
ddrrtt... ddrrtt...
Ponsel Fajira berdering, terlihat disana Riska memanggil. Dahi Fajira mengernyit karna tidak biasanya gadis itu menelfon se pagi ini.
"halo Ris"
"halo kak, Kakak di mana?" tanya Riska panik
"ini lagi di jalan menuju ke kampus. Ada apa Ris?" tanya Fajira
"kakak sudah buka sosial media belum?"
"belum, kenapa?"
"identitas kakak bocor, sampai Fajri pun ada kakak. Hanya saja sampai saat ini belum ada berita buruk mengenai hubungan kakak dengan tuan Irfan"
deg...
"kamu serius?" pekik Fajira dengan jantung yang berdetak kencang.
"iya kak, coba kaka cek dulu"
tut....
Fajira segera membuka sosial media, ia melihat foto Fajri dan dirinya terpampang nyata di sana. Berita mengatakan jika pengusaha kaya Asal Indonesia sudah menikah secara diam-diam dan tertutup beberapa tahun lalu, namun di sana banyak kolom komentar yang menandai dirinya. Sehingga banyak dari para pencari berita memburu akun media sosialnya. Ada banyak berita yang membahas aktivitas Fajri dan Fajira merujuk kepada postingan instagram pribadi ibu muda itu.
Beruntung tidak banyak foto yang ada di sana. Tanpa menunggu lama, Fajira segera mengunci akunnya dan menghapus semua foto yang ada di sana. Berbagai pemikiran muncul di dalam otaknya saat ini
Apa mas Irfan yang menyebarkan ini semua? bukankah dia sudah berjanji. Apa aku harus pergi ke kantornya untuk menanyakan hal ini?. Atau semua karna pertikaian mas Irfan dan Vino waktu itu, mereka jadi mengenali ku?.
"pak kita ke kantor mas irfan"
"baik nyonya"
Mobil kembali berputar menuju kantor Irfan. Dengan perasaan cemas dan takut Fajira berusaha untuk menelfon Irfan dan meminta untuk menunggunya di luar. Setelah 15 menit mengukur jalan raya, Fajira tiba di perusahaan berbarengan dengan mobil Irfan dan ikut membawa Fajri.
"sayang" panggil Irfan dan memeluk Fajira.
"maafkan aku karna identitas kamu dan Fajri bocor sayang. Sungguh aku gak tau bagaimana bisa seperti ini" sambungnya dengan penuh rasa bersalah.
"sudahlah mas, kita bicarakan ini di dalam. Aku gak mau kita tertangkap paparazzi"
"ya sudah yuk. Kita ke atas"
Irfan berjalan masuk ke dalam gedung itu sambil menggendong Fajri dan menggandeng tangan Fajira. Banyak karyawan yang terkejut melihat perempuan yang pernah mereka tatap sinis, sekarang malah berjalan bergandengan dengan atasan mereka.
Irfan membawa keluarga kecilnya berjalan menuju ruangan khusus presdir yang berada di lantai 7 menggunakan lift khusus miliknya.
Ceklek...
"silahkan masuk tuan putri" ucap Irfan sambil membukakan pintu ketika sampai di ruangannya.
"Jadi bagaimana mas? Aku gak mau nanti Fajri menjadi bahan bullyan mereka" keluh Fajira. Sementara Fajri sudah pergi menuju rak buku dan membaca apa saja yang ingin ia baca.
"Aku gak akan membiarkan media manapun menyebarluaskan berita buruk tentang kita sayang, Kamu yang tenang ya"
"Aku takut nanti ada yang berniat jahat sama keluarga kita mas. Baru kemarin kita menikah sudah seperti ini" lirih Fajira dan memeluk Irfan.
"Sayang, percaya ya sama Mas"
"iya"
Irfan memeluk Fajira agar perempuan itu bisa lebih tenang dan tidak terlalu memikirkan pemberitaan kali ini.
__ADS_1
"Ray juga sudah menelfon media cetak, agar mereka tidak memberitakan hal yang tidak-tidak tentang kita"
"iya mas. Aku hanya mengkhawatirkan Fajri nanti"
"Aku juga sayang, Aku mengkhawatirkan kamu dan anak kita. Aku takut para Rival ku akan mencari cara untuk menjatuhkanku melalui kalian"
"mas" panggil Fajira khawatir dan menatap laki-laki itu dengan lamat.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan kalian berada dalam bahaya sayang"
"terima kasih"
"sama-sama"
tok... tok... tok...
"Masuk" ucap Irfan.
ceklek...
Ray masuk dengan wajah yang sudah menahan emosi.
"permisi tuan, Di bawah para wartawan sudah berkumpul di depan pintu masuk tuan"
Irfan dan Fajira bangkit berjalan menuju jendela dan melihat kebawah, dan benar saja sudah banyak wartawan yang sudah menunggu di luar sana.
"Bagaimana menurutmu Ray?",
"menurut saya, selagi mereka ada di sini, kita adakan saja semacam jumpa pers sebelum berita menjadi simpang siur tuan",
"Aku setuju Mas, Tapi hanya kamu dan sekretaris Ray saja yang pergi, Aku akan menunggu di sini bersama Fajri"
"betul kamu gak papa sayang?" irfan menatap Fajira lamat.
"gak papa Mas"
"baik tuan. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu"
"silahkan"
Seperti permintaan Irfan, Ray memerintahkan beberapa orang bawahannya untuk segera mengumpulkan para wartawan dan mengadakan jumpa pers agar berita yang tersebar tidak simpang siur.
Setelah di rasa cukup aman dan tenang, Ray masuk bersama dengan Irfan ke dalam ruangan itu. Irfan terlihat sangat dingin yang membuat setiap orang yang menatapnya begidik. Kilatan kamera tak hentinya menyorot laki-laki itu hingga ia duduk di kursi yang telah di sediakan.
"selamat pagi rekan-rekan wartawan semuanya. Saya selaku perwakilan dari Tuan Irfan akan menyikapi berita yang beredar saat ini. Tuan Irfan memang sudah menikah dengan nyonya Fajira dan resepsinya baru di adakan beberapa hari yang lalu. Tentunya sudah ada tuan muda Fajri di dalam pernikahan mereka.
Pasti rekan-rekan semua bertanya kenapa tidak di publis dan di adakan pesta pernikahan sebesar-besarnya mengingat kedudukan tuan irfan saat ini. Semua ini atas permintaan nyonya Fajira yang meminta agar identitas mereka di sembunyikan karna satu dan lain hal.
Kami tidak akan mentolerir sedikitpun pemberitaan buruk tentang Nyonya Fajira dan tuan Muda Fajri. Jika kalian mau memcoba silahkan saja dan lihat apa yang akan kami perbuat. Sekian terima kasih"
Jumpa pers di lakukan tanpa ada tanya jawab agar mereka tidak banyak mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Irfan dan Ray berlalu dari sana mereka kembali menuju ruangan CEO yang berada di lantai 7. Sebelum masuk ke dalam ruangan Irfan lebih dulu mengatur emosinya agar fajira tidak takut melihatnya nanti.
ceklek...
"sayang" panggil Irfan.
"Mas, Bagaimana?" Fajira segera menghampiri Irfan dan memeluknya.
"Sudah aman sayang. Kita hanya memastikan jika tidak ada berita buruk yang akan muncul kedepannya nanti"
Mereka membicarakan banyak hal untuk mengantisipasi kejadian hari ini, hingga Fajira memutuskan untuk kembali ke kampus karna ia sudah sering tidak hadir dalam mata kuliahnya kali ini.
"Mas, Aku ke kampus saja ya" ucap Fajira.
__ADS_1
"Besok saja ya kamu ke kampusnya"
"Aku sudah sering bolos di mata kuliah ini Mas, aku gak mau gagal"
"baiklah. Tapi hati-hati ya"
"iya mas"
Fajira memakai topi dan masker untuk menutupi identitasnya. Perlahan ia berjalan keluar dari gedung dan bahkan dengan santainya ia berjalan menuju mobil yang sudah menunggu tak jauh dari sana. Sementara para wartawan tidak sadar jika orang yang tengah mereka tunggu sedang berjalan di tengah-tengah mereka saat ini.
huft... untung mereka tidak mengenaliku. Sekarang tinggal bagaimana caranya menghadapi orang-orang kepo yang sudah ikut serta membuka identitasku. Huft semoga Riska dapat di percaya dengan tidak memberitahu mereka bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Mobil terus melaju menuju kampus untuk mengantarkan ibu muda itu. Benar saja ketika mobil berjalan memasuki gerbang kampus, banyak mahasiswa yang melihatnya dengan tatapan penasaran dan membuat Fajira sedikit risih.
"Nyonya, apa nyonya serius mau turun saat ini? kalau boleh saya memberi saran, lebih baik tunggu berita ini tenang terlebih dahulu. Agar nyonya bisa lebih tenang"
"saya juga berfikir seperti itu pak, tapi mata kuliah ini tidak bisa saya tinggalkan lagi. karna jatah absennya sudah habis pak"
"lalu bagaimana nyonya? Apa tuan Irfan tidak meminta beberapa orang untuk menjaga nyonya ketika di luar seperti ini?"
"sebentar saya telefon dulu Mas Irfan Pak"
Fajira mengambil ponselnya dan mendial nomor Irfan di sana.
tuut... tuut...
"halo sayang?"
"halo Mas, apa kamu punya bodyguard lebih untuk aku?"
"sudah sayang, mas sudah mengirim 4 orang untuk menjaga kamu. Jangan risau ya"
"iya mas terima kasih"
"kamu bisa berterima kasih nanti di rumah sayang. Mas tutup dulu ya sebentar lagi Mas akan meeting"
"iya mas" Fajira mematikan panggilan teleponnya.
"Bapak jangan jauh-jauh ya. Saya gak lama, hanya satu mata kuliah saja"
"baik Nya".
Fajira perlahan keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam fakultas tanpa menghiraukan tatapan mahasiswa lain yang menatapnya dengan berbagai macam ekpresi. Fajira dengan santai mengikuti pembelajarannya siang ini dan memilih untuk pulang setelah selesai.
πππ
TO BE CONTINUE
Maaf ya gais kalau ceritanya mulai garing, tapi setelah ini aku pastikan ceritanya akan lebih seru dan menegangkan.
yuk simak terus cerita Fajri, jangan lupa tinggalkan jejak.
"boleh kasih Aji bunga om dan tante?" ucap Fajri merona sambil memegang sebelah pipinya.
"terima kasih"
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Rasa trauma pada Aira membuatnya membenci pria, termasuk Ayah dan pamanya, melarikan diri dari ayah yang ingin menjodohkannya dengan pria parohbaya, Aira lari kerumah pamanya, seperti lari dari kandang singga dan masuk kekandang macan, sampai di rumah pamanya Aira malah di jual di tempat pelacuran.
Setelah berkali-kali disiksa, Aira akhirnya bisa lari, namun jeadaanya mengenaskan hingga harus mengalami depresi saat di temukan, phisikiater muda, mereka merawat Aira di rumah sakit jiwa.
__ADS_1
Sementara itu, Aldi dan Romeo dua playboy kampus sedang taruhan mobil mewah, barang siapa yg kalah, harus menikahi pasien rumah sakit jiwa, dan Aira di pilih sebagai taruhan mereka, lalu siapa yang akan mendapatkan Aira, bagaimana Aira menerima kenyataan jika dirinya hanyalah gadis yang di pertaruhkan, akan kah cinta sejati hadir di kisah hidup Aira, kocak, sedih dan romantis, semua ada di sini.