Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
79. USG Pertama


__ADS_3

Malam ini Fajri sudah tampan dengan menggunakan pakaian santainya. begitu juga dengan Fajira dan Irfan. Sesuai dengan perkataan Fajira tadi sore, mereka akan pergi melihat dede bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Bunda apa adiknya laki-laki?" Tanya Fajri yang berada di pangkuan Irfan.


"hmm? Bunda gak tau sayang. Tapi bukankah adik laki-laki atau perempuan itu sama saja sayang?"


"beda Bunda. Aji mau punya adik laki-laki dan perempuan juga"


"kenapa sayang?"


"Kalau adik laki-laki, biar bisa membantu Aji untuk menjaga Bunda. Kalau adik perempuan, biar Bunda punya saingannya hehehe"


Fajira hanya tertawa mendengar celotehan Fajri. Ia mengusap kepala putranya dengan lembut.


"Bunda, Apa boleh Aji pegang perut Bunda?" Ucap Fajri memohon.


"boleh sayang"


Dengan senang Fajri mengelus perut rata itu sambil mempertanyakan banyak hal kepada Fajira.


"Bunda, Apa dedenya udh bisa mendengar Aji?"


"Belum sayang, Tunggu usia kandungan Bunda 3 atau 4 bulan dulu,"


"Bunda hamilnya 9 bulan kan?"


"iya sayang"


"Apa ini berat Bunda?"


"sekarang belum, nanti kalau udah besar baru berat"


"Dede jangan nakal di dalam ya, kasihan Bunda kita. Abang gak sabar menunggu Dede lahir" ucapnya tersenyum.


Irfan hanya menatap anak dan istrinya dengan tatapan bahagia. Tiba-tiba muncul satu ide di dalam fikirannya agar bisa memiliki waktu lebih banyak bersama dengan Fajira.


"Hekm... Aji"


"Iya Ayah"


"Bunda kan sudah hamil, bagaimana kalau Aji tidur di kamar sendiri? Nanti Ayah takut kalau perut Bunda ke tendang sayang"


"tidur sendiri? Aji takut Ayah" lirihnya cemberut.


"kok takut sayang?"


"Aji kan gak biasa tidur sendiri Ayah. Nanti kalau ada hantu bagaimana?"


"hei, hantu itu gak ada sayang"


"Ada Ayah, Aji pernah lihat"


"eh... dimana sayang?" sentak Fajira kaget.

__ADS_1


"Di sekolah, bunda"


"Aji beneran bisa melihat hantu nak?" ucap Irfan cepat.


"Aji gak bisa melihat makhluk haluskan?" tanya Fajira


"gak bisa Bunda, Tapi kak Hanna bisa. Waktu itu Aji gak sengaja melihat sih ada orang yang mengikuti kak hanna, tapi waktu Aji kejar, dia malah menghilang di balik pintu"


"huuh..." Fajira menghela nafas.


"Jadi, apa Aji mau tidur di kamar sendiri? nanti Bunda temani sampai Aku tidur sayang" Ucap Fajira mendukung rencana Irfan.


"Bunda, apa boleh Aji tidur di kamar sama Bunda. Aji gak papa kalau tidur di bawah atau di sofa" lirih Fajri.


Fajira menatap Irfan dan mengangguk untuk mengizinkan Fajri tetap tidur di kamar mereka. Sementara Irfan menggeleng sambil memelas menatap Fajira.


"ya sudah nanti Bunda minta tolong sama pak Sakti untuk menambah kasur single untuk Aji ya nak" Ucap Fajira dan sukses membuat Irfan melotot.


Namun ia hanya bisa pasrah dengan keputusan Fajira yang sampai kapanpun tidak akan bisa menolak keinginan Fajri.


"terima kasih bunda" Fajri memeluk Fajira dan mencibir ke arah Irfan.


Mobil melaju hingga berhenti di loby rumah sakit. Mereka segera turun dan berjalan menuju ruangan dokter obgyn. Sebelumnya Fajira sudah mengambil nomor antrean secara online, tepat ketika sampai, nama Fajira terpanggil, sehingga mereka masuk tanpa mengantre terlebih dahulu.


"Ibu Fajira?" tanya perawat terkejut melihat siapa yang ada di depannya.


"iya suster. Apa saya langsung masuk atau bagaimana?"


"i-iya silahkan masuk pak, bu"


Berbeda dengan Irfan yang memasang mode wajah datarnya.


"selamat datang, silahkan duduk dulu Ayah dan Bunda," sapa dokter perempuan itu ramah.


"terima kasih" ucap Fajira tak kalah ramah.


"ada yang bisa kami bantu?"


"hmm, tadi siang kami memanggil dokter umum keruma bu, jadi beliau menyarankan saya untuk cek kandungan, karna kemungkinan besar saya tengah hamil. Beruntung beliau juga membawa tespek, dan saya sudah mencobanya. Hasilnya positif bu"


"benarkah? Kalau gitu kita langsung periksa saja bagaimana?"


"boleh bu"


"Ayah tolong bantu Bunda untuk berbaring ya"


Irfan meletakkan Fajri di atas kursi dan segera menggendong Fajira, lalu membaringkannya di atas brankar rumah sakit.


"Mas" pekik Fajira tertahan karna terkejut dengan perlakuan Irfan.


Sementara Dokter itu hanya tersenyum manis melihat adegan yang selalu terjadi pada setiap pasangan muda yang ia tangani.


"kapan terakhir datang bulannya Bunda?"

__ADS_1


"Kira-kira bulan lalu dokter, dan bulan sekarang saya sudah telat hampir 1 minggu" terang Fajira.


"Saya coba lihat dulu ya"


Dokter itu mengoleskan gel khusus untuk melakukan Usg. Fajri dan Irfan menatap Fajira dengan cemas, tangan ke duanya saling bertaut menunggu hasil pemeriksaan dokter.


"silahkan lihat layar monitor ya" Dokter itu mulai menggerakkan alat USg di atas perut Fajira. Sambil tersenyum dokter itu menjelaskan apa yang tengah di alami oleh Fajira.


"Coba lihat ya, Waaah!! Selamat ya bu, ibu memang sudah hamil. Disini ada titik kecil, nah itu dia calon dedeknya abang. Kandungnya baru berusia 4 minggu ya, masih sangat muda. Janinnya sehat" ucap dokter dannmembuat Fajri merona.


"apa bayinya kembar dokter?"tanya Irfan.


"tidak Pak, Ini cuma satu"


"apa kelaminnya sudah bisa dilihat?" tanya Irfan sambil membantu Fajira turun dari ranjang.


"belum Pak, Untuk jenis kelamin biasanya terlihat ketika kandungan menginjak usia 4 bulan ke atas"


"lama lagi ya dok"


"iya. Ini vitamin untuk ibu, tolong di minum teratur ya"


"iya dokter terima kasih" ucap Fajira tersenyum. Begitu juga dengan Fajri yang tersenyum senang. berbeda dengan Irfan, ia hanya tersenyum tipis dengan hati yang berbunga-bunga.


Aku sudah tidak sabar untuk pulang dan memelukmu sayang. bathin Irfan senang.


"dokter, Apa boleh kami berhubungan saat hamil?" cicit Fajira yang sudah merona.


"untuk saat ini saya tidak menyarankannya, karena kandungan pada trimester pertama itu sangat rentan. Jadi kalau tidak terlalu mendesak sebaiknya di hindari atau di bantu dengan yang lain saja"


deg...


Jatahku selama tiga bulan hilang!! tolong hiks. Bathin Irfan menjerit.


Setelah berkonsultasi tentang beberapa hal mengenai kehamilan, mereka segera pulang. Di dalam mobil Fajri tersenyum bahagia membayangkan apa yang akan ia lakukan bersama dengan adiknya nanti.


Abang hehe Aku akan jadi abang, Abang akan mengajarkan Dede bagaimana cara membuat pesawat dan helikopter, dan kita akan jadi partner terhebat di masa depan. Abang sudah tidak sabar menunggu Dede lahir. Bathin Fajri senang.


Ia tersenyum sambil bersandar pada lengan Fajira dan mengelus lembut perut bidadarinya yang masih rata itu. Irfan dan Fajira juga ikut tersenyum melihat antusias Fajri untuk menyambut kelahiran Dede barunya nanti.


"Bunda, Aji masih boleh tidur di kamar kita kan?"


"iya sayang"


Kebahagiaan selalu menyelimuti keluarga kecil itu. Irfan memenuhi srmua janji yang sudah ia ucapkan kepada Fajira ketika berusaha untuk meyakinkan perempuan cantik itu agar mau menerima pinangannya Memulai lembaran baru dengan hidup yang penuh kebahagiaan.


Tuhan jangan engkau renggut kebahagiaan yang aku miliki saat ini. Sehatkanlah aku agar bisa menemani mereka hingga tua nanti. Bersama bidadari cantik yang paling aku cintai.


Irfan menggenggam tangan Fajira lembut dan mengecupnya. Senyuman penuh kehangatan yang tidak akan pernah terlihat oleh siapapun terpancar begitu saja dari wajah tampan Irfan. Kali ini Fajira baru menyadari jika kedua prianya tersenyum hangat, maka akan terlihat mirip bahkan sangat mirip.


Coba kalau kamu untuk terus tersenyum seperti ini Mas, aku akan menatap kamu lebih dari aku menatap Fajri. Tapi maaf hatiku yang utuh hanya untuk anak-anak kita. Bathin Fajira yang merasakan bahagia yang teramat.


Mobil terus melaju membelah jalanan yang di hiasi cahaya temaram, membuat suasana di dalam mobil itu terasa romantis dan hangat, apalagi Fajri tak hentinya mengoceh apapun yang ingin ia katakan. Mereka memilih untuk langsung beristirahat setelah sampai di rumah mewah dan megah itu.

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


__ADS_2