
BRAAK!!
Fajri menjatuhkan beberapa buku ke lantai dan membuat perempuan itu kaget dan semakin meremang.
"hihihi hihi hihihi hihi hehehe hahaha hihhihih" suara itu kembali terdengan sehingga membuat Sherly bergidik ngeri dan takut.
Hantu itu tidak ada!, hantu itu tidak ada!. Sekarang masih siang, tidak mungkin ada hantu, setan atau sejenisnya. Siapapun tolong Aku!. Batin Sherly menjerit takut, menolak kehadiran suara-suara yang sangat menyeramkan itu
Fajri menghidupkan audio setan dari ponselnya. Ia sendiri terkikik dan menahan tawa ketika memutar suara itu, namun tidak di pungkiri jika bulu kuduknya juga meremang.
"siapa disana?, Mas kamu jangan takut-takutin aku dong" ucapnya sudah gemetaran.
"mas Irfan" lirihnya mencoba untuk berjalan ke arah kamar Irfan.
Tirai ruangan perlahan tertutup dengan lampu tiba-tiba saja padam dan hanya menyisakan kegelapan.
"Aaaaaaa!" teriak Sherly menggedor-gedor pintu kamar Irfan.
"MAS, BUKA MAS!, Mas Irfan buka pintunya. jangan ngerjain aku. Maas!" teriak Sherly yang sudah sangat takut.
"Mas...." teriaknya lagi sambil menangis.
"hai tante!" sapa seorang bocah yang membuat perempuan itu kembali kaget dan berteriak
"AAAAAAAAA" teriak Sherly makin menjadi.
Fajri keluar dari tempat persembunyiannya dengan hanya memakai daleman saja dan bedak tabur yang selalu ia bawa di dalam tas. Ia juga sudah membalurkan bedak itu ke seluruh tubuh dan rambutnya. Tak hayal itu terlihat seperti tuyul tampan yang sedang menampakkan diri.
Sherly hanya bisa berjalan mundur dengan perlahan karna Fajri semakin mendekatinya.
"ja-jangan! Jangan mendekat atau atau! Jangan!" teriak Sherly ketika Fajri sedikit berlari ke arahnya.
"jangan pernah datang kesini lagi, Atau tante akan saya cekik" ucap Fajri sedikit menirukan gaya zombi.
"hei anak kecil, si-siap kamu berani mengusirku?" teriak Sherly sambil menutup wajahnya dengan tas yang ia bawa.
"saya penghuni di dalam ruangan ini. Tangkap bola mataku!" ucap Fajri seolah sedang mengeluarkan bola matanya.
Pria tampan yang sedang menjadi cosplay tuyul itu melemparkan dua buah mainan karet sudah ia basahi dengan air, ke pada Sherly.
"AAAAAAAAA" teriak Sherly semakin menjadi, ia berusaha bangkit daru tempat duduknya dan berlari keluar dari ruangan Irfan.
Fajri juga mengejarnya hingga pintu masuk ruangan itu dengan gelak tawa khas miliknya
__ADS_1
Fitri hanya menatap perempuan yang sudah berantakan itu dengan tatapan heran. Ada apa dengan dia? begitu bathinnya. Namun karna pekerjaan yang sangat banyak dan menumpuk membuatnya kembali fokus kepada layar komputer miliknya.
Sherly berlari menuju lift dan segera keluar dari gedung mewah perusahaan Irfan. Ia mendapatkan tatapan yang aneh dari semua karyawan yang ada ia temui sepanjang perjalanan.
Dengan nafas yang menderu, ia segera berlari menuju parkiran dan menaiki mobil mewahnya sambil berusaha untuk menenangkan diri.
"Sia lan!! Apa benar di ruangan itu ada tuyul? gak mungkin kan Mas Irfan memelihara tuyul. Aku harus segera pulang sebelum aku gila karna ini. Apa betul tadi dia melemparkan matanya kepada ku? hiks... Daddy tolongin akui huaaa" Ucap Sherly sambil menangis dan gemetaran ia melajukan mobilnya dari sana dengan segera.
Sementara Irfan menyaksikan itu semua melalui cctv yang tersambung ke ponselnya, sambil menahan tawanya di dalam kamar mandi. Ia sengaja meminta Ray untuk mematikan lampu di dalam ruangan tersebut sambil berkoordinasi dengan Fajri.
Begitu juga dengan pria kecil itu, ia tak hentinya tertawa bahkan tadi juga sempat mengejar Sherly hingga ke pintu masuk. Bahkan perutnya sudah sakit saat ini.
cekleek...
Pintu terbuka, Fitri masuk ke dalam ruangan itu. Ia terkejut ketika melihat Fajri yang masih berdiri di sana dan masih berpenampilan tuyul.
"AAAAAA" pekik Fitri sambil melempar dokumen yang ia bawa dan berlari keluar.
Fajri juga ikut terkejut karna mendengar teriakan, karna keadaan ruangan itu masih gelap dan Irfan belum keluar dari kamar mandi.
"Hahaha" gelak Fajri menyadari siapa yang tengah terpekik kaget karna ulahnya.
"Hahaha" gelak Irfan keluar dari kamar sambil menghidupkan kembali lampu ruangannya.
"Kenapa Aji bisa berfikiran seperti itu, sayang?" tanya Irfan di sela tawanya.
"gak tau, Ayah. Aji hanya mengikuti apa yang Aji fikirkan melihat situasi dan kondisi yang ada. Tapi berhasil kan" ucapnya bangga sambil mengusap matanya yang sudah berair.l dan wajah yang merah.
"iya, Anak ayah memang pintar. Aduh apa lagi melihat Sekretaris Ayah juga ikut terkejut" Irfan membawa Fajri duduk di atas sofa karna ia sudah lelah tertawa sedari tadi.
"apa akting Aji cocok, Ayah?" tanya Fajri masih tertawa.
"cocok sayang, hanya saja wajah kamu terlalu tampan untuk menjadi tuyul"
ceklek...
Pintu terbuka, menampilkan Ray yang juga tergelak dengan wajah yang memerah, ia juga ikut menyaksikan apa yang sedang di perbuat oleh Fajri. Karna cctv yang ada di ruangan Irfan terhubung ke layar monitornya.
"tuan muda memang hebat" tawa Ray semakin besar.
Sungguh ia laki-laki yang tidak mudah tertawa, tapi kali ini ia menyerah untuk menahan tawanya.
"Sudah lama saya tidak tertawa lepas seperti ini, haha" Sambungnya.
__ADS_1
"Aduh, Aduh, sudah perut Aji udah tegang ayah! Tapi... hahaha" gelak Fajri kembali bahkan suaranya sampai hilang saking susahnya ia mengambil nafas.
"uhuk...uhuk..." mereka terbatuk karena terlalu banyak tertawa.
"Ray Jadwal saya ridak ada lagi kan?"
"tidak tuan, seperti permintaan anda. hingga besok jadwal anda kosong tuan!" Ray masih berusaha untuk menghela nafasnya agar bisa berhenti tertawa.
"aduh Aji capek ayah, Aji mau pulang, haha"
"Ya sudah kita pulang lagi. Tapi pake dulu bajunya, sayang!" ucap Irfan berjalan dan mengambil baju Fajri di dalam lemari.
"hehehe iya Ayah. Aji yakin kalau Bunda tau cerita ini pasti Bunda juga ketawa ayah" ucap Fajri membuat Irfan terdiam.
"Nanti Bunda marah gak ya sama ayah, sayang?" ucap Irfan takut jika Fajira akan marah kepadanya tentang Sherly.
"Nanti Aji bantu ngomong sama Bunda, kalau Ayah kena marah nanti"
Irfan memakaikan baju Fajri satu persatu dan mereka segera pergi dari ruangan itu.
"Ray nanti tolong minta CS untuk membersihkan ruangan ini. Saya pulang terlebih dahulu" ucap Irfan menggendong Fajri.
"baik, tuan. Semoga anda selamat di hadapan Nyonya Fajira nanti hehe" Ray masih tergelak.
"Aduh, Ray kamu jangan menakut-nakuti saya. Duh jantung ayah berdebar!"
"hehe, nanti Aji bantu Ayah, Ya"
Mereka segera berlalu dari ruangan itu. Fajri terlihat lebih menarik dengan rambut yang berwarna putih. Ia terlihat semakin tampan dan mengemaskan. Sehingga mereka menjadi pusat perhatian karyawan yang melihat pesona mereka.
"Tuan Muda Fajri ganteng banget. Perasaan tadi waktu datang rambutnya berwarna hitam, sekarang kenapa sudah berwarna putih ya?. Tapi itu ganteng banget" jerit karyawan.
"iya ya, mereka memang pahatan tuhan yang paling indah. Apa lagi bapaknya. Bagaimana keadaan jantung Nyonya Fajira yang setiap hari melihat ciptaan tuhan yang paling indah itu"
Irfan tidak menghiraukan ucapan karyawan yang tengah memuji ke tampanan Fajri dan dirinya. Ia segera menaiki mobil dan pulang menuju rumah. Ia sedikit takut jika nanti Fajira akan salah paham.
Semoga kamu bisa memahami penjelasan aku nanti sayang. Aku mohon jangan marah, karna ini yang bisa aku dan Fajri lakukan agar bisa melindu keluarga kita.
πππ
TO BE CONTINUE
Semoga terhibur gais, Aku bikinnya sambil ngakak ini π
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak π