Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
232. In The Morning


__ADS_3

Pagi menjelang, Waktu baru menunjukkan pukul 05.00 waktu jerman. Fajri mengerjabkan mata, merasakan lengannya yang terasa kebas karna terlalu lama terimpit oleh seorang bidadari.


Wajah bantal yang masih terlihat tampan itu seketika tersenyum, melihat wajah damai Safira yang terlihat kelelahan. Fajri mengecup seluruh wajah istrinya hingga membuat Safira merasa terganggu.


"engh,..." lenguh Safira mengernyit matanya.


"Morning, sayang!" ucap Fajri tersenyum dan kembali mengecup bibir ranum Safira.


"Morning, kak!" Safira tersenyum manis menatap Fajri.


Namun tak lama seluruh badannya terasa sakit terutama pada bagian sensitifnya.


"sshhh,..." desis Safira.


"Kenapa, sayang?" tanya Fajri khawatir.


"hmm? badanku sakit semua!" rengek Safira dan membuat wajah Fajri merona.


"sakit? bagian mana? sini aku periksa!" ucap Fajri menyibakkan selimut dan melihat tubuh olisi istrinya kembali.


Tuing,...


Adik Fajri menegang seketika, karna melihat tubuh polos Safira terpampang jelas di matanya. Sementara gadis itu merengek sambil mencari apa saja yang bisa di gunakan untuk menutup tubuhnya.


"Sa-sayang. ki-kita mandi yuk! se-sebentar lagi a-aku akan pergi ke kantor!" ucap Fajri terbata.


"ka-kakak!" lirih Safira melihat wajah Fajri tak lepas memandangi tubuhnya.


Tanpa banyak bicara, Fajri segera mengangkat Safira menuju kamar mandi dan bermain air bersama istrinya. Hampir satu jam lamanya, mereka bermain air, Fajri menggendong safira yang sudah gemetaran karna terlalu lama berada di dalam air.


"Terima kasih, sayang! ah aku merasa tidak ingin jauh dari kamu!" ucap Fajri.


Ia memangku Safira dan duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambut panjang istrinya.


"besok aku gak mau lagi di dalam kamar mandi! dingin kak!" ucap Safira sedikit kesal.


"gak boleh kesal kalau melayani suami, sayang!" ucap Fajri terkekeh.


"gak kesal, Cuma ini aku kedinginan. Gimana kalau Ivanna sama Raisa nanya yang aneh-aneh. Aku harus jawab apa?" rengek Safira.


"Dede pasti paham itu, ya kalau Raisa yang bertanya, kamu harus pandai-pandai menjawab. Nanti Dede pasti bantu!" ucap Fajri tersenyum.


Ia menurunkan Safira dari pangkuannya dan mengambil baju untuk mereka kenakan.


"kak, biar aku yang ambil saja!" ucap Safira berdiri sambil meringis.


"Duduk saja, sayang. Apa masih sakit?" ringis Fajri melihat keadaan istrinya.


"Masih, kak! perih," ringis Safira.


Fajri kembali menggendong dan mendudukkan Safira di tepi ranjang mereka yang terlihat berantakan. Fajri segera mengambil baju yang akan mereka kenakan.


Dengan telaten, pria tampan itu memakaikan baju pada Safira. Setelah selesai baru ia memakai baju kerjanya.


Tok,... tok,... tok,....

__ADS_1


"Abang? apa sudah bangun?" panggil Ivanna dari luar.


"Sudah, sayang! Tunggu di luar ya. Abang bentar lagi selesai!" ucap Fajri setelah membukakan pintu.


"Kakak mana, bang?" tanya Ivanna dengan mata yang menyipit.


"ada tuh, lagi di dalam. Sudah sana Abang mau siap-siap dulu!" ucap Fajri mengusir Ivanna yang berusaha untuk mengintip.


"kak, Aku malu!" ucap Safira menutup wajahnya.


"hehehe, aku gak bisa membayang bagaimana wajah anak kita ketika merona nanti," ucap Fajri terkekeh.


Ia menyerahkan dasi kepada Safira, agar bisa di pasang dengan cara yang romantis. Benar saja, wajah Fajri masih merona melihat ada perempuan yang mau memasangkan dasi untuknya setiap pergi bekerja.


cup,...


Fajri mengecup kening Safira dengan lembut dan membuat gadis itu terpana. Sebentar ia tersenyum manis lalu mengecup pipi Fajri dan melanjutkan tugasnya memasangkan dasi untuk Fajri.


"sudah selesai!" ucap Safira tersenyum manis dengan wajah yang masih merona.


"terima kasih, sayang!" ucap Fajri.


Ia meraih jas kerja dan memberikannya kepada Safira. Dan menggendong istrinya keluar dari kamar.


"kak, turunin aja! Malu di lihat sama adik-adik!" bisik Safira yang berada di balik punggung Fajri.


"Gak papa. Kamu tenang aja!" ucap Fajri membawa Safira menuju meja makan.


Ivanna dan Raisa sudah membuat sandwich untuk sarapan, karna hanya itu bahan yang tersedia di apartemen.


"kakak kelelahan, sayang. Jadi gak kuat berjalan!" ucap Fajri.


"Kalau pejalan pertama dengan jarak jauh memang gitu kak! Mudah capek. Aku juga mau istirahat dulu, nanti baru jalan-jalan. boleh ya kak, Na?" ucap Raisa.


"iya, Nanti kita istirahat dulu, ini masih terlalu pagi untuk pergi keluar!" ucap Ivanna dengan wajah yang merona.


"apa kakak sakit?" tanya Raisa ketika melihat wajah Ivanna.


"Aku gak papa, dek!" kilah Ivanna.


Sementara Fajri hanya bisa menahan senyumnya ketika melihat Ivanna. Ia yakin jika fikiran gadis kecilnya tengah travelling kemana-mana, membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Sudah, lanjutkan makannya! Hari ini Abang akan pulang menjelang sore. Kalau misalnya bosan, nanti keluar saja. Jangan lupa beritahu Abang, kemana kalian pergi!" ucap Fajri.


Ia mengeluarkan black card dan memberikannya kepada Safira.


"ini kartu untuk kamu, kalau mau jajan nanti. Beli sesuai dengan kebutuhan ya, sayang!" ucap Fajri.


"Terima kasih, kak!" ucap Safira tersenyum.


Bukan hal baru baginya memegang black card milik Fajri, karna pria tampan itu selalu memintanya untuk membeli sesuatu yang ia butuhkan.


"untuk Icha mana, bang?" ucap Raisa menampung tangannya.


Fajri kembali mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang pecahan lima puluh ribu dua lembar dan menyerahkan kepada gadis 14 tahun itu.

__ADS_1


"ihh, ini mah gak laku kalau di sini, bang!" ucap Raisa cemberut.


"Hahaha, nanti minta jajan saja sama kakak, ya!" ucap Fajri mengusap kepala Raisa.


"Ya sudah, Abang pergi dulu!" ucap Fajri berpamitan.


Ia mengecup pipi mereka yng ada di sana, kecuali Safira. Fajri mengecupnya di bagian bibir, dan itu sukses membuat Ivanna menjerit dan melempark sendok kearah Fajri.


"Dasar gak tau tempat! gak tau apa disini ada bocil!" teriak Ivanna.


Sementara Fajri segera pergi sambil tergelak. Namun ketika tiba di luar, wajah Fajri terlihat sangat menyeramkan, karna sebentar lagi ia akan mengetahui siap yang tengah bermain dengannya.


Fajri segera pergi menuju kantor dengan cepat, membelah kota Jerman yang sudah terlihat ramai di penuhi oleh anak sekolah dan karyawan.


"Pagi. Tuan!" ucap penjaga menyapa Fajri dengan membungkuk hormat.


"pagi!" ucap Fajri langsung berjalan dengan cepat menuju ruangan Angga.


Brak!!


Fajri menendang pintu itu hingga terbuka dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Angga, Zyu dan seorang mafia bayaran Fajri sudah berada di dalam ruangan itu. Mereka terkejut dengan kedatangan Fajri dan langaung berdiri menyambut pria yang paling berkuasa itu.


"Pagi, Tuan!" ucap mereka membungkuk dengan tangan yang mulai gemetaran.


"Bagaikan kalian bisa kecolongan seperti ini? Kau Angga! apa kau lengah? apa waktu dua tahun kurang untuk aku membina kau di pedalaman?" bentak Fajri.


"Ma-maaf, Tuan saya bersalah karna lengah untuk mengawasi para pekerja!" ucap Angga ketakutan.


Ia pernah koma selama satu minggu di rumah sakit karna mendapatkan amukan dari Fajri, sebelum di asingkan.


"Kau juga, Zyu! kemana perginya mata tajammu? bukankah sudah 10 tahun kau bekerja dengan perusahaan. Dan tahun ini sudah dua kali kau buat aku kecewa!" Ucap Fajri dengan nada yang terdengar benar-benar kecewa.


"Maafkan saya, Tuan!" ucap Zyu lirih.


Ucapan Fajri begitu menusuk hingga ke jantungnya. Ia merasa tahun ini adalah tahun terburuk setelah sekian lama ia bekerja bersama laki-laki hebat itu.


"Sekarang bagaimana? Saya tidak ingin Design mobil itu jatuh ke tangan mereka dengan sangat mudah!" ucap Fajri tegas.


"Kami sudah menemukan beberapa barang bukti yang sangat kuat untuk mengalahkan mereka, Tuan! Semuanya sudah ada di sini, beruntung Alex bisa menemukan semuanya dengan cepat. Jam 9 nanti kita akan mengadakan sidang kedua, Tuan! saya jamin kita akan mendapatkan hal perusahaan kembali!" jelas Zyu.


"Baguslah, persiapkan semuanya! siapa dalang dari masalah ini?" ucap Fajri.


"Asisten kepala pabrik, Tuan!"


"kurang ajar! tuntut dia dan kebapakan ke penjara!" ucap Fajri.


Mereka kembali berbincang mengenai banyak hal tentang persidangan nanti.


Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil milikku! camkan itu!. Batin Fajri yang begitu emosi.


...🌺🌺🌺...


...TO BE CONTINUE...

__ADS_1


maaf menghancurkan ke uwu an Fajri dan Safira πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2