
"Huh, dasar! Apa gak bisa gitu. ciuman hanya berdua saja? apa aku juga harus melihat kecupan-kecupan seperti itu?" ucap Ivanna kesal setelah mematikan panggilan telefon.
Namun ia hanya bisa memendam semua kekesalannya, karena tidak mungkin jika ia harus mengumpat di samping Naren dan Nayla yang masih terlelap. Sementara Fajira hanya menggeleng melihat kelakuan anak-anaknya.
"Sudah, dek. Itu derita jomblo!" ucap Fajira terkekeh.
"Ih, Buna mah sama aja! Apa gak kasihan gitu sama, Dede? Udah jomblo, mana gak boleh pacaran. Jangankan dekat, di antar pulang aja, mereka sudah serasa menghadang maut!" keluh Ivanna merebahkan kepalanya di pangkuan Fajira.
"Sabar, sayang. Semua ada masanya! Atau kamu mau menikah juga? Bunda bisa carikan jodoh,..."
"Gak mau! Dede, gak mau!" sela Ivanna sambil merengek.
"Hehe, sabar ya! Tapi beneran, Bunda ada kenalan, anaknya ganteng, sopan pula! mana tau kamu mau!" ucap Fajira terkekeh.
"Bunaa!" Rengek Ivanna semakin menjadi dan membuat Fajira semakin terkekeh melihat gadis cantik itu.
"Ah iya, Buna masih ingat Bryan?" tanya Ivanna.
"Bryan? yang mana, sayang?" tanya Fajira mengernyit.
"Itu, teman sebangku, dede! yang hobinya tidur terus di dalam kelas!" terang Ivanna.
"Yang bule itu, nak? Apa kamu pacaran sama dia?" tanya Fajira.
"Gak, Bunda. Cuma dia sering membuat dede kesal, dia sungguh lebih pemaksa dari pada, Abang!" keluh Ivanna.
"Pemaksa? memang ada yang lebih dari pada Ayah dan abangmu? hehehe" tanya Fajira sambil terkekeh geli.
"Hehehe, seperti Ayah masih yang menempati urutan pertama, Buna. Tapi kan Ayah gak kasar, kalau dia kasar, Dede gak suka!" ucap Ivanna kesal.
"Kasar gimana?" sentak Fajira kaget.
"Huft, waktu Dede pergi sama Tono, apa Bunda masih ingat? waktu itu, Dede juga ketemu sama dia, terus dia memaksa Dede untuk menjauhi Tono. Kan Tono gak salah apa-apa, di genggamnya tangan Dede, kuat gitu sampai memerah!" Adu Ivanna.
"Apa dia berbuat lebih, sayang?" selidik Fajira.
"Gak akan ada yang berani macam-macam dengan Dede Buna. Sentuh dikit, bacok!" ucap Ivanna garang.
Namun ia tertawa setelah itu mereka terus berbincang di dalam kamar Fajri menanti pasutri mesum itu pulang.
"Siapapun laki-laki yang dede pilih nanti, yang penting bagi Bunda, dia memiliki sifat yang baik, sikap yang bijaksana, bukan laki-laki yang hanya mengumbar omong kosong saja! Banyak janji begini begitu, tapi gak ada pembuktian. Memang Dede mau di kasih makan janji?" ucap Fajira
"Gak mau lah, Buna. Perawatan Dede aja mahal! di kasih makan janji, emoh aku!" ucap Ivanna bergidik.
"hehehe, Tapi bukannya Bryan punya perusahaan?"
"Katanya iya, di Singapura, Buna. Tapi gak tau juga!" ucap Ivanna.
"Terus, kabar Tono bagaimana? dia tampan lo, dek. Ya walaupun Bunda geli melihat tompelnya!" ucap Fajira terkekeh.
"Hehehe, kabarnya Tono lagi menyelesaikan skripsi, Buna. Aku gak ketemu tuh di kampus!" ucap Ivanna.
"Oalah, dia jurusan bisnis 'kan?" tanya Fajira.
"Kata kakak sih begitu, Buna. Dia juga pernah bilang kalau punya usaha kecil-kecilan gitu, tapi gak tau deh, usaha apa!" ucap Ivanna.
"Dia anak yang pintar dan memiliki pemikiran yang panjang! Adem gitu melihatnya!" ucap Fajira sengaja menggoda Ivanna.
__ADS_1
"Iya, Buna. Eh?" sentak Ivanna ketika tau jika Fajira tengah menggodanya.
"Ih Buna, mah gitu!" ucap Ivanna cemberut.
"Hahaha," Fajira tidak hentinya tertawa melihat Ivanna yang sudah salah tingkah.
"Buna, Apa Dede boleh menikah muda seperti, Abang?" tanya Ivanna.
"Jika kamu memang sudah siap, sudah yakin dengan pilihanmu, Bunda setuju, tapi di atas umur 20 tahun!" ucap Fajira.
"Dede yakin gak akan mudah untuk mencari laki-laki yang seperti ayah dan abang. Karna spesies mereka termasuk langka, Buna!" ucap Ivanna serius.
Namun mereka kembali terkekeh dengan ucapan Ivanna.
"huh, dasar! Ayah dan Abang sendiri di bilang spesies langka! hahaha," ucap Fajira mencubit pipi Ivanna gemas.
Mereka terus bercerita hingga Fajri dan Safira pulang dari kencan romantisnya. Ivanna segera pergi ke kamarnya dan beristirahat.
🌺🌺
"Na?" panggil Bryan.
"Ya?" jawab Ivanna.
"Hmm, apa nanti sore kamu ada acara?" tanya Bryan.
Saat ini mereka tengah berada di kampus. Bryan sengaja menunggu Ivanna selesai kuliah, agar bisa mengobrol dengan gadis cantik itu.
"Sore? Aku ada latihan menembak dengan, Abang! kenapa?" tanya Ivanna mengernyit.
"Bisa! Bahkan dari umur 10 tahun aku sudah bisa menembak!"
"Jadi, kapan kamu punya waktu?" tanya Bryan.
"Belum tau, aku jarang memiliki waktu luang!" ucap Ivanna enteng.
"Hem, apa aku boleh datang ke rumahmu?" tanya Bryan.
"Boleh, kalau berani! Aku selalu berada di rumah!" ucap Ivanna.
Ia berjalan menuju loby karena Pak Sakti sudah menjemputnya.
"Aku pamit dulu. Jika kamu memang benar-benar ingin pergi ke rumahku, datang saja! Jangan menghilang setelah ini, saya tidak suka!" ucap Ivanna.
"Ah, iya. Nanti malam aku akan datang!" ucap Bryan tersenyum.
"Aku tunggu!" ucap Ivanna menaiki mobil.
"Ah, iya. Pastikan jika kamu memiliki mental yang cukup kuat untuk bertemu ayah dan Abangku!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
"Akan aku pastikan untuk itu!" ucap Bryan tersenyum pasti.
"Hmm, bye!" pamit Ivanna sambil menutup pintu.
"Bye, hati-hati ya!" ucap Bryan melambaikan tangannya.
Ia menatap kepergian Ivanna dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Aku akan mendapatkanmu, walaupun harus menghadang macan sekalipun!" ucap Bryan bersemangat.
Ia memilih untuk segera pergi ke pusat perbelanjaan dan membeli beberapa oleh-oleh yang sekiranya bisa ia bawa ke rumah Ivanna nanti malam.
Sementara di dalam mobil Ivanna menatap Bryan yang perlahan pergi, dengan raut wajah datarnya. Setelah sekian kali laki-laki itu mengatakan ingin mengunjunginya, namun tidak pernah terealisasikan sedikitpun.
Kenapa aku tidak bisa menyukainya sedikitpun? Padahal dulu kami begitu dekat, bahkan setiap hari selalu bersama. Sifatnya yang tidak gentle, membuatku merasa ilfil. Batin Ivanna.
Di perjalanan pulang, tanpa sengaja Ivanna melihat Tono yang tengah berdiri menunggu angkutan umum.
"Pak, menepi sebentar! saya harus menemui teman terlebih dahulu!" ucap Ivanna.
"Baik, non!" pak Sakti segera menepikan mobil.
Ivanna langsung turun dan menghampiri Tono yang berada tak jauh dari mobilnya.
"Tono?" panggil Ivanna.
"Eh, Nana? Kamu dari mana?" tanya Tono.
"Aku dari kampus. Kamu ngapain?"
"Ah, aku lagi nunggu angkutan umum. Rencananya mau ke toko buku, mencari beberapa bahan untuk skripsiku!" ucap Tono tersenyum.
"Mau bareng?" ucap Ivanna menawarkan tumpangan.
"Hmm,..."
"Ayo! aku tidak menerima penolakan!" ucap Ivanna menarik baju Tono untuk masuk ke dalam mobil.
"Baiklah!" ucap laki-laki yang sedang menggunakan tompel dan rambut klinisnya.
Mobil segera bergerak menuju toko buku yang di maksud oleh Tono, hanya untuk mengantarkan pria culun itu saja.
"Bagaimana skripsi kamu?" tanya Ivanna.
"Hanya tinggal sedikit perbaikan saja. Aku berharap, setelah revisi ini bisa di setujui oleh dosen pembimbingku!" ucap Tono tersenyum.
"Ah, syukurlah! Kalau kamu sudah tamat, mau kemana?" tanya Ivanna
"Aku mau membangun bisnis cafe ku, Na. Mana tau bisa lebih berkembang dengan baik!" ucap Tono penuh harap.
"Apa kamu butuh modal? Kamu bisa mengajukan proposal kenperusahaan Ayah atau Abang!. Biar aku yang mengantarkannya!" ucap Ivanna menawarkan diri.
"Terima kasih, tapi usahaku cukup rame, aku belum berniat untuk menambah modal atau apapun. Hanya saja aku akan beternak ayam dan membuka restoran Ayam pencet, atau menambah menu di cafe ku, nanti!" ucap Tono.
"Ah, baiklah! Semoga sukses kedepannya!" ucap Ivanna tersenyum tipis.
"Aamiin, terima kasih! Hmm kalau begitu aku turun dulu, terima kasih untuk tumpangannya!" ucap Tono tersenyum.
"Sama-sama! Semoga sukses!" ucap Ivanna.
Mereka berpisah di depan toko buku yang sangat bersejarah itu. Ivanna segera pergi dari sana dan kembali pulang untuk bertemu dengan duo bocil yang berhasil membuat waktunya habis untuk bermain dengan mereka.
Anak-anak, aunty datang!. Batin Ivanna begitu senang
🌺🌺🌺
__ADS_1