Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
160. Cemburunya Ivanna


__ADS_3

Mata cantik Ivanna mengerjab, ia menelisik keadaan sekitar. Hanya ada dia dan abang tampannya tengah terlelap di ruang keluarga itu. Ivanna mengeratkan pelukan yang terasa hangat dan nyaman, sambil memejamkan kembali matanya.


Fajri yang merasakan pergerakan kecil itu langsung terbangun dari mimpi indahnya. Ia menatap Ivanna dengan mata sayu yang masih mengantuk.


"kenapa, sayang?" tanya Fajri dengan suara seraknya.


"Apa bunda belum pulang, bang?" tanya Ivanna sedih.


"jam berapa ini? abang gak tau, dek!" Fajri melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.


"Dede lapar, bang. Kita ke dapur yuk, cari cemilan!" ajak Ivanna.


"yuk! abang juga udah lapar!. Ayah kemana ya?" Fajri bangkit dari tidurnya dan menggandeng Ivanna menuju dapur.


Semakin langkah mereka mendekat ke arah dapur, semakin Hidung mereka serasa di belai dengan aroma sedap yang menggugah selera.


"bang, ini bau masakan Buna! Apa Buna sudah pulang ya?" ucap Ivanna senang.


"sepertinya bunda sudah pulang, dek! Tapi bagusnya kita kembali ke ruang keluarga aja, yuk!" ucap Fajri terkejut karna tiba-tiba saja melihat adegan aneh yang di lakukan oleh orang tuanya di dapur.


"kenapa bang? Dede mau lihat Buna!" ucap Ivanna berlari.


Matanya membola ketika melihat Irfan tengah memeluk Fajira yang sedang memasak di dapur. terlihat Dua orang dewasa itu saling menggoda satu sama lain.


"Ayah!" teriak Ivanna dan berhasil membuat Irfan dan Fajira terlonjak kaget.


Gadis kecil itu menatap bengis orang tuanya. Ia melangkah mendekat ke arah Irfan sambil berkacak pinggang.


"Ayah ngapain peluk-peluk Buna? Ayah udah gak sayang Dede lagi?" teriak Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.


Fajira terkejut mendengar perkataan Putrinya. Bisa-bisanya gadis kecil ini berkata seperti itu! apa aku terlihat seperti pelakor yang merebut ayahnya? fikir Fajira sambil meringis.


"bukan gitu, sayang!" sergah Irfan cepat, ia terlihat seperti orang yang terciduk sedang berselingkuh.


"Terus ayah ngapain tinggalin Dede tidur sama abang, terus malah berdua-duaan di sini sama Buna?" tanya Ivanna melotot.


Fajri mendekati Fajira dan menatap bidadari cantik itu dengan kikuk.


"apa Aji seperti itu dulu, Bunda?" tanya Fajri ketika mengingat tingkahnya yang sering cemburu kepada Irfan.


"hehehe kurang lebih iya, sayang" ucap Fajira terkekeh, Fajri hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambip tersenyum kikuk.


Mereka menatap ayah dan anak itu sambil menahan tawanya.


"Ayah jawab! Ayah udah gak sayang Dede lagi?" rengek Ivanna yang sudah menangis.


"Bukan gitu, nak! tadi Bunda minta bantuan sama ayah, makanya Ayah bantu! sstt... sstt... sudah ya jangan nangis lagi!" ucap Irfan menggendong gadis kecil itu.


"gak mau! ayah bohong. Ayah udah gak sayang dede lagi!" Ucap Ivanna memberontak di dalam pelukan Irfan.


"udah, sayang. Nanti kalau Dede nangis cantiknya hilang lo!" ucap Irfan.


Ivanna terdiam seketika, ia sangat tidak ingin kecantikannya luntur. Ia segera mengusap air matanya dengan kasar.


Plak...


Ivanna memukul bahu Irfan, ia menatap pria tampan itu dengan intens.

__ADS_1


"Ayah!" panggil Ivanna horor.


"Aduuh... Bahu ayah sakit, sayang!" ucap Irfan mendrama sambil mengusap bahunya


"a-ayah serius? gak bohong 'kan? hiks... maafin Dede!" gadis kecil itu malah meraung di dalam gendongan Irfan.


Fajira dan Fajri hanya bisa menepuk kepalanya melihat kelakuan Irfan dan Ivanna. Fajri hanya bisa tersenyum geli mengingat bagaimana cemburunya ia ketik mendapati Irfan tengah bermanja dengan ibundanya.


"sudah ya, nak! jangan nangis lagi! coba cium ayah dulu, pasti nanti sakitnya hilang!" ucap Irfan panik sambil menenangkan Ivanna.


"Hiks... bentar bisa Ayah?" mata polos Ivanna menatap Irfan penuh harap.


"coba dulu, sayang!"


muach...


muach... muach... muach...


Ivanna melayangkan kecupan sana sini di wajah ayahnya, Irfan tersenyum penuh kemenangan ketika mendapatkan kecupan basah itu.


"Apa ayah sudah sembuh?" tanya Ivanna sambil terisak.


"sudah, sayang! besok gak boleh pukul-pukul lagi ya!" ucap Irfan lembut.


"iya, Ayah!" Ivanna memeluk Irfan erat.


Fajira kembali meneruskan acara masak-memasaknya sambil menahan tawa. Setelah 10 menit semua masakan sudah terhidang di atas meja,karna tadi Fajira hanya tinghal memasak sayur saja lagi.


"ayah, adek, abang! makan lagi!" teriak Fajira.


"bi, tolong panggilkan ibu, ya! terima kasih,"


Setelah Anggota keluarga cukup, mereka segera makan dengan lahap semua hidangan yang sangat menggugah selera. Bagi Fajira tubuh sehat keluarga adalah hal yang paling penting.


Terkadang Irfan sering meringis ketika melihat perutnya yang mulai buncit dan akan semakin memblendung ketika ia tidak memiliki waktu untuk olah raga.


Ivanna dan Fajri jangan di tanya, tubuh mereka sehat dengan pipi chubby dan perut kenyal seperti squisy yang selalu membuat Fajira gemas melihat anak-anaknya.


...🌺🌺...


"Buna, Yuk kita belajar lagi!" ajak Ivanna.


"Oke, Dede mau belajar apa sayang?" tanya Fajira.


"Hmm, tadi Dede sudah bisa membaca, Dede belum bisa menulis Bunda. Yuk, kita menulis!"


"oke. Abang tugas sekolahnya sudah selesai?" tanya Fajira.


"tinggal matematika lagi Bunda, selebihnya sudah selesai!" ucap Fajri malas.


"yuk sini Bunda ajarkan, sayang!"


"iya, Bunda" ucap Fajri lesu.


Irfan sudah berada di ruang kerjanya, karna tadi mendadak ia mendapakan kerjaan yang di bawa oleh Pandu selepas makan siang.


"Buna tadi pulang jam berapa?" tanya Ivanna.

__ADS_1


"hmm jam berapa tadi ya, 10 apa sebelas tadi, Bunda lupa, nak! kenapa, sayang?"


"gak papa, Buna! berarti Dede sama abang lama ya tidurnya!"


"Dede gak sedih 'kan kalau Bunda tinggal?" tanya Fajira sambil mengusap lembut kepala Ivanna.


"sedih, Buna!" gadis kecil itu menunduk sedih.


"uluh, sayang Bunda ini, sekarang Bunda udah pulang 'kan?, jangan sedih lagi oke?"


"oke, Buna." Ivanna tersenyum.


Mereka mulai untuk belajar menulis. Ivanna yang antusias berbekal otak yang cerdas membuatnya sangat mudah untuk mempelajari berbagai hal yang ada di sekitarnya. Namun ia merasa sangat malas karna otaknya yang sangat pintar sehingga ia memilih untuk mengundur masa belajarnya.


"huh, kalau tau seperti ini, 'kan Dede bisa sekolah kemaren-kemaren sama abang, Iya 'kan, Buna?" tanya Ivanna menyesal.


"iya, sayang. Itu makanya, udah lama 'kan Bunda bilang? Dede masih juga gak mau!" ucap Fajira tersenyum.


"hooh, Buna. Apa besok Dede boleh masuk sekolah?" mata polos itu berbinar senang menatap ke arah Fajira.


"hmm, gimana ya, sayang. Soalnya sekarang udah mulai sekolah, Dede harus menunggu tahun depan untuk mendaftar!" ucap Fajira mengelus kepala putrinya.


Wajah berbinar Ivanna meredup, ia sangat ingin bersekolah seperti abangnya. Semuanya sudah terlambat, ia harus menunggu tahun depan untuk bersekolah.


Ia menyangga kepala menggunakan meja, helaan nafas berat terdengar keluar dari mulutnya. Sungguh Fajira sangat tidak tega melihat gadis kecil ini bersedih.


"Dede beneran mau sekolah, sayang?" tanya Fajira.


"iya, Buna. Masa iya Dede harus menunggu lagi sih? salah Dede juga yang gak dengar perkataan, Buna. Dede menyesal!" wajahnya semakin murung dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ya sudah. Nanti sore kita belanja keperluan sekolah Dede, besok Bunda daftarkan ke sekolah ya!" ucap Fajira.


"Buna serius? gak bohong 'kan?" tanya Ivanna terkejut.


"Buna serius, sayang! tapi Dede harus rajin sekolahnya. gak boleh bolos!" ucap Fajira.


"siap, Ibunda Ratu!" wajah cantik itu kembali berbinar senang dan kembali bersemangat untuk mempelajari berbagai macam pelajaran.


Bahkan Ivanna tidak menolak ketika Fajri meminta tolong untuk menyelesaikan tugas rumahnya. pria kecil itu hanya menyengir ketika mendapatkan pelototan tajam dari bidadari cantik itu.


"sudah, bang!" ucap Ivanna menyelesaikan lima buah soal tentang pythagoras kemarin.


"sini Bunda cek dulu!" ucap Fajira.


Setelah membaca dan menghitung hasilnya, mata Fajira membola ketika melihat semua jawaban yang di tulis itu benar. Ia menatap anaknya dengan intens, sementara yang di tatap hanya bisa menyengir polos.


Apa yang akan Dede lakukan di kemudian hari, sayang? Bunda gak bisa membayangkan jika kalian berkolaborasi dan menciptakan hal yang besar. bathin Fajira meringis.


Rasanya ia ingin pingsan saat ini melihat kepintaran anak-anaknya.


🌺🌺


TO BE CONTINUE


Happy weekend gais, aku ada kabar gembira untuk readers semua, mulai dari hari senin aku akan crazy up ya. Yuk dukung terus karya ku, semoga ceritanya tidak membosankan 😁.


Boleh dong sedekah LIKE, komentar, vote dan hadiahnya 😍😍😍

__ADS_1


terima kasih πŸ€—πŸ€—


__ADS_2