluan ya"
"iya sayang" Ucap Irfan tersenyum dan juga ikut berdiri dari sana, lalu membilas tubuhnya sambil memandangi Fajira yang perlahan menghilang di balik pintu.
Kenapa kamu cantik banget sayang, tubuhmu bahkan membuatku selalu ketagihan. Jika aku tidak mengingat kamu sedang hamil mungkin akan aku makan kamu sampai puas. Bathin Irfan sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.
Tak lupa ia juga menyiapkan baju ganti untuk Irfan nanti. Tepat ketika Fajira selesai memakai baju, Irfan keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya. Tubuh yang basah membuat Fajira kesusahan menelan air liur yang tersendat di tenggorokannya.
"Apa kamu mau memegangnya sayang? pegang saja, ini semua milik kamu" ucap Irfan genit yang sudah berada di depan Fajira.
"Mas, Jangan mulai, aku nanti susah mengendalikan hasratku" lirih Fajira dengan wajah yang merona.
"hehehe" Irfan hanya terkekeh lalu memakai bajunya yang sudah di sediakan oleh Fajira.
Setelah rapi mereka segera keluar dari kamar dan di waktu yang bersamaan, Fajri masuk dari luar dengan tersenyum manis.
"Ayah, Bunda" Panggil Fajri.
"iya sayang, udah pulang sekolahnya, Nak?" tanya Fajira, berjalan ke arah sofa di ikuti oleh dua pria tampannya
"sudah Bunda. Aji pikir tadi langsung ke kampus" ucapnya mencium tangan Irfan dan Fajira bergantian.
"Aji sudah makan sayang?" tanya Fajira sambil mengeluarkan bekal yang di bawa dari rumah tadi.
"sudah bunda"
"apa mau makan lagi?"
__ADS_1
"apa boleh?" cicit Aji dengan wajah yang merona.
"boleh sayang, Siapa yang berani melarang anak ayah makan?" ucap Irfan terkekeh geli.
Siang itu mereka makan dengan lahap. Seperti biasa, Fajira menyuapi dua pria tampan itu secara bergantian. Hingga semua makanan itu tandas tanpa bersisa.
"Mas, Proposalku di terima sama dosen, katanya minggu depan aku sudah bisa seminar" ucap Fajira antusias.
"wah, selamat sayang. Akhirnya kamu bisa tamat 3 tahun juga"
"iya Mas, selepas tamat nanti aku akan fokus dengan anak-anak dulu. Agar mereka bisa tumbuh menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua dan memiliki perilaku yang baik juga" ucap Fajira membuat Irfan tersenyum manis menatapnya.
"terima kasih banyak karna sudah mau mengandung anakku, melahirkannya, membesarkan dan mendidik mereka dengan baik"
"itu juga kewajiban ku Mas, kita akan mendidik anak-anak kita bersama nanti"
"iya sayang" Irfan memajukan kepalanya ke arah Fajira dan hendak mencium perempuan cantik itu. Mereka melupakan makhluk kecil yang sudah cemburu melihat ayah dan bundanya mengobrol tanpa menghiraukan dirinya.
"HEKHEEEM..."dehem Fajri kesal dengan keras. Dan sukses membuat dua orang itu terlonjak kaget.
"eh kenapa sayang?" tanya Irfan.
"Apa Aji di jemput hanya untuk melihat adegan uwu-uwu ayah sama Bunda saja?" kesal Fajri mendelik dan melipat tangannya di dada.
"eh gak gitu sayang. Sini Ayah peluk nak"
"Gak mau, Aji mau sama bunda" Fajri beranjak dari kursi singel itu dan berusaha untuk duduk di pangkuan Fajira dan memeluk bidadarinya possesif.
"ini Bunda Aji, Ayah jangan dekat-dekat. Hus hus sana" ucapnya mengusir Irfan.
"Eh gak boleh seperti itu sayang, Dosa lo nak. Minta maaf dulu sama Ayah" sergah Fajira cepat.
"Nanti aja minta maafnya Bunda. Aji mau peluk Bunda dulu" Ucap Fajri mengalihkan pandangannya dari Irfan.
Fajira hanya terkekeh melihat ekspresi Fajri yang sangat mengemaskan baginya. Apa lagi Irfan yang tersenyum masam sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sampai saat ini entah kenapa dua pria beda usia ini saling mencemburui. Padahal ia sudah sah milik mereka berdua. Apalagi Fajri yang sangat tidak terima jika Irfan memilik waktu lebih banyak bersama dengan Fajira di bandingkan dirinya.
Jika sudah seperti ini Irfan akan pusing sendiri untuk membujuk anak genius yang tengah merajuk itu. Membujuk dengan uang? sudah sering di lakukan, dengan harta? apa lagi, apa dengan tiket bermain? Ajilp gak suka bermain Ayah, itu hanya akan membuang waktu. Jawabannya hanya satu.
"Ayah gak boleh terlalu dekat dengan Bunda. Kalau Aji pindah kamar, berarti ayah juga harus pindah ke kamar bawah. Biar Aji di kamar sebelah" begitu ucap Fajri tegas tanpa mau di nego lagi.
Fajira hanya mengusap rahang tegas Irfan seraya berucap sabar Mas.
πππ
TO BE CONTINUE
__ADS_1