Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
207. Jangan Ganggu Kakak Iparku (Ivanna)


__ADS_3

Fajri merasa lega setelah mengobrol dengan ibundanya. Fajira memang selalu bisa membuatnya lebih mudah untuk mengambil keputusan.


"Masih banyak waktu untuk memikirkan hal seperti itu, sayang. Atau Abang mau menikah muda?" ucap Fajira mengelus kepala Fajri lembut.


"Coba yakinkan hatimu, apa Abang benar mencintai Hanna, atau hanya sekadar rasa sayang antara adik dan kakak?"


"Bunda rasa, Safira juga bisa menjadi kandidat calon istrimu, dia gadis yang sopan, rendah hati, pintar juga. Apa Abang pernah melihat pandangan matanya? begitu tenang dan meneduhkan. Bukankah dia juga memiliki mental yang kuat. berbeda dengan Hanna,"


"Zwetta? apa, Abang menyukainya? Bunda gak masalah, siapapun pilihan Abang nanti. Yang paling utama adalah prilakunya, Bunda gak mau punya menantu sombong dan tidak memiliki etika. Tetapi jika Zwetta yang kamu pilih, Bunda juga setuju. Asal dia memiliki etika yang bagus, dan menghargai orang lain. Kenapa begitu, dia orang luar nak, budaya kita berbeda dengan dia. Kita gak tau bagaimana prilakunya di luar sana, kalaupun abang lebih memilih Zwetta, sebelum kamu bawa menghadap, ayah dan Bunda, pastikan dia memiliki etika yang bagus. Atau bunda coret dari daftar calon mantu! "


"coba fikirkan lagi, Abang itu orang yang memiliki pengaruh besar, bahkan dunia pun, mengakui keberadaan Abang. Jangan sampai salah dalam memilih pendamping hidup nanti!"


Begitulah ucapan Fajira yang membuat Fajri bisa berfikir. Bagi pria tampan itu, cinta adalah hal yang begitu ribet dan membuat sakit kepala.


"Apa benar rasa Aji kepada kak Hanna hanya perasaan antara adik dan kakak?" tanya Fajri.


Ia berbaring di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar. Memikirkan hal-hal mengenai cinta yang tidak akan ada habisnya. Bahkan saat ini ia membiarkan berita semalam naik begitu saja, dan sudah masuk ke dalam pemberitaan Asia dan Eropa.


Drrtt,... ddrrtt,...


Ponsel Fajri berbunyi, ia segera mengangkat panggilan itu.


"Halo?" ucap Fajri.


"kak? kakak di mana?" tanya Safira terdengar ketakutan.


"Aku di rumah, Fi. Ada apa?" ucap Fajri yang merasakan ada yang tidak beres.


"Kak, tentang video semalam, mereka mengetahui siapa aku! sekarang wartawan sedang berkerumun di depan pagar rumah, kak!" ucap Safira.


deg,...


"Kamu serius?" pekik Fajri.


"iya, kak!"


"Ya sudah, kamu jangan keluar ya!. Nanti akan saya minta orang untuk menjaga kamu!" ucap Fajri berusaha untuk menenangkan Safira.


"iya, kak. terima kasih!" terdengar Safira bernafas lega.


"Safira?"


"iya, kak?"


"apa kamu minder?" tanya Fajri,dan membuat Safira terdiam.


"Aku, aku hanya takut mereka membullyku lagi kak!" ucap Safira lirih.

__ADS_1


"jangan takutkan apapun, karna kamu memiliki aku!" ucap Fajri.


Krik,... krik,...


Hening, bahkan Fajri pun terkejut dengan ucapannya sendiri.


"Kak, sepertinya kakak butuh istirahat. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi!" ucap Safira lirih.


"i-iya." ucap Fajri dan menutup panggilan itu.


Ia termenung dengan wajah yang mulai merona.


"Apa yang aku katakan tadi? kamu memiliki aku? ah Fajri jangan sampai kamu membuat seorang permpuan berharap!" ucap Fajri berguling-guling di atas kasur.


Fajri mengambil kembali ponselnya dan menghubungi beberapa orang untuk menjaga rumah yang di tempati oleh Safira.


🌺🌺


Sementara itu di kampus, Ivanna tersenyum ketika melihat wajah para Fans fanatik abangnya. Mereka melihat Ivanna dengan berbagai macam ekspresi. marah, sedih, cemberut bahkan menangis.


Rasain kalian, dasar tukang halu! enak aja ngaku-ngaku jadi kakak iparku, gila!. Bathin Ivanna tersenyum senang.


Tanpa ia sadar begitu banyak wartawan yang memberondong dirinya. Terutama wartawan kampus yang ingin menaikkan rating blog mereka.


"Nona Ivanna, bisa minta waktunya sebentar?" ucap mereka berbondong-bondong.


"Nona Muda. Bisakah anda memberitahukan siapa calon kakak ipar yang anda maksud?" tanga mereka masih mengejar Ivanna.


Ivanna berhenti, ia sudah menyangka jika ini akan terjadi. Ia tersenyum manis dan berhasil membuat semua wartawan laki-laki itu terpesona hingga tanpa sadar air liur mereka menetes.


"Apa identitasnya sudah di ketahui?" tanya Ivanna ramah dan tidak seperti biasanya.


"sudah, Nona! Ja-jadi apa benar mereka akan melangsungkan pernikahan?"


"Do'a kan saja, setiap manusia hanya bisa berencana, semua keputusan ada pada tuhan. Jika mereka memang berjodoh semutpun gak akan bisa menghalangi!" ucap Ivanna.


"Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, Jika Nona Safira berasal dari salah satu panti,..."


"keluarga Dirgantara, tidak pernah memandang status sosial! jika anda mengatakan. kak Safira itu tidak sepadan dengan keluarga kami! siap-siap anda kehilangan pekerjaan!" ucap Ivanna tegas dengan raut wajah yang kembali membuat semua wartawan itu kesusahan menelan air liurnya.


"Bagi keluarga kami, Etika adalah hal yang paling utama. Jika kalian mengatakan kesepadanan, berarti anda sudah menghina Bunda saya! Tolong jaga perkataan kalian! kami tidak butuh orang kaya untuk masuk ke dalam keluarga kami, tapi kami membutuhkan manusia yang masih menjunjung tinggi etika dan ketulusan! dan itu semua ada pada diri Safira Putri! camkan itu!" Ucap Ivanna tegas bercampur kesal dan itu semakin membuat semua orang tercekat untuk kembali bertanya.


"Jangan pernah kalian sentuh ataupun mengganggu kak Safira. Atau kalian akan menerima dampaknya!" ucap Ivanna semakin tegas.


Setelah mengatakan itu, Ivanna tersenyum smirk dan kembali berjalan menuju kelasnya.


Huh, melelahkan! Makan itu ucapanku, strata terus yang di ungkit! gak ada topik lain apa?. Bathin Ivanna kesal.

__ADS_1


Ia masih mendengarkan berbagai macam bisikan-bisikan roh halus yang membicarakan tentang keluarganya.


"Na?" panggil Wirda teman Ivanna.


"Ada apa Wir?" tanya Ivanna biasa saja.


"dua hari lagi kelompok kita akan presentasi, kapan bisa kita membuat makalahnya?" tanya Wirda.


"Ah iya, aku melupakan itu. bagaimana setelah kelas habis? Kita hanya satu mata kuliah hari ini!" ucap Ivanna.


Ini kali pertama, gadis manis itu berbicara banyak. Sehingga membuat Wirda kehilangan kata yang sudah ia susun dari kemarin-kemarin.


"gimana Wir?" tanya Ivanna ketika tidak mendapatkan respons dari temannya.


"i-iya, boleh. ki-kita buatnya dimana?"


"di rumahku saja. Buku yang kita perlukan ada di sana!" ucap Ivanna menawarkan.


Semua mahasiswa terkejut, karna untuk pertama kali Ivanna menawarkan rumah mewahnya sebagai tempat untuk membuat makalah.


Beruntung banget si Wirda!.


Duh kenapa minggu kemarin Ivanna gak ngajak juga sih!.


Begitulah isi fikiran mereka yang iri dengan keberuntungan Wirda yang mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam rumah mewah itu.


"A-apa tidak masalah, jika kita membuat makalah di rumah kamu?"


"tidak, kita bisa tenang membuat makalah di dalam perpustakaan!"


"baiklah,"


"apa kamu membawa kendaraan?" tanya Ivanna.


"iya. Aku hanya membawa motor!"


"nanti, ikuti saja mobilku dari belakang!" ucap Ivanna.


"ba-baik!"


Mereka kembali duduk di tempat masing-masing ketika dosen telah masuk ke dalam ruangan itu dan memulai pembelajaran.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Sudah memasuki bulan Desember gais. Semoga di penghujung tahun ini, Semua harapan dan keinginan bisa tercapai. Aamiin

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 😍


terima kasih πŸ€—


__ADS_2