Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
211. Kunjungan Safira


__ADS_3

Selepas mandi dan mengenakan pakaian. Fajri duduk termenung di atas ranjangnya.


Apa karna aku terlalu baik kepada Zwetta, sehingga dia berani berbuat seperti itu? Apa yang akan aku katakan kepada Bunda nanti? sementara Ivanna sudah mengambil alih hidupku sekarang. Pasti besok pagi akan ada lagi tingkah gadis kecilku itu. huft!.


Perlahan Fajri merebahkan tubuhnya, namun mata itu tak kunjung terlelap. Hingga pagi menjelang, mata lelah itu tidak kunjung terlelap.


tok,... tok,... tok,...


"bang? sudah bangun, sayang?" ucap Fajira.


Fajri langsung membukakan pintu untuk Fajira. Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi.


"Sudah bangun, nak?" tanya Fajira masuk ke dalam kamar Fajri.


"Sudah, Bunda!" Fajri tersenyum dan memeluk Fajira.


"Banda, mau ngobrol sama, Abang!" ucap Fajira tersenyum dan menepuk sofa kamar itu.


Deg!


Jantung Fajri mulai berdetak kencang, pikirannya menjadi tidak karuan. Takut bercampur cemas, membuat tubuh lelah itu menjadi gemetaran.


"Bunda yakin, ada yang abang sembunyikan dari, Bunda!"


Duar!!


Fajri tau, jika Fajira tidak akan bisa di bohongi sedikitpun. Ia langsung bersimpuh di kaki Fajira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafin, Abang, Bunda!" ucap Fajri lirih.


"kenapa, Abang meminta maaf?" tanya Fajira yang berusaha untuk menguasai dirinya.


Fajri menceritakan apa yang terjadi kemarin tanpa ada yang di tutupi. Ia tidak akan pernah bisa berbohong dengan bidadari cantiknya ini.


Fajira terdiam sembari menghela nafas lega, untung hanya sekadar berciuman. Berbeda lagi jika Fajri sudah melakukan hal yang lebih jauh dan tidak senonoh. Dan menjadikannya Irfan jilid 2.


"Apa, Abang mencintai Zwetta?" tanya Fajira mengelus kepala Fajri lembut.


"gak, Bunda. Abang gak mencintai dia! Apa salah kalau Abang berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang siapa mereka?" tanya Fajri menatap ibundanya.


"tidak ada yang salah, sayang. Tapi lihat siapa orangnya, apa motifnya. kita bukan orang biasa seperti waktu aji kecil, nak! Semua orang pasti memiliki niat yang lain untuk dekat dengan kita. Itu yang harus Abang perhatikan!" ucap Fajira dan membuat Fajri terdiam.


"apa Bunda gak marah?" tanya Fajri.


"kenapa Bunda harus marah? bukankah karna itu Abang bisa merasakan manisnya berciuman?" ucap Fajira terkekeh.


"Bunda!" rengek Fajri.

__ADS_1


"heheh. Sayang, setiap apa yang terjadi itu adalah sebuah pembelajaran. Abang gak akan paham jika belum merasakan sendiri! kalau hal ini tidak terjadi, pasti abang gak akan pernah tau bagaimana sifat asli Zwetta itu bagaimana!" ucap Fajira tersenyum.


"Iya, Bunda. Abang sekarang semakin paham. Harusnya dari awal Abang mencari tahu bagaimana pergaulan Zwetta. Soalnya, Abang gak pernah terfikirkan dia akan nekat sampai sejauh ini, Bunda. Tapi ternyata salah, semua orang yang terlibat dengan Abang memang harus di lihat siapa mereka!" ucap Fajri sendu dan membuat Fajira tersenyum.


"Abang belum tidur kan?" tanya Fajira yang melihat mata sayu Fajri.


"belum, Bunda," ucap Fajri lirih.


"jangan terlalu di fikirkan. Sekarang, Abang istirahat ya!"


"Abang ada rapat pemegang saham pagi ini, Bunda!" ucap Fajri dengan mata yang mulai terpejam karna merasakan usapan lembut di kepalanya.


"Istirahat barang sebentar, nak! masih ada waktu satu jam untuk tidur. nanti Bunda bangunkan!" ucap Fajira.


"iya, Bunda!" ucap Fajri berdiri dan berbaring di atas kasurnya.


Fajira masih menemani Fajri di dalam kamar itu, hingga putranya terlelap.


Ketika Fajri sudah tertidur, Fajira menghela nafasnya. Ia ingin marah dan mencakar Fajri, namun ia juga tidak bisa berbuat lebih karna anaknya sudah dewasa. Fajira hanya bisa memberikan peringatan, pengajaran dan pembuktian kepada Fajri.


Apa aku juga harus bertindak kepada gadis itu? Hangan sampai dia menjadi rusak karna prilakunya. Huh aku yang sudah tumbuh menjadi anak baik saja, masih bisa dirusak oleh ayahnya Fajri. Apalagi dia anak yang nakal seperti itu!. Bathin Fajira meringis.


Ia segera keluar dari kamar Fajri dan menuju dapur untuk memasak sarapan pagi ini. Sedikit terlambat, namun tidak masalah. ia membuat sarapan dan bekal yang simpel untuk anak-anaknya nanti.


🌺🌺


"Aksa, Jangan biarkan siapapun masuk ke ruanganku, terserah atas nama janji apapun itu!" ucap Fajri sambil berjalan.


"baik, Tuan! bagaimana kalau yang datang itu Nyonya Fajira, Tuan?" ucap Aksa usil.


"Kecuali keluargaku. Biarkan mereka keluar masuk!" delik Fajri.


"selamat pagi, semuanya!" ucap Fajri memasuki ruangan meeting.


Rapat pemegang saham di mulai. Rapat tahunan yang memang dilakukan setiap dua kali satu tahun, membahas bagaimana progres dan prospek perusahaan kedepannya. Fajri memang belum pernah mengecewakan pihak mana pun dalam masalah kerja sama sehingga membuat mereka senang dan mendapatkan untung yang besar.


Hingga siang menjelang rapat terus berjalan dengan berbagai rencana perusahaan kedepannya bagaimana.


🌺🌺


Seorang wanita cantik berlenggak-lenggok memasuki loby perusahaan Fajri. Dengan angkuh ia berjalan menuju meja resepsionis untuk bertanya dimana letak ruangan Fajri


"Permisi, ruangan Tuan Fajri ada di lantai berapa?" ucap Zwetta dalam bahasa Inggris.


"Maaf, apa anda sudah berbuat janji? Jika belum silahkan hubungi sekretaris Tuan Fajri untuk mendapatkan jadwal!" ucap resepsionis.


"Apa saya harus membuat janji dulu kepada pacar saya?" ucap Zwetta marah.

__ADS_1


"Maaf, Nona. ini sudah menjadi peraturan perusahaan. Kecuali anda memang istri atau calon istri dari Tuan Fajri! Jika anda ingin bertemu dengannya, silahkan tunggu diruang tunggu. Nanti saya sampaikan kepada sekretarisnya jika anda sedang menunggu kedatangan, Tuan Fajri!" ucap resepsionis itu.


"Kau! awas saja, jika Fajri sudah ada di sini! saya pastikan jika kau akan saya tendang dari perusahaan ini!" ancam Zwetta.


"Silahkan saja!" ucap resepsionis menantang.


Dengan kesal, Zwetta segera duduk di kursi tamu yang berada tak jauh dari sana. Sambil menunggu kedatangan Fajri, ia melihat kembali ponselnya. Fajri tidak bisa di hubungi dari kemarin malam. Hal ini sedikit membuatnya risau, karna tidak memiliki satu pun teman disini.


"permisi, kak!" sapa seorang gadis yang terdengar lembut.


"iya, kak. Ada yang bisa saya bantu?"


"saya ingin bertemu dengan, kak Fajri! Eh maaf, maksud saya Tuan Fajri. Saya ingin bertemu dengan Tuan Fajri. Apa bisa, kak?" ucapnya.


"maaf, apa sudah membuat janji?"


"maaf, saya belum membuat janji. Tapi bisa tolong katakan jika saya ada di bawah, soalnya ini menyangkut hidup dan mati banyak orang, kak!" ucap Safira berusaha untuk meyakinkan resepsionis itu.


"Dari siapa kak?" tanya resepsionis sambil memegang ganggang telepon.


"Safira, Safira Putri!" ucap Safira.


Deg!,....


"maaf, maafkan saya karna tidak mengenali anda, Nona. Mari saya antar langsung ke ruangan, Tuan Fajri! beliau masih rapat di lantai 6, Mari Nona!" ucap resepsionis itu merasa takut ketika mengenali Safira.


"Sedang rapat ya?" tanya Safira merasa harapannya pupus.


Mereka berjalan menuju Lift agar bisa sampai ke ruangan Fajri. Sementara Zwetta yang melihat itu menjadi meradang.


"tunggu! kenapa dia bisa masuk? sementara aku harus menunggu di sini!" ucap Zwetta kaku dalam bahasa Indonesia.


"Maaf, Nona ini adalah calon istrinya Tuan Fajri. Jadi saya rasa kehaluan anda sudah terlalu berlebihan!" ucap resepsionis itu tegas.


Ia sudah sering mendapatkan ultimatum dari Ivanna, agar tidak memasukkan siapa saja yang mengaku sebagai pacar atau calon istri dari abangnya. Namun pemberitaan kemarin membuktikan jika Safira adalah calon istri sah dari pangeran tampan ini.


"Tu-tunggu!" ucap Zwetta mengejar mereka yang sudah masuk ke dalam lift yang sudah tertutup dan di jaga oleh dua orang security


"sialan!" umpatnya kasar


Baru kali ini, aku di perlakukan seperti sampah! lihat saja apa yang bisa ku lakukan kepada mereka!. Bathin Zwetta kesal.


Ia memilih untuk segera pergi dari sana, dan kembali menuju apartemen mewah Fajri.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2