Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
204. Pulang


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan Fajri dan sahabatnya berada di Desa Selimut. Pembangunan sudah selesai kemarin sekaligus peresmiannya. Malam ini akan di laksanakan acara api unggun sekaligus pembacaan legenda Desa Selimut oleh para tetua.


Fajri dengan wajah yang berseri mendengarkan cerita para tetua kampung, bagaimana desa ini bisa terbentuk. Pria tampan itu memang mendengarkan cerita, namun fikirannya sudah melayang kesana-kemari.


Ah, aku sudah tidak sabar untuk menunggu hari esok. Dede, Ayah, Bunda. Abang pulang!. bathin Fajri senang.


"jangan senyum terus, nak Fajri," ucap salah satu ibu-ibu di sana.


"eh, ibu. Saya sudah sangat merindukan keluarga, Apalagi adik saya," ucap Fajri tidak dapat lagi menyembunyikan rona bahagianya.


"Apa, nak Fajri tidak ingin tinggal lebih lama lagi?" tanya ibu itu.


"di sini, saya merasakan begitu banyak kebahagiaan dalam kesederhanaan. Bertemu keluarga baru, belajar hal baru. Tetapi, bukankah keluarga adalah tempat kita pulang, Bu?" ucap Fajri tersenyum.


"iya, kamu benar. Pasti desa ini akan kembali seperti semula. Ibu mewakili masyarakat desa selimut, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, kepada nak Fajri dan yang lainnya," ucap ibu itu tersenyum.


"Jangan sungkan, Bu. Sudah seharusnya kita saling menolong satu sama lain. Bagi saya semua orang itu memiliki hak dan kesetaraan yang sama. Jika di kota memiliki fasilitas umum yang lengkap, harusnya di sini juga seperti itu. Namun harus bagaimana lagi, tidak semua hal bisa kita lakukan sesuai dengan kehendak. Namun selama saya mampu, kenapa tidak untuk menolong sesama!" ucap Fajri tersenyum.


"huft. maafkan ibu, yang sempat berfikiran buruk dan sempat menolak kehadiran kalian. Tetapi ibu salah besar. Kalian orang kaya yang tidak menyimpan kesombongan sedikitpun. Semoga hidup anak-anak ibu selalu mendapatkan kebahagiaan yang tak terhingga, Aamiin!" ucap ibu itu mengusap kepala Fajri.


"Aamiin, Terima kasih banyak atas do'anya Bu. Terima kasih karna sudah menerima kami di sini!" ucap Fajri tersenyum manis ke arah ibu itu.


Mereka kembali mendengarkan cerita legenda hingga selesai. Setelah itu Fajri dan yang lain memilih untuk beristirahat, karna besok mereka akan kembali pulang ke kota dan bertemu dengan keluarga masing-masing.


Ketika sampai di joglo, Fajri mengernyit karna tidak menemukan Boy di dalam kamar.


"Guys, Boy gak ada di kamar. Bukankah dia sudah izin untuk beristirahat?" tanya Fajri.


Terdengar suara guyuran air yang tidak berhenti dari kamar mandi. Kenji segera berlari menuju kamar dan terkejut ketika ramuannya sudah kosong.


"sepertinya Boy meminum ramuanku!" teriak Kenji.


Mereka segera berlari menuju kamar mandi yang terpisah dari rumah itu. Ia melihat Boy sudah basah kuyup sambil menyiram tubuhnya.


"Gila, itu ramuan apa yang lo bikin, Ken? sialan, ini panas banget!" ucap Boy sambil menyiram tubuhnya.


"i-itu ramuan untuk untuk suami yang sulit bergairah ketika berhubungan. Dan belum aku uji coba. Maaf!" ucap Kenji membantu Boy untuk menyiram tubuh boy.


Tak lama, Dion datang dan memberikan semacam obat penenang kepada Boy. Perlahan tubuh pria tampan itu terkulai lemas di atas lantai.


Fajri hanya bisa terkekeh melihat kelakuan mereka. Bisa-bisanya Kenji membawa ramuan itu ke tempat seperti ini. Ia membantu Boy untuk mengganti pakaiannya dan segera beristirahat.


...🌺🌺...


Jet pribadi bertuliskan Dirgantara Berhasil mendarat di landasan khusus. Semua keluargaPp sudah menunggu kedatangan enam pria tampan nan hebat itu.


Ivanna sedari pagi sudah sangat tidak sabar untuk menunggu kedatangan Abang kesayangannya. Begitu juga dengan Fajira dan Irfan. Mereka sudah menyiapkan penyambutan khusus di rumah nanti.


"Abang," ucap Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca ketika melihat pintu pesawat itu sudah terbuka.


"Lebay, lo!" Ucap Nathan ketus.


"Diam lo, bocil!" ketus Ivanna.

__ADS_1


Rasa harunya hilang ketika mendengarkan suara manusia yang paling ia benci.


"Lo juga bocil, kalau lupa!" ucap Nathan tak kalah ketus.


Ivanna tidak lagi menghiraukan Nathan dan segera berlari mengejar Fajri yang baru saja masuk ke dalam gedung.


"Abang!" teriak Ivanna dan meloncat ke dalam pelukan Fajri.


"Sayang!" Fajri segera menangkap Ivanna dan menggendongnya.


Melepas rindu yang sudah sangat tidak bisa mereka bendung lagi. Adik kakak itu menangis dan saling memeluk satu sama lain.


"Akhirnya, Abang pulang!" ucap Ivanna terisak.


"iya, sayang. Abang sudah pulang! Abang di sini!" ucap Fajri yang juga ikut menangis.


"Dede, rindu!" ivanna semakin terisak.


"Abang juga, sayang!"


Fajri menggendong Ivanna menuju ke arah Fajira dan Irfan yang sudah menunggu kedatangannya.


"Ayah, Bunda?" ucap Fajri mencium tangan orang tuanya dan memeluk mereka bergantian dengan Ivanna yang masih berada di dalam gendongannya.


"dek, gantian dong. Bunda juga mau meluk, Abang!" ucap Fajira yang sudah menangis.


Ivanna turun dan memeluk Irfan agar bisa menyembunyikan wajah sembabnya. tanpa menunggu lama, Fajira segera memeluk Fajri denhan erat dan bernafas lega, ketika melihat anaknya baik-baik saja.


"Akhirnya, abang pulang, sayang! Bunda Rindu, sangat rindu!" ucap Fajira melepas pelukannya dan memegang kedua pipi Fajri lalu mengecupnya.


"Ayah gak di peluk?" ucap Irfan cemberut.


"sini, Ayah!" ucap Fajri.


Mereka berpelukan sebentar dan memilih untuk segera pulang ke rumah.


🌺🌺


Fajri terkejut ketika ia membuka pintu rumah, semua sistem rumah tangga dan beberapa penjaga menyambutnya di rumah itu. Ada Oma dan Opa nya juga.


Ia begitu terharu ketika melihat mereka yang sangat antusias menunggu kedatangannya. Namun mata, Fajri menangkap sosok seorang perempuan yang terlihat malu-malu berkumpul di antara kerumunan itu. Namun Fajri tidak begitu memperhatikannya, karna semua ART berebutan untuk bersalaman dengannya.


"sudah-sudah. Bersalamannya nanti saja. Biarkan Fajri beristirahat terlebih dahulu," ucap Fajira melerai mereka dan memboyong Fajri menuju ruang keluarga karna jam makan malam sebentar lagi masuk.


"Bagaimana selama kamu di sana nak?" tanya Fajira tidak sabar.


"iya, bang. Dede pengen tau bagaimana Abang di sana," ucap Ivanna.


"Abang di sana baik, Masyarakatnya juga baik, bahkan mereka memberi abang oleh-oleh yang banyak dari sana," ucap Fajri tersenyum.


"Gak ada yang jahatin sama, Abang?" ucap Ivanna sambil bersandar di dada Fajri.


"gak akan ada yang berani berbuat jahat sama abang, sayang!" ucap Fajri mengelus dan mengecup kepala Ivanna lembut.

__ADS_1


"yuk, kita ke ruang makan, Ayah sudah sangat lapar!" Ajak Irfan.


Semua orang segera menuju ke ruang makan termasuk gadis manis yang hanya terdiam sedari tadi.


"Bunda, Abang mau, eh?" ucap Fajri terkejut ketika ia tidak mendapati sang ibunda di sampingnya.


"Maaf," ucap Fajri canggung.


"gak papa, Tuan!" ucap Safira menunduk.


"eh, Maaf saya tidak menyadari kehadiran kamu!" ucap Fajri meringis.


Posisi duduknya berada di tengah berdampingan dengan Ivanna dan Safira, sementara Fajira berada di seberang bersama dengan Oma dan Opa, sementara Irfan duduk di kursi kebesarannya.


"Makan dulu, yuk. Nanti saja kenalannya," ucap Ivanna menahan tawanya.


Fajri dan Safira tersenyum canggung. Ketika hendak mengambil Nasi, tangan mereka tak sengaja bersentuhan dan dua pasang bola mata itu saling menatap satu sama lain.


Cantik!. bathin Fajri.


Tampannya!. bathin Safira.


"hekm,... Apa masih lama?" ucap Ivanna berusaha kuat untuk tidak menggoda abangnya.


"eh. Maaf. Silahkan!" ucap Fajri mengalah.


"eh, Tuan saja yang duluan," ucap Safira canggung.


"mungkin lebih baik, kakak membantu Abang untuk mengambilkan makanan?" celetuk Ivanna dan sukses membuat dua orang itu melotot kaget.


"Dek!" seru Fajri.


"Buna, Dede mau udangnya!" ucap Ivanna tidak menghiraukan panggilan Fajri.


"sudah! Safira bisa Bunda minta tolong untuk mengambilkan Fajri makanannya?" ucap Fajira yang paham dengan maksud Ivanna.


"bi-bisa, Bunda!" ucap Safira dengan tangan yang bergetar.


Safira mengambilkan makanan Fajri sambil bertanya apa yang di inginkan oleh Tuan muda itu.


Dia sudah memanggil Bunda seperti itu, dia juga memanggil Dede dengan panggilan Nana. Banyak hal yang terlewatkan selama kepergianku. Bathin Fajri memperhatikan bagaimana Safira mengambilkan makanan untuknya.


Makan malam yang canggung itu perlahan mencair ketika mendengarkan ocehan Ivanna dan perdebatannya dengan sang ibunda yang memperebutkan Fajri dan membahas rencana liburan mereka yang akan di laksanakan pada akhir tahun ini.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Akhirnya Fajri pulang, gais. Jadi mau kawal siapa nih? Safira atau Zwetta?


Kita lihat ke depan saja ya, siapa yang akan dipilih oleh Fajri.


Sedikit info, mungkin aku belum terlalu mendeskripsikan siapa Safira. tetapi ia juga termasuk anak yang pintar, karna masuk ke dalam universitas elite itu dengan beasiswa berprestasi, mungkin sudah aku sebutkan ketika Safira bertemu dengan Ivanna, bisa jadi aku terlupa.

__ADS_1


Jadi Stay tune 😍😍


__ADS_2