Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
227. Hasil Tes DNA


__ADS_3

Setelah kepergian Andika dan Hersy. Pecah sudah tangis Safira hingga ia pingsan. Fajri menjadi panik dan menelfon dokter, Fajira, Ivanna dan siapa saja yang di rasa perlu. Sehingga orang yang di telefon oleh Fajri datang berbondong-bondong masuk ke dalam gedung itu.


"Bang, Safira kenapa bisa pingsan?" tanya Fajira bengis.


"Bunda, yang penting istriku bangun dulu! nanti abang ceritakan!" ucap Fajri memohon.


Sudah ada dokter yang tiba lebih dulu di bandingkan Fajira, namun gadis itu belum juga bangun dari pingsannya. Tergambar raut wajah yang begitu khawatir di wajah Fajri saat ini, sama khawatirnya ketika mendapati Ivanna ataupun Fajira yang sakit.


"Engh, hiks,... kakak?" lenguh Safira ketika bangun dari pingsannya dan kembali menangis.


"Aku di sini, sayang! aku disini!" Fajri mendekap Safira dengan erat.


Walaupun ia tidak sepenuhnya bisa merasakan bagaimana perasaan Safira. Tetapi Fajri hanya bisa memberikan kehangatan untuk calon istrinya itu.


Hingga Safira sudah merasa tenang dan terlelap, berulah Fajri merasa lega. Gadis itu hanya menangis tanpa bertanya atau berbicara sedikitpun. Ia membaringkan Safira di atas sofa dan mengambil bantal, lalu menyelimuti gadis cantik itu.


Di dalam ruangan Fajri, sebenarnya ada kamar khusus di sana. Namun, Fajri takut untuk meninggalkan Safira dalam keadaan yang seperti sekarang, sehingga ia hanya membaringkan Safira di sana. Beruntung Aksa datang lebih cepat, sehingga ia bisa menggantikan Fajri untuk bertemu dengan klien lainnya.


"Bang, apa yang terjadi?" desak Fajira yang sudah tidak tahan.


"Tadi ada orang yang datang mengaku sebagai orang tua Safira, Bunda. Ternyata saat kami mulai berbicara, Safira sudah ada di luar dan mendengarkan semuanya. Abang yakin jika Safira tengah terguncang saat ini!" ucap Fajri lirih


BRAK!!


Ivanna datang sambil mendobrak pintu ruangan Fajri dengan raut wajah tegang dan cemas.


"Gimana keadaan kakak, bang?" pekik Ivanna berjalan mendekat ke arah Safira.


"Apa mereka sudah datang?" tanya Ivanna dan membuat Fajri dan Fajira mengernyit.


"apa maksud, Dede?" tanya Fajri.


"Dede baru saja menemukan orang tua kakak, bang!" ucap Ivanna lirih.


Deg!


"kamu serius, dek? jangan bercanda!" ucap Fajri tegas.


"Apa pentingnya Dede bohong dalam kondisi seperti ini, bang!" ucap Ivanna tak kalah tegas.


"Dede, hanya ingin melihat kakak bertemu dengan keluarganya, karna setiap apapun perlakuan Bunda sama Dede, pasti raut wajah kakak berubah sendu. Jadi Dede mengerahkan beberapa orang untuk mencari tau, dan tadi Dede baru menemukan siapa orang tua, kakak!" ucap Ivanna lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


"siapa, dek? siapa orang tua kandung, kakak?" desak Fajri.


"Pemilik T-group kak. Andika Hasibuan, dan Dede baru mengetahui ini sebelum menelfon abang tadi!" ucap Ivanna.


Deg!


Mata Fajri dan Fajira melotot, mendengarkan ucapan Ivanna tentang siapa orang tua Safira.

__ADS_1


"Dede, gak tau jika kakak lebih dulu mengetahuinya! Maafin Dede!" ucap Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa karna ini tagihan Dede selalu bengkak?" tanya Fajira yang berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar.


"ia, Buna. Tabungan Dede juga gitu!"


"gak papa, asal apa yang Dede kerjakan itu bermanfaat, untuk orang lain dan Dede sendiri!" ucap Fajira tersenyum dan mengelus kepala putrinya.


Ivanna menceritakan bagaimana proses untuk mendapatkan sedikit DNA dari Andika dan Hersy. Mulai dari meminta bawahannya untuk menjadi tukang cukur gadungan, ataupun menyamar sebagai orang gila dan sengaja menarik rambut ibu hersy agar bisa mendapatkan 1 helai saja, karna untuk mendapatkan darah itu sangat tidak mungkin.


Lagi-lagi, Fajri merasa bangga dengan adiknya ini. Hati yang begitu tulus dan penyayang, menjadikan Ivanna perempuan yang mau membantu siapa saja tanpa pandang bulu, apalagi kakak iparnya sendiri.


"Sini, peluk Abang dulu!" ucap Fajri merentangkan tangannya.


Ivanna dengan senang hati berhambur masuk ke dalam pelukan hangat itu. Ia tersenyum, karna ia tau jika Fajri tengah merasa bangga kepadanya.


"Terima kasih, sayang! terima kasih banyak!" ucap Fajri memeluk Ivanna erat.


"Bukankah, sudah seharusnya Dede berbuat seperti itu? Dede hanya mencontoh apa yang sudah Dede lihat selama ini!" ucap Ivanna berkaca-kaca.


"Bunda gak dipeluk juga?" ucap Fajira pura-pura kesal, padahal di dalam hatinya begitu senang dan bersyukur.


"Peluk dong!" ucap Ivanna dan Fajri memeluk bidadari cantik itu.


"Apa Bunda gak jadi memberikan Dede, adik?" celetuk Ivanna dengan tatapan penuh harap.


"hehehe, Ayah sudah vasektomi sayang. Gak mungkin lagi untuk punya anak!" ucap Fajira tersenyum.


"Tapi tenang saja, sebentar lagi, Dede akan jadi aunty, tapi tunggu Abang menikah dulu!" ucap Fajira tersenyum.


"Ah, iya. Bang nanti kasih Dede ponakan yang banyak, ya! jangan 2 atau 3, empat deh minimanya!" ucap Ivanna santai.


Fajri melotot mendengarkan celotehan adiknya. Apa dia fikir, melahirkan seperti menghembus balon apa? empat minimal pula!. batin Fajri


"Bilang sama kakak, nanti. Abang gak mau membebani kakak dengan jumlah anak, sayang! karna hamil, melahirkan dan membesarkan anak itu bukan perkara mudah! betulkan, Bunda?" ucap Fajri.


"iya, sayang. Dulu Ayah sampai pingsan ketika Bunda melahirkan, dede!" ucap Fajira terkekeh.


"Iyakah? wah pantas saja Ayah gak mau lihat Buna melahirkan lagi! Apa Ayah mengalami trauma, Buna?" tanya Ivanna.


"sepertinya iya! makanya Bunda pun mengalah, dari pada terjadi sesuatu yang lebih parah?" terang Fajira.


Mereka berbincang sambil menunggu Safira terbangun. Bahkan jadwal istirahat dan makan siang terlewati begitu saja oleh mereka. Fajri memesan makan siang untuk mereka, walaupun sudah terlambat.


🌺🌺


Tiga hari berlalu, saat ini mereka tengah berkumpul di rumah mewah keluarga Dirgantara. Ada Andika dan Hersy, Ibu panti dan Safira yang hadir di sana.


Raut wajah tegang tergambar jelas di wajah mereka. Berbeda dengan Fajri dan Ivanna yang sudah mengetahui segalanya. Sudah ada dokter yang tempo hari mengambil sampel untuk di uji, dengan membawa surat yang masih tersegel.

__ADS_1


"Apa bisa kita mulai, Tuan, Nyonya?" tanya dokter itu.


"Silahkan, dokter!" ucap Fajri sambil menggenggam tangan Safira lembut.


Sementara Ibu juga sudah berkaca-kaca, sembari menggenggam tangan Ivanna. Ia sedikit tidak rela, jika Safira sudah menemukan orang tua kandungnya. Bagaimana tidak, Ia menemukan gadis cantik itu di depan pagar, dan hampir saja sekarat. Ia besarkan seperti anak sendiri dan sekarang harus kembali kepada orang tuanya.


"Hasil laboratorium menyatakan, Jika Nona Safira Putri memiliki kecocokan DNA dengan bapak Andika dan Ibu Hersy sebanyak 99 persen. Ddlengan hasil ini, menyatakan bahwa Nona Safira adalah anak kandung dari bapak Andika dan Ibu Hersy!" ucap dokter itu tegas.


Deg!


Jantung Safira seolah berhenti berdetak ketika mendengarkan pernyataan dokter itu.


Me-mereka orang tuaku?. Bathin Safira dengan air mata yang menetes.


Sementara Andika dan istrinya menangis haru dan saling berpelukan. Akhirnya setelah 20 tahun berpisah, akhirnya mereka di pertemukan kembali.


Sementara Ibu tidak bisa lagi menahan air matanya, ia masih belum bisa melepaskan Safira untuk siapapun, karna ia begitu menyayangi Putri kecilnya ini.


"Sayang?" panggil Fajri lembut, sambil menyadarkan Safira dari lamunan gadis itu.


"Kak? hiks,... orang tuaku masih hidup!" ucap Safira menangis tersedu.


Andika dan Hersy mendekati Safira yang masih menutup wajahnya menggunakan tangan. Fajri beranjak dan memberi ruang untuk mereka


"Safira, anakku?" ucap Hersy meraih tangan Safira.


Gadis itu menurunkan tangannya dan menatap dua orang paruh baya yang ada di hadapannya.


"Mama?" bibir kecil itu bergetar, ketika pertama kali menyebut kata Mama.


"iya, nak. Ini Mama, ini Mamamu!" ucap Hersy mencoba untuk memeluk Safira.


Gadis itu langsung berhamburan memeluk wanita paruh baya yang ada di sampingnya.


"Mama! Fira rindu!" ucap Safira semakin terisak.


"Mama juga, nak!" ucap Hersy sayang sudah menangis.


Sementara Andika tidak mampu lagi untuk berkata ia hanya memeluk dua perempuan yang begitu ia cintai. Menyalurkan kehangatan dan cinta yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.


"Anakku, anakku, anakku!" hanya itu kata yang keluar dari mulut Andika.


Tangis haru seketika menyelimuti rumah itu, Fajira pun juga sudah terisak di dalam pelukan Irfan. Ia juga teringat kepada orang tuanya yang sudah lama tiada.


Sementara Ivanna berusaha untuk menguatkan Ibu yang terlihat masih belum bisa mengikhlaskan Safira. Ia hanya berusaha untuk memberikan kekuatan dan mengatakan jika Safira akan tetap menjadi anak ibu sampai kapanpun.


Fajri memberikan ruang dan waktu, kepada keluarga Safira untuk berbincang di kamar tamu dan beristirahat sejenak.


Begitu juga dengan Ibu, yang sudah beristirahat di kamar Ivanna.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2