
Akhirnya!. Bathin Fajri.
Ia berjalan mendekat menuju puskesmas dan menghampiri beberapa orang yang tengah berkumpul di sana untuk melepas kepergian Hanna, diikuti oleh Boy dan yang lainnya.
"selamat siang," ucap Fajri tersenyum
Mereka mengalihkan pandangan dan menoleh kearah Fajri. Jantung Hanna berdetak lebih kencang ketika melihat kehadiran Fajri dan suaminya yang saling berhadapan.
"Fajri?" panggil Hanna lirih.
"Kakak, jadi pulang hari ini?" tanya Fajri.
"iya, Aku sudah di jemput, sama suamiku. Kenalkan ini, Mas Edo. Mas, ini Fajri teman sekolahku!" ucap Hanna mengenalkan mereka.
"Ah, ini suami kakak?" ucap Fajri menatap laki-laki yang terlihat biasa saja.
Dia masih jauh jika di bandingkan denganku! apa dia bisa membahagiakan kakak?. Bathin Fajri.
"tu-tuah Fajri?" ucap Edo berbinar sambil mengulurkan tangannya.
"iya," ucap Fajri membalas jabatan tangan itu.
"Ini beneran, Tuan Fajri?" Tanya Edo tidak percaya.
"Iya," ucap Fajri menahan kesalnya. Ia cemburu!
"Wah, saya tidak menyangka bisa bertemu dengan anda di sini. Saya sangat mengagumi anda, Tuan Fajri! Sayang, kenapa kamu gak ngomong kalau, Tuan Fajri ini teman sekolah kamu?" tanya Edo berbinar menatap istrinya.
"It-itu, Aku,..."
"Mungkin, kak Hanna menjaga hati Anda, tidak mungkin rasanya jika kalian membicarakan tentang saya!" ucap Fajri dingin.
Duh kenapa Fajri berbicara seperti itu?. batin Hanna bingung sambil menatap Fajri.
"Ah, harusnya kamu gak berfikiran seperti itu, sayang. Bukankah kamu tau jika aku begitu mengidolakan, Tuan Fajri?" ucap Edo mengusap kepala Hanna.
Hati Fajri semakin terbakar cemburu melihat kemesraan itu. Ingin rasanya ia menendang laki-laki ini, bahkan ia rela jika harus mengasuh anak yang di kandung Hanna jika Edo mampus di tangannya.
Wajah Edo masih berbinar senang dan melihat Fajri beserta taman-temannya yang lain. Mereka terlihat berkelas dengan pakaian bermerek yang tengah mereka kenakan. Ia memeluk pinggang Hanna dengan mesra, sambil sesekali mengecup kening istrinya, seolah berkata pakaian kalian bermerek. tapi tidak memiliki istri, kasihan!.
Dasar tidak tau malu!. Umpat Kenji kasar di dalam hatinya.
Ia begitu muak melihat keromantisan yang di tunjukkan oleh suami Hanna. Seolah tidak tau tempat, Edo dengan santai mengusap, membelai lalu mengecup perut dan kepala Hanna bergantian. Sementara ia begitu iba melihat Fajri yang sudah mengepalkan tangannya menahan gejolak rasa.
"Mas Edo?" panggil Fajri dengan wajah yang memerah.
"eh, iya Tuan. Apa, Tuan sakit?" tanya Edo yang melihat wajah merah Fajri.
__ADS_1
"Ah tidak, saya sedikit tidak enak badan," ucap Fajri berkilah.
Namun berhasil menarik perhatian semua orang. Mereka tampak khawatir melihat keadaan Fajri.
"saya hanya ingin menyampaikan sesuatu!" ucap Fajri berusaha untuk menahan emosinya.
"apa yang ingin anda sampaikan, Tuan?" ucap Edo menatap Fajri tidak sabar.
"Kak Hanna, adalah perempuan yang baik, Dia selalu menolong saya semasa sekolah dulu. Dia sudah seperti kakak bagi saya. Tolong jaga dia, bahagiakan dia! Sungguh saya akan merasa lega jika mendengar kabar bahagia dari, kak cantik saya ini," ucap Fajri tegas dan terselip bumbu permusuhan disana.
deg,...
Jantung Hanna berdegup kencang, ia takut Fajri akan mengatakan perasaannya di sini.
"eh, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang suami, Tuan Fajri! Anda jangan risau, saya akan berusaha untuk membahagiakannya dengan nyawa saya," ucap Edo menatap Hanna penuh cinta.
Ingin Fajri meludahi wajah pria itu dan merebut Hanna. Namun ia bukan orang yang suka memaksakan kehendak untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
"iya, Karna saya akan merasa tidak berguna, jika sampai kak Hanna tidak bahagian di dalam hidupnya," ucap Fajri berusaha untuk bersikap santai.
Edo mengernyit menafsirkan maksud dari Fajri. Namun ia tetap berfikir posistif dan tersenyum menatap laki-laki hebat yang ada di hadapannya saat ini.
"Iya, membahagiakan Hanna adalah tujuan hidup saya saat ini. Saya begitu kagum dengan anda yang sangat menghargai ibu dan saudara perempuan anda. Saya juga berusaha untuk berlaku adil kepada semuanya, ibu, adik, dan istri. Semoga saya bisa sukses seperti anda!" ucap Edo.
"Aamiin!" ucap mereka mengaminkan.
Edo terlihat ragu untuk memberi izin. Ia melihat Hanna menganggukkan kepala tanda menyetujui. Dengan berat hati ia memperbolehkan Fajri untuk memeluk istrinya sebentar saja.
"silahkan!"
Fajri dengan hati-hati memeluk Hanna sambil menahan tangisnya. Ia seperti seorang pecundang karna gagal mendapatkan seorang wanita.
"Aku merestui kakak. Berbahagialah dengan dia, laki-laki yang kakak pilih. Tapi jika aku mendengar dia menyakiti kakak, jangan salahkan aku jika hal buruk terjadi padanya, atau aku akan merebut kakak dari tangan dia. Sampai kapanpun, Aji akan selalu mencintai kakak. Walaupun kita tidak mungkin untuk bersama!" ucap Fajri berbisik namun masih terdengar tegas.
Hanna membeku mendengarkan ucapan Fajri. Mereka segera melepaskan pelukannya dan tersenyum canggung. Mata teduh Fajri tak sengaja menangkap tatapan iba dari Kenji, Ia hanya bisa mengangguk pertanda jika dirinya baik-baik saja.
"terima kasih, Mas. Karna sudah memberikan saya izin untuk memeluk kakak saya!" ucap Fajri tersenyum.
"ah. iya tidak masalah, tuan Fajri. Tapi hanya kali ini!" ucap Edo menggaruk kepalanya.
"Iya, saya paham! Kalau begitu saya harus segera kembali ke joglo untuk beristirahat. Sebelum saya tumbang dan tidak bisa melanjutkan kegiatan selama di sini. Maaf tidak bisa mengantar kepulangan kakak!" ucap Fajri.
"Mari semua!" pria tampan itu berlalu meninggalkan semua orang.
Kenji segera berpamitan dan menyusul Fajri. Sementara yang lain dan warga yang ikut mengantar kepulangan Hanna tidak ada yang mengerti apa maksud dari perkataan Fajri tadi, termasuk Edo sendiri.
Hanna dan suaminya pergi setelah menunggu kedatangan kepala desa untuk mengantarkannya secara simbolik. Setelah itu Hanna dan suaminya pergi meninggalkan Desa Selimut dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
Berbeda dengan Fajri, Ia semakin tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini. Duduk di dalam kamar dan membelakangi ke arah pintu, sambil mengusap air matanya.
Katakanlah jika perempuan adalah kelemahan Fajri. Namun ia memang begitu mencintai Hanna, bahkan hingga saat ini ia tidak ingin dekat dengan siapapun hanya karna gadis cantik itu.
Kenji berdiri di depan pintu sambil menatap, Fajri. Ia memang belum pernah merasakan bagaimana rasanya di tinggal oleh perempuan, namun dari ekspresi Fajri, ia bisa merasakan jika pria itu tengah kecewa berat.
Ia memilih untuk menunggu dan mengawasi Fajri dari luar tanpa bersuara, agar pria tampan itu tidak bertindak ceroboh. Hingga Fajri berbaring di atas kasur dan mulai terlelap barulah Kenji menyelimutinya. Ia menatap wajah tampan itu sambil tersenyum kecut.
Kamu di takuti oleh dunia, Ji. Tapi apa kata mereka jika melihat kamu menangis karna seorang perempuan. Tapi memang aku mempelajari hal itu dari kamu, melihat betapa kamu mencintai, menyayangi bibi Fajira dan Ivanna, menyadarkanku jika perempuan itu memang harus dijaga. Istirahatlah!. Bathin Kenji.
Ia segera keluar dari kamar, meninggalkan Fajri yang sudah terlelap. Hingga ia di kejutkan dengan kedatangan sahabatnya yang lain, dengan raut wajah cemas.
"Bagaimana keadaan Fajri, Ken?" tanya Boy.
"Fajri baru saja terlelap," ucap Kenji melenggang menuju ruang depan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya Dion.
"Hanna, istri Mas Edo tadi. Dia adalah wanita yang dicintai oleh Fajri. Dia juga alasan kenapa Fajri tidak ingin dekat dengan perempuan lain," ucap Kenji menerangkan.
Brak!
"Kenapa, kamu tidak mengatakannya sejak tadi, Ken? ah, Fajri ku yang malang," ucap Rana menggebrak meja.
Mereka cukup emosi mendengarkan penjelasan Kenji.
"Apa Fajri di tikung sama laki-laki yang terlihat biasa itu? bahkan dia juga mengagumi Fajri," ucap Boy.
"bisa dibilang begitu, hehe" ucap Kenji terkekeh.
"akqu pikir tidak ada yang bisa mengalahkan pria sempurna itu. ternyata ia kalah telak dengan laki-laki yang terlihat sangat tidak sepadan dengannya, haha" ucap Boy tergelak.
Mereka tertawa setelah puas menistakan Fajri yang tengah dirundung galau. Tanpa mereka sadari, Fajri sudah bangun sambil menahan emosinya. Ia mendengar semua perkataan dari sahabatnya.
"sudah puas kalian tertawa?" suara dingin Fajri terdengar dan merasuki telinga mereka.
Boy dan yang lainnya mendadak membeku mendengarkan suara Fajri. Mereka sangat mengenal, jika pria tampan itu sudah marah, akan lebih terlihat ganas di bandingkan bapaknya.
"Fa-Fajri?" ucap mereka tersenyum Kikuk.
"Kabuuuur!" teriak mereka berhamburan keluar dari rumah sambil tertawa.
Sementara Fajri tersenyum simpul. Ia tidak merasa marah sedikitpun karna ulah dari sahabatnya, namun mereka berhasil membuat bibir itu melengkung.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
__ADS_1