
Hoeekk... hoeekk...
Suara itu menggema di dalam kamar mandi mewah itu, Irfan tidak hentinya mengeluarkan cairan bening itu sambil menangis mengingat bagaimana Fajira ketika mengandung Fajri dulu.
"Mas" panggil Fajira lirih dengan mata yang mengantuk.
"hiks... maafin aku" ucap Irfan yang semakin merasa bersalah.
"udah ya, Semuanya sudah berlalu. Aku gak separah ini waktu hamil Fajri, Mas,"
"Aku lapar sayang" lirih Irfan dalam pelukan Fajira.
"Mas mau makan apa? Biar aku yang buatkan" ucap Fajira senang, karna dari kemarin Irfan memang susah untuk menerima makanan karna selalu merasa mual.
"gak tau, semua yang aku makan keluar lagi sayang" rengek Irfan.
"Kita ke kamar dulu ya"
"hmm"
Fajira membantu Irfan kembali ke kamar, terlihat Fajri sudah duduk di atas tempat tidurnya dengan wajah yang menahan tangis.
"bunda" lirih Fajri.
"Iya sayang. Kenapa udah bangun nak? ini masih dini hari, tuh baru jam 03.00"
"Aji mau di peluk. Ayah kenapa?" ucap Fajri turun dari tempat tidur dan merangkak menuju ranjang orang tuanya.
"Ayah mual sayang" jawab Fajira.
"Apa ayah salah makan?"
"Ayah bukan salah makan sayang" ucap Fajira menahan senyumnya ke arah Fajri.
"terus apa Bunda?"
"Ayah itu lagi Ngidam, Nak"
"Ngidam? Ngidam itu apa Bunda?"
"Aji tau cauvade Syndrome?"
"apa ayah merasakan gejala-gejala orang hamil? begitu Bunda?" ucap Fajri dengan mata yang membesar.
"iya sayang, hehe" gelak Fajira.
"Aji tau dari mana nak?" tanya Irfan lirih.
"Kan Aji ikut bunda belajar ke kampus Ayah"
"iya, Ayah lupa kalau Aji sangat pintar. Sini peluk ayah nak" Irfan membentangkan tangannya dan memeluk Fajri dengan lembut.
"Kenapa wangi Aji sama seperti Bunda?" ucap irfan ketika mengendus aroma tubuh Fajri.
"Aji pake hand body yang sama dengan Bunda, Ayah"
"sayang, Besok aku juga mau pake itu ya" ucap Irfan kepada Fajira.
__ADS_1
"iya, Tapi sepertinya hand body ku sudah habis, Mas"
"Nanti aku pesankan yang banyak, sekalian sama pabriknya" ucap Irfan memejamkan mata.
"ih dasar! terserah kamu mah" delik Fajira.
Ia menunggu dua pria tampan itu terlelap dengan saling memeluk satu sama lain. Sebenarnya Fajira tengah menahan hasrat yang sedari dari memberontak ingin di lampiaskan ketika membantu Irfan mengganti bajunya sehabis mual tadi.
Fajira teringat dengan kehamilan pertamanya, ia juga merasakan hal yang sama seperti saat ini, hanya saja sekarang ia tidak mengalami mual, namun hasrat yang begitu besar membuatnya lebih mudah lelah karna menahan rasa yang sulit untuk di jelaskan itu.
Fajira menunggu putra kecilnya terlelap terlebih dahulu, agar ia bisa mengganggu Irfan dan mendapatkan pelepasan.
Selang berapa lama, Ia melihat Fajri yang sudah terlelap, karna sudah melepaskan pelukannya dari Irfan. Fajira duduk di belakang laki-laki itu dan membelai dada suaminya.
"Mas!" bisik Fajira sambil mengecup kuping Irfan basah.
"Mas, Bangun aku pengen" bisik Fajira berhasil membuat Irfan terbangun dari tidurnya.
"apa sayang?" tanya irfan dengan suara seraknya.
"main yuk" ucap Fajira dengan cemberut.
"kan kata dokter gak boleh sayang"
"Sebentar saja, ya"
Irfan tersenyum, ia sangat senang mendengar berita kehamilan Fajira, di tambah lagi dengan hukuman yang sudah di cabut oleh istri cantiknya ini. Apalagi sekarang Fajira tidak malu untuk meminta terlebih dulu. Namun Irfan tidak mau egois, mengingat kondisi Fajira saat ini.
"ya sudah, kita main di sofa yuk"
"di ruang ganti saja, Mas. Biar gak mengganggu tidur Fajri"
Irfan seolah mendapatkan kekuatan, ia menggendong Fajira di depan dan membawanya menuju kamar ganti untuk melakukan aktivitas panas mereka.
"pelan-pelan sayang!" ucap Fajira sebelum memulai.
Benar saja Irfan bermain lembut dan cantik, berusaha agar anaknya tidak kenapa-napa di dalam sana. Ia tidak ingin egois dan lebih mementingkan kondisi Fajira. Tepat setelah Fajira sudah merasa puas, Irfan segera mengakhiri permainannya dan menuju ke kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang tertahan dalam tubuhnya.
"Mas, Apa gak aku bantu saja?" lirih Fajira terengah-engah.
"gak papa sayang, kamu istirahat ya!"
Fajira menatap kepergian Irfan dengan sedih, pasti suaminya merasa kesusahan untuk menahan hasratnya mengingat usia kandungan yang sangat rentan jika tidak berhati-hati.
Fajira mengambil pakaian baru untuknya dan untuk Irfan, rasanya ia ingin mandi namun ada yang mengatakan kalau ibu hamil gak boleh mandi malam-malam. Makanya Fajira hanya membasuh bagian inti dan segera memakai bajunya kembali.
Selang berapa lama, Irfan keluar dengan hanya memakai singlet dan boxer yang mencetak, itu terlihat sangat seksi dan macho di mata Fajira.
"kenapa gak pakai baju yang aku ambilkan tadi, Mas?"
"Gerah sayang, aku mau pake yang seperti ini, gak papa kan?"
"gak papa, Mas. Hanya saja tidak baik untuk hasratku" lirihnya tertahan.
"ah iya Aku lupa" Irfan melangkah masuk ke dalam kamar ganti.
"biarkan saja sayang, sini aku mau di peluk" ucap Fajira manja.
__ADS_1
"Sayang jangan bikin Aku gemas sama kamu"
"hehe, aku kan memang mengemaskan, Mas" ucapi fajira terkekeh.
Irfan menggeser Fajri mendekat ke sandaran tempat tidur, sementara Fajira di tepi dan Irfan tidur di tengah. Mereka kembali terlelap dengan saling berpelukan dan melupakan bocah kecil yang sudah pulas sambil memeluk bantal guling itu.
Hingga pagi menjelang, Irfan kembali mual dan membuat Fajira harus memutar otak karna tidak ada yang dimakan oleh Irfan dari kemarin. Bahkan ia juga harus melewatkan. mata kuliahnya hari ini.
"Mas, Kamu mau aku buatkan apa?" ucap Fajira membelai lembut kepala Irfan.
"Apa aja sayang, aku lapar banget"
"Nasi goreng mau?"
"Iya"
"Aji juga nak?"
"iya bunda"
Fajira segera menuju ke bawah dan membuatkan Irfan nasi goreng, berharap suaminya bisa sarapan tanpa ada drama mual, ngidam apa selaga macam.
Sekitar 15 menit Fajira sudah selesai memasak dan segera mengantarkannya ke dalam kamar, karna Irfan kembali tidak memiliki tenaga.
Padahal semalam saja semangat banget untuk huhah huhah, nah sekarang malah lemas lagi. Aduuuh. Bathin Fajira merasa aneh dengan Irfan.
Namun bagaimana lagi namanya juga orang Ngidam. Begitulah akhir dari perang pemikiran Fajira. Ia membuka pintu dan mendapati Fajri tengah duduk di atas kasur sambil memijat kepala Irfan.
"Mas, Bangun dulu yuk. Ini sarapannya sudah siap," ucap Fajira meletakkan nampan di atas meja.
"hmm baunya enak banget sayang," ucap Irfan berusaha bangun sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Iya, Aku suapi ya, Aji juga Bunda suapi ya,"
"iya bunda" jawab Irfan dan Fajri kompak.
Fajira tersenyum sambil menyuapi Irfan, Fajri dan dirinya dengan sendok yang sama. Mereka makan dengan lahap walaupun Fajira harus memaksa irfan menghabiskan sarapannya, agar pria tampan itu memiliki sedikit tenaga hingga kondisinya sudah lebih baik ketika siang menjelang.
"Mas, Aku kangen sama Nenek" ucap Fajira riba-tiba.
"Iya Bunda Aji juga kangen sama nenek"
"Nanti kita ke sana ya, tunggu Ayah ada tenaga sedikit," ucap Irfan tersenyum.
"Aku juga sudah lama tidak mengunjungi makan orang tuaku, Mas,"
"iya sayang, Nanti kita juga akan pergi ke sana. Tapi apa boleh ibu hamil pergi ke pemakaman?"
"hmm? boleh sih mas, asal gak pergi kesorean aja"
"ya sudah, nanti kita cari waktunya ya"
"iya mas"
Entah mengapa Fajira sangat merindukan orang tuanya dan nenek. Ingin rasanya ia berlari menuju makan itu, namun mengingat lagi jika ia tidak bisa sembarangan bertindak seperti sebelumnya, karna ada status dan nama baik yang harus ia jaga.
πππ
__ADS_1
TO BE CONTINUE