Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
157. S2 : Mengunjungi Ayah


__ADS_3

Mobil berhenti di loby perusahaan mewah itu. Fajri dan Ivanna segera turun dari mobil dan berlari masuk kedalam gedung dengan tidak sabar.


"adek, abang, hati-hati nak!" teriak Fajira.


Semua karyawan menatap gemas kepada dua bocil itu. Ini ketiga kalinya Ivanna pergi ke perusahaan untuk mengunjungi Irfan. Ia sangat antusias karna tiba-tiba saja merindukan ayah tampannya itu.


"Nyonya!" sapa karyawan ramah ketika melihat Fajira berjalan di dekat mereka.


"Iya, mari!"


Inilah yang mereka sukai dari sosok Fajira, ia begitu ramah dan tidak memandang buruk siapapun yang ada disekitarnya. Ketika ia sedang berjalan tiba-tiba ia mendengar teriakan Fajri an Ivanna di sertai tangisan gadis kecil itu.


"Bunda!" teriak Fajri sambil berlari dan sukses membuat Fajira terkejut.


"Buna!" panggil Ivanna sambil menangis di dalam gendongan Fajri


"Astaga, nak! Dede kenapa? kok bajunya basah?" pekik Fajira.


"Dede jatuh, Bunda! kepleset tadi di dekat om yang sedang ngepel lantai itu," ucap Fajri yang cemas melihat adiknya.


Sementara OB itu sudah ketakutan ketika melihat anak siapa yang terjatuh pada saat jam kerjanya.


"Mana yang sakit, nak?" Fajira segera menggendong Ivanna dan mengusap bopong putri kecilnya.


"Bunda udah bilang tadi, jangan lari-lari! Jatuhkan jadinya!" omel Fajira khawatir.


Ia segera menggandeng Fajri menaiki lift dan menuju ke ruangan suaminya.


Ting...


Lift terbuka, Fajira segera keluar dari sana dengan isak tangis Ivanna yang masih terdengar. Gadis kecil itu masih mengusap bopongnya yang terasa sakit akibat terjatuh.


ceklek...


"Mas?, tolong panggilan dokter, Ivanna terpeleset di bawah tadi," ucap Fajira panik dan langsung membaringkan Putrinya di atas sofa.


Irfan terkejut ketika melihat gadis kecilnya sedang menangis terisak sambil memegang bopongnya. Tanpa menunggu lama ia segera menghubungi dokter dan berjalan menuju ke arah Ivanna.


Ketika ia selesai menelfon, pria tampan itu terdiam karna menyadari sesuatu.


"sayang?" panggil Irfan menatap Fajira.


"iya, Mas? kamu sudah telefon dokternya?" ucap Fajira memeriksa keadaan Ivanna.


"bukannya kamu dokter?" celetuk Irfan dan membuat Fajira terdiam.


Fajri yang hanya menatap orang tuanya dengan tatapan bingung namum ia hanya bisa menahan tawanya.


"eh, iya ya? kamu batalkan saja, Mas! ini aku juga lagi periksa keadaan adek!" ucap Fajira tersenyum kikuk.


Tanpa menunggu lama, Fajira segera melihat bopong Ivanna, dan membuka baju gadis kecil yang sudah basah itu.


"Mas, tolong minta OB untuk membawa batu es kesini cepat ya!" ucap Fajira.


Irfan segera menghubungi OB melalui sambungan interkom dengan sedikit membentak.


"Bunda, Apa Dede baik-baik saja?" tanya Fajri yang tengah mengusap kepala Ivanna.


"Bunda lihat dulu ya, sayang! Semoga saja tidak apa-apa!" ucap Fajira tersenyum dan mengusap kepala Fajri lembut.


Walaupun di dalam hatinya merasa sangat khawatir, namun ia tidak ingin Fajri juga ikut khawatir karna Ivanna jatuh ketika sedang bermain dengannya.

__ADS_1


Dalam waktu kurang dari 1 menit, OB datang dengan tergesa-gesa sambil membawa batu es di tangannya.


Fajira segera mengambil batu es dan membalutnya menggunakan kain. Ia meletakkannya di atas bopong yang mulai terlibat kemerahan itu.


"sshhh... sakit, Buna!" ringis Ivanna. Gadis kecil itu sudah berhenti menangis, namun ia masih mengusap tubuhnya yang terasa sakit.


"apa ada lagi yang sakit, sayang?" tanya Fajira lembut.


"tangan Dede sakit, Buna!" Ivanna memperlihatkan tangannya yang memerah.


"Masih mau lari-lari lagi?"


"gak mau! Maaf, Bunda!" ucap Fajri dan Ivana bersamaan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Irfan serius.


Fajri menceritakan bagaimana Ivanna terjatuh ketika mereka berlari diatas lantai yang baru saja di pel. Irfan meradang, ia segera memanggil OB itu dengan tatapan nyalangnya.


"Pandu, Panggil OB yang bertugas di lantai satu, sekarang!" ucap Irfan kepada asisten barunya.


"Baik, tuan!" Ucap laki-laki itu segera pergi mencari OB yang di maksud oleh Irfan.


"Mas, aku rasa gak perlu untuk memanggil dia, anak kita juga yang salah!" ucap Fajira.


"dia juga salah sayang, bagaimana lantai bisa basah seperti itu? Bagaimana kalau karyawan yang lewat juga tergelincir?" ucap Irfan emosi.


"Mas, dia sana sudah ada papan pemberitahuan kalau lantai licin, Jangan memperbesar masalah!" ucap Fajira lembut dan berusaha untuk menenangkan Irfan.


"Aku gak terima anakku sakit seperti ini sayang!" tegas Irfan.


"sudah, tenang dulu! gak bagus di lihat sama anak-anak!" lirih Fajira mengusap rahang tegas Irfan.


"Ayah, gendong!" rengek Ivanna.


"sakit, nak?"


"iya, Ayah!"


tok... tok... tok...


ceklek...


Pintu terbuka, Pandu sudah membawa OB laki-laki tadi bersamanya. Pria paruh baya itu terlihat pucat dan sangat ketakutan, bahkan untuk mengangkat kepalanya saja ia tidak mampu.


Fajira hanya menghela nafas beratnya, ia menatap Irfan yang sudah terlihat seperti mengeluarkan taring dan tanduk dari kepalanya.


"Pak?" panggil Fajira dari sofa.


"i-iya, Nyona. Maafkan saya!" ucap pria paruh baya itu bersimpuh.


"Bangunlah, Pak!" ucap Fajira.


Irfan melotot mendengar ucapan Fajira. Sungguh ia ingin marah saat ini, namun ia berusaha untuk menahannya karna ada Ivanna dan Fajri di dalam ruangan itu.


"Maaf kan saya, Nyonya, Tuan! maafkan saya! Tolong jangan pecat saya, Nyonya, Tuan! saya mohon!" ucapnya yang sudah menangis.


"Bangunlah, Pak!" ucap Fajira.


Laki-laki itu bangun dan kembali berdiri. Fajira menatap kedua anaknya dengan Intens.


"Abang, adek, lihat! gara-gara kesalahan kalian orang lain terkena imbasnya?" ucap Fajira.

__ADS_1


Duo bocil itu hanya bisa tertunduk mendengarkan perkataan ibundanya. Irfan semakin melotot melihat ke arah Fajira.


Kenapa kamu jadi menyalahkan anak-anak ku, sayang?. Bathin Irfan geram.


"Pak, Besok jangan terlalu basah lantainya. Kita gak tau siapa dan sepatu apa yang mereka pakai. Jadi kedepannya tolong lebih berhati-hati lagi!" ucap Fajira.


"Sayang!" sergah Irfan.


"sudahlah, Mas! bukankah dia kepala kebersihan disini? baru kali ini bapak itu melakukan kesalahan! Apa yang kamu harapkan?" tanya Fajira menatap Irfan.


Pria tampan itu hanya bisa terdiam dan mengalihkan pandangannya, ia sungguh sangat kesal ketika perkataan Fajira mematahkan egonya.


"Silahkan kembali, Pak. Saya harap ini terakhir kalinya kejadian seperti ini terjadi!"


"terima kasih banyak, Nyonya. Terima kasih banyak! Terima kasih!" ucap bapak itu sesegukan karna masih mendapa kesempatan untuk bekerja di perusahaan ini.


"sama-sama, silahkan!"


OB dan Pandu segera keluar dari ruangan itu. Tinggallah keluarga kecil yang masih saling diam itu.


...🌺🌺...


Huft....


Terdengar helaan nafas dari mulut Fajira. Semenjak kejadian tadi siang Irfan mendiamkannya, bahkan laki-laki itu lebih memilih untuk meminta tolong kepada bibi dari pada dirinya.


Fajri dan Ivanna terlelap di dalam kamar, sehingga ranjang itu tidak akan muat jika di isi oleh empat orang.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.39, Irfan belum juga keluar dari ruangan kerja sedari tadi. Fajira segera menyusul suaminya menuju ruang kerja, terlepas dari apapun yang akan terjadi.


"sayang?" panggil Fajira lembut sambil membuka pintu ruangan kerja itu.


Irfan hanya menoleh sebentar dan mengacuhkan istrinya yang sudah berdiri di dekat meja dengan mengenakan lingeri jahanam.


glek...


Irfan merasa kesusahan untuk menelan ludahnya karna melihat Fajira yang sangat menggairahkan.


"apa kamu masih marah. Mas?" tanya Fajira dengan nada sensualnya ambil mengusap tengkuk Irfan lembut.


"aku melakukan itu agar anak-anak bisa belajar menghargai orang lain dan tidak berlaku seenaknya saja!" ucap Fajira lembut.


Ia menarik kursi Irfan dan memutarnya, lalu ia duduk di pangkuan Irfan dengan genit.


"Sayang, Apa aku boleh hamil lagi? ini sudah empat tahun setelah aku melahirkan!"


"gak!" tegas Irfan.


"kenapa?" tanya Fajira.


Irfan melunak, Ia memeluk pinggang Fajira dan menyembunyikan wajahnya pada bongkaran padat itu. Bayangan kesakitan Fajira masih setia di ingatannya. Jeritan dan erangan yang sangat menyayat hati keluar dari mulut Fajira, masih terngiang di telinganya.


"Jangan memintanya lagi, sayang! Sudah cukup aku memiliki kamu, Fajri dan Ivanna dalam hidup ku!" ucap Irfan serak.


"Baiklah, sekarang kita istirahat ya!"


"Iya, sayang!"


Irfan segera menggendong Fajira menuju ke kamar mereka. Fajira menghela nafasnya karna bisa membujuk Irfan tanpa ada drama tambahan.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2