
"apa kamu Fajira?" ucap Mama Irfan melihat Fajira
"Tante Viola?" ucap Fajira terbelalak melihat siapa yang ada di depannya.
"A-apa kamu Fajira Anak Sandiagus?" ucap Mama terkejut.
"iya tante. Tante apa kabar?" Fajira berjalan cepat menuju perempuan paruh baya itu lalu memeluknya.
"kamu kemana saja nak? tante dan om sudah mencari kamu kemana-mana"
"Jira hanya di kota ini tante, bertahan hidup setelah ayah dan Bunda meninggal" Ucap Fajira mulai menangis.
Tangisan Fajira yang terdengar oleh Fajri membuat pria kecil itu meradang.
"Bunda" panggil Fajri dengan wajah yang memerah menahan amarah. Fajira segera melepaskan pelukan itu dan menatap Fajri lembut sambil mengusap air matanya.
"Fajri?" panggil Mama Viola berkaca-kaca.
"Nenek kenapa membuat Bunda menangis?" tanya Fajri melotot dan berdiri di depan Fajira.
"Aji, kenalin ini Oma Viola. Dia Teman Nenek sayang"
"Aji sudah kenal Bunda. Nenek ini Mamanya Ayah"
deg....
Jantung Fajira berdetak lebih cepat mendengar ucapan Fajri. Ia menatap putra sematawayangnya yang masih menatap Mama Viola sangar.
"Aji sini nak, nenek mau peluk kamu, Bolehkan?" ucap Mama Viola menggapai Fajri
"nenek jawab dulu kenapa Bunda menangis? apa yang sudah nenek lakukan kepada Bunda Aji" ucapnya tegas dan mengelak.
"Fajri" panggil Fajira meninggi dan membuat pria kecil itu terkejut.
"minta maaf sama nenek" sambungnya.
"tapi nenek ini sudah membuat Bunda menangis" ucp Fajri melemah.
"dan Aji benci itu" sambungnya.
"sayang, Bunda gak apa. Bunda hanya teringat sama nenek"
"apa Bunda bohong sama Aji?" mata bulat itu menyelidik.
"apa pernah Bunda berbohong nak?" Fajri hanya menggeleng sebagai jawaban.
"ya sudah sekarang Aji minta maaf sama Oma ya sayang" ucap Fajira lembut membelai kepala Fajri.
"iya bunda"
"Oma, Aji minta maaf ya karna gak sopan sama Oma tadi. Aji hanya gak mau Bunda menangis, apa lagi di sakiti" ucap Fajri merunduk
"Gak papa sayang, Oma paham, pasti Aji sayang banget ya sama bunda"
"iya Oma, sayang banget. Makanya Aji marah kalau ada yang jahat sama bunda"
"anak pintar. kamu mirip banget sama Ayah, possesif dan berhati hangat, walaupun dingin sih. Boleh Oma peluk Aji?"
"boleh oma"
Nama Viola langsung memeluk Fajri sambil meneteskan air mata bahagia. Ini yang sudah lama ia inginkan, memiliki seorang cucu untuk menemaninya di saat sepi.
"Hekm..." deheman terdengar dari samping mobil.
Dia adalah Horison Dirgantara, Ayah dari Irfan. Laki-laki itu hanya menatap Fajri dan Fajira bergantian seolah tidak percaya. Anak perempuan dari sahabatnya yang selama ini ia cari, sudah berada dalam genggaman putranya.
__ADS_1
"Fajira" panggil laki-laki itu dengan mata yang berkaca-kaca
"om" lirih Fajira dan langsung berlari memeluk laki-laki yang sudah seperti ayah baginya.
"kamu apa kabar nak?" Sandi mengusap kepala Fajira lembut.
"Jira baik Om"
"kamu kemana saja, om sudah mencari kamu ke kampung tapi rumah di sana sudah kamu jual"
"iya om, Jira pindah ke sini karna di kampung gak ada yang mau menerima Jira seorangpun om"
"hah... Akhirnya om menemukan kamu nak, Sungguh om sangat merasa bersalah karna tidak langsung menjemput kamu waktu itu"
"gak papa om, Jira sudah bisa hidup mandiri dari hasil penjualan rumah di kampung"
"om sudah membeli rumah itu dan sudah atas nama kamu nak"
"om serius?" Fajira menatap mata Papa Horison dengan tidak percaya.
"iya om serius"
"terima kasih om.. hiks..."
Sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar Fajri tidak kembali bertanya, begitu juga dengan Papa Horison, Ia tidak menyangka akan menemukan gadis ini dengan cara yang tak terduga.
"kita ngobrol di dalam yuk Om, tante" ajak Fajira.
"iya nak"
"kalian mengobrol saja dulu. Papa mau ke kantor Irfan sebentar"
Mereka segera masuk ke dalam rumah dan berbincang banyak hal. Termasuk cerita masa lalu Fajira, mulai dari awal kejadian hingga mereka bertemu kembali. Sementara Papa langsung pergi ke kantor Irfan.
"apa Irfan masih kurang ajar sama kamu nak?"
"panggil Mama ya, sebentar lagi kamu akan jadi menantu Mama nak"
"iya Ma terima kasih" Fajira belum mampu mengendalikan emosinya saat ini. air mata itu seolah tidak ingin berhenti keluar.
"Huft... Mama mewakili Irfan meminta maaf sama kamu atas apa yang terjadi di masa lalu. Saat Irfan mengatakan jika ia sudah memiliki seorang putra dan akan menikah, mama takut kalau dia berasal dari Wanita malam yang gak jelas asal usulnya. Kamu tau kan kalau Irfan memiliki kebiasaan bermain dengan perempuan. Tapi Mama selalu percaya jika pilihan Irfan tidak pernah salah, ia selalu bisa mengambil keputusan dengan baik.
Mama harap kalian bisa bahagia setelah menikah nanti" Mama Viola menggenggam tangan Fajira lembut sambil meneteskan air mata. Begitu juga dengan Fajira yang sudah berkaca-kaca mendengar perkataan Calon mertuanya.
Tuhan jika dari awal aku tau mereka orang tua Irfan mungkin aku akan menerima Irfan lebih cepat. Terima kasih untuk takdir yang telah engkau gariskan.
"Irfan juga mengatakan kalau kamu mengalami trauma"
"iya Ma, Jira mengalami trauma karna kejadian malam itu"
"apa kamu gak mau berobat sayang?"
"Jira sudah memulai pengobatan Ma, hanya saja Jira ingin menghukum Mas Irfan dulu agar tidak menjadi kebiasaan untuknya"
"iya, Irfan memang menceritakan kalau kamu menghukumnya. Mama dukung keputusan kamu nak. Dia laki-laki yang bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan. Hanya saja, terkadang ego yang membuatnya berpaling"
"Jira paham Ma. Makanya keputusan itu Jira ambil"
Siang itu mereka berbincang mengenai banyak hal, terutama bagaimana persiapan pernikahan yang akan di adakan beberapa hari lagi. Sementara Fajri masih berada di luar untuk melakukan uji coba pesawat terbang miliknya di temani oleh beberapa penjaga dan supir yang sesang beristirahat.
ππ
Di perusahaan Dirgantara CORP, Papa Irfan sudah berada di ruangan anaknya. Ia harus segera menemui Irfan untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
ceklek...
__ADS_1
Irfan membuka pintu dan terkejut ketika mendapati laki-laki paruh baya itu berada di ruangannya.
"Papa?" panggil Irfan mengernyit.
"duduk lah, ada yang mau papa bicarakan"
"kapan papa datang?"
"belum lama. apa kamu masih Ada meeting setelah ini?"
"gak Pa, Aku mau pulang setelah ini"
"papa mau membicarakan masalah kamu dan Fajira"
"apa yang mau Papa katakan?" ucap Irfan mewanti-wanti.
"apa kamu sudah tidak menganggap Papa sebagai orang tua kamu?"
"maksud Papa apa?" tanya irfan mengernyit
"kamu hanya mengatakan kepada Mama jika kamu akan menikah"
"aku belum ada waktu untuk pulang Pa, makanya semua pekerjaan aku selesaikan dengan cepat agar bisa membawa istri dan anakku pulang ke rumah utama"
"Apa kamu masih ingat dengan perempuan yang sedang papa cari?"
"ma-masih Pa,"
"Papa sudah menemukannya. Dan papa harap kamu bisa membahagiakannya nanti"
"maksud Papa apa?" bentak Irfan.
"aku sudah memilik calon istri dan beberapa hari lagi kami akan menikah" tegasnya.
"Papa sudah berusaha untuk berbicara baik-baik Irfan. Tolong kamu hargai"
"kalau Papa meminta aku untuk membatalkan pernikahanku dengan Fajira, Papa sudah pasti tau jawabannya"
"duduk dulu Irfan"
Irfan pantuh, ia duduk dengan emosi yang membuncah.
"Papa fikir tidak akan pernah menemukannya lagi. Tapi kami di pertemukan dengan cara yang sangat tidak terduga. Sudah sampai mana persiapan pernikahan kalian?"
"70% selesai Pa, tinggal fiting baju dan beberapa dekorasi lagi"
"iya bagus lah kalau begitu"
"apa maksud Papa? Aku tidak mengerti"
"perempuan yang baik dan setia itu tidak kita dapatkan dua kali nak. Papa memang pernah membuat kesalahan, tapi Mama masih mau memaafkan semua kesalahan Papa, dan sampai sekarang kalian masih merasakan bagaimana keluarga yang utuh.
Begitu juga dengan kamu yang sudah membuat kesalahan pada satu wanita. Dia bisa menerima kamu dengan masa lalu kalian, dan Papa yakin hatinya masih belum siap untuk menerima kamu. Tapi Papa harap kamu menikahinya bukan karna ***** saja. Tapi memang benar-benar ingin membahagiakannya. Jadikan kesalahan papa sebagai pembelajaran bagi kamu"
Papa berucap dengan tenang dan sambil menghela nafasnya. Sementara Irfan terdiam dan mencerna perkataan Papa yang sangat jarang mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
"yuk kita pulang, mereka sudah menunggu di rumah" ucap Papa dan beranjak dari sana.
"apa maksud Papa? siapa yang menunggu di rumah?" Fikirannya berkelana
Apa perempuan itu bertemu dengan Fajira dan bertengkar atau Fajira mengalah lalu pergi dari sana. Tuhan jangan sampai.
Mereka segera bergegas pulang ke rumah irfan dengan tergesa-gesa, apalagi irfan yang sudah memikirkan hal yang bermacam-macam.
πππ
__ADS_1
TO BE CONTINUE