
Di kediaman Dirgantara, Fajira tengah memasak makan siang untuk Irfan. Ia berencana akan makan siang di kantor bersama dengan suaminya.
Terdengar nyanyian yang merdu dari mulut ibu hamil itu, diiringi dengan senyum manisnya yang khas. Ia terlihat memesona dan memancarkan aura kecantikan yang sangat luar biasa.
Sreet...
"aaaww... aduh sakit banget" rintihnya.
Jari Fajira tanpa sengaja teriris oleh pisau yang tengah ia gunakan untuk mengiris bawang. Dengan jantung yang berdetak kencang, Fajira mencuci tangannya dan segera mengambil kota p3k lalu mencari plester untuk membalut luka itu.
Ia terdiam, fikirannya berkelana dan tertuju kepada dua pria tampan yang sedang berada jauh darinya.
"semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Mas Irfan dan Fajri!" ucap Fajira berusaha untuk menetralkan detak jantungnya.
Ia kembali berkutat dengan bahan-bahan dapur itu dan menyelesaikan masakannya dengan perlahan.
Hampir 20 menit ia menyelesaikan acara masak-memasak itu, Fajira segera bersiap untuk pergi ke kantor Irfan agar bisa makan siang bersama dengan sang suami.
Setelah selesai, ibu hamil itu segera melangkah menuju mobil yang sudah terparkir sambil menenteng tas yang berisi rantang makanan.
"kita ke kantor Mas Irfan, Pak!"
"baik 'Nya"
Mobil perlahan keluar dari gerbang menuju kantor mewah nan megah itu. Senyum Fajira mengembang karna ia sudah begitu rindu dengan suami tampannya itu.
Kenapa aku dengan mudah jatuh ke dalam pesona kamu, Mas? padahal dengan masa lalu kita yang begitu menyakitkan sekaligus membahagiakan itu, ingin rasanya aku menenggelamkan kamu ke dasar bumi. Tapi sepertinya tuhan berkata lain. Dengan waktu yang cepat, kita bisa saling mencintai satu sama lain. Bathin Fajira masih tersenyum sambil mengusap perut buncitnya.
Lima belas menit berlalu, mobil mewah itu perlahan berhenti di loby perusahaan besar nan megah milik Irfan. Satpam membukakan pintu untuk Fajira dan membungkuk hormat kepada wanita canti milik Presdir itu.
"selamat datang, nyonya" Sapa satpam ramah.
"Terima kasih, Pak" Ucap Fajira tersenyum manis.
Ia melangkah dengan hati-hati menuju ruangan Irfan. Dengan wajah yang berseri, Fajira tersenyum kepada para karyawan yang menyapanya.
Entah kenapa hari ini ia begitu semangat untuk bertemu dengan suaminya.
Sayang, I'm coming. Bathin Fajira sangat tidak sabar.
Para karyawan melihat Fajira dengan bergidik ngilu, karna ibu hamil itu terlalu bersemangat dan bahkan ia berjalan cukup cepat karna ingin segera bertemu dengan pangeran masa depannya itu.
Ting....
Pintu lift terbuka, menampilkan Fajira dengan senyum yang semakin mengembang. Ia melihat sekretaris Fitry tengah berkutat dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.
"Siang Mba Fitry, Apa Suamiku ada?" Ucap Fajira tersenyum sambil mengeluarkan satu kotak makanan untuk sekretaris cantik itu.
"eh Nyonya. Tuan dan sekretaris Ray, tadi pergi dengan terburu-buru. Saya tidak tau kemana mereka pergi, Nyonya. Maaf dan terima kasih" Ucap Fitri sopan.
Kemana kamu, Mas?. Bathin Fajira
Fajira terdiam, ia merasa kecewa dengan kenyataan yang tak sesuai dengan harapannya.
"Saya masuk dulu ya, Mba" Ucap Fajira kembali melangkah dengan perasaan kecewanya.
__ADS_1
"eh iya, Nyonya. Terima kasih untuk bekalnya!"
"iya, sama-sama"
Fajira masuk ke dalam ruangan yang kosong itu dengan semburat kecewa. Ia duduk di sofa besar yang ada disana.
huft...
"kemana kamu Mas?" Fajira mengambil ponselnya dan menghubungi Irfan.
tuut... tuut...
Panggilan terhubung kepada Irfan, namun satu panggilan terlewati begitu saja tanpa ada respons sedikitpun.
"Apa kamu ada rapat penting? Tumben kamu gak ngasih aku kabar Mas!" perlahan emosi Ibu hamil itu mulai tidak karuan.
Fajira kembali menelfon Irfan, tepat pada dering pertama laki-laki itu mengangkatnya.
"Halo sayang" ucap Irfan gugup sambil berbisik.
"kamu di mana, Mas? Kenapa bisik-bisik seperti itu?" tanya Fajira mengernyit.
"Aku lagi di kamar mandi sayang, ada apa?" Jantung Irfan semakin berdetak lebih cepat.
"Aku lagi di kantor, sayang. Kamu di mana? kok pergi gak bilang-bilang!" tanya Fajira kesal.
"maaf, sayang! Aku tadi buru-buru jadi gak sempat mengabari kamu"
"huh padahal aku sudah masak, Mas! Aku juga lagi pengen makan sambil di suapi sama kamu" ucap Fajira cemberut dan tidak lagi bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"maaf ya sayang, Kamu makan saja dulu ya! aku pulangnya agak sore"
"tunggu di rumah saja ya, sayang" ucap Irfan lembut.
"Tapi kangennya sekarang" rengek Fajira.
"Sayang! nanti waktu aku pulang, kamu boleh manja-manja sepuasnya, ya?" jantung Irfan semajin tidaj berirama.
"ya sudah, kalau gitu Aku ke sekolah Fajri saja. Nanti sekalian pulang sama pria kecilku"
"jangan!" teriak Irfan.
"kok kamu teriak, sayang?" ucap Fajira kaget.
"eh maaf, sayang. Kamu istirahat saja di rumah ya! biar Fajri aku jemput nanti" ucap Irfan lembut dengan suara yang bergetar.
"kenapa? kamu baik-baik saja 'kan, Mas?"
"Baik sayang!. Habis ini pulang ya! jangan keluyuran"
"iya. Aku tunggu di rumah secepatnya ya"
"iya sayang. Jangan lupa makan ya"
"iya."
__ADS_1
"bye sayang. Muach"
"muach..."
tut...
Fajira kembali melangkah keluar dari ruangan Irfan dengan wajah yang tertekuk.
"Mba, aku pulang dulu ya" ucap Fajira tanpa memandang sekretaris seksi itu.
"eh Iya nyonya. Apa perlu saya antar?"
"terima kasih, tapi saya bisa sendiri, mbak. Mari."
Fajira berjalan dengan wajah murung, ia sedikit memikirkan perkataan Irfan, ketika berada di dalam lift.
Mas Irfan bilang akan pulang sore hari, sekalian jemput Fajri. Bukannya pangeran kecilku pulang sebelum jam dua, sementara sekarang sudah pukul 12.15. Semoga gak ada yang kamu tutupi, Mas. Bathin Fajira curiga.
Ia memilih segera pulang dan beristirahat sejenak agar emosinya bisa kembali stabil, walaupun selera makannya sudah hilang bersamaan dengan rasa kecewa yang sudah mendera hatinya.
🌺🌺
"hisk... ayah, Kepala Aji sakit. Kaki Aji juga. Aji mau bunda!" isak Fajri yang belum berhenti menangis semenjak ia siuman dan menjalani rontgen.
"Sabar, sayang! Sebentar lagi kita sudah bisa pulang dan bertemu dengan Bunda ya, Nak!" ucap Ray memenangkan Fajri.
Irfan masih berada di dalam kamar mandi karna Fajira menelfonnya.
"Ayah! hiks... Aji mau pulang, Ayah! Aji mau pulang!" teriak fajri
"Sakit... hiks... sakiit ayah! sakit!" Isak Fajri semakin menjadi sambil memegang kepalanya.
"sstt... sstt... sstt... Sayang, Sabar ya nak! sebentar lagi kita pulang, kita menunggu hasil pemeriksaan dokter dulu ya" ucap Irfan mendekap pria kecil itu dengan menggendongnya.
"Hiks... Aji mau Bunda, Ayah! pasti bunda khawatir sekarang. Ayo Ayah kita pulang" lirih Fajri dengan mata yang perlahan terpejam.
Irfan hanya terdiam dengan hati yang terasa sangat sakit mendengar rintihan Fajri. Ia hanya mengelus kepala putranya lembut sambil menahan air matanya.
Maafin, aku sayang! Sungguh aku takut jika kamu dan calon anak kita kenapa-napa nanti.
Tak lama dokter datang dan memberitahukan jika hasil rontgen Fajri menyatakan tidak ada hal yang serius terjadi, baik itu cidera ataupun luka dalam, sehingga Fajri sudah di perbolehkan pulang dengan syarat, ia harus memeriksakan cideranya secara berkala.
Irfan bernafas lega mendengar kondisi anaknya yang tidak mengalami hal yang serius. Namun masih terselip rasa takut di dalam hatinya, bagaimana ia akan mengatakan ini kepada Fajira nanti.
Sepertinya aku harus segera menghubungi dokter kandungan agar bisa mewanti-wantinl keadaan fajira. Apa aku juga harus memanggil ambulance agar Fajira bisa di larikan kerumah sakit dengan cepat?. Bathin Irfan berdialog.
Mereka segera berjalan keluar dari rumah sakit. Ray terlebih dahulu mengurus administrasi Fajri sementara Irfan membawa pria kecil yang sudah terlelap itu menuju mobil.
Mereka segera pulang ke rumah dengan perasan takut yang semakin mendera. Hingga mobil mendarat di halaman rumah itu, dan hal yang sangat tidak di duga oleh Irfan adalah. Fajira juga baru sampai di sana dan hendak keluar dari mobil.
"Mas?" ucap Fajira senang sambil berjalan mendekat ke arah suaminya. Namun sejurus kemudian Fajira mamatung ketika matanya menangkap sesuatu yang berbeda dari anaknya.
Deg...
"Fajri..."
__ADS_1
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE