Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
224. Lamaran 2


__ADS_3

"kak, benarkan kataku! Abang gak berkedip dari tadi!" bisik Ivanna.


Namun ia tidak mendapatkan tanggapan dari kakak iparnya itu. Ia melihat tatapan mata Safira sambil mengernyit. Ternyata mereka sudah saling berpandangan satu sama lain. Ivanna hanya bisa menahan tawanya ketika melihat tatapan Fajri dan Safira terkunci, seolah tidak ada yang ingin memutuskan tatapan itu.


Aih, ternyata mereka memang kompak. Beda, ya aura calon pengantin itu. Bahkan Abang terlihat sangat tampan malam ini. Ah aku lega setelah berbincang dengan Abang kemarin malam. Dede, sudah menepati janji yang dulu pernah Dede ucapkan kepada, Abang. Ada satu hal lagi yang belum Abang sadari dan Dede masih berusaha untuk mencari kebenarannya. batin Ivanna tersenyum senang.


Serangkaian acara lamaran malam ini berjalan dengan lancar. Hingga tiba saatnya Fajri memasangkan cincin pertunangan kepada Safira dan begitu sebaliknya.


Mereka sudah berdiri sambil berhadapan. Wajah yang merona dan senyum yang mengembang menghiasi wajah calon mempelai.


"Hai, istriku?" sapa Fajri lirih.


"Kita belum menikah kak!, jangan macam-macam nanti, ya!" ucap Safira lirih dan memberikan penekanan agar Fajri tidak macam-macam kepadanya nanti.


"Gak macam-macam kok, cukup kecup sana kecup sini!" ucap Fajri menahan tawanya.


"Coba, aja. Kalau kakak berani, aku gak mau ketemu satu minggu!" ancam Safira.


"kejamnya!" keluh Fajri pasrah.


"Silahkan kepada, Tuan Fajri untuk memasangkan cincin ke jari Nona Safira!" ucap MC yang tidak kuasa untuk menahan gemas.


Fajri mengambil cincin berlian yang sudah ia pesan jauh hari, dan menyematkannya pada jari manis calon istrinya.


"Aku ingin menciummu, sayang!" ucap Fajri lirih setelah memasangkan cincin itu.


"kening aja, boleh! jangan yang lain!"


"baiklah!"


Fajri dengan senang hati mengecup kening Safira dengan lembut. Hal itu sukses membuat Fajira dan Ibu melotot.


"Abang!" seru Fajira dengan mata yang melotot.


"Hehe!" cengir Fajri tanpa rasa bersalah sambil menggaruk tengkuknya.


"Sekarang, silahkan kepada, Nona Safira untuk memasangkan cincin kepada Tuan Fajri!" ucap MC.


Safira meraih cincin untuk Fajri dan menyematkannya ke jari manis pangeran tampan yang ada di hadapannya. Dengan tangan yang gemetaran, Safira mengecup lembut punggung tangan Fajri.


Acara terus berlangsung dengan begitu hangat dan membahagiakan. Hingga tiba saatnya dimana mereka akan membicarakan, kapan acara pernikahan akan di laksanakan.


"Aji ingin secepatnya, Bunda. Satu bulan itu sudah paling lama! atau Aji akan kebablasan!" keluh Fajri ketika Fajira bertanya kapan pernikahan mereka akan di laksanakan.


"Kenapa secepat itu? kalian belum ngapa-ngapainkan?" tanya Fajira menelisik.

__ADS_1


"sudah, Bunda! makanya Aji gak mau lama-lama sebelum Safira Aji buat bunting!" ucap Fajri serius


"Fajrianda!" teriak Fajira terkejut.


Pria tampan itu terkesiap, bidadari cantik ini salah tangkap dengan perkataannya barusan.


"Bunda, kan Abang bilang sudah ngapa-ngapain, kecuali yang satu itu belum! makanya Abang minta agar pernikahan ini segera di laksanakan sebelum Safira Abang bawa ke apartemen dan bunting!" terang Fajri sambil memperagakan perut yang buncit ciri khas orang hamil.


Ingin rasanya Fajira memukul kepala berharga putranya itu. Like father like son!.


"Kami meminta agar acara pernikahan bisa di laksanakan satu bulan dari hari ini, Bu!" ucap Fajira dan membuat semua orang terkejut.


"A-apa harus secepat itu. Nyonya?" tanya Ibu tidak percaya.


"Saya rasa itu tidak terlalu cepat, Bu. Saya takut jika terlalu lama mereka akan menyicil malam pertama lebih dahulu!" ucap Fajira dengan wajah yang merona.


"Apa itu tidak terlalu lama, sayang?. Dua minggu saja. Itu sudah sangat lama, dua minggu mulai dari hari ini Fajri akan menikah! semua persiapan sudah selesai bukan? tinggal mengeksekusi saja!" usul Irfan semakin gila.


"du-dua minggu?" ucap Ibu lirih dengan kepala yang berdenyut.


Saat ini ia hanya pasrah mengikuti keinginan putrinya. Sementara Fajri hanya bisa tersenyum genit ke arah Safira yang masih terkejut dengan ucapan ayah mertuanya.


Glek,...


Apa secepat itu? dua minggu? aku yakin kak Fajri sudah berkompromi terlebih dahulu dengan Ayah! Aku gak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah menikah nanti. Apa kami akan melakukan hal itu?. Batin Safira merona.


"Baik, untuk keputusannya acara pernikahan akan dilaksanakan dalam dua minggu lagi. Dan itu bertepatan pada hari sabtu. Untuk konsep pernikahan kita serahkan kepada Fajri, Ivanna dan Safira," ucap Fajira pasrah.


Mereka berbincang untuk membicarakan tentang apa yang harus mereka lakukan setelah ini.


Wajah bahagia Fajri tidak mampu untuk ia sembunyikan lagi. Ia begitu merasa bahagia karna bisa memiliki gadis cantik yang begitu mudah untuk masuk kedalam hatinya.


Kamu akan menjadi milikku sayang, sampai kapanpun!. Batin Fajri yang tidak melepaskan pandangannya dari Safira dan Ivanna dengan bergantian.


Hingga acara selesai mereka segera berpamitan untuk pulang. Fajira menjewer telinga Fajri yang meminta untuk tinggal terlebih dahulu. Ia tau jika putranya pasti akan mencium Safira setelah keadaan sepi.


Namun ia tidak ingin Fajri menjadi laki-laki nakal dan bisa mencium anak gadis orang sembarangan, walaupun sudah terjadi.


"Bunda!" rengek Fajri di dalam mobil.


"Apa mau Bunda ceramahin lagi, bang?" ucap Fajira melotot.


"Kan, abang belum pamit sama istri, Abang!" keluh Fajri menatap panti yang sudah tidak terlihat lagi.


Istri konon!. Batin Ivanna.

__ADS_1


"Kamu tau bang, Bunda merhatiin mata kamu gak lepas dari Safira, seperti harimau yang akan menerkam mangsa, tau gak!" omel Fajira.


"Astaga, Bunda! apa Bunda gak mau punya cucu?"


"Mau, tapi nikah dulu!" ucap Fajira tegas.


Hening, Fajri tidak lagi bersuara setelah itu. Ia hanya bisa menghela nafas beratnya dan menahan segudang kerinduan kepada Safira.


Sementara Ivanna hanya bisa menahan senyumnya melihat keadaan Fajri yang seperti di tinggal oleh istri.


"hahahaha,..." tawa Ivanna menggelegar di dalam mobil itu.


Mereka mengernyit melihat sikap Ivanna yang tiba-tiba saja tertawa kencang.


"Aduh, Aduh, perut dede sakit haha,..." ucap Ivanna di sela tawanya.


"kenapa, dek?" tanya Fajira.


"Hahaha, Abang! astaga. Dari tadi dede kesusahan untuk menahan tawa, Buna!" ucap Ivanna berusaha menahan tawanya.


Ia mencubit pipi Fajri dengan gemas dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.


"Aaa, Dede gemas melihat Abang dan kakak dari tadi!" ucap Ivanna.


Fajri semakin cemberut mendengar perkataan Ivanna yang orang tengah mengejeknya, karna tidak bisa bertemu dengan Safira.


"Aih, Ayah fikir Dede kenapa, sayang! apa perlu kita ke rumah sakit, untuk periksa kinerja jantung Abang? apa masih bagus atau tidak?" ucap Irfan terkekeh.


"hahaha, coba sini Dede dengar dulu!" ucap Ivanna mendekatkan telinganya jantung Fajri.


"wah, Ayah tau gimana bunyi jantung Abang?" tanya Ivanna dengan serius.


"gimana, sayang? apa bunyinya, Safira, Safira, Safira. Seperti itu?" ucap Irfan serius dan melotot.


"iya, Ayah. Safira, Safira, Safira!" ucap Ivanna semakin terbahak-bahak.


Fajira bahkan ikut tertawa cukup keras karna melihat tingkah anak dan suaminya yang berhasil menistakan Fajri.


Sementara pria tampan itu hanya pasrah jika Ivanna dan Irfan sudah kompak untuk meledeknya.


Tidak apa, yang penting aku sudah bertunangan. Tinggal dua minggu lagi aku akan memiliki Safira seutuhnya. Sayang, aku sudah tidak sabar mencoba bercocok tanaman yang begitu nikmat seperti cerita Ayah!. Batin Fajri menjerit


Mereka bercerita sepanjang perjalanan, hingga mobil berhenti di halaman rumah. Mereka segera beristirahat agar besok bisa menjalankan aktivitas kembali.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2