Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
155. S2 : Membujuk Ivanna


__ADS_3

Malam menjelang, Fajira tengah berada di dalam kamar Ivanna bersama dengan Fajri dan Irfan. Mereka tengah membujuk gadis kecil itu untuk mengikuti pelajaran formal ataupun akademi agar bakatnya bisa di kembangkan dengan baik.


"Ayo lah sayang! besok Bunda daftarkan ke akademi musik ya?"


"Dede gak mau, Buna!" rengek Ivanna sambil memeluk ibundanya.


Sungguh ia tidak ingin di paksa dalam bentuk bujuk rayuan apapun.


"Bagus lo, dek! kalau Dede mau sekolah, kan kita bisa berangkat bareng setiap hari, sayang!" ucap Fajri, yang juga ikut membujuk Ivanna.


"Ayah!" Panggil Ivanna sambil menatap Irfan penuh harap.


Pria tampan itu sudah mendapatkan ultimatum dari Fajira sebelumnya.


"awas saja kalau kamu gak mendukung aku, Mas! jatah satu bulan hilang!" ancaman Fajira.


Ia hanya berusaha untuk mengalihkan pandangannya agar tidak melihat wajah imut Ivanna yang membuatnya tidak bisa menolak keinginan gadis itu.


"Ayah!" rengek Ivanna semakin menjadi.


Ia begitu manja jika sudah bersama dengan Irfan. Ivanna segera merangkak masuk ke dalam pangkuan ayahnya. Ia menatap wajah tampan itu dengan cemberut karna mendapati Irfan tidak kunjung menanggapinya.


"Apa ayah udah gak sayang lagi sama Dede? hiks..." isak Ivanna menghiba.


Ia memeluk Irfan dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu. Irfan sungguh tidak tega mendengarkan tangis Putri kecilnya.


Persetan dengan jatah satu bulanku! Aku lemah jika berhadapan dengan dua bidadari ini, huaa!. bathin Irfan menjerit.


"kalau Dede gak mau sekolah atau masuk akademi, terus maunya apa dong?" tanya Irfan mengelus lembut kepala Ivanna.


"Dede mau main, makan, telus tidul, dan di lumah saja, Ayah! Dede gak mau belajal. Boleh ya, Ayah? pliis!" mata Ivanna semakin membuat Irfan tidak tega.


"Kenapa Dede gak mau belajar, sayang? Kan belajar itu bagus, bisa bikin kita pintar. Coba lihat abang! Abang sekolah, juara umum, terus udah punya usaha sendiri. Apa Dede gak mau seperti abang?" tanya Irfan.


Ivanna terdiam, ia mencerna perkataan Irfan dengan baik. Bukannya ia tidak ingin sekolah, hanya saja ia masih ingin berdiam diri di rumah dan memakan cemilan yang selalu menggugah seleranya, apalagi buatan tangan bidadari cantiknya.


"Mau, tapi gak sekalang, Ayah! Dede 'kan masih kecil. Nanti Dede sekolah, kok, Janji!" ucap Ivanna mengangkat kelingkingnya.


"Huft,,, akademi 'pun Dede gak mau?" tanya Irfan memastikan.


"gak mau, Ayah!" tolak Ivanna cepat.


"ya sudah, semuanya terserah Dede, nanti kalau Bunda marah, ayah gak ikutan ya!" ucap Irfan.


"kok ayah gitu sih?" protes Ivanna tidak terima.


Fajira dan Fajri hanya menyaksikan drama yang sedang di mainkan oleh Ivanna, sungguh gadis kecil itu sangat pandai membuat orang yang melihatnya menjadi tidak kuasa untuk menolak permintaan yang terucap dari mulut manisnya.


Fajri bersandar pada Fajira agar bisa merasakan hangatnya sentuhan tangan bidadari cantik itu. Ia begitu gemas melihat tingkah adiknya yang dingin, namun terlihat manja jika sudah berkumpul seperti ini.


"Gini aja dek, besok Dede ikut aja sama abang ke sekolah, Nah nanti Dede bisa menilai mau sekolah apa gak, gimana?" tanya Fajri.


"Ide bagus, bang! Gimana dek, mau ikut abang gak?" tanya Fajira.


Ivanna terdiam, ia menatap semua orang yang sangat menginginkannya untuk belajar dan belajar. Padahalkan aku pintar, kenapa harus belajar lagi! begitu fikirnya.


"Ya sudah, besok Dede ikut sama Abang kesekolah!" ucap Ivanna datar.


"kok gitu sih wajahnya, dek?" tanya Fajira.


"hmm? gak papa Bunda!" ucap Ivanna menunduk.

__ADS_1


Ia sangat takut jika Fajira sudah mengeluarkan taringnya.


"apa Dede gak mau sekolah?, kalau Dede beneran gak mau, Bunda gak akan paksa lagi! Tapi kalau suatu hari Dede menyesal, jangan salahkan Bunda dan merengek, Bunda gak suka!" ucap Fajira menatap Ivanna serius.


Gadis kecil itu tergagap, ia sangat takut jika Fajira sudah mengeluarkan ultimatumnya.


Aih... kenapa dua bidadariku gak pernah akur? selalu saja berdebat seperti ini? apa karna mereka sangat mirip? tuhan tolong aku!. jerit Irfan di dalam hatinya.


"sayang, sudah ya! Besok kita bahas lagi!" ucap Irfan melerai.


Fajira hanya mendelik sebal melihat suaminya. Irfan akan sangat susah untuk di ajak bekerja sama jika sudah melihat tatapan polos anak-anaknya. Irfan membaringkan Ivanna lalu menyelimuti dan mengecup kening gadis manis itu dengan lembut.


"tidur ya sayang, Besok ikut abang ke sekolah ya!" ucap Irfan.


"iya, Ayah!" ucap Ivanna pasrah.


"Dede, selamat tidur sayangnya abang!" ucap Fajri mengecup hampir seluruh wajah adiknya.


"selamat tidul juga, Abang!" lirih Ivanna yang sudah mulai terpejam.


"kok Dede Udh tidur sih? kan Bunda belum cium!" protes Fajira mengerjai Ivanna.


"selamat tidul, buna!" lirih Ivanna memajukan bibirnya berharap ia mendapatkan kecupan dari bidadari cantik itu.


Fajira terkekeh geli, ia segera mengecup gadis manis itu dan menyusul Irfan yang sudah dulu pergi ke kamar Fajri.


Inilah yang selalu mereka lakukan setiap hari menjelang tidur, menyempatkan diri untuk bercengkerama dengan anak-anaknya dan mengantarkan mereka tidur.


Setelah keluar dari kamar Fajri mereka segera kembali ke kamar dan beristirahat.


🌺🌺


Pagi ini mereka akan pergi sekolah untuk mengenalkan kepada gadis kecil itu, bagaimana serunya bertemu dengan teman-teman dan belajar bersama.


Fajira juga sudah mengajukan izin cuti, walaupun ia pemilik dan pimpinan rumah sakit, namun ia tidak ingin seenaknya saja dalam bertindak.


"sudah siap anak-anak?" ucap Fajira.


"sudah, Bunda!" Teriak mereka berdua.


"yuk kita berangkat!, salim dulu sama ayah, ya!" ucap Fajira.


"iya, Bunda!" Mereka segera berjalan menuju ke arah Irfan.


"dek, kamu mau lihat gak, keseruan setiap pagi sebelum pergi sekolah?" bisik Fajri.


"apa, bang?" tanya Ivanna penasaran.


"minta uang jajan. Lihat abang ya!"


Fajri berjalan ke arah Irfan sambil tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya agar bisa mencium tangan Irfan.


"sekolah yang rajin ya, nak!" ucap Irfan mengelus kepala Fajri.


"iya, ayah! hmm uang jajan?" ucap Fajri menyengir sambil menampung tangannya.


Irfan mengeluarkan satu lembar uang pecahan lima puluh ribu dan memberikannya kepada Fajri. Mata Ivanna berbinar senang, ia juga ingin mendapatkannya, Ivanna menjerit di dalam hati.


"Ayah, Dede pergi dulu ya, Salim!" ucap Ivanna mengulurkan tangannya.


"duh anak gadis ayah, nanti gak boleh nakal di sekolah, ya!" ucap Irfan menyambut tangan Ivanna.

__ADS_1


"Dada! ayah pergi dulu. ya!" ucap Irfan masuk ke dalam mobil.


Gadis kecil itu terdiam, bukankah seharusnya ia juga mendapatkan uang jajan?. Sementara Fajri hanya bisa menahan tawanya melihat ekspresi bingung Ivanna.


"Ayah!" pekiknya.


Irfan terlonjak kaget mendengar suara cempreng putrinya.


"kenapa, sayang?" tanya Irfan kembali keluar dari mobil.


"kok dede gak di kasih uang jajan sih!" prosesnya tidak terima.


"Dede kan gak sekolah, sayang!"


Wajah Ivanna berubah dingin, ia menatap ayah dan abangnya bergantian. Ia merasa kesal karna sudah dikerjai oleh abangnya.


"Ya sudah, jangan marah, sayang! nanti cantiknya hilang lo! Ini sisanya di tabung ya!" Irfan mengeluarkan uang perlahan dua puluh ribu dari dalam dompetnya.


Mata bening gadis kecil itu berbinar senang. Otaknya berjalan lancar untuk menghitung pendapatan yang akan ia peroleh setiap hari jika ia pergi ke sekolah.


"terima kasih, ayah. Hati-hati di jalan ya, semoga hari ini ayah bisa bawa uang yang banyak untuk Dede," ucap gadis kecil itu tersenyum manis dengan wajah yang merona.


"Aduh, kalau ada maunya, pasti manis banget ya!" celetuk Fajri.


"ihh!"


"Ya sudah, sana berangkat sekolah, nanti terlambat lo!" ucap Irfan terkekeh dan kembali masuk ke dalam mobil.


"iya, ayah! Hati-hati ya! Love You!" teriak Ivanna.


Irfan berlalu, mereka segera menaiki mobil dan berangkat menuju ke sekolah. Ivanna masih berbinar senang melihat uang yang berwarna hijau itu.


"Buna?" panggil Ivanna.


"iya, sayang?"


"kok Buna gak kasih abang uang jajan juga?"


"abang 'kan sudah punya gelang ajaib sayang, tinggal scan saja di mesin abang yang jualannya, nanti Bunda yang bayar!" ucap Fajira.


"kok Dede gak ada, Buna?"


"hehe,,, Dede 'kan belum sekolah sayang, Dede mau scan dimana?"


"iya, ya! tapi kok ayah juga kasih abang uang seperti ini, Buna?"


"itu untuk di tabung, sayang. Dede juga mau menabung?"


"mau, Bunda! dede mau!" ucap Ivanna berbinar.


"ya sudah, nanti kita beli ya!"


"iya, bunda!"


Fajri hanya bisa tersenyum menatap adik manisnya yang sangat antusias dengan hal baru yang membuatnya tertarik. Ia mengelus kepala Ivanna yang bersandar di dadanya dengan lembut. Mengalirkan kehangatan dan kenyamanan yang membuat gadis kecil itu selalu betah berada di dalam pelukannya.


Perlahan mobil memasuki area sekolah. Parkiran khusus sudah tersedia untuk para pemegang saham maupun donatur sekolah itu. Mereka segera turun dan menuju kelas Fajri yang berada tak jauh dari sana.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2