Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
161. Masuk Sekolah


__ADS_3

Keluarga kecil Dirgantara sudah berada di sekolah. Ivanna tak henti mengembangkan senyum bahagianya. Dengan jalur khusus orang dalam, Ivanna bisa mendaftar sekolah dan langsung masuk di kelas satu.


"Dede nanti gak boleh ngomong ketus sama ibu guru ya, sayang!" ucap Fajira mewanti-wanti.


"hehe, iya Buna. Apa Dede harus ngomong baik-baik sama bu gurunya?" ucap Ivanna.


"iya, sayang. Seperti apa Dede ngomong sama Bunda, Dede juga harus seperti itu ngomong sama bu guru. Paham, Sayang?"


"paham, Buna!" Ivanna tersenyum.


Hanya ada Fajri, Fajira dia Ivanna di dalam mobil. Irfan mendadak ada meeting pagi ini dan tidak bisa di tunda. Sehingga ia tidak bisa mengantarkan anak-anaknya pergi ke sekolah.


Perlahan mobil masuk ke dalam pekarangan sekolah. Mata Ivanna semakin berbinar melihat banyaknya anak sekolah yang sedang berlalu lalang di halaman itu.


Ivanna langsung memasang wajah dinginnya ketika keluar dari mobil. Mereka segera berjalan menuju ruangan ibu Rully untuk melengkapi data agar ia bisa terdaftar di sekolah.


Ivanna terlihat sangat mengemaskan dengam rambut kepang dua yang dihiasi dengan pita hello kitty, dan poni yang menutupi keningnya. Pipi tembam dengan wajah yang merona membuat Ivanna terlihat sangat mengemaskan dan cantik. Tak lupa anting yang bertaburkan berlian bertengger di telinganya.


Ia berjalan dengan berlenggak lenggok sambil menyandang tas berwarna pink dengan karakter hello kitty itu. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Saingan baru lagi nih! begitulah yang ada di fikiran siswa menebak jika Ivanna akan berdiri pada barisan depan untuk memegang tropy juara umum seperti abangnya.


tok... tok... tok...


"permisi, bu Rully!" ucap Fajira masuk ke dalam ruangan itu.


"eh, Bunda Fajri, silahkan masuk!" ucap bu Rully ramah.


"Salim dulu sama ibu, nak!"


Ivanna dan Fajri patuh, mereka mencium tangan ibu Rully bergantian.


"Ini ya, yang mau sekolah? Siapa namanya, nak?" tanya bu Rully.


"Nama saya Ivanna, bu!" ucap Ivanna sopan.


"nama yang bagus! Apa sudah bisa membaca, nak?"


"sudah, bu!"


"berhitung?"


"sudah, bu!"


"pintar! Bunda, apa Ivanna mau ikut kelas akselerasi juga?" tanya bu Rully.


"Dede mau loncat kelas nak? seperti abang?" tanya Fajira.


"Apa Dede gak satu kelas sama abang, Bunda?" manik mata Ivanna menatap Fajira dengan raut wajah kecewa.


"gak, sayang! Abang 'kan sudah SMP, Dede baru SD!" terang Fajira.


"apa Dede boleh satu kelas dengan abang, Bunda?" tanya Ivanna.

__ADS_1


"Gak boleh, sayang! Dede 'kan masih kecil!" ucap Fajri memeluk Ivanna yang terlihat kecewa.


"Dede gak jadi sekolah kalau gak satu kelas sama abang, Bunda!" lirih Ivanna.


"eh kok gitu? Dek, coba dengar abang dulu sini. kita gak bisa satu kelas, sayang! karna abang lebih besar dari pada Dede. Terus kalau Dede mau satu kelas dengan abang, Dede harus tamat sekolah dasar dulu, baru bisa naik kelas seperti abang! Paham, sayang?" ucap Fajri menatap Ivanna.


"jadi dede harus masuk ke kelas satu dulu bang?"


"iya, sayang. Jangan sedih, nanti kalau waktu istirahat, kita kan bisa bertemu, Ya!" bujuk Fajri.


"ya udah deh, Dede mau!" ucap Ivanna masih cemberut.


tring... tring... tring...


Lonceng berbunyi, Fajri terpaksa harus meninggalkan dua bidadarinya di dalam ruangan itu, karna ia juga harus masuk ke dalam kelas.


"dek, nanti kita bertemu lagi ya, sayang! Bunda, abang masuk dulu!" Fajri mengecup pipi Ivanna dan Fajira bergantian. Tak lupa ia juga mencium tangan ibundanya dan bu Rully.


Fajri berlalu dari ruangan itu, Ivanna masih terdiam sembari berfikir bagaimana caranya agar ia bisa satu kelas dengan abangnya.


Apa aku minta sama ayah saja, biar bisa naik kelas seperti abang?. Bathin Ivanna


"jadi, Ivanna masuk di kelas satu dulu ya, nak. nanti waktu kenaikan kelas, Ivanna bisa loncat ke kelas 3. Yuk, ikut ibu menuju kelas!" ucap bu Rully.


Mereka segera keluar dari ruangan itu dan bergegas menuju ke kelas baru Ivanna. Gadis kecil itu merasa gugup dan deg-degan ketika langkahnya semakin mendekati ruang belajar itu.


"Buna, apa kita pulang saja?" lirih Ivanna.


"apa Buna akan menemani Dede di sini?"


"nanti Bunda akan duduk di sana, sayang!" Fajira menunjuk bangku taman yang teduh dan di lengkapi dengan payungnya sekalian.


"kenapa, sayang? kenapa anak Bunda jadi penakut seperti ini? bukankah Dede anak yang pemberani?" ucap Fajira menyamakan tingginya dengan Ivanna, ia menatap mata bening gadis cantik itu yang terlihat tidak baik-baik saja.


"dulu abang berani lo, sayang! masa ia Dede gak berani!"


"Nanti kalau mereka jahat gimana, Buna?" lirih Ivanna.


"gak ada yang berani jahatin Dede disini, sayang!"


"Peluk!" Ivanna merentangkan tangannya dan masuk ke dalam pelukan Fajira.


Hadeh, gadis dingin ini bisa takut juga ternyata. Bunda fikir kamu persis seperti ayah, kiranya mental kamu seperti Bunda, nak!. Bathin Fajira meringis.


"Sudah, sayang? jangan takut, ada abang di sini. Kalau ada apa-apa, Dede bisa bilang sama bu Rully langsung ya sayang!" ucap Fajira menguatkan Ivanna.


"iya, Buna!" huft...


"yuk, kita masuk!"


Fajira menggandeng Ivanna menuju ruang kelasnya. Ketika berada di depan pintu, Fajira segera melepaskan pegangan tangannya dan meminta Ivanna masuk ke dalam kelas. Ia tersenyum memberikan sedikit kekuatan untuk anak gadisnya itu.

__ADS_1


"Baik, anak-anak ibu sekalian! kita memiliki teman baru. Yuk, perkenalkan namanya, sayang!" ucap bu Rully.


Ivanna menatap dingin semua murid yang ada di dalam kelas itu.


"Ivanna Hanindya" ucapnya singkat.


Fajira hanya bisa menepuk jidatnya mendengarkan Ivanna.


"Baiklah, Ivanna bisa duduk di samping Bryan ya, nak!" ucap bu Rully.


Ia menatap anak laki-laki yang berperawakan dingin persis seperti dirinya. Perlahan Ivanna berjalan dengan wajah angkuh menuju meja nomor 2 yang berada di sebelah kanan guru.


Ivanna menatap Bryan dengan dingin, begitu juga sebaliknya. Laki-laki itu segera bergeser agar Ivanna bisa duduk di sampingnya.


Fajira memperhatikan interaksi yang terjadi di sana. Hening! hanya itu gambaran yang ia dapatkan.


Bu Rully segera memulai pembelajaran. Ia menerangkan bmbagaimana cara menulis, berhitung dan membaca. Ivanna terlihat bosan dengan apa yang di terangkan oleh bu Rully karna ia sudah bisa melakukan itu semua.


Ia menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh Bu Rully dengan benar, walaupun terkadang ia terbata-bata dalam mengeja huruf.


Hingga bel kembali berbunyi menandakan ia sudah memasuki jam istirahat. Ivanna kembali membawa tasnya dan mencari keberadaan Fajira dengan langkah gontai.


"Buna?" panggil Ivanna.


"hai, sayang. Gimana? serukan?" tanya Fajira antusias.


"gak seru sama sekali, Buna! gede gak suka!" ucap Ivanna kecewa.


"kenapa?"


"Dede udah bisa, buna. Apa yang di ajarkan sama bu Rully semuanya Dede udah bisa!" keluh Ivanna.


"Abang juga seperti Dede dulu waktu hari pertama sekolah!" ucap Fajira tersenyum ketika mengingat Fajri dulu.


"iya kah, Buna?" tanya Ivanna tertarik.


"iya, sayang. Dulu abang antusias untuk pergi sekolah, terus pas udah nyampe dan mulai belajar, abang juga kecewa karna semua pelajaran yang di ajarkan oleh bu guru, sudah bisa di kerjakan oleh abang. Hanya saja abang gak suka matematika. Berbeda dengan Dede yang sangat suka berhitung!" terang Fajira.


Ivanna terkekeh ketika mengingat ekspresi Fajri ketika di hadapkan dengan soal matematika atau soal berhitung lainnya.


"Ada apa ini? apa Bunda dan Dede lagi ngomong abang?" ucap Fajri datang dan membawa bekalnya.


"Hehe iya, kok abang tau sih?" ucap Ivanna.


"hehe, tau dong, orang kedengaran juga!, gimana hari pertama Dede belajar, sayang?" tanya Fajri yang membuat wajah Ivanna kembali kesal.


Ia menceritakan bagaimana pengalamannya di hari pertama sekolah yang sangat terasa membosankan itu. Fajri terkekeh, ia bisa merasakan betapa kesalnya Ivanna ketika memasuki kelas, dimana ia sudah bisa menguasai semua materinya.


Mereka bercerita sambil memakan bekal masing-masing. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka, termasuk sepasang mata tajam yang memandang sinis Ivanna.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2