
tring...
Ponsel Riska berbunyi, ia mengernyit bingung, siapa yang tengah mengiriminya pesan. Tanpa menunggu lama ia segera mengambil ponselnya dan membaca pesan masuk itu.
π© From Kak Fajira
"Jangan berfikir terlalu lama! Yakinkan Hati kamu Ris. Dia pria yang baik, dan Mas Irfan bisa menjamin itu semua! Bicarakan dengan orang tuamu dan berikan kak Ray jawaban secepatnya!"
Begitu pesan Fajira yang ia baca. Sungguh ia dilema saat ini, Ketakutan yang belum tentu terjadi, tergambar dengan jelas di dalam fikirannya. Ia dilema dengan kemungkinan yang akan terjadi, setelah mereka menikah nanti.
Bukankah ini yang aku inginkan? Tapi kenapa ketakutan itu seolah muncul dengan sendirinya? Tuhan bantu aku untuk menemukan jawaban yang terbaik! Jika dia memang jodohku, permudahkanlah jalan untuk menembus benteng yang begitu banyak menghadang di kemudian hari! Tapi jika kami tidak berjodoh. jadikan dia jodohku tuhan!. Bathin Riska tergelak.
"kak Jira benar, Aku harus membicarakan ini kepada Mama dan Papa. Semoga saja mereka setuju dengan pilihanku nanti." Ucap Riska meyakinkan hatinya.
Gadis manis itu kembali meraih ponselnya dan mendial salah satu kontak yang bertuliskan "Ibunda Ratu π"
tuut... tuut....
Dering ponsel itu terdengar nyaring di telinga Riska. Ia berusaha untuk mengatur irama detak jantung yang selalu berdebar tidak menentu.
Ada rasa takut yang menjalar di hatinya, berharap ia akan mendapatkan jawaban yang tepat untuk diberikan kepada Ray, laki-laki yang sudah berhasil mencuri hatinya.
"Halo, Nak?" Ucap sang Mama dari balik telefon.
tes...
Air mata Riska tidak mampu lagi ia bendung ketika mendengarkan suara merdu yang tak lagi terdengar tegas itu.
"Mama..." Isak Riska tertahan.
Ia berusaha untuk menguasai emosinya agar ia bisa berbicara dengan wanita yang menjadi sumber kebahagiaannya itu.
"Ada apa dek?" tanya mama khawatir.
"Aku..."
...πΊπΊ...
Di dalam suatu ruangan yang mewah bernuansa hitam, putih dan sedikit coklat itu, terlihat seorang laki-laki tengah berjalan mondar mandir. Ia menjadi gusar dan merasa tidak tenang ketika mendapatkan sebuah pesan dari wanitanya.
"Kak, apa kita bisa bertemu nanti malam jam 07.00 di cafe xx? Aku sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan kakak!"
Begitulah isi pesan yang ia baca. Tak lain tak bukan, pengirim pesan itu adalah Riska.
"kenapa saya menjadi gusar seperti ini? bukankah lebih cepat lebih baik? Tapi bagaimana kalau seandainya dia tidak ingin menikah denganku? Haaaah.... lebih baik saya mengurus seluruh perusahaan Dirgantara dari pada harus berurusan dengan yang namanya cinta! Ini terlalu rumit!" ucap Ray frustrasi.
Enyahlah, rasanya ia ingin segera menemui perempuan itu saat ini juga. Namun ia teringat dengan perkataan Fajira tempo hari.
"biarkan dia berfikir kak, Jangan terlalu di desak, karna Riska gampang panik dan akan sakit kalau sudah berada di dalam situasi seperti itu. Sabar! Aku yakin kalau kalian berjodoh!
__ADS_1
Aku harap kakak bisa berfikir jernih, dan membedakan bagaimana sikap kakak dalam menangani perusahaan dan bagaimana sikap kakak dalam menangani hati, karna mereka itu berbeda jauh kak. bagaikan langit dan bumi! coba fikirkan terlebih dahulu apa yang harus kakak lakukan."
"Apa saya tanyakan ini kepada ibu terlebih dahulu?" ucap Ray menatap nanar ke sembarang arah sambil berfikir.
"iya, saya harus menelfon ibu terlebih dahulu. Semoga dia memang perempuan yang terbaik untukku"
Ray mengambil ponselnya dan segera menghubungi sang ibu yang berada di kampung saat ini.
...πΊπΊ...
Malam menjelang, Ray dan Riska sudah berada di cafe xx dimana mereka berjanji untuk bertemu malam ini.
Tangan Riska terasa sangat dingin dan bergetar. Ia hanya menunduk takut melihat wajah dingin Ray yang selalu ia pasang dimanapun dan kapanpun.
Sebenarnya Ray sengaja menampilkan wajah seperti itu. agar bisa menyembunyikan debaran jantung yang teramat saat ini.
Aku harus pergi ke dokter jantung setelah ini. bathin Ray gugup.
"permisi, ini pesanannya kak" Ucap waiter menghidangkan pesanan mereka tadi.
"terima kasih, mbak." ucap Riska tersenyum canggung.
Pelayan itu berlalu, mereka masih saja terdiam dengan fikiran masing-masing. Ray sudah sangat tidak nyaman dengan detak jantungnya yang terasa lebih keras saat ini, ia takut jika Riska akan mendengarkannya.
"Kita makan dulu. Nanti kita bahas seletelah makan!" ucap Ray tersenyum manis.
Riska terpana, ini untuk yang ke dua kalinya ia melihat Ray tersenyum manis setelah adegan berciuman kemarin.
Ia segera mengambil makanannya dan mencoba satu persatu bilangan yang sudah ia pesan. Tidak banyak hanya satu piring spageti, dan kentang goreng, di lengkapi dengan Milik tea boba.
Karna kegugupan yang lebih dulu melanda, ia tidak tau ingin memesan apa. Sementara Ray memesan dua piring steak dan satu piring kentang goreng. Ia sudah menebak jika Riska hanya berkata apa yang ia ingat.
Pria tampan itu tersenyum sambil memotongkan daging steak itu menjadi potongan kecil dan memberikannya kepada Riska.
"Makanlah!" ucap Ray menggeser piring pasta itu ke samping.
Riska tersipu malu melihat perlakuan romantis dari seorang Ray yang terkenal dengan sifatnya yang dingin dan kaku.
"Makan yang banyak, saya lebih suka perempuan yang berisi!" ucap Ray.
"terima kasih kak!"
Mereka makan dengan lahap, tanpa menyadari ada tiga pasang mata yang tengah menatap mereka tidak percaya.
"hekm..." deheman Ray setelah menyelesaikan makannya.
"Apa mau pesan yang lain, sa-yang?" ucap Ray kikuk.
"eh? gak usah mak, aku sudah kenyang" tolak Fajira halus sambil terkejut mendengarkan panggilan Ray kepadanya.
__ADS_1
"syukurlah. Hmm jadi jawaban kamu?" tanya Ray dengan irama jantung yang kembali berdetak lebih cepat.
Padahal tadi ia sudah bisa menetralkan perasaan hidupnya. Namun, aahh ya sudah lah nikmati saja apa yang di rasakan saat ini. begitu lah bathin Ray pada akhirnya.
"a-aku,,," Riska memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan menatap Ray.
"Aku sudah mengatakannya kepada orang tuaku. Papa meminta kakak untuk datang menemui mereka, dan jawabanku sudah aku katakan kepada Papa. Karna saat ini aku masih milik keluargaku, masih ada orang tua yang bertanggung jawab atas hidupku, Jadi semuanya Aku serahkan kepada beliau. Aku harap kakak paham dengan ucapanku," ucap Riska tegas dengan tatapan lembutnya kepada Ray.
Laki-laki itu terdiam, ia merasa jawaban Riska memang sangat benar, wanita yang ia cintai masih memiliki orang tua yang lengkap.
Fajira memang benar! dia perempuan yang baik dan mengerti bagaimana memposisikan diri. Dia sangat menghargai ke dua orang tuanya. Semoga kita berjodoh. Akan saya pastikan, Saya tidak akan berbuat hal bodoh yang di lakukan oleh tuan Irfan. bathin Ray terdiam.
Keterdiaman Ray membuat Riska takut, sungguh ia tidak ingin kehilangan laki-laki dewasa yang ada di hadapannya ini. Namun, ia tidak bisa memaksakan perasaannya. Ia hanya menginginkan laki-laki yang memang benar-benar serius dalam menjalin hubungan.
"baiklah! saya akan menemui orang tuamu setelah mendapatkan surat persetujuan cuti dari tuan Irfan. Bersabarlah. dalam minggu ini saya akan membawa kamu pulang kerumah calon mertua ku!" ucap Ray tegas lalu tersenyum.
Riska tersentak! ia tidak percaya jika apa yang di harapannya terjadi.
Benarkah dia akan datang ke rumah ku? bertemu dengan Mama dan Papa?. Ja-jadi dia memang betul-betul serius? huaa Aku merasa ingin menangis saat ini. Bathin Riska berkaca-kaca.
"terima kasih, Nanti akan aku sampaikan ke pada orang tuaku!" ucap Riska menunduk.
"Jangan menangis, Apapun syarat yang orang tuamu berikan akan saya jalani, karna saya memang benar-benar ingin serius dengan kamu riska!" Ray menggenggam tangan gadis manis itu dengan erat.
Ia mengeluarkan sebuah kotak bludru berisikan cincin yang bertahtakan berlian kecil di sana. Ia memberikan kotak itu kepada Riska sambil tersenyum
"Ini untukmu, ini adalah salah satu tanda jika saya memang menginginkan kamu menjadi istri!" ucap Ray lembut sambil mengeluarkan cincin itu dan memasangkannya ke jari manis Riska.
"Apa kakak sedang melamarku?" tanya Riska polos.
"tidak! Tapi aku akan menikahi akhir bulan ini"
"Hah?" pekik Riska membuat beberapa orang melihat ke arahnya.
"pesankan suaramu, sayang!" ucap Ray dingin.
"ma-maaf" Perempuan itu masih menatap Ray tidak percaya.
"Jadilah istriku, dan aku akan membahagiakanmu. Itu sumpahku sampai kapanpun! Riska Nasution!" Ucap Ray yang berhasil membuat Riska terisak.
Ray pindah ke sebelah Riska dan memeluk gadis manisnya dengan lembut dan hangat. Tak lupa ia membisikkan kata-kata manis yang sebelumnya sudah ia dapatkan dari Fajira. Riska menghangat dan perlahan membalas pelukan Ray dengan lembut.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE.
Aku baper loo π
Kok dulu Irfan melamar Fajira gak seromantis ini sih π
__ADS_1
ya sudah lah, jangan lupa tinggalkan jejak gais, terima kasih sudah mendukung ceritaku.
salam sayang π€π€