Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
106. Sulitnya Menjaga Seorang Irfan


__ADS_3

"sayang kenalkan dia Bayu Hamish orang tua dari Sherly Hamish"


deg...


"selamat siang, Pak" sapa Fajira ramah beriringan dengan detak jantung yang mulai berdetak lebih cepat.


"siang, nyonya" sapa Bayu sambil menunduk


Suasana hening seketika, Fajira menjadi canggung dengan keadaan saat ini.


"hmm, Mas aku ke kamar saja ya" ucap Fajira hendak pergi.


"Apa kamu lelah?" tanya Irfan lembut sambil membelai wajah istrinya.


"Aku rasa kamu butuh privasi untuk mengobrol berdua dengan Pak Bayu"


"justru dia ingin mengatakan sesuatu kepada kamu sayang"


"aku? Apa yang mau bapak bicarakan kepada saya?" tanya Fajira to the poin sambil menatap Bayu.


"Saya, saya..." Bayu merasa gengsi untuk mengatakan maaf kepada Fajira.


"Semua keputusan ada sama kamu, sayang" ucap Irfan.


"keputusan apa sayang? Jangan berbelit-belit" Ucap Fajira mengernyit dan mulai mengetahui kemana arah pembicaraan suaminya.


"Bukankah ini sudah kita bahas sebelumnya sayang?" Ucap Irfan menggenggam tangan Fajira lembut.


Perempuan itu terdiam, ia melihat Bayu dengan seksama. Sungguh walaupun dia merasakan sakit hati karna ulah anaknya. Tapi ia merasa kasihan juga, jika Bayu harus menanggung akibat dari perbuatan anaknya.


"Mas!" panggil Fajira ragu.


"Apapun sayang, semuanya aku serahkan sama kamu!" Ucap Irfan tersenyum manis. Fajira mandang pria patuh baya itu seksama.


"apa bapak tau apa yang sudah di lakukan anak bapak kepada saya?" ucap Fajira menatap Bayu tegas.


"iya nyonya, saya tau. Saya meminta maaf atas nama Putri saya kepada nyonya dan tuan Irfan. Tapi saya akan pastikan jika anak saya tidak akan mengganggu kehidupan Tuan dan nyonya lagi" ucap Bayu lirih.


"Kenapa anda yang meminta maaf atas kesalahan yang di perbuat oleh anak anda Pak? Jika anda menghukum anak anda, tapi tidak menyuruhnya untuk meminta maaf, untuk apa? semua tidak akan memberi efek positif terhadapnya dan dia akan selalu seperti itu. Dia akan menganggap jika apapun yang di kerjakannya ada Orang tua yang selalu melindungi" Ucap Fajira panjang lebar.


"saya bukan mengajari anda, saya hanya mengingatkan anda tentang sikap yang harus anda ambil dalam mendidik anak" sambung Fajira


"maafkan Saya nyonya, ini semua memang salah saya yang gagal mendidik anak. Saya berfikir dengan harta dan memenuhi semua keinginan anak saya adalah satu-satunya jalan agar ia bisa bahagia, namun tidak. Saya baru menyadarinya sekarang, Nyonya. Saya berharap dengan segala kerendahan hati Tuan dan Nyonya mau memaafkan anak saya," ucap Bayu yang sudah kehilangan muka di hadapan sepasang anak muda di hadapannya.


Apa yang harus aku lakukan? satu sisi aku ingin perempuan itu menyesal karna telah berani bermain dengaku. Tapi dengan menghukum orang tuanya sangatlah tidak mungkin. Bathin Fajira.


Ia terdiam sambil menatap Irfan. Sungguh ia sangat bingung saat ini.


"Menurut kamu bagaimana Mas?"

__ADS_1


"Aku sudah menyiapkan semuanya sayang. Surat pembatalan kontrak dan cek senilai 25 miliar" ucap Irfan enteng.


Namun sukses membuat Bayu terdiam dengan wajah pucat dan fikiran yang berkelana kesana kemari, memikirkan hal terburuk yang akan ia dapatkan nanti setelah pembatalan kerja sama ini.


"Apa kamu yakin mau memberikan aku hak untuk memutuskan ini?"


"iya sayang. Karna kamu korban dari kebejatan anaknya"


"Mas! Gak boleh ngomong seperti itu" sergah Fajira menatap tajam Irfan.


"maaf sayang" pria malah mengelus kepala istrinya lembut.


Mereka masih beradu pandang, Fajira berharap ia bisa memberikan keputusan ini dengan sebaik-baiknya.


"Pak Bayu?" panggil Fajira dengan lirih. Ia terdiam sejenak untuk menarik nafasnya.


"Sungguh saya hanya seorang perempuan biasa yang beruntung mendapatkan Mas Irfan sebagai suami. Bahkan untuk mendapatkannya banyak hal yang harus saya korbankan. Tapi saya tidak pernah menyakiti siapapun. Cinta yang hadir dalam hati manusia itu adalah anugerah yang di berikan oleh tuhan.


Namun cara Putri bapak itu sangat salah, Siapapun pasti mengutuk perbuatannya. Menjaga itu lebih sulit dari pada mendapatkannya. Sungguh bukan hanya anak bapak yang menginginkan suami saya. Tapi, satu hal yang harus saya pastikan, Yaitu Mas Irfan hanya mencintai saya dan menjadikan saya satu-satunya ratu yang bertahta di hati beku miliknya. Dan Suami saya sudah membuktikan itu semua.


Jika anda bisa mengajarkan Putri anda bagaimana cara berperilaku mungkin saya masih bisa mempertimbangkan untuk pembatalan kerja sama itu" ucap Fajira dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke ayarh Irfan yang juga tersenyum ke arahnya.


Pak Bayu terdiam mencerna perkataan Fajira yang bijak tanpa menjatuhkan anaknya.


"Ja-jadi? apa Nyonya ti-tidak jadi membatalkan kontrak kerja sama ini?" tanya Bayu memastikan.


"te-terima kasih nyonya. Saya Janji akan mengajarkan Putri saya tentang tata krama agar dia bisa menjadi perempuannya yang lebih baik lagi. terima kasih" ucap Bayu berkaca-kaca.


Tuan Irfan memang beruntung mendapatkan perempuan seperti Nyonya Fajira. Pantas saja Sherly yang sudah seperti itu di tolak, jika istrinya memiliki hati selembut kapas dan wajah yang begitu menenangkan. Semoga anda sehat selalu Nyonya Fajira. Bathin Bayu memandang Fajira.


"Sudah, silahkan Pak. Jam makan siang sudah hampir Habis" Ucap Irfan mengusir pak Bayu.


"Apa bapak mau makan bareng kami?" tawar Fajira kepada Bayu dah sukses membuat Irfan melotot kaget.


"eh tidak, terima kasih Nyonya. Saya juga merindukan masakan istri saya di rumah. Sekali lagi terima kasih banyak karna Nyonya dan tuan sudah memberikan saya kesempatan. Sungguh jika kontrak ini batal, saya tidak tau akan melakukan apa setelah ini. Sekali lagi terima kasih Tuan, Nyonya. Saya permisi" ucap Bayu sungkan.


"iya silahkan. Maaf saya Tidak bisa mengantarkan anda" Ketus Irfan.


"iya permisi" Bayu berlalu di sana dan menyisakan pasangan suami dan istri di dalam ruangan itu.


"Mas, Aku masak makanan kesukaan kamu tadi" ucap Fajira membuka satu persatu rantangnya.


"Mas" panggil Fajira dengan mengangkat kepalanya. Ia melihat Irfan dengan mata yang menyalang menatapnya dengan sadis.


"kenapa sayang?" tanya Fajira lembut.


"Pikir aja sendiri" dengus Irfan.


"Jangan marah. Aku hanya basa-basi saja sayang" Fajira menyandarkan kepalanya di dada Irfan lalu mengelus lembut tempat ternyaman untuk bersandar itu.

__ADS_1


"Mas. Ihh" Plaak... Fajira memukul pelan dada itu dan membuka kancing baju Irfan lalu mengusap dada yang di tumbuh bulu halus itu.


"Mas, kamu tau hari ini aku lagi senang banget" ucap Fajira senang namun Irfan tetap diam.


"Mas! iih. Ya sudah aku pulang saja" Fajira bangkit dari duduknya, namun Irfan lebih dulu menahan tubuh yang sudah menjadi candu baginya.


"Aku cemburu sayang, Tidaklah kam paham?"


"Kamu cemburu sama kakek-kakek? apa kamu sudah seperti dia?" ketus Fajira menafsirkan sesuatu dan membuat Irfan melotot.


"Ka-kamu"


"sudah Mas! aku lagi senang kamu malah ngakak berdebat" kesal Fajira bersandar pada sofa.


"Eh jangan marah sayang. Kamu senang kenapa sayangkuuh? coba sini cerita" Irfan menarik Fajira kembali ke dalam dekapanya.


"Ihh... Kamu tau sayang. Proposal Aku di terima" Ucap fae senang


"iya? syukurlah. Alangkah lagi ya sayang. Kamu bisa menyelesaikan studi kamu dengan cepat" ucap Irfan juga ikut senang.


"iya Mas, Aku senang banget, apa lagi tadi dosen memuji proposalku Mas!"


"Ah syukurlah. Apa boleh aku mendapat hadiahku?" ucap Irfan menatap Fajira lekat.


"Ihh kan aku yang di terima, kenapa kamu yang meminta hadiah?" cemberut Fajira.


"Ya sudah sini aku kasih hadiahnya sayang"


Irfan menyerang Fajira dengan lembut, Ia meraup manisnya bibir cerry Fajira yang selalu memanggilnya dan meminta untuk di kecup. Fajira yang juga mendambakan sentuhan Irfan, tidak menolaknya sama sekali. Mereka masih beradu bibir dengan manis dan saling berusaha untuk memuaskan satu sama lain.


"Hmm Mas..." Fajira mendorong tubuh Irfan ketika merasakan pasokan udara sudah menipis.


"Kita makan dulu ya," ajaknya.


"Aku mau..."


"sstt... Gak boleh sering-sering sayang. Bahaya"


"huh.. ya sudah. Tapi suapi aku ya" pasrah Irfan


"iya sayang"


Irfan menggendong Fajira agar duduk di pangkuannya. Sambil menikmati makan siang mereka bercengkerama mengenai banyak hal. Fajira dengan semangat menceritakan apa yang terjadi saat seminar tengah berlangsung.


Hingga jam makan siang berlalu, Fajira pamit untuk menjemput Fajri terlebih dahulu ke sekolahnya dan kembali pulang berasama pangeran kecilnya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2