
Suasana hati yang baik selalu terasa menyenangkan dan membahagiakan bagi siapapun yang merasakannya. Begitu juga dengan Fajri hari ini. Pria kecil itu merasa sangat bahagia karna ia sudah diperbolehkan untuk pergi ke sekolah oleh Ayah dan Bundanya.
Bahkan ia bangun lebih cepat dari Irfan dan Fajira. Senyum manis di pipi gembul itu tidak henti mengembang, bahkan Fajira pun juga ikut tersenyum melihat antusias putranya untuk kembali bersekolah setelah beberapa hari ia sakit.
"jangan senyum terus, sayang! nanti gigi kamu kering" ucap Fajira tergelak.
"hehe, akhirnya Aji kembali ke sekolah Bunda. Aji senang!" ucap pria kecil itu tersenyum sambil bertepuk tangan.
Ia sudah selesai berpakaian dan tinggal memasang kaos kaki dan sendalnya nanti. Kepala dan kaki pria kecil itu masih di balut oleh perban, karna luka jaghitannya belum mengering dengan sempurna. Sehingga Fajira hanya memotong rambut di sisi kanan Fajri agar terlihat lebih rapi.
"sayang, bantu aku" ucap Irfan yang baru saja keluar dari kamar ganti.
Fajira segera membantu Irfan untuk memakai dasinya. laki-laki itu semakin terlihat tampan di mata Fajira. Sehingga ketika selesai memakaikan dasi kepada Irfan, ia segera menariknya, sehingga membuat pria tampan itu harus menunduk sambil terkejut.
cup...
Sebuah kecupan melayang di bibir Irfan. Fajira tersenyum manis melihat wajah cengo suaminya yang terlihat mengemaskan.
"sudah, yuk kita turun" Ajak Fajira mengambil tas Fajri dan meninggalkan Irfan yang masih membeku.
Ia melangkah menuju pintu, namun suara Fajri kembali menghentikannya.
"Ayah! Bunda sudah pergi tuh! kenapa ayah masih berdiri di sana? nanti Abang telat lo!" sungut Fajri kesal menatap Irfan yang masih berdiri menatap Fajri.
"eh maaf, sayang. Yuk kita pergi lagi. Apa semuanya sudah siap?" tanya Irfan menggendong Fajri.
"Abang belum pake kaos kaki dan sendal, Ayah!" ucap Fajri cemberut.
"nanti kita pakai di bawah ya, nak!" ucap Fajira mengelus kepala Fajri lembut.
"hmm"
Irfan hanya bisa menggaruk tengkuknya ketika melihat Fajira yang tengah berusaha untuk menahan senyum. Ia segera menggandeng ibu hamil itu untuk turun dan menuju ruang makan.
"Apa Bunda membuat sarapan yang spesial untuk Abang?" tanya Fajri.
"ada, sayang! Bunda bikin sandwich Kesukaan Abang dong!" ucap Fajira tersenyum.
"Waaah, abang bungkus ya bunda?" tanya Fajri berbinar.
"Iya sayang. semuanya sudah Bunda siapkan,"
"untuk..." ucap Fajri terpotong.
"kak Hanna juga sudah Bunda siapkan, sayang" ucap Fajira menyambung ucapan putranya.
"hehe terima kasih bunda" ucap Fajri tergelak.
"sama-sama, sayang."
Mereka segera mengambil tempat masing-masing dan memakan sarapan seperti biasanya. Fajira Menyuapkan Fajri perlahan agar tidak mengotori baju sekolahnya.
Irfan masih menatap Fajira lekat, ah iya merasa kecolongan pagi ini, tidak bisa di biarkan! begitu batinnya.
"Apa sudah siap sarapannya, abang? Bunda?" tanya Irfan yang sudah menghabiskan sarapannya lalu menyesap segelas kopi panas yang sudah terhidang di atas meja.
"Sudah Ayah, Yuk kita berangkat. Tapi Abang berangkat sama Bunda, iya kan bidadari Abang yang cantik?" ucap Fajri memuji Fajira lalu mengejek Ayah tampannya.
__ADS_1
"iya, anak Bunda yang tampan"
Jangan sampai kalian berdebat lagi pagi ini!. bathin Fajira sambil memberikan kode kepada Irfan.
Pria itu tersenyum dan segera beranjak dari kursinya. Ia menggendong Fajri dan memberikan ciuman bertubi-tubi pada pria kecil itu.
"ihh, ayah! udah dong! geli huaa!. sakit juga! Bunda tolong Abang" rengek Fajri sambil menahan kepala Irfan.
"masih jahil juga sama Ayah lagi?" muach... muach... muach...
"gak ayah! ampun! ihh Abang gak jahil lagi!" rengek Fajri memohon.
Irfan tergelak. ia segera membawa Fajri menuju keluar agar bisa segera berangkat ke sekolah, tak lupa ia memakaikan kaos kaki dan sendal untuk pria kecil itu.
"Duduk bagus-bagu ya. nak! Jangan nakal!, kasihan Bunda lagi hamil besar," petuah Irfan ketika meletakkan Fajri pada jok belakang mobil.
"iya, Ayah. Ayah juga hati-hati ya"
"iya sayang" Irfan mengecup dan mengusap kelapa Fajri sebelum keluar dari mobil itu.
Ia menatap Fajira dengan tatapan laparnya. Sementara yang di tatap hanya menampilkan senyuman menggoda khas miliknya.
Tanpa babibu, Irfan segera menyerang Fajira dengan bibirnya. Ia menyesap manisnya bibir cerry Fajira yang selalu ia dambakan. Setelah cukup lama bermain di sana, Irfan melepaskan ciuman pagi yang panas itu dengan senyuman.
Ia mengusap bibir Fajira yang terlihat basah karna air liurnya. Mereka hanya bisa menahan senyum masing-masing dengan wajah yang merona senang.
"Sudah! berangkat lagi sayang!" ucap Irfan mengelus perut buncit Fajira.
"Iya, Mas. Aku berangkat dulu sama anak-anak. Kamu nanti hati-hati ya!"
"iya, sayang"
"iya, terima kasih cinta" Irfan menggabungkan ibu jari dan telunjuknya agar bisa terlihat seperti hati.
Fajira hanya bisa mengerlingkan matanya menatap Irfan dan segera masuk ke dalam mobil. Mereka meninggalkan rumah mewah itu menuju sekolah Fajri Begitu juga Irfan.
...πΊπΊ...
"wah Fajri udah sekolah" teriak Hanna antusias melihat fajri yang datang dengan pak sakti dan Fajira.
Pria kecil itu sudah terasa berat dan Irfan melarang Fajira untuk menggendongnya. Sehingga pak sakti yang mengambil alih tugas irfan untuk menggendong Fajri
"Hai kak Hanna" sapa Fajri senang setelah ia duduk di kursinya.
Hampir semua murid di dalam kelas menghampiri Fajri karna penasaran melihat ke adaan siswa paling kecil dan tampan di kelas mereka.
"Fajri apa kabar?"
"gimana keadaannya?"
"apa itu sakit?"
"apa Aji masih bisa jalan?"
Begitulah pertanyaan dari teman-teman Fajri yang ada di dalam kelas itu.
Pria kecil itu dengan senang hati menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan oleh teman-temanya. Hingga guru masuk dan segera memulai pembelajaran.
__ADS_1
"Sayang, Bunda tunggu di luar ya, nak!" ucap Fajira mengelus kepala Fajri.
"iya. Bunda. Tunggu di dalam mobil saja ya, biar gak panas" ucap Fajri sambil tersenyum.
"iya sayang. Mari bu" Fajira beranjak dari kelas dengan hati-hati setelah menyapa wali kelas Fajri.
Ia sedikit berjalan menuju tempat duduk yang ada di dekat kelas Fajri. Di sana juga ada beberapa wali murid yang belum pulang. Entah apa yang tengah mereka bicarakan, yang jelas Fajira tidak ingin ikut merumpi hal yang tidak jelas.
ddrrtt... ddrrtt...
Lagu here's your perfect mengalun indah di dalam tasnya. Ia segera mengambil ponsel itu dan mengangkat panggilan yang berasal dari suami tampannya.
π
"halo, sayang" ucap Fajira pelan sambil tersenyum.
"Halo, cinta. Apa sudah sampai di sekolah Fajri, sayang?"
"sudah, Mas. Kamu gimana?"
"sudah juga, Ah iya nanti pulang sekolah mampir ke perusahaan ya, sayang?"
"Iya, Mas. Nanti aku mampir ke sana"
"Ingat jangan jalan jauh-jauh. Kalau mau berjemur cari tempat yang rindang ya, biar gak dehidrasi!" ultimatum pertama
"iya, sayang"
"selalu beri aku kabar nanti. Ponselnya jangan sampai kali silence!" ultimatum ke dua
"iya, sayang"
"Jangan sampai kecapean. Jangan gendong Fajri. jangan... jangan... jangan..." masih banyak lagi larangan Irfan.
"iya, sayang. semalam kan kamu udah bilang, Aku ingat semua!" ucap Fajira jengah.
"Aku hanya mewanti-wanti sayang!" ucap Irfan terdengar serius.
"ihh, ya sudah! katanya ada meeting 'kan pagi ini"
"iya, sayang. Jangan lupa pesan aku tadi"
"iya!"
"ya sudah aku tutup dulu sayang, Love You"
"hmm"
"sayang Love You" ulang Irfan sambil mengernyit.
"To! dasar possesif!" ucap Fajira langsung mematikan panggilannya.
Ia tersenyum manis di balik masker yang tengah ia gunakan. Sambil menunggu Fajri, ia juga membawa peralatan revisinya. agar bisa di selesaikan tepat waktu tanpa di undur-undur lagi
πΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1