Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
199. Desa Selimut


__ADS_3

Cukup lama mereka di menempuh jarak yang cukup jauh, bahkan setelah mendaratpun, perjalanan harus dilanjutkan lagi dengan menempuh jalur darat.


Kenapa tidak menggunakan helikopterku saja? kenapa harus memilih jet pribadi untuk sampai ke sana?. Bathin Fajri hanya bisa pasrah dengan pilihan sahabatnya.


Perlahan mobil jeep yang membawa mereka sampai di Desa Selimut. Hawa dingin mulai terasa membelai tubuh mereka. Kenji yang hanya memakai celana pendek langsung menggigil kedinginan karna suhu disana hampir mendekati 0 derajat celcius.


"Gila, dingin banget sih! Berhenti dulu ya, ambil celana!" ucap Kenji menggigil.


"Nanti saja berhentinya kalau sudah sampai di Desa. Tadi dibilangin gak dengar! sok-sok pernah tinggal di antartika!" ketus Fajri yang melihat hutan belantara itu mulai terselimuti kabut.


"Ya, kan biasanya gitu, Ji! aku gak nyangka kalau ada tempat sedingin ini di Indonesia !" ucap Kenji.


Fajri segera membuka jaketnya dan memberikan kepada Kenji agar bisa menutupi kaki pria tampan itu. Beruntung Fajri sudah memakai sweater tebal, sehingga ia tidak terlalu merasa kedinginan.


Desa Selimut sangat sering di tutup oleh kabut tebal, yang terasa sangat alami tanpa tersentuh oleh kehidupan modern di sana. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, Fajri dan boybandnya tiba di sana. Mereka di sabut oleh beberapa orang warga dan kepala Desa yaitu Kosih Sugandian putrinya Aleya.


"Selamat datang, di Desa Selimut, Tuan Fajri. Sebuah kehormatan bagi saya bisa menyambut kedatangan anda dan yang lainnya, di desa kami ini. Saya Kosih Sugandi, kepala desa di sini," ucap Pak Kosih menjabat tangan Fajri dan sahabatnya bergantian.


"Iya Pak. Terima kasih atas sambutannya, Pak. Ke depan, kami mohon bimbingan dari bapak agar proyek ini bisa berjalan dengan baik!" ucap Fajri ramah.


"Iya, Tuan Fajri. saya mewakili warga desa, mengucapkan beribu terima kasih kepada tuan-tuan sekalian, karna proyek ini sangat kami butuhkan, Semoga Anda bisa betah selama berada di sini!" ucap Kosih.


"Hendaknya proyek ini berjalan dengan semestinya dan bergerak sesuai fungsinya. Tentu kami juga mengharapkan dukungan dari masyarakat agar rumah sakit kita bisa berdiri dengan kokoh di sini!" ucap Fajri.


Mereka berjalan menuju rumah yang tampak mirip seperti joglo itu, sambil menyapa dan berkenalan dengan warga yang ada di sana. Sesampainya di Rumah Joglo, mereka segera membagi kamar untuk di tempati.


Boy dan Fajri satu kamar, Rion dengan Dion, kenji dengan Rana. Sepeninggalan, boy dari kamar itu. Fajri membongkar bawaan yang sudah di siapkan oleh Fajira sebelum keberangkatannya. Ia tersenyum karna semua kebutuhan yang ia lupakan ada di sana. Dua buah jaket tebal, beberapa pasang kaos kaki tebal, topi rajut, sarung tangan, cemilan dan lainnya.


Ia tersenyum ketika melihat satu boneka kecil milik Ivanna yang terselip di dalam koper itu, matanya berembun ketika melihat secarik kertas yang di tulis oleh Ivanna.

__ADS_1


"Abang, yang sehat ya di sana. kalau Abang sempat dan ada waktu, hubungi Dede ya, Dede pasti akan sangat rindu dengan Abang. Cepat pulang, Dede kesepian kalau Abang gak ada. Love You, Abang"


Begitulah isi surat kecil yang terselip dia alam boneka itu. Fajri mengambil dompet, dan menyimpan kertas itu di dalamnya.


"Semoga waktu dua bulan ini bisa belalu lebih cepat, dan kita bisa bertemu secepatnya, sayang!" ucap Fajri tersenyum.


Ingin sekali ia melakukan hal yang sama seperti Boy, pergi ke gunung atau ke bukit untuk mencari signal agar bisa menghubungi keluarganya. Namun Fajri adalah orang yang sangat menghargai budaya orang lain, sehingga ia lebih memilih untuk menahan hatinya.


Setelah beristirahat, Fajri dan yang lain memilih untuk berkeliling dan menyapa warga. Ketika hendak berjalan di depan puskesmas, mata Fajri menangkap sosok perempuan. Ketika Ia mencoba mengejarnya, namun entah kemana gadis itu pergi, bahkan Fajri tidak menemukan satu orangpun ada di sana.


"Kenapa, Ji?" tanya Boy mengernyit.


"Eh? gak papa. tadi Aku melihat orang di sini. waktu aku cek dia sudah tidak ada," ucap Fajri menerangkan.


"Mungkin perasaan kamu saja! yuk kita jalan. yang lain sudah jauh di depan!" ajak Boy


"iya!"


Mereka melihat lahan itu sudah bersih dan siap untuk membangun. Beberapa kontraktor sedang bergerak untuk meratakan lahan itu dengan baik.


"Apa besok mereka sudah sampai?" tanya Rion.


"semoga saja, aku gak tau bagaimana kondisi peralatan itu sekarang, tetapi tadi pagi mereka sudah sampai di perbatasan kota, mungkin besok sudah bisa datang," ucap Fajri melihat buku catatannya.


"semoga mereka baik-baik saja!" ucap Dion.


"Terus untuk mesin pertanian, kapan akan datang, Ji?" tanya Boy.


"mungkin dua minggu lagi. Sebab mereka harus dikirim terlebih dahulu dari Jerman ke Indonesia. Semua surat-suratnya juga sudah aku selesaikan!" ucap Fajri.

__ADS_1


"syukur lah, lebih baik kita bergerak dengan cepat, agar proyek ini juga bisa berjalan dengan baik!" ucap Boy datar.


...🌺🌺...


Malam menjelang, Fajri berjalan sendiri menuju rumah Pak Kosih untuk mempertanyakan sesuatu. Ia ingin memastikan siapa dokter yang ada di puskesmas desa ini.


"Selamat malam, pak!" ucap Fajri tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"eh, Tuan Fajri. Selamat malam!" ucap Kosih menjabat tangan Fajri.


"hmm, apa bapak sedang sibuk? Ada yang ingin saya tanyakan," ucap Fajri.


"silahkan, apa yang ingin, Tuan Fajri tanyakan kepada saya?" ucap Kosih tersenyum.


"Hmm, begini pak. Apa puskesmas itu ada dokternya? maaf, tadi siang saya kebetulan lewat di di sana dan melihat seseorang, namun ketika di cek, saya tidak menemukan satupun orang di sana, Pak!" ucap Fajri membuat Kosih tersenyum.


"Iya, Puskesmas itu ada dokternya. Di bagian belakang, kami memang sudah menyediakan beberapa kamar untuk para dokter yang bertugas di sini. Ada dua orang dokter, satu dokter tetap di sini dan satu lagi dokter yang mendapatkan tugas dari kota. Jika, Tuan Fajri ingin berkenalan dengan mereka. Besok anda bisa berkunjung ke puskesmas, untuk berkenalan dengan dokter yang ada di sini," ucap pak Kosih.


Fajri haya mengangguk, mereka kembali bercerita banyak hal mengenai pembangunan desa. Fajri cukup terkesima melihat pak Kosih yang mau bertukar fikiran dan menerima saran Fajri yang sekiranya ia butuhkan untuk desa ini.


Orang di sini sangat pintar, masih menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya mereka, tapi kenapa tidak ada satupun masyarakat yang ingin menyicip sedikit saja kecanggihan teknologi selain dari puskesmas. Semoga desa ini selalu tenang tanpa adanya gangguan dari angan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bathin Fajri.


Karna malam semakin larut, Fajri memutuskan untuk pamit dan kembali ke kamarnya yang berada tak jauh dari sana.


Setibanya di kamar. Fajri membuka ponsel dan melihat beberapa video kebersamaan keluarganya. Apalagi ketika ia berasama dengan Ivanna. Mata pria tampan itu kembali berembun, ia sudah sangat merindukan adik cantiknya itu.


"tunggu Abang pulang, ya!" ucap Fajri.


Tak lama ia terlelap di samping Boy. Memasuki alam mimpi, berharap ia bisa bertemu dengan keluarganya di sana.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2