Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
133. Saling Memaafkan


__ADS_3

Pagi menjelang, Fajira mengerjabkan mata, ketika merasakan sesuatu yang tengah menggerayanginya.


"Mas?" panggil Fajira dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"eh, kamu sudah bangun, sayang? Apa kamu terganggu?" tanya Irfan kembali mengecup dua gunung besar itu.


Dasar mesum! gimana gak terganggu! orang kamu gigit-gigit Aku! huh!. bathin Fajira kesal dengan pertanyaan suaminya.


"Kamu mau ngapain, sayang?" tanya Fajira menahan tubuh Irfan.


"Aku mau lagi ya, mumpung sekarang lagi libur," ucap irfan dengan ekspresi yang terlihat sangat menggoda


"gak mau! semalam kamu udah dapat dua ronde, gak boleh sering-sering, sayang" ucap Fajira berusaha menghentikan aktivitas Irfan.


"sebentar saja!" pria tampan itu malah menggenggam kedua tangan Fajira dan mengangkat hingga ke atas kepala.


"Ya sudah, silahkan dilanjut, kalau sampai anak kita kena..."


"jangan sampai lah sayang!" sergah Irfan cepat sambil melotot.


"Ya sudah. Sana mandi!, pasti bentar lagi Fajri sudah merengek mau kembali ke sini sama Mama" ucap Fajira.


"bareng ya!"


"iya!"


Pagi itu mereka mandi bersama seperti biasanya. Sambil sesekali saling mengerjai, dan membuat pagi mereka bertabur kebahagiaan. Tanpa menghiraukan seorang pria kecil yang sudah berkaca-kaca dan kesal di dalam kamar Mama Viola.


...🌺🌺...


Saat ini mereka sedang berada di ruang makan. Mama sudah membuat sarapan untuk anak menantunya karna Fajira terlambat bangun pada pagi ini.


"Makan dulu, sayang" Ucap Fajira sambil menyuapi Fajri. Ia mengernyit ketika pria kecilnya tidak merespon sama sekali


"Aji bisa makan sendiri!" ucap Fajri ketus dan membuat Fajira terkejut.


"kok Aji gitu ngomongnya nak?" sentak Fajira.


Pria kecil itu hanya diam sambil memakan sarapannya. Fajira tau apa penyebab drama Fajri hari ini. Namun sikap pria kecil itu membuatnya sangat tidak suka.


Dari pada ia memarahi anaknya di depan makanan, Fajira memilih diam dan tidak menyentuh sarapan pagi itu. Sehingga membuat Irfan juga ikut mengernyit bingung melihat tingkah istrinya.


"Kenapa gak dimakan, sayang?" tanya Irfan berhasil membuat perhatian semua orang teralihkan kepada Fajira.


"Aku gak berselera, Mas!"


"kenapa? biasanya 'kan kamu makan terus. Ada apa? mau aku suapi?" Irfan mengambil satu sendok makanannya dan menyuapi Fajira.


"Gak lah Mas, Nanti saja!" Fajira beranjak dari sana.


"Bunda" lirih Fajri dengan perasaan bersalah yang memenuhi hatinya.


Ingin ia mengejar bidadari itu, namun kaki kecilnya masih sulit untuk di bawa berjalan. Irfan mengernyit, sebab ia tidak memperhatikan apa yang terjadi di antara anak dan istrinya tadi.


Fajira tidak menghiraukan panggilan Fajri, ia masih melangkah menuju dapur dan mengambil satu kotak strauberry dan kembali duduk di kursinya.


"sayang, itu asam lo. Nanti kamu sakit perut!" sergah Irfan


"Bunda, maafin Aji" Pria kecil itu menatap Fajira berkaca-kaca. Tangannya terulur memeluk bidadari cantiknya


"Makanlah dulu!" ucap Fajira memabalas pelukan Fajri.


"sayang ada apa?" tanya Irfan mengernyit.


"makan dulu, Mas!"

__ADS_1


Pagi itu suasana terasa sangat dingin. Etah apa yang terjadi, irfan mengernyit bingung melihat anak dan istrinya, begitu juga dengan Mama.


Setelah selesai makan, Irfan segera menggendong Fajri menuju ruang keluarga, tak lupa ia menggandeng Fajira dan memastikan jika anak dan istrinya baik-baik saja.


"Sekarang, coba jelaskan apa masalahnya?" tanya Irfan menatap Fajri dan Fajira bergantian.


Mereka bungkam hingga isak tangis Fajri mengejutkan mereka.


"hiks... Maafin Aji, bunda! Aji udah kasar sama bunda. hiks... maafin Aji!" ucap Fajri terisak sambil memeluk Fajira dari samping.


"kenapa? ada apa sebenarnya?" anta Irfan semakin dingin.


"Kamu mau tau? Fajri kesal karna dia tidur terpisah dari kita semalam. Dan tadi dia ngomong ketus sama aku!" Fajira menatap Irfan.


Walaupun aktivitas mereka kemarin juga sangat ia inginkan, namun keputusan Irfan tetaplah salah menurutnya. Untuk apa ada kasur di dalam ruang ganti kalau tidak di pakai?.


Irfan hanya terdiam. Tapi ia tidak juga ingin di salahkan atas semua ini.


"kamu mau marah?, Marahlah dan pada akhirnya aku yang akan kamu salahkan!" lirih Fajira menatap Irfan.


"sudah sayang, Besok gak boleh seperti itu lagi ya! Bunda sedih kalau Abang ngomong ketus sama Bunda. Apa abang gak mau tidur sama Oma? Kasihan lo nak! Oma cuma tidur sendiri," ucap Fajira berkaca-kaca sambil menatap Fajri dan mengelus kepala pria kecil itu dengan lembut.


"maafin Aji, bunda!" Ucap Fajri berusaha untuk menahan tangisnya.


"Iya sayang. Gak boleh seperti itu lagi ya!"


"iya bunda"


"coba senyum dulu. Duh anak ganteng Bunda ini!"


Fajri tersenyum manis dengan air mata yang masih menetes di sertai dengan isak yang tertahan. Sementara Fajira menghapus air mata berharga yang keluar ari mata indah putranya.


Irfan masih terdiam, ucapan Fajira tadi serasa mencubit hatinya. Ia memang bersalah dalam hal ini.


"maaf!" ucap Irfan menunduk. Sungguh ia kehilangan taring di depan ibu hamil ini.


Mereka saling berpelukan dengan hangat. Menyadari kesalahan masing-masing adalah satu hal yang penting dalam hubungan, apalagi keluarga. Masalah tidak akan pernah selesai jika saling menyalah satu sama lain.


Mama menghangat melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Bahkan melihat perilaku Irfan dulu, ia tidak pernah memikirkan hal yang seperti ini. Jangankan berfikir, jika terlintas 'pun dalam fikirannya, ia hanya bisa berharap Irfan bisa mendapatkan kebahagiaannya di kemudian hari.


"tuan Irfan sudah banyak berubah ya, 'Nya!" ucap Bi Yuri mengagetkan Mama.


"ihh, bibi! bikin kaget saja!" sentak Mama sambil mengelus dadanya.


"eh maaf, 'Nya. Hehe!" bi Yuri terkekeh melihat majikannya terkejut.


"ish..." Mama kembali melihat anak dan menantunya yang masih berpelukan.


"Semoga tuan Irfan, nyonya Fajira, tuan muda Fajri dan calon nona kecil bahagia hingga maut memisahkan. Saya melihat banyak perubahan dalam pribadi tuan Irfan semenjak bersama Nyonya Fajira, 'Nya!" ucap bi Yuri berkaca-kaca.


"iya, saya juga merasa seperti itu, Bi. Semoga tidak ada lagi masalah yang akan menimpa mereka,"


"aamiin"


Di sini lah sekarang dengan mata kepalanya, ia melihat Irfan yang selalu di selimuti kebahagiaan dan mendapatkan istri yang terbaik di dunia ini.


Semoga kalian selalu bahagian hingga maut memisahkan.


Mama melangkahkan kakinya menuju kamar, ia sengaja tidak mengikuti Irfan untuk pergi ke ruang keluarga. namun ia memilih untuk menguping dan melihat bagaimana anaknya menyelesaikan masalah dalam keluarga.


...🌺🌺...


Sementara di belahan dunia lain, Ray dan Riska sedang berada di bandara untuk berangkat menuju kampung halaman Riska.


Semalam Ray mendapatkan pesan singkat dari Irfan, jika ia di berikan izin cuti hanya sampai hari minggu, sementara sekarang adalah hari jum'at yang kebetulan libur karna ada peringatan hari nasional.

__ADS_1


"Kakak, apa ini tidak terlalu mendadak?" tanya Riska sambil menatap Ray.


"tidak, Saya rasa ini tidak mendadak. Apa kamu sudah memberitahu keluargamu di kampung?" tanya Ray.


"Sudah kak,"


"Syukurlah. Yuk kita jalan!" Ray masih menggandeng tangan Riska erat sambil berjalan menuju pesawat.


Ray merasa kembali deg-degan, karna hari ini ia akan pergi ke daerah Sabang, Banda Aceh, dimana kediaman keluarga besar Riska berada di sana.


Ia masih mencoba untuk menetralkan detak jantungnya dengan baik, agar tidak di sadari oleh gadis polos yang ada di sampingnya.


"Istirahatlah, Nanti akan saya bangunkan kalau sudah sampai" ucap Ray mengelus tangan Riska lembut.


Mereka sudah mendapatkan tempat duduk pada businnes class pesawat ternama keluaran tanah air.


Riska menyandarkan kepalanya di bahu Ray. Laki-laki itu hanya bisa mengusap lembut kepala perempuan yang begitu ia cintai.


"kak?" panggil Riska.


"hmm?"


"kak, apa boleh aku meminta sesuatu?" tanya Riska hati-hati.


"apa?"


"hmm tapi kakak jangan marah ya" gadi manis itu mewanti-wanti terlebih dahulu.


"tergantung apa yang kamu tanyakan Riska!"


"Apa kakak masih menganggapku orang lain?"


"apa maksud kamu? Bukankah sudah jelas kalau kita sebentar lagi akan menikah?" tanya Ray mengernyit.


"kenapa kakak masih berbicara formal kepadaku?"


Ray terdiam, ia memang belum bisa merobah bahasa formalnya keadaan siapapun, kecuali kepada ibunya.


"Maaf, itu sedang saya coba, Riska. Semoga kamu bisa paham!" lirih Ray yang menyadari kekuarangannya.


"Aku paham kak, tapi coba gitu ngomong 'aku'. Ayo coba kak!" desak Riska.


"aku? Aku! aku! gitu?" ucap Ray memperagakan.


"iya, Coba ngomong kak!"


"saya..."


"aku..."


"a-aku...


"iya, Aku..."


"Aku mau ke toilet sebentar!" ucap Ray dengan wajah yang memerah.


Namun karna pesawat akan take off, ia terpaksa kembali duduk dan memakai seatbeltnya.


Riska hanya bisa menahan tawa Melihat ekspresi Ray yang tengah menahan malu.


"Jangan malu, sa...yang" ucap Riska dengan berani.


Pesawat terus mengudara membawa sepasang insan yang tengah di mabuk asmara itu,mereka masih saling berpegangan tangan sambil sesekali menggoda satu sama lain.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2