
Pukul 10 malam, Fajri tiba di rumah. Hal pertama yang ia lakukan ada pergi ke kamar Ivanna, dan melihat apakah adik kecilnya sudah terlelap atau belum.
ceklek,...
Lampu kamar sudah pudar, Ivanna terlelap hanya di temani oleh lampu tidur yang menerangi di sudut kamarnya. Fajri menghidupkan satu lampu tidur lagi, agar bisa melihat gadis itu tanpa mengganggunya.
Memang benar, semenjak bersama dengan Safira, waktu mereka terkikis begitu saja. Fajri terenyuh etika kembali mengingat perkataan Ivanna jauh sebelum mereka bertemu dengan Safira.
"Abang?" panggil Ivanna yang masih berusia 15 tahun.
"Iya, sayang?" jawab Fajri sambil membelai kepala Ivanna lembut yang tengah bersandar di dadanya.
"Apa Abang akan selalu sayang, sama Dede, kalau Abang sudah menikah nanti?" tanya Ivanna.
"Tentu dong, Abang akan selalu sayang sama Dede sampai kapanpu! Dede juga harus gitu, ya!" ucap Fajri tersenyum dan mengecup puncak kepala Ivanna lembut.
"itu pasti. Ahh, Dede pasti akan senang kalau mendapatkan kakak yang baik seperti, Abang!" ucap Ivanna berbinar.
"Tentu, bukan hanya Dede, semua orang pasti menginginkan hal yang sama!" ucap Fajri terkekeh.
"Seperti apa ya, calon istri, Abang nanti?"
"Apa Dede mau mencarikannya untuk Abang? hahaha, tapi Abang belum terfikirkan untuk menikah, sayang!" ucap Fajri.
"Apa boleh, bang?" tanya Ivanna menatap Fajri dengan serius.
"iya. Abang serius! Abang ingin kamu nyaman sama kakak, gak berantem dan saling sayang. Semoga saja perempuan yang Dede cari .emang berjodoh dengan, Abang!"
"terus, kak Hanna gimana?"
"Abang, gak tau dia dimana sekarang!" ucap Fajri sendu.
"Ah, Abang jangan sedih! nanti Dede carikan perempuan yang cantik, baik, dan pastinya gak akan mempunyai niat buruk untuk keluarga kita!" ucap Ivanna menghibur Fajri.
huft,...
Helaan nafas Fajri terdengar kasar keluar dari mulutnya. Hati yang masih sensitif, kembali berkaca-kaca ketika mengingat hal itu.
Maafin abang, karna belakangan ini Abang hanya sibuk dengan kakak! terima kasih kamu sudah memilihkan, perempuan baik seperti apa yang sudah dede katakan dulu. Abang, sayang kamu sampai kapanpun!. Batin Fajri sambil menahan isaknya.
Namun gerakan Fajri membuat gadis itu terganggu dan bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Abang?" panggil Ivanna serak.
Fajri terkejut dan langsung mengusap air matanya, ketika melihat Ivanna bangun.
"Abang, ngapain di sini?" tanya Ivanna lirih sambil menatap Fajri.
"Maafin, Abang, sayang. Belakangan ini kamu jarang Abang perhatikan!" ucap Fajri memeluk Ivanna dengan lembut.
"Dede, paham dengan apa yang sedang Abang lakukan! Hanya saja Dede takut kalau Abang menikah nanti, waktu kebersamaan kita menjadi berkurang, Dede gak mau di tinggal sendiri!" ucap Ivanna tercekat.
Baik Fajri maupun Ivanna hanya bisa saling memeluk dan menangis satu sama lain.
"Abang, janji akan berbuat adil untuk Dede, kakak dan Bunda! Ingatkan, kalau Abang, sudah terlena, sayang!" ucap Fajri.
"Iya, bang. Asal Abang selalu ada untuk Dede, gak masalah. Dede belum siap untuk menghadapi perubahan dalam hidup kita!" ucap Ivanna.
Fajri merenggangkan pelukannya dan menatap Ivanna lekat. Ia mengusap air mata yang menetes membasahi pipi mulus itu.
"Banyak hal yang akan berubah nantinya, sayang. Tapi rasa sayang abang gak akak berubah untuk, dede! Sekarang tidur dan istirahat, ya! Besok acara lamaran abang akan di laksanakan di panti! Gak mungkin Putri mahkota memiliki kantong mata yang hitam dan bengkak karna menagis!" ucap Fajri terkekeh.
"iihh!" ucap Ivanna memukul pelan bahu Fajri dan kembali memeluk Abang tampannya itu.
"Iya!"
Fajri menemani Ivanna hingga gadis kecilnya kembali terlelap. Barulah ia kembali ke kamar dengan perasaan lega, karna obrolan mereka tadi.
...🌺🌺...
Hari berganti, dan malam pun menjelang, sedari pagi orang suruhan Fajri sudah membersihkan dan mendekorasi panti dengan begitu indah. Saat ini keluarga Fajri baru saja tiba dengan membawa berbagaimana seserahan dan hantaran pihak perempuan.
Beberapa tas dan sepatu mewah, perhiasan, baju, makanan dan perlengkapan lainnya sudah memenuhi lapangan utama panti itu. Sekitar 30 hadiah berjejeran rapi yang di bawa oleh keluarga dan beberapa orang lainnya.
Fajri yang bergandengan dengan Ivanna terlihat begitu tampan dan menawan, begitu juga dengan Ivanna yang dibalut dengan kebaya yang nada dengan yang lain membuatnya terlihat begitu cantik dengan senyum yang tidak hentinya mengembang sedari tadi.
Persetan dengan semuanya! Yang jelas, hari ini aku bahagia, sebentar lagi Abang akan resmi menikah dan aku akan memiliki kakak dan keponakan-keponakan yang lucu. Semoga saja, Abang tidak seperti ayah!. batin Ivanna senang dan senyum manisnya.
Pertunangan yang di adakan dengan jumlah terbatas ini hanya di hadiri oleh beberapa orang saja. Tidak termasuk awak media dan lainnya.
Fajri dan keluarganya sudah berhadapan dengan Ibu panti di tempat yang sudah di sediakan. Wanita paruh baya itu masih tidak menyangka jika putrinya akan menikahi pangeran negeri ini.
"Selamat datang, Nyonya, Tuan dan keluarga!" ucap Ibu yang di dampingi oleh beberapa orang pembina asrama.
__ADS_1
"iya, terima kasih atas sambutannya, Bu. Calon menantuku mana?" ucap Fajira tersenyum.
"Ada, Nyonya, Safira masih di dalam, sebentar lagi akan keluar!" ucap Ibu menahan tangisnya.
Fajri yang sudah duduk di sebelah Irfan menjadi gugup dan berkeringat. Hal itu menjadi pemandangan yang lucu bagi Irfan.
"tenang, Boy! Baru pertunangan saja kamu sudah seperti ini. Apalagi ketika menikah nanti!" bisik Irfan sambil tersenyum jahil.
"Ayah, gak tau sih bagaimana rasanya! dulu saja Ayah memaksa Bunda untuk menikah!" ucap Fajri ketus.
"haha, santai Boy!" Irfan tidak merasa tersindir dengan ucapan anaknya, karna itu memang benar.
Mereka sedikit berbincang sambil menunggu Ivanna yang tengah menjemput Safira untuk keluar dari persembunyian.
Sementara itu di dalam kamar, Safira masih begitu tidak menyangka, jika ia adalah seorang pemenang. Mengalahkan jutaan wanita yang berjuang dengan susah payah untuk mendapatkan Fajri.
Aku akan bertunangan, sebentar lagi akan banyak wanita ataupun orang lain yang akan menatapku berbeda. Aku harus siap dengan semua ucapan mereka yang akan menjatuhkanku. Aku memiliki kak Fajri! Jangan takut Safira, tuhan sudah mengangkat derajatmu jauh lebih tinggi. Batin Safira berusaha untuk menahan tangisnya.
Ia terlihat begitu cantik dengan kebaya putih dengan batu permata yang terselip pada baju bagian depan. Batu rubi berwarna merah itu menjadi penanda jika ia adalah calon Nyonya Fajri.
"kak?" panggil Ivanna lembut dan tersenyum.
"Dek? keluarga kamu sudah datang?" tanya Safira.
"Sudah, kak. Yuk kita keluar, mereka sudah menunggu!" ucap Ivanna membantu Safira untuk berjalan.
"Kakak terlihat sangat cantik, Aku yakin Abang akan terpana dan salah tingkah melihat, kakak nanti!" ucap Ivanna yang kagum menatap calon kakak iparnya.
"Hehe, apa kakak segitu cantiknya sampai membuat Abang terpana?" ucap Safira tergelak dan berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"hahaha, yuk kita lihat saja!" ucap Ivanna yang tak henti tertawa.
Mereka berjalan dengan Safira yang berada di tengah, diapit oleh Ivanna dan satu anak panti. Semua mata tertuju kepada gadis-gadis cantik itu. Terutama Safira, ia seolah tengah mengeluarkan aura kecantikan yang terpendam selama ini. Mereka melangkah dengan hati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Benar saja, Fajri begitu terpana melihat kecantikan Safira. Matanya tidak berkedip sedikitpun hingga gadis itu duduk di hadapannya. Wajah tampan Fajri memerah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dia, dia istriku, wanitaku! ya tuhan kenapa Safira cantik banget!. Batin Fajri terpana
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
__ADS_1