Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
69. Pencarian Fajira Part 3


__ADS_3

Berita penculikan Fajira sudah tersebar dan menjadi trending topik di semua media sosial. Irfan yang membaca berita, hanya membiarkan mereka naik begitu saja tanpa mencegahnya. Ia bimbang, saat ini hanya satu yang ia inginkan yaitu Fajira segera di temukan.


"ayah!" pekik Fajri.


"apa nak?"


"Ini Bunda sudah berhenti dan titiknya sudah gak ada pergerakan lagi ayah" ucap Fajri senang.


"kamu serius nak?"


Irfan memperhatikan layar komputer dengan seksama, ia melihat salah satu pulau yang tidak terdeteksi adanya kehidupan di sana.


"dia licik sekali, bahkan di sana tidak terlihat adanya kehidupan sedikitpun. kemana mereka membawa istriku" ucap irfan emosi.


"Ray, segera atur siasat untuk mengepung mereka dan membawa istriku kembali. Jangan lupa siapikan pesawat dan beberapa transportasi yang lain untuk kesana"


"baik tuan"


Ray segera memerintahkan bawahannya untuk kembali ke markas agar bisa menyusun rencana penyelamatan Fajira dan mengepung para penjahat itu.


"apa tuan akan ikut dengan saya?," tanya Ray.


"tidak. Saya percayakan semuanya kepada kamu"


"baiklah tuan kalau begitu saya permisi"


"iya silahkan"


Ray berlalu dari sana, Fajri menatap ayahnya yang masih terlihat santai sambil menatap layar komputer.


"ayah kenapa gak ikut?"


"Ayah menyerahkan semuanya kepada om Ray sayang. Karna kalau ayah yang ikut, nanti takutnya ayah akan membunuh mereka semua yang sudah menculik bunda," ucap irfan tersenyum.


"sekarang, Ayah sudah punya Aji dan Bunda. Jadi gak mungkin jika ayah menjadi pembunuh kan?" sambungnya menatap Fajri.


Pria kecil itu menatap Irfan lekat, ia cukup terkejut mendengarkan perkataan dari ayahnya barusan.


"berarti pilihan Bunda selama ini betul kan ayah? Lebih baik Aji dan Bunda tidak di ekspose ke luar dari pada harus seperti ini. Aji gak mau ayah membunuh orang,"


"iya sayang. Makanya ayah menyerahkan semua rencana penyelamatan Bunda kepada om Ray,"


"huft... iya ayah. Aji sudah kangen sama Bunda. Tapi Aji yakin Bunda masih baik-baik saja,"


"iya ayah juga berharap seperti itu sayang"


tok... tok... tok...


"Tuan?" panggil bibi dari luar.


"ada apa bi?" tanya Irfan setelah membuka pintu.

__ADS_1


"di luar ada yang mencari anda dengan membawa senapan tuan" ucap bibi sedikit takut.


"siapa?" tanya Irfan mengernyit.


"dia hanya menyebut namanya Uwak Tuan"


"uwak?"


"i-iya tuan"


"suruh dia masuk"


"ba-baik tuan"


Bibi berlalu dari sana untuk mengatakan kepada penjaga untuk mengizinkan Uwak masuk ke dalam.


"Sayang, Ada Uwak di luar. Kita temui yuk"


"apa gak disini saja Ayah? Aji takut nanti kehilangan jejak bunda"


"ya sudah"


Irfan mengatakan kepada bibi agar langsung membawa Uwak menuju ruang perpustakaan itu. Tak berapa lama Uwak masuk dengan wajah yang sudah menahan emosi sambil mengacungkan senapannya ke arah Irfan.


"uwak!!" teriak Fajri turun dari kursi dan berdiri di hadapan Irfan.


"Irfan Dirgantara! Laki-laki macam apa kau ini ha? Kau membawa adikku pergi dan tidak pernah menemui ku barang sedikitpun untuk meminta restu. Dan sekarang belum lagi seminggu kalian menikah, kau tidak bisa melindunginya!" sarkas uwak.


"ma-maafkan saya Wak, Se-semua ini terjadi begitu saja" ucap irfan sedikit terkejut dan takut.


klik...


Uwak memompa senapannya dan bersiap untuk menembak Irfan.


"uwak, jangan marah dulu, Bunda sudah ketemu. Kita tinggal menjemputnya saja lagi" ucap Fajri berjalan mendekat ke arah Uwak sambil menangis.


"Aji lihat? Ayah Aji tidak pandai menjaga kalian. Dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab!. Uwak akan bawa Aji pulang, Disana lebih aman" Ucap Uwak menggendong Fajri.


"Uwak, Ayah lagi sakit. Aji gak mungkin meninggalkan Ayah sendiri"


"Uwak lebih takut kalau Aji kenapa-napa nak. Aji ikut Uwak pulang ya"


"gak Uwak, Aji harus mengawasi gerak gerik Bunda. Karna hari ini ayah akan menjemput bunda"


"Biar uwak yang menemani Aji disini ya. Suruh ayah pergi menjemput Bunda sekarang"


Fajri menatap Irfan dengan tatapan memohon. Irfan paham, entah kenapa tiba-tiba ia menjadi takut kepada uwak yang notabene hanya seorang kakak angkat Fajira.


"baiklah, Ayah akan pergi sekarang. Aji baik-baik ya di rumah sama uwak. Do'akan Ayah bisa membawa Bunda dengan selamat ya sayang"


"iya Ayah" Fajri turun dari gendongan uwak dan berlari mengejar Irfan. Ia membuka kalung yang sudah terpasang GPS yang sama degan Fajira dan menyerahkannya kepada Irfan.

__ADS_1


"ayah pakai ini ya, biar Aji bisa melacak keberadaan Ayah"


"Iya sayang. Terus Aji pakai apa nak?"


"GPS Aji ada satu lagi di cincin ini Ayah, Ayah bisa melacaknya nanti seperti yang Aji lakukan tadi"


"baiklah nak, Ayah pergi dulu. Jaga diri baik-baik ya. Jangan keluar dari ruangan ini sampai ayah kembali. Selalu beri ayah kabar tentamg pergerakan bunda"


"iya Ayah"


Irfan bangun dan berdiri di hadapan uwak.


"Saya minta maaf karna tidak meminta izin secara langsung kepada Uwak untuk menikah Fajira. saya juga minta maaf karna lalai menjaga istri saya. Sungguh ini di luar dugaan saya. Titip Fajri Wak, Saya akan membawa Fajira malam ini juga"


Irfan melangkah pergi tanpa mendengarkan perkataan Uwak lagi. Ia berjalan menuju kamar dan mengganti pakaiannya. Irfan menggunakan Baju serba hitam, tak lupa se buah senjata dengan Stok peluru yang banyak. Jangan lupa rompi anti peluru yang sangat ia butuhkan nanti.


Ia menatap dirinya melalui pantulan cermin. dengan mengetatkan rahang, Irfan memanggil keberanian yang terpendam dalam dirinya.


"Bagaimanapun caranya nanti, Aku harus membawa Fajira pulang hari ini"


Ia melangkah pergi dan segera menaiki mobilnya menuju ke markas. Tak lupa ia meminta agar memperketat penjagaan di sekitaran rumahnya.


Setelah berkendara sekitar 15 menit dengan cepat, Irfan tiba di sana dan mengejutkan semua anggota yang sedang bersiap-siap.


"kita berangkat sekarang" ucap Irfan memberikan perintah sesuai dengan rencana yang sudah ia rancang dan di gabungkan dengan rencana yang sudah di rancang oleh Ray.


Mobil mewah berjejeran menuju bandara, Sementara Irfan dan beberapa orang lainnya menuju ke kantor Dirgantara Corp agar bisa menaiki helikopter yang sudah tersedia di landasan helipad miliknya. Laki-laki itu tidak mengeluarkan sepata katapun ketika berada di dalam mobil. Ada sekirtar 100 orang yang akan ikut nantinya untuk misi penyelamatan Fajira.


Sebagian ada yang akan menggunakan kapal, Helikopter dan motor boat. Hampir sebagian anggota sudah hampir mendekati pulau dengan menggunakan Kapal dan motor boat. Sementara Irfan dan beberapa orang lainnya akan menggunakana helikopter untuk sampai ke sana.


"peringatkan kepada mereka agar tidak gegabah Ray, Amati sekitar. Lakukan pencegatan agar mereka tidak membawa kabur istriku lagi" ucap Irfan tegas sebelum menaiki helikopternya.


Mereka mengudara hampir 45 menit dan berhenti di sisi pulau yang cukup jauh dari posisi vila. Semua anggota Irfan sudah berada di posisi masing-masing. Perlahan mereka mendekat hingga mengambil jarak lebih dekat.


Irfan mengamati berapa jumlah penjaga yang ada di sana.


"Mereka hanya sekitar 35 orang yang baru terlihat. Tetap safety di posisi masing-masing. Kita tidak tau berapa banyak mereka ada di sini. Tim A! Sergab penjaga bagian selatan!" ucap Irfan.


"siap tuan!" mereka bergerak perlahan dan menyergap satu persatu penjaga yang di sana.


"Tim B, giliran kalian bagian selatan!"


"Tim C. Maju!"


Hingga di pastikan Semua penjaga sudah tidak terlihat lagi, Mereka segera mengepung villa, sebuah pesawat dan sebuah helikopter yang ada disana.


Perlahan namun pasti Irfan mengarahkan seluruh anggotanya untuk mengepung villa itu dengan senyap. Dan beberapa di antara mereka berada di belakang untuk menjaga keamanan dirinya.


Dor!!!


Bunyi tembakan menggema dan membuat mereka terkejut dan was-was.

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


__ADS_2