Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
42. Proyek Memikat Hati Fajira


__ADS_3

"apa sakit?" tanya Fajira lirih


"gak sakit sayang"


PLAAK!!!


Fajira menampar Irfan dengan keras dan membuat kepala laki-laki itu terbentur ke sandaram mobil. Mata Irfan membola melihat Fajira, ini pertama kalinya ada perempuan yang berani menamparnya. Namun bukannya marah Irfan malah menjadi gemas melihat wajah sangar Fajira.


"sakit sayang" ucapnya cemberut sambil mengusap pipinya yang sedikit memerah.


"aku memang memberikan kamu kesempatan untuk mendekatiku, namun bukan berarti kamu bisa seenaknya saja Irfan" ucap Fajira tegas dan melotot.


"aku gak tahan melihat bibir kamu yang indah itu menganggur sayang" ucapnya tersenyum genit.


"sudahlah sekali lagi kamu main nyosor seperti itu, aku akan hmmm..."


cup...


"IRFAAAN!! kau! kau! aaarrgghhhh...." teriak Fajira kesal sambil menunjuk irfan.


"hehe aku hanya ingin memastikan kalau milik aku masih seperti dulu" ucapnya terkekeh. Sementara Fajira menatapnya jengah.


"aku pergi" ucap Fajira keluar dari mobil.


"Love You sayang" teriak Irfan dan berlalu dari sana ketika melihat hari semakin siang.


Namun Fajira tidak mendengarkannya, ia berlari masuk ke dalam kamar dengan pipi yang sudah memerah. Bahkan ia melupakan roti yang di bawa oleh irfan untuk membuat sandwich, dan hal yang paling sialnya Fajri sudah kesiangan dan ia tidak lagi sempat untuk membuat sarapan.


"sayang bangun" ucap Fajira membangunkan Fajri.


"Aji bangun nak udah siang nanti kamu telat"


"iya Bunda, peluk"


Fajira langsung menggendong Fajri sebentar dan membawanya menuju kamar mandi. Fajira membuka baju Fajri setelah mendudukannya di tepi bak mandi.


byuuur....


"aaaa Bunda dingiiin" teriak Fajri terkejut ketika Fajira menyiram badannya dengan air.


"nanti Bunda peluk ya, sudah gak ada waktu lagi sayang, nanti Aji telat"


"brrrr, dingin Bunda" rengeknya.


"hehe maaf ya sayang"


Fajira segera memandikan Fajri dan mengeringkan badan kecil nan imut itu tak lupa ia memeluk bocilnya sebentar.


"pake baju sendiri ya sayang, Bunda mau bikin sarapan dulu untuk Aji"


"Bunda juga telat bangun?"


"iya sayang, tadi ayah kesini minta di buatkan sarapan, tapi rotinya lupa bunda ambil dari ayah"


"ihh ya udah deh"


Fajira memasak omlet untuk Fajri agar pria kecil itu bisa sarapan. Tak lupa ia juga menyiapkan bekal untuk di bawa ke sekolahnya nanti. Beruntung sambal kemarin masih ada sehingga Fajira hanya memanaskannya saja dan memasukkan ke dalam kotak bekal Fajri.


Pria kecil itu dengan telaten memakai baju sekolahnya, sambil berkaca ia tersenyum dan berkata, Aji memang mirip sama ayah pantas saja Aji tampan. Ucapnya tersenyum.


"Aji sudah nak?"


"sudah bunda" Fajri mengambil sepatunya sambil menerima suapan dari Fajira. Hingga makanan itu habis Fajri segera mengambil tas yang sudah ia persiapkan dari kemarin malam.


ddrrtt... ddrrtt...


Irfan memanggil melalui ponsel milik anaknya.


"Halo ayah" ucap Fajri.


"halo sayang, sudah selesai nak?"

__ADS_1


"sudah Ayah"


"Ayah sudah di luar sayang, hari ini ayah yang mengantar Aji ya"


"ayah sudah di luar? bukannya tadi ayah baru dari sini"


"iya sayang, makanya ayah buru-buru, takut Aji telat nanti"


"iya tunggu sebentar Ayah, Aji keluar lagi"


"iya nak, Ayah tunggu ya"


Fajri segera mematikan panggilan telefon dan melangkah keluar, namun sejurus kemudian ia tersenyum kikuk kembali menuju kamar dan melihat Fajira tengah berdiri sambil melipat tangan di dadanya.


"Bunda, Aji pergi dulu ya" ucapnya mengedip-ngedipkan matanya imut


"sudah lupa kalau punya bunda"


"eh bukan begitu Bunda cantik, Aji kan buru-buru, makanya kelupaan. maafin Aji ya bundaku yang cantik. Aji udah telat" sergah Fajri cepat


"ya sudah hati-hati sayang. Jangan teledor"


"iya bunda"


Fajira tersenyum menatap Fajri yang berlari kearah Irfan yang sudah menunggu di samping mobilnya.


"dada bundaa" ucap Fajri dalam gendongan irfan sambil melambaikan tangannya.


"dada sayang" Fajira tersenyum kepada Fajri dan sejurus kemudian mendelik kepada Irfan yang mengedipkan matanya genit.


Fajira kembali masuk ke dalam asrama dan membersihkan kamarnya. Beruntung hari ini ia tidak ada jadwal kuliah sehingga ibu muda itu bisa lebih senggang dan bisa mengerjakan tugas kuliahnya untuk besok.


Sementara di dalam mobil, Irfan tak hentinya tersenyum karna bisa mengantarkan Fajri untuk pergi ke sekolah. Padahal ia sudah ditunggu oleh Ray di kantor karna ada meeting penting, namun disinilah ia sekarang mengantarkan Fajri dengan rasa bangga.


Begitu juga dengan pria kecil itu yang tidak henti tersenyum karna untuk pertama kalinya ia di antarkan oleh sosok seorang ayah yang sudah lama ia nanti kehadirannya.


"ayah" panggil Fajri tersenyum manis menatap Irfan yang tengah mengemudikan mobilnya


"Aji senang karna bisa di antarkan oleh ayah"


"Ayah juga sayang. Sudah lama ayah ingin mengantarkan Aji untuk pergi ke sekolah"


"Ayah Aji mau bertanya boleh?"


"boleh sayang. Aji mau nanya apa nak?"


"hmm, kemarin kan kata Bunda kalau mau berci*uman lama seperti ayah dan Bunda, Aji harus menikah dulu. Tapi kemarin Bunda bilang kalau Ayah dan Bunda belum menikah, itu bagaimana ayah?"


uhuk...


Irfan tersedak dengan pertanyaan Fajri. Namun ia kembali menetralkan ekspresinya.


"ayah gak papa?"


"gak papa sayang. Jadi begini, kan ayah sudah lama gak bertemu sama bunda Jadi Bunda udah gak sayang lagi sama ayah, makanya Ayah dan Bunda belum menikah sayang. Hmm Aji mau gak bantu ayah agar Bunda mau menikah sama ayah?"


"Mau ayah, kata Bunda kita akan tunggal bersama kalau ayah dan Bunda menikah"


"iya sayang. Tapi ya gitu deh, Bunda masih marah sama Ayah"


"okeh Aji akan bantu Ayah. Tapi ada satu syarat"


"apa sayang?"


"Ayah gak boleh nyakitin Bunda lagi. Ayah tau waktu kita masih tinggal di gubuk, Bunda sering di hina sama tetangga, Bunda di bilang perempuan gak baik. Waktu itu Aji sakit mendengarnya Ayah, Makanya Aji berusaha untuk mencari uang agar bisa membelikan Bunda rumah. Beruntung Bunda dapat beasiswa jadi kami bisa tinggal di asrama" ucap fajri sendu. Perkataan pria kecil itu membuat Irfan terdiam.


Betapa beratnya cobaan yang kamu hadapi sayang, Aku janji akan mengganti itu dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah terhingga. Dan kita akan menggapai itu bersama nanti.


"Aji mau kan bantu ayah?"


"mau Ayah, Aji pengen merasakan tidur bareng sama ayah dan Bunda. Soalnya teman-teman Aji selalu bercerita tentang ayahnya, liburan bareng main ini main itu, Aji kan juga mau seperti itu ayah" Ucap Fajri sendu.

__ADS_1


"sayang jangan sedih ya, Sekarang ayah sudah ada di samping Aji. Hari minggu kita bisa pergi main bersama Bunda. Aji mau kemana nak?"


"Aji mau ke perpustakaan Nasional Ayah"


"Hah?" Irfan terkejut mendengarkan permintaan Fajri.


"Aji gak mau lihat dinosaurus atau lihat hewan bawah laut?" sambungnya


"hmm? Aji mau ke perpustakaan ayah, soalnya Aji butuh beberapa buku tentang pesawat yang akan Aji buat"


"Aji mau buat pesawat?"


"iya ayah, Aji mau buat pesawat dengan remot kontrol. Sudah hampir selesai, tapi masih belum bisa terbang ayah. Jadi Aji mau membaca bagaimana cara pesawat itu terbang"


Lagi-lagi Irfan terkaget dengan perkataan Fajri. Ia penasaran berapa IQ yang dimiliki oleh anaknya.


"Aji sudah ada pergi ke psikolog untuk tes IQ sayang?"


"sudah ayah"


"berapa nak"


"225"


"Hah? Aji serius sayang?"


"serius Ayah"


"ya sudah kita turun lagi. Ayah antar sampai ke kelas ya" Mobil sudah terparkir di halaman sekolah fajri.


"iya ayah, yuk"


Irfan menggendong Fajri dan membawanya menuju kelas pria kecil itu. Ia masih tidak percaya dengan IQ yang dimiliki oleh anaknya.


Sebaiknya aku harus merencanakan masa depan Fajri seperti apa, ia bisa menjadi orang yang sangat hebat di masa depan nanti.


Irfan menatap Fajri yang sedang berkirim pesan dengan Fajira yang mengatakan jika ia sudah sampai di sekolah.


"ayah ini kelas Aji"


"ya sudah, nanti ayah jemput atau nanti di jemput sama om Ray ya sayang"


"iya Ayah. Aji sekolah dulu ya, Ayah hati-hati di jalan, jangan bengong mendengar jumlah IQ Aji hehe" Fajri terkekeh.


"iya sayang, belajar yang rajin ya. Hari minggu kita ajak Bunda sekalian ke perpustakaan nasional ya nak"


"ayah serius?"


"iya sayang"


"terima kasih Ayah. Aji sayang Ayah" Fajri memeluk Irfan yang masih berjongkok dan laki-laki itu tidak membuang kesempatan untuk memeluk miniatur dirinya.


"Ya sudah Ayah pergi dulu ya nak"


"iya ayah, Dada"


"dada sayang"


Irfan menunggu Fajri masuk ke dalam kelas dan memastikan anaknya selamat dan aman, barulah Irfan pergi dari sekolah itu. Jangan lupa parasnya yang tampan membuat ibu-ibu yang mengantarkan anaknya menjadi terpana, namun seperti biasa Irfan hanya memasang wajah datar sambil berjalan menuju mobil dan segera berangkat kekantor dengan cukup cepat.


"Ray siapkan tiga tiket pesawat untuk ke ibu kota, saya akan pergi ke perpustakaan nasional bersama dengan Fajri dan Fajira hari minggu. Kosongkan semua jadwalku hari itu" ucap Irfan melalui sambungan telefon.


"baik tuan"


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Hai readers akuu mau ngasih referensi baca nih untuk mengisi waktu sembari menunggu anak sultan milik CEO Update. yuk kunjungi mana tau suka. Ceritanya keren banget, gak boong, Aku sudah baca 😍😍


__ADS_1



__ADS_2