Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
91. Siap Dia?


__ADS_3

Selepas bermain hingga siang menjelang, Fajri sudah terlelap setelah makan siang karna kelelahan dan kekenyangan. Ia berbaring di atas ranjangnya yang ada di dalam kamar mereka. Fajira masih mengukir senyum bahagianya karna untuk pertama kali ia melihat Fajri sebahagia itu ketika memainkan permainan yang sesuai dengan usianya. Ia masih mengelus lembut kepala Fajri agar pria kecil nan tampan itu semakin terlelap.


Irfan selalu mengawasi gerak-gerik anak dan istrinya sedari tadi. Ia merasa sangat beruntung karna menyadari perasaannya dengan cepat sebelum bertemu dengan mereka.


Mungkin jika aku masih mempertahankan ego ku, kebahagiaan ini belum tentu akanku rasakan. Terima kasih sayang istriku, karna kamu sudah mau menurunkan sedikit ego untuk menerima kehadiranku kembali. Biar aku yang mencintaimu dan anak-anak kita, kamu cukup diam dan menerima lalu menikmati cinta yang begitu besar dariku.


Irfan mendekati Fajira dan memeluknya dari belakang.


"sayang" panggil Irfan lirih sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fajira.


"iya, Mas. Terima kasih sudah mengajarkan Fajri tentang masa pertumbuhannya" Fajira mengelus rahang tegas Irfan sambil tersenyum.


"itu sudah kewajiban aku, sayang. Aku hanya ingin kamu dan Fajri mendapatkan yang terbaik semampu yang aku bisa. Terima kasih karna kamu sudah mau menurunkan sedikit Ego Mu untuk menerima aku kembali" Ucapn irfan lirih sambil mengecup bahu Fajira.


"sama-sama, Mas. Aku hanya ingin Fajri mendapatkan keluarga yang utuh" ucap Fajira masih tersenyum namun membuat Irfan terdiam.


"apa kamu belum mencintaiku?" tanya Irfan dengan lirih dan membuat Fajira juga ikut terdiam.


"Sayang?" ulangnya ketika tidak mendapatkan jawaban dari istrinya.


"Kalau aku belum mencintaimu, aku gak akan mau mengandung anak kamu lagi, Mas," ucap Fajira merona.


"be-berarti kamu sudah... " tanga Irfan terputus dengan mata yang membola.


"iya, aku sudah mencintaimu. Tolong jaga kepercayaanku, Mas. Karna aku gak akan memberikan kesempatan kedua kalinya. Terlebih jika Fajri tau. Akan gak akan pernah bisa menolak keinginan putra kecil kebanggaanku ini. Jika ia merasa kamu telah menyakitiku,"


"Terima kasih, Sayang. Aku akan jaga kepercayaan kamu dengan baik. tapi tolong kedepannya tatap Aku, hanya aku. Dan percayalah kepadaku, jangan pernah mendengarkan apapun perkataan orang lain tentangku, Sayang,"


"iya Mas."


Irfan menggendong Fajira menuju ranjang mereka agar bisa lebih leluasa bergerak tanpa mengganggu tidur lelap pangeran genius itu. Fajira bersandar pada Irfan sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat sedikit menonjol.


"Anak kita nanti cewek apa perempuan, sayang?" tanya Irfan terkekeh.


"ih kamu, cewek apa cowok, Mas! kalau Aku mau cewek mau laki-laki sama saja. Yang penting sehat dan tidak kurang satupun," ucap Fajira tersenyum.


"iya sayang, Tapi aku berharap anak kita kali ini masih laki-laki"


"kenapa?"


"biar aku gak kelamaan pensiun nanti hehe" Irfan berucap sambil terkekeh mengingat dirinya ingin pensiun dini dan menghabiskan waktu bersama dengan Fajira.


"emang kalau sudah pensiun kamu mau ngapain mas?" tanya Fajira mengernyit.

__ADS_1


"hmm? ya apa lagi gitu? kalau bukan menghabiskan waktu bersama istriku tercinta ini" Irfan dnlebgan nakal mulai mengerayangi tubuh Fajira.


"Mas!" Fajira berusaha menghentikan tangan mesum Irfan yang mulai menyentuh area sensitifnya.


"Aku pengen sayang. Kita ku ruang ganti yuk, kalau disini nanti akan mengganggu waktu tidur pangeran tampan kita," Irfan langsung menggendong Fajira menuju ruang hantui yang sudah ia renovasi sebagai tempat huhah huhah mereka jika ada Fajri di dalam kamar.


"Maas!" Rengek Fajira, ia bukan menolak ajakan Irfan, hanya saja ada ketakutan tersendiri jika mereka terlalu sering berhubungan badan.


Namun sekali Irfan, tetaplah Irfan. Lelaki yang memiliki hobi untuk memaksa agar ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan, termasuk ayah harian yang enak kenapa sangat ia butuhkan seruan hari nya.


Siang itu menjadi sangat panas bagi keduanya, walaupun suhu AC sudah di turunkan hingga batas paling rendah, namun keringat peluh masih saja bercucuran di tubuh mereka.


"Masshh... sshhh.... udah, Akuhh mmm sudah gak kuaattt hhuuh... maasss" erang Fajira ketika ia kembali merasakan pelepasan untuk yang ke sekian kalinya.


"sedikit lagi sayanghhh... huuhh...," irfan masing bergerak di atas Fajira dengan pelan dan hati-hati. Tubuhnya mengerang ketika puncak kenikmatan itu mendera, ia segera mencabut perkututnya dari sarang kenikmatan dan menumpahkan cairan kental itu di atas perut Fajira.


"Fajiraaa!" lenguhnya.


"kamu gak pake pengaman, Mas?" keluh Fajira ketika merasakan cairan itu meleleh dari perut menuju punggungnya.


"terima kasih sayang" Ucap Irfan tersenyum dengan nafas yang menderu sambil mencium istri cantiknya itu.


"Sama-sama, Mas. Aku mau langsung mandi ya" Ucap Fajira tersenyum menatap Irfan.


"iya, yuk kita langsung mandi"


"kenapa?" tanya Fajira mengernyit melihat tingkah Irfan.


"gak papa, sayang. Aku hanya ingin memeluk kalian. Aji tidurnya sudah gak lasak lagi. Semoga aja Fajri gak aneh-aneh gaya tidurnya ya" ucap Irfan terkekeh.


"hehe, Like father LIKE son, Mas" Fajira terkekeh sambil memeluk Fajri dan memperbaiki posisi tidurnya.


Mereka tidur sambil memeluk satu sama lain. Hari bahagia yang tidak pernah mereka bayangkan dari dulu bahkan sedikitpun. Ada hal yang menarik terjadi hari ini, Irfan bermain dengan Fajri tanpa halangan satupun termasuk rasa mual dan Ngidam seperti biasanya.


Cukup lama mereka terlelap hingga ketukan pintu memaksa Fajira untuk bangun dari tidur lelapnya.


Tok... tok... tok...


"nyonya?" panggil bibi dari luar


"iya bi, sebentar"


Fajira perlahan melepaskan lingkaran tangan Irfan dan Fajri dari tubuhnya. Ia berjalan perlahan menuju pintu kamar lalu membukanya.

__ADS_1


"Ada apa bi?"


"maaf mengganggu waktu tidur nyonya. Di bawah ada tamu Nya. Dia bilang rekan bisnis dari tuan irfan"


"rekan bisnis? tidak biasanya. Apa Mas irfan mengundangnya? Laki-laki apa perempuan, Bi?"


"perempuan Nya" ucap bibi hati-hati.


Apa dia perempuan yang di ceritakan oleh Mas Irfan kemarin? Semoga saja dia tidak mencari masalah denganku. Apapun yang terjadi, keutuhan rumah tanggaku adalah hal yang paling utama. Aku gak akan membiarkan siapapun merusaknya. Bathin Fajira geram sembari bertekad untuk keutuhan rumah tangganya.


"sekarang dia dimana bi?"


"di ruang tamu Nya"


"Tolong awasi dia bi. Aku mau bangunin mas Irfan dulu"


"Baik, Nya" Bibi berlalu dari sana.


Fajira menutup pintu kamar dan segera menghampiri Irfan yang masih memeluk Fajri.


"Mas, Sayang bangun. Ada tamu di bawah" Fajira mengelus pelan dada Irfan berharap agar suaminya segera bangun.


"enghh.. sebentar lagi, Sayang"


"Mas, Ada rekan bisnis kamu di bawah, Perempuan. Apa kamu mengundangnya untuk datang ke sini?"


"hmm? Perempuan? Aku gak ada ngundang siapa-siapa sayang. Apa kamu sudah melihatnya?"


"belum. Ini aku juga baru bangun" Fajira hanya menggunakan jubah tipis yang menutupi pakaian yang ia kenakan.


Ia hanya memakai baju tidur tipis berwarna hitam, tanpa lengan dan celana pendek di atas lutut. Ia sangat terlihat seksi dengan kulit putih bersih yang membuat kesan Hot di mata Irfan.


"Mas, Kamu bangun ya, Aku mau ke bawah dulu" Ucap Fajira hilang di balik pintu.


Irfan segera bangun dan berjalan menuju kamarandi untuk menyegarkan wajahnya.


"siapa dia? perempuan? aku gak pernah mengundang siapapun untuk datang kesini. Apa jangan-jangan..." Irfan terkejut dan bergegas untuk segera menuju ke bawah.


Sementara Fajira mulai menuruni anak tangga satu-persatu dengan anggun. Ia menelisik perempuan yang juga menggunakan baju seksi itu dari jauh.


"hekmm... selamat sore, anda mencari siapa?" ucap Fajira dan sukses membuat perempuan itu kaget dan bangun dari duduknya.


"..."

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


__ADS_2