
Ivanna mendiamkan Fajri semenjak abangnya itu pulang ke rumah. Fajri berusaha untuk membujuk Ivanna sambil tergelak karna berhasil mengerjai adiknya itu.
"Ayo lah, dek! jangan marah lagi ya, kita damai!" ucap Fajri mencolek-colek pinggang Ivanna.
Gadis manis itu hanya menatap abangnya dingin. Wajah kesal Ivanna tidak bisa lagi untuk di sembunyikan.
"Hehe, maafin abang ya, sayang! janji deh gak gitu lagi!"
"udah lah, Dede malas sama, Abang!" ketus Ivanna, ia bangkit dari duduknya dan kembali ke kamar. Fajri hanya tersenyum masam, melihat adiknya yang kembali bersikap dingin.
"rasain kamu, bang! ngerjain adek sampai segitunya," ucap Fajira menahan tawa.
"hehe, habisnya Dede lucu kalau seperti itu, Buna!" ucap Fajri terkekeh.
"bujuk lah Dedemu yang dingin itu, bang. Bunda gak ikutan!" ucap Fajira terkekeh geli melihat tingkah anak-anaknya.
"ih, Bunda!" rengek Fajri mengekori Fajira dari belakang.
"udah sana, bujuk Dede dulu! peluk, cium atau nih bawain es krim," ucap Fajira menyerahkan dua buah es krim ke tangan Fajri.
"kue yang di bawa Dede tadi masih ada, Bunda?" tanya Fajri setelah mendapatkan es krim di tangannya.
"sudah Bunda bagi sama yang lain. Kenapa, sayang?" tanya Fajira menatap Fajri lembut.
"gak papa, Bunda. Kalau gitu abang naik dulu,"
"Iya, sayang. Hati-hagi! jangan lupa ajak Dede bereng, panggil juga ayah di ruang kerjanya!"
"iya, Bunda."
Fajri berlalu dari hadapan Ivanna setelah mengecup pipi Fajira. Ia menenteng dua bungkus es krim menuju ke kamar Ivanna. Sejenak ia berdiri di depan pintu yang bertuliskan 'Princes Ayah Ivanna Hanindya Dirgantara'. Ia mendengarkan sayup-sayup lagu dengan irama musik yang keras.
Apa Dede sedang mendengarkan lagu rock atau Dj?. bathin Fajri penasaran.
Ia membuka pintu kamar Ivanna secara perlahan, Ia mengintip dengan rasa penasaran yang membuncah. betapa terkejutnya Fajri ketika melihat Ivanna tengah melakukan atraksi memutar kepala diiringi dengan musik dangdut koplo.
Fajri segera menutup kembali pintu kamar itu sebelum Ivanna menyadari keberadaan dirinya. Ia sedikit menjauh dan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah adiknya.
"apa itu yang dinamakan cewek dingin? astaga, Dede. Bukankah itu sangat lucu, punya adek satu tapi tingkahnya segudang! hahaha" ucap Fajri di sela tawanya.
Fajira mengernyit melihat Fajri yang tengah tertawa sampai terbahak-bahak. Ia sengaja mengikuti pria kecil itu untuk melihat bagaimana cara Fajri merayu adiknya. Karna penasaran ia segera melangkah menuju pintu kamar Ivanna dan ikut mengintip.
Pantas saja, Fajri bisa tertawa sampai seperti itu. Astaga! Mas, kamu akan tepuk jidat melihat kelakuan Putrimu yang anggun dan dingin ini! huaa,.... bathin Fajira meringis sambil menahan tawanya.
"dek?" panggil Fajira.
deg!
Ivanna yang tengah membungkuk hendak memutar kembali kepalanya menjadi terkejut dan membeku ketika melihat kaki ibundanya.
Aduh, apa Buna melihat tingkahku barusan? ihh sangat memalukan kamu Ivanna!. bathin gadis kecil itu menjerit
__ADS_1
Ia segera membetulkan polisinya agar bisa berdiri dengan tegap. Ia tersenyum kecut ke arah Fajira, dan kemudian merengek ketika melihat ibundanya tengah menahan senyum.
"Buna!" rengek Ivanna berjalan ke arah Fajira dan memeluknya.
"hahaha, kamu ngapain, sayang?" tanya Fajira yang sudah tidak bisa menahan tawanya.
"huaa, Buna jangan ketawa! Dede malu!" rengek Ivanna menyembunyikan wajah meronanya.
"Dede ngapain, sayang?"
"Dede lagi bosan, Buna!"
"kenapa gak main sama, abang?"
"'kan Dede lagi kesal sama abang, Buna!" ucap Ivanna cemberut.
"dek berenang, yuk!" ucap Fajri yang baru saja masuk sambil membawa es krim di tangannya.
"gak mau! Dede masih marah sama abang!" ucap Ivanna kesal.
"yakin mau marah sama, abang? es krim coklatnya tinggal satu lagi, berarti untuk abang aja!" ucap Fajri mulai membuka bungkus es krim itu.
Glek!
Ivanna menelan salivanya, jika tidak ia ambil pasti tidak ada lagi Stok es krim kesukaannya. Tapi ia masih merada kesal dengan sang abang yang tega mengerjainya tadi. Ia masih terdiam menatap Fajri yang terlihat tengah menahan tawanya.
"Ngapain abang senyum-senyum seperti itu?" tanya Ivanna mengernyit.
"gak papa, sayang. Abang minta maaf ya, kita damai lagi. Ini es nya boleh untuk Dede!" ucap Fajri membujuk adiknya.
"gak, abang gak ngerjain Dede lagi!" ucap Fajri tersenyum.
"ya udah, kita damai!" ucap Ivanna menampung tangannya.
"nah, gitu dong!" ucap Fajri membalas uluran tangan Ivanna.
"ih, bukan salaman, bang. es kirimnya sini!" ucap Ivanna mengelak.
Tanpa menunggu lama Fajri segera memeluk Ivanna dan mengecupnya sana sini sambil tertawa. Gadis itu mengernyit bingung melihat ekspresi Fajri.
"Abang kenapa?" delik gadis manis itu sambil membuka bungkus es krimnya.
"gak papa, sayang!"
Fajri berjalan menuju speaker kecil yang ada di atas meja nakas. Ia menghidupkannya. Terdengarlah suara musik bergenre dangdut koplo, Fajri yang jahil manirukan gaya Ivanna yang sempat ia lihat tadi.
"ayo dek goyang sama abang sini!" ajak Fajri sambil memutar kepalanya.
Ivanna melotot melihat abangnya yang bergoyang. Ia menebak jika Fajri juga melihat aksi panggungnya yang sangat heboh. Es krim yang sudah cair semakin melelh di tangan Ivanna, namun gadis kecil itu masih menatap Fajri yang trngaj berjoget sambil bernyanyi di hadapannya.
"dek, es kirimnya udah menetes, sayang!" ucap Fajira membersihkan tangan Ivanna menggunakan tisue.
__ADS_1
"a-apa abang lihat Dede juga, buna?" hilang sudah urat maunya.
"hehe. Iya, sayang!" ucap Fajira terkekeh.
"hiks,... huaa,..." pecah sudah tangis Ivanna.
Ia kepalang malu karna tingkah bobroknya diketahui oleh orang lain. Ia menangis tersedu di dalam pelukan Fajira. Fajri yang melihat adiknya tengah menangis segera mematikan musik itu.
"Dede kenapa nangis?" tanya Fajri bingung.
"hiks,... Dede malu!" rengek Ivanna.
"hehehe,... sudah jangan nangis lagi. Yuk, kita berenang!" ajak Fajri sambil menggendong adiknya.
Ivanna menurut, ia memeluk Fajri sambil memegang es krimnya dan keluar darinkamar itu menuju kolam berenang, tak lupa mereka memanggil Irfan terlebih dahulu.
Sementara Fajira, masih terkekeh di dalam kamar anaknya. Ia sangat tidak menyangka, di balik sifat dingin Ivanna ternyata juga tersimpan kebobrokan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Ia hanya bisa menggeleng karna mendapatkan anak yang sangat genius, unik dan ajaib.
...πΊπΊ...
"ayah! ayah! ayah!" teriak Ivanna.
"Bunda! Bunda! Bunda!" teriak Fajri.
Irfan dan Ivanna tengah bersiap untuk melakukan lomba renang. Siapa yang kalah dan terlambat untuk sampai ke sisi lain kolam, akan membayar makan malam mereka di restoran yang paling mahal di kota itu.
"Ayah, gak akan menang dari Bunda!" ucap Fajira tersenyum smirk.
Fajira dan Ivanna terlihat sangat cantik dengan bikini hitam yang membalut sebagian kecil tubuh mereka dan itu terlihat kontras dengan kulit putih bersih miliknya dua bidadari cantik itu. Sementara Irfan dan Fajri hanya memakai celana renang yang ketat. Kolam berenang itu memiliki privat room, sehingga tidak ada orang yang bisa melihat mereka satu orangpun.
"tiga, dua, satu, go!" teriak Ivanna dan Fajri bersamaan.
Byur!
Byur!
Fajira berenang dengan gesit, karna ia sejak kecil memang sudah mahir dalam berenang. Sementara Irfan, ia unggul karna badannya yang tinggi. Mereka berpacu hingga ke garis finish.
Irfan bermain curang karna ia menggelitik Fajira di pertengahan kolam. Sehingga pria tampan itu keluar sebagai pemenang.
"yah, ayah curang!" teriak mereka bersamaan.
Fajri dan Ivanna meloncat dan masuk ke dalam kolam dan menyiram Irfan dengan air. Sore itu terlihat sangat membahagiakan dengan kehangatan dan cinta yang mengalir di setiap tawa mereka.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Tinggalkan like dan komentar sebagai uang parkirnya gais.
Jangan lupa bunga atau kopinya agar author bisa up lebih banyak lagi.ππ
__ADS_1
Vote? boleh dong di sedekahkan kesini dari pada nangkring dan terbuang sia-sia. wkwkwk
terima kasih π€.