Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
140. Kedatangan Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

tok... tok... tok...


ceklek...


"Ada apa bik?" tanya Irfan.


"Itu tuan, maaf mengganggu waktu istirahatnya. Di luar ada keluarga yang mengaku kerabat dari nyonya Fajira. Mereka memaksa masuk dan berteriak, sehingga memancing perhatian warga sekitar," jelas bibi.


"kerabat Fajira?" tanya Irfan mengernyit.


Ia melihat anak dan istrinya tengah tertidur dengan saling berpelukan.


Apa mereka laki-laki biadab itu? sepertinya aku harus menyelesaikan ini semua, memberikan mereka pelajaran agar tidak lagi menyakiti istriku!. Bathin Irfan.


"biarkan mereka masuk, dan katakan kepada penjaga untuk membubarkan kerumunan warga. Saya akan keluar sebentar lagi, dan pastikan tidak ada yang berisik satu orang pun!" ucap Irfan tegas.


"baik tuan, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," Bibi berlalu dari sana untuk memberitahukan perintah Irfan kepada para penjaga.


Setelah kepergian Bibi, Irfan kembali masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya. Ia menatap Fajira dan Fajri lembut. Merekalah harta berharganya saat ini.


Aku harap kamu tidak marah dengan apa yang akan aku perbuat kali ini sayang. Aku tau kamu adalah orang yang pemaaf, tapi apa yang mereka lakukan sangat tidak pantas! dan Aku akan membalas semua perbuatan mereka!. bathin Irfan mengecup kepada anak dan istrinya bergantian.


Ia berjalan keluar dengan menggunakan celana dasar dan baju kemeja yang terlihat formal. Dengan wajah dinginnya ia menatap empat orang yang tengah duduk sambil tersenyum di ruang tamu.


"Silahkan tuan!" ucap bibi membuat semua orang terkejut.


Mereka menatap Irfan tidak percaya, banyak pertanyaan yang bergentayangan di dalam fikiran orang-orang itu, menebak siapa yang ada di hadapan mereka saat ini.


Irfan duduk dengan sangat gagah dan berwibawa, mengeluarkan aura menyeramkan seolah ia akan menelan mereka hidup-hidup.


"Ada apa kalian menemui istri saya?" tanya Irfan horor dan berhasil membuat mereka tersadar dari lamunannya dengan bulu kuduk yang meremang.


"apa? istri? Fajira sudah menikah ? de-dengan anda?" pekik perempuan yang bernama Amel itu.


Ia lah perempuan yang menghadang Fajira ketika sampai di rumah itu tadi pagi.


"Pelankan suara anda nona! istri dan anak saya sedang tidur! saya bertanya ada perlu apa kalian kemari?" Ucap Irfan dingin.


"Ka-kami ingin bertemu dengan Fajira.. hmm... nak..." ucap Pak Sandi orang tua Amel.


"tuan! panggil saya tuan!" sergah Irfan.


"bu-bukankah anda juga menantu saya? saya adik dari ayahnya Fajira," ucap Sandi mengenalkan diri.


"saya tidak peduli! Ini sudah yang ke tiga kalinya saya bertanya! apa perlu kalian kesini dan membuat keributan di halaman rumah istri saya? apa kalian tidak punya otak? datang malam-malam di saat orang sudah beristirahat? terkutuklah kalian!" bentak Irfan jengah.


"ka-kami..."

__ADS_1


"usir mereka! dasar tidak berguna!" umpat Irfan kasar dan beranjak dari sana.


Para penjaga itu segera mengusir keluarga Sandi dan membuat keributan karna mereka menolak untuk di usir.


"tu-tuan, tolong berikan kami kesempatan untuk berbicara!" teriak Sandi yang berusaha untuk terlepas dari cengkeraman pengawal Irfan.


Terjadilah keributan di ruang tamu itu dan membuat Fajira terbangun. Ia keluar dengan gaun tidur untuk hamil yang membuatnya terlihat sangat sek'si dan menggairahkan.


"Ada apa Mas?" ucap Fajira mengucek mata.


Sebentar matanya melotot melihat banyak orang yang tengah berkumpul. Ia langsung masuk ke kamar dan menggunakan sweater untuk menutupi tubuh bagian atasnya, beruntung gaun itu sedikit lebih panjang.


"fa-fajira. Paman harus berbicara dengan kamu Fajira! tolong paman sebentar saja!" teriak Sandi.


"Mas?" Fajira menatap Irfan meminta jawaban apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku sudah bertanya sebanyak 3 kali sayang, tetapi mereka tidak ada yang menjawab, Yuk kita istirahat lagi!" Irfan mengecup kening Fajira dan menarik tangannya kembali ke kamar.


"Biarkan mereka berbicara sebentar ya, aku juga ada yang ingin di sampaikan kepada mereka," ucap Fajira mengelus rahang tegas Irfan dan mengecup bibir indah itu dengan singkat.


"huft... ya sudah!" ucap Irfan tersenyum dan mencuri ciuman dari Fajira.


"biarkan mereka masuk!. Bi tolong jaga Fajri di dalam!" perintah Irfan.


"baik tuan!" Ucap para penjaga dan kembali pada posisi masing-masing, yaitu berdiri di sudut ruangan dan mengawasi pergerakan tamu yang tidak di undang itu.


"Kamu duduk ya!" ucap Irfan membimbing Fajira dengan lembut.


"Aku mau di peluk!" lirih Fajira tersenyum genit.


"baiklah tuan Putri!" Irfan duduk terlebih dahulu dan di susul oleh Fajira yang duduk di pangkuan pria tampan itu.


Keluarga Sandi hanya menatap terkejut bagaimana perlakuan Irfan yang begitu lembut kepada Fajira. Mereka semakin membenci perempuan itu.


Huh kenapa dia malah bertemu dengan pria tampan dan kaya itu? apa bagusnya dia di bandingkan aku, dasar perempuan murahan!. Bathin Amel iri.


"Apakah anda tidak mempunyai sopan santun, tuan Sandi yang terhormat?" tanya Fajira sarkas.


"Anda datang malam-malam ke rumah orang dan membuat keributan, tidakkah anda lihat saya sedang hamil tua? dan anak bujang saya juga tengah tidur! kami membutuhkan waktu untuk beristirahat!" sambil Fajira bersandar di dada bidang Irfan.


"Kamu yang sopan ya berbicara dengan paman Mu!" bentak istri Sandi.


Mata Irfan melotot mendengar ada yang membentak permaisurinya. Namun ketika ia hendak berbicara Fajira segera membekap mulut Irfan dengan tangannya.


"Jangan berteriak, sayang! nanti kuping aku sakit, " ucap Fajira cemberut manja.


Ia kembali menatap empat orang yang ada di hadapannya dengan tatapan nyalang. Mengeluarkan taring dan tanduk yang sudah lama ia simpan untuk mereka. Karna semenjak bersama dengan Irfan, ia mempelajari banyak hal, bahkan ia bisa menakhlukkan Irfan dan membuat laki-laki itu tidak berkutik.

__ADS_1


"Anda berani membentak saya? Apa anda tidak tau saya siapa?" tanya Fajira ketus.


"Ada perlu apa Juragan Sandi datang menemui saya malam-malam seperti ini?. Jam berapa sekarang?" Fajira mengedarkan pandangannya melihat ke arah dinding.


"sudah pukul 8 malam! Anda mengganggu waktu tidur saya!" sambung Fajira dengan masih berbicara ketus.


"Fajira..." panggil Sandi.


"Panggil istri saya dengan sebutan Nyonya!" ucap Irfan.


Fajira kembali menatap pria tampan itu dengan memanyunkan bibirnya.


"hah? Ba-baik lah. Be-begini nyonya Fajira. Apa kabar kamu?" ucap Sandi berbasa basi.


"Sepertinya perkataan kamu benar, sayang! Mereka hanya membuang waktu!" Fajira beranjak dari sana.


"Sekali Murahan tetap murahan!" sarkas Amel.


Irfan yang mendengarkan cacian yang keluar dari mulut tidak berguna itu segera menarik pistol yang di pegang oleh penjaga dan mengarahkan kepada perempuan yang tidak tau malu itu.


"Kau ulang sekali lagi!" bentak Irfan.


Mereka semua menjadi takut dan terkejut dengan tindakan Irfan. Sementara Fajira hanya menggeleng menatap Irfan.


"sudah sayang, tidak ada gunanya kita meladeni orang seperti mereka!" Fajira mengelus dada Irfan dan mengambil pistol itu dan menyerahkannya kembali kepada penjaga.


"Sebelum saya benar-benar muak dengan kalian, katakan apa yang kalian inginkan!" ucap Fajira tegas.


"Paman, membutuhkan bantuan kamu, Saat ini paman tengah di kejar oleh rentenir dan membutuhkan uang 300 juta, jika tidak rumah paman akan mereka sita. Hanya kamu yang paman punya saat ini!" ucap Sandi menunduk.


"uang? 300 juta? Uuh itu banyak sekali!, bukankah gudang dan usaha milik ayah saya sudah kalian kuasai? saya rasa itu cukup untuk menutup hutang kalian jika gudang itu beroperasi selama satu tahun. Apa sudah kalian jual juga?" Ucap Fajira terkejut.


"Gudang dan usaha ayah kamu sudah di ambil alih oleh tuan Dirgantara karna beliau memiliki surat lengkap atas usaha itu. Dan sebelum beralih tangan, paman sempat meminjam uang untuk menambah modal usaha ke rentenir sebanyak 100 juta, dan sekarang sudah membengkak. Tolong bantu paman, kalau tidak Adik kamu Amel akan di jadikan istri olehnya!"


"itu bukan urusan saya! Kenapa anda tidak menjual Putri kebanggaan anda kepada mucikari? Bukankah perawan bisa anda jual dengan harga yang sangat mahal. Itu 'pun kalau Putri anda masih perawan!" Ucap Fajira tersenyum mengejek.


Ada perasaan lega menyelimuti hatinya, ia harus menelfon Papa besok malam dan mengucapkan beribu terima kasih karna sudah menyelamatkan peninggalan keluarganya.


Sementara Amel yang sudah ketakutan hanya bisa bungkam ketika pistol itu berada tepat di dekat kepalanya.


"tolong Paman Fajira!" ucap Sandi bersimpuh.


"...."


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2