Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
66. Irfan Sakit


__ADS_3

"kita pulang Ray. saya ingin melihat keadaan Fajri," Ucap Irfan di dalam mobil.


"baik tuan,"


Ray melajukan mobil menuju kediaman Irfan, karna Fajri sudah berada di sana. Hot Daddy itu berusaha untuk menetralkan emosinya agar Fajri tidak curiga dan akan bertanya hal yang macam-macam nanti.


"bagaimana ekspresi Fajri ketika kamu jemput tadi Ray?,"


"Tuan muda terlihat mengemaskan tuan, dia kesal dan cemberut secara bersamaan. Ingin rasanya saya menggigit pipinya yang tembem itu hehe," ucap Ray mencairkan suasana.


"iya, Dia memang selalu terlihat mengemaskan, saya tidak tau bagaimana ekspresinya ketika mengetahui kejadian ini," ucap Irfan sendu.


"bagaimana menurut Mu Ray? apa saya harus memberitahunya mengenai hal ini?," sambungnya.


"lebih baik di beritahu saja tuan, saya rasa dengan kecerdasan Tuan muda, ia bisa membantu kita dalam mencari di mana Nyonya Fajira berada,"


"saya tidak akan kuat melihat wajah murungnya nanti Ray, mereka seolah sudah menjadi kelemahan saya. Bahkan laki-laki tadi mengingatkan saya kapada Fajri" ucap Irfan lirih.


"saya tau bagaimana perasaan anda tuan. Tapi saya harap jangan sampai ada yang tau apa kelemahan anda, karna hal itu akan membukakan jalan untuk para Rival kita tuan"


"iya kamu benar Ray"


Perlahan mobil memasuki pekarangan rumah megah Irfan. Ia segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Tepat ketika ia membuka pintu, Fajri sudah berdiri dengan melipat tangan di dadanya.


"hai sayang Ayah," ucap Irfan menggendong Fajri dan mendekapnya.


"Aji lagi marah ya sama Ayah!," ucapnya ketus sambil melotot ke arah Irfan.


"jangan gitu sayang, Ayah lagi sedih ini," ucap Irfan berkaca-kaca.


"Ayah sedih kenapa?," Ucap Fajri menatap Irfan lekat.


Perlahan air mata itu jatuh, irfan terisak!. Ia segera mendekap Fajri dengan erat sambil terisak. Fajri yang melihat keadaan Ayahnya, juga ikut berkaca-kaca. Ia mendekap tubuh besar itu dengan erat.


"Ayah kenapa?," lirihnya.


"maafkan Ayah sayang,"


"Kenapa ayah minta maaf? Apa ayah berbuat salah?,"


"Maafkan Ayah sayang. Maafkan ayah nak.. hiks,"


"Ayah kenapa menangis?, sini bilang sama Aji"


"Aji...," Panggil Irfan. Namun sejurus kemudia ia memegang dadanya yang terasa nyeri dengan nafas yang sesak.


"Ayah? Ayah kenapa?," panik Fajri.


"hah... hah... hah... Aji, na-fas A-yah Se-sak. Pang-gil om Ray Nak" ucap irfan terengah-engah.


Fajri segera berteriak sambil memanggil Ray, berharap pria itu bisa mendengarkan suaranya.

__ADS_1


"OM RAY!! OM DIMANA? TOLONGIN AYAH OM!!" teriak Fajri sambil berlari.


Para pekerja yang mendengar teriakan Fajri berlau menghampirinya.


"tuan muda kenapa?,"


"Ayah bi, Ayah sesak nafas, tolongin Ayah," ucapnya sambil menangis.


Sontak mereka segera berlari menuju ke ruang tamu untuk melihat keadaan Irfan termasuk Ray yang baru saja datang.


"Astaga tuan," panik Bi Yuri.


"tuan Irfan," pekik Ray berlari ke arah Irfan dan segera mengangkat tubuh jangkung itu ke dalam mobil.


"Om Aji ikut ya," Ucap Fajri memohon.


"Tuan Muda di Rumah saja sama Bi Yuri ya nak,"


"gak mau om, Aji mau ikut,"


"ya sudah, masuk ya nak,"


Ray segera memacu kendaraannya dengan cukup kencang agar bisa sampai di rumah sakit dengan cepat.


"Ayah. Ayah yang kuat ya," lirih Fajri memegang tangan Irfan. kemudian ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Fajira.


tut tut tut...


"Bunda kemana sih? gak biasanya Bunda seperti ini" ucap Fajri cemas.


Ia terlihat sangat panik melihat Irfan yang susah bernafas. Ia mengamati wajah Ayahnya yang terlihat pucat sambi meringis menahan rasa sakit.


"om, apa bisa lebih cepat? Ayah sudah kesakitan," ucapnya lirih dengan air mata yang terus menetes.


"Ini sudah sangat kencang Tuan Muda. Sebentar lagi kita sampai,"


Tak berapa lama mobil yang membawa Irfan tiba di loby UGD rumah sakit. Ray segera memanggil perawat untuk memboyong Irfan agar bisa mendapatkan pertolongan pertama, lalu ia menggendong Fajri dan berlari mengejar Irfan.


"om apa ayah kan baik-baik saja?,"


"iya nak, Tuan akan baik-baik saja,"


"Aji takut om, bunda juga gak bisa di hubungi," Fajri memeluk leher Ray sambil terisak


deg...


"kita berdo'a saja ya nak,"


Terkadang Ray susah untuk menempatkan dirinya. Ia yang terbiasa memanggil Fajri dengan sebutan 'Nak', harus berganti menjadi tuan muda. Sehingga ia memilih untuk mengambil peran sesuai dengan kondisi yang ada saat ini.


Hampir 15 menit Irfan di berikan pertolongan pertama, agar bisa meredakan sesak nafasnya. Tak lama dokter yang memeriksa Irfan keluar dari bilik pasien.

__ADS_1


"bagaimana keadaan Ayah Aji dokter?,"


"Ayahnya baik-baik saja. Jangan cemas ya," ucap dokter itu tersenyum.


"bagaimana keadaan Tuan Irfan dokter?," tanya Ray yang tidak yakin.


"Bagini tuan Ray, Saya menyarankan agar tuan irfan istirahat total selama 3 hari kedepan, karna ini lebih parah dari sebelumnya. Apa ada masalah yang lebih serius?,"


deg...


Jantung Fajri berdetak lebih cepat mendengar penjelasan dokter. ia merasa di bohongi oleh dokter ini.


"iya dokter. Apa tuan Irfan harus di rawat di rumah sakit atau rawat jalan saja?"


"Tuan Irfan bisa menjalani rawat jalan dengan catatan harus istirahat total di rumah"


"dokter bohong sama Aji. Bukankah itu termasuk hal yang melanggar aturan rumah sakit? bukankah setiap dokter harus menyatakan keadaan pasien yang sebenarnya? jangan karna Aji masih kecil Dokter bisa membohongi Aji ya" ucap Fajri ketus dan bengis menatap dokter itu.


"Aji sudah ya nak, Ayah gak papa," ucap Ray memenangkan Fajri.


"tapi dokter ini bohong om, dia bilang jika sakit ayah lebih parah dari sebelumnya. Tapi tadi dokter bilang ayah saya tidak apa-apa," teriak Fajri sangat tidak terima.


"silahkan Aji lihat ayah di dalam ya, tadi ayah sudah memanggil Aji" ucap dokter mengalihkan pembicaraan.


"Aji bukan anak bodoh yang bisa di bodoh-bodohi dokter. IQ Aji 225!" ucapnya sebelum melangkah menuju bilik yang di tempati oleh Irfan.


Dokter itu hanya melongo mendengarkan penuturan Fajri, ia merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh anak kecil itu. Namun karna masih ada pekerjaan yang lain, ia tidak terlalu menanggapi perkataan dari Fajri tadi.


Di dalam bilik, Fajri menatap Irfan yang sudah terlelap dengan nafas yang teratur. Ia mendekap tubuh itu dengan hangat sembari menangis.


"Ayah, Ayah sakit apa?. Aji takut, Bunda juga gak bisa di hubungi" ucapnya lirih dengan air mata yang menetes.


"engh... Aji" panggil Irfan ketika terbangun dari tidurnya.


"Ayah. Ayah udah sembuh" Ucap Fajri mengangkat kepalanya.


"sudah sayang. Kita pulang ya. Ada yang mau aja omongkan sama Aji"


"iya Ayah. Tapi ayah harus istirahat kata dokter"


"iya ayah istirahat di rumah saja" ucap Irfan bangkit dan turun dari brankar.


Mereka segera melangkah menuju mobil dan pulang ke rumah. Fajri sangat penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh Irfan nanti.


Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Bathin Fajri.


Ia duduk di dalam mobil sambil memeluk Irfan, berharap pelukannya bisa mengurangi rasa sakit yang di rasakan oleh ayahnya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2