
"ja-jangan mendekat a-atau aku sshhh..." Fajira meremang ketika merasakan usapan lembut di tengkuknya.
"atau apa sayang. Aku gak tau kenapa kamu bisa membangkitkan gairahku hanya dengan berciu.man seperti tadi, Apa aku boleh memintanya lagi? mumpung Anak kita sudah tertidur" ucap Irfan genit sambil duduk di tepi tempat tidur, tepatnya duduk di belakang Fajira yang tengah berbaring tanpa menghiraukan kondisi Fajira saat ini.
"A-apa anda masih mengangap saya seorang jala.ng? jika ia lakukanlah sesuka hati anda tuan" lirih Fajira dengan emosi yang bercampur aduk dan air mata yang menetes. Rasa takut, ingin marah dan ingin membunuh laki-laki ini ada dalam diri Fajira menyeruak begitu saja.
deg...
Irfan terkejut dan terdiam, mendengar suara lirih dari Fajira. Perlahan ia berbaring di belakangnya dan memeluk perempuan itu dengan erat.
"maafkan Aku sayang, Aku salah karna memulai ini semua dengan cara yang sangat tidak baik dan sangat menyakitimu. Aku minta maaf dengan segala yang aku punya. Aku ingin kita memulai kembali semuanya sayang. Aku ingin hidup bersama kamu dan anak-anak kita nanti. Beri aku kesempatan, Aku mohon" ucap Irfan lirih.
Jantung Fajira berdetak lebih cepat dengan tangan yang bergetar hebat karna trauma itu kembali merasukinya, setelah ia sempat menahan bayangan kelam yang mendesak untuk di ingat kembali, pertahanannya runtuh.
Mata Irfan membola ketika memegang tangan Fajira yang bergetar.
"sayang, kamu kenapa?" ucap Irfan panik.
"ja-jangan" lirih Fajira dengan mata yang tertutup.
Irfan langsung mengubah posisi tidur Fajira menjadi terlentang agar bisa melihat bagaimana keadaan wanita kesayangannya itu.
"sayang lihat aku" ucap Irfan berusaha untuk membuka mata Fajira.
"ja-jangan sakit... sakit... pergi dasar bajing.an" jerit Fajira membuat Fajri terbangun. Irfan juga kaget mendengar umpatan kasar dari mulut Fajira.
"Bunda" pekik Fajri. Tanpa menunggu lama ia langsung mendekap Fajira dan memanggil namanya.
"Bunda, Bunda ini Aji" panggil Fajri sedikit panik.
"Bunda ini Aji coba lihat dulu" Fajri memegang ke dua pipi Fajira.
"Aji Hah... Hah..." Fajira bangun dan langsung mendekap Fajri. Dengan nafas yang menderu Fajira menutup matanya agar tidak melihat laki-laki itu lagi.
"apa Bunda bermimpi?"
"iya sayang"
Irfan yang melihat itu berkaca-kaca, begitu besar trauma yang di alami oleh Fajira. Ia memilih pergi dari sana setelah mengenakan pakaiannya.
"Aji jagain Bunda sebentar ya nak. Ayah mau telefon dokter dulu"
"iya ayah"
Irfan berjalan menuju ruang kerjanya, ketika masuk tak lupa ia mengunci pintu itu kembali. Ia menatap nanar ke sembarang arah, sungguh laki-laki itu sangat menyesal karna sudah membuat Fajira trauma. Irfan meraih ponselnya dan mendial kontak Ray di sana.
tuuut,,,tuuut...
"halo tuan" ucap Ray di balik telefon.
"halo Ray, apa kamu sedang sibuk?"
__ADS_1
"tidak tuan saya baru selesai meeting. Apa ada yang bisa saya bantu tuan?"
"iya, tolong carikan saya psikolog atau psikiater wanita terbaik Ray"
"psikolog? maaf tuan kalau boleh saya tau untuk siapa ahli psikolog?"
"untuk Fajira, dia mengalami trauma berat karna kejadian beberapa tahun silam. Kalau seandainya kamu bisa mendapatkannya hari ini, tolong kamu minta dia untuk datang kesini"
"baik tuan akan saya usahakan"
"terima kasih Ray"
"sama-sama tuan"
tut...
Irfan memilih untuk keluar dan menuju dapur, ia berencana akan membuatkan Fajira sup dan beberapa cemilan agar perempuan itu bisa lebih tenang.
"tuan ngapain di dapur? biar saya saja ya" ucap bibi.
"gak apa-apa bi. aku mau membuatkan sup dan beberapa cemilan untuk mereka"
"apa tuan bisa? bibi bantu untuk mempersiapkan bahan-bahannya ya"
"iya bi"
Hampir 40 menit mereka berkubang di dapur, hingga sup terhidang di atas nampan dan siap untuk di bawa ke atas.
Irfan berjalan kembali menuju kamarnya dengan membawa sebuah nampan yang sudah berisi beberapa makanan di sana.
Sementara di dalam kamar, Fajira termenung sambil mendekap Fajri yang kembali terlelap. Pandangan yang kosong membuatnya tidak sadar jika Irfan sudah berada di sampingnya.
"sayang" panggil Irfan lembut. Fajira hanya menoleh sebentar lalu menatap kesembarang arah lagi.
"sayang aku bikinkan sup untuk kamu"
"apa yang anda inginkan? apa anda belum puas merusak saya?" lirih Fajira bertanya dengan pandangan kosong dan air mata yang menetes.
"maafkan aku. Sungguh aku hanya ingin bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah ku lakukan terhadap kamu, di samping aku memang benar-benar mencintaimu"
"apa permintaan maaf anda bisa membuat traumaku hilang?"
"aku sedang mencarikan psikolog terbaik untuk kamu" ucap Irfan lembut.
"apa benar anda mencintai saya?"
"iya sayang, aku benar-benar mencintai kamu. Kita mulai semuanya dari awal ya"
"apa anda ingin hidup bersama saya?"
"iya, aku mau sayang. Dan berhenti menggunakan bahasa formal kepadaku"
__ADS_1
"anda yakin ingin menikahi saya?"
deg....
"i-iya sayang, kamu mau kan?" tanya Irfan dengan mata yang membola terkejut.
"belum tau, tapi yang pasti saya tidak akan mengobati trauma ini, biarkan anda merasakan akibat dari perbuatan anda sendiri. Sehingga ketika menikah nanti, anda akan mengulangi kejadian seperti ini ketika anda ingin berbuat lebih kepada saya. Anda memiliki istri tapi tidak akan pernah bisa anda sentuh" ucap Fajira dingin dan menatap Irfan dengan tajam.
"berusahalah untuk mendapatkan hati saya" sambungnya.
"sa-sayang" Irfan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Fajira.
Bagaimana aku bisa menahan hasrat seperti itu.
Irfan terdiam memikirkan bagaimana cara agar trauma yang di alami Fajira bisa di obat.
"kamu serius?" tanya Irfan tidak percaya.
"jika anda memang benar-benar sayang dengan saya dan Fajri, anda tidak akan mempertanyakannya lagi. Berarti semua yang anda ucapkan kepada saya hanya untuk hasrat semata" ucapan Fajira seolah menghujam jantung Irfan.
"sayang jangan berfikiran seperti itu. Iya aku akan berusaha untuk mendapatkan hati kamu, aku gak masalah jika kamu tidak mengizinkan aku untuk menyentuhmu, Aku hanya perlu stok sabun cair yang banyak nanti" ucap Irfan berusaha meyakinkan dirinya.
"apa anda yakin? Saya tidak yakin jika anda lebih memilih bermain dengan sabun, padahal wanita manapun bisa anda dapatkan"
"aku akui memang setelah malam itu aku selalu menginginkannya lagi dan lagi. Namun percayalah, mereka hanya menyentuh adikku tapi tidak untuk tubuhku. Dan sudah hampir satu tahun ini aku hanya bermain dengan sabun, karna aku ingin menjaga diriku untuk kamu"
"harusnya saya juga mencoba barang laki-laki kesana kemari seperti anda. Malang sekali saya mendapatkan bekasan seorang jala*ng, Ah iya saya lupa jika saya juga seorang jala*ng"
ucapan Fajira membuat hati Irfan sakit, seolah di tusuk oleh seribu pedang yang sangat tajam dan tembus hingga ke punggungnya. Sakit! itulah yang ia rasakan saat ini.
"sayang" panggil Irfan mendekat ke arah Fajira.
"jangan merdekat atau anda kembali menggangu tidur anak saya" sarkas Fajira.
"aku membuatkan kamu sup dan beberapa cemilan. Makan lah selagi bangat. Aku mau keluar dulu" Irfan mengusap kepala Fajira lembut dan membuat empunya terkejut.
Fajira menatap kepergian Irfan dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh ia bingung bagaimana bersikap kepada laki-laki itu.
Kalau bukan karna malam itu kamu sangat menyakitiku, mungkin dalam waktu dekat rasa itu dengan mudah tumbuh karna perlakuanmu yang terlihat begitu lembut dan tulus.
Perlahan Fajira membaringkan tubuhnya dengan masih mendekap Fajri dan mulai memejamkan mata. Ia berharap ketika bangun nanti ia sudah merasa lebih baik dari saat ini.
πππ
TO BE CONTINUE
Seperti janji author sebelumnya, jika jumlah favorit sudah sampai 300 sampai hari minggu author akan crazy up pada hari senin. Ini belum sampai hari minggu sudah lebih dari 300.
Yuk simak terus ceritanya, jangan lupa dukung ceritaku dengan cara terbaik teman-teman semua.
Baca aja boleh, koment aja boleh, Vote saja boleh, LIKE aja juga boleh, atau hanya scrol saja boleh juga π π .
__ADS_1
Salam sayang dari author π€π€