
"kurang ajar lo! gua gak percaya! ya gua akui kalau otak lo sangat encer, tapi itu sangat mustahil kalau bukan karna orang tua lo!" ucap Syafa menantang.
"Yakin? apa nanti kakak gak malu jika mengetahui faktanya? Memang orang tuaku kaya dan memiliki kekuasaan dimana-mana! Tapi maaf, saya melepas nama Dirgantara ketika berada di sekolah ini! Dan juga dari kecil saya di ajarkan untuk berusaha dan bekerja keras untuk mendapakan apa yang saya inginkan!" ucap Irfan tegas.
"Malu? apa yang mampu membuat gua malu? bukankah satu sekolah tau jika lo hanya bisa memanfaatkan kekayaan orang tua lo!" ucap syafa mengejek.
"kakak tau beasiswa rekomendasi donatur?" ucap Fajri yang mulai jengah.
"iya, kenapa? lo dapat rekomendasi dari ayah lo? hahaha, bukankah itu sama saja lo sekolah gratis degan beasiswa, tapi ayah lo juga bayar sejumlah uang ke sekolah ini setiap bulannya" satu kelas menertawakan Fajri.
"Kakak tau bapak Zulkarnain?" tanya Fajri.
"iya, gua tau! kenapa? lo dapat dari dia?" ucap Syafa menelisik.
"iya! saya mendapatkan beasiswa rekomendasi itu karna berhasil menjawab pertanyaan beliau ketika saya ikut belajar dalam mata kuliahnya!. Dan saat itu, ayah saya belum menjadi donatur disini!"
deg...
Syafa dan murid yang lain mulai bereaksi. Mereka menjadi gamang karna mendengarkan perkataan Fajri. Mereka berbisik satu sama lain, dan membicarakan kepintaran pria tampan itu.
"apa ada buktinya? bukankah semua itu bisa direkayasa?"
Fajri mengeluarkan ponselnya dan mengirim bukti fotonya ke grub kelas, jika ia mendapatkan beasiswa resmi sampai tamat SMA.
"silahkan cek ponselnya kak! setelah ini tolong jangan membacot jika tidak bisa apa-apa!" sarkas Fajri.
"Alah palingan lo beruntung aja! Kalau bukan karna orang tua, lo gak akan ada disini!" ucapi siswa yang lain.
"bukankah lo sudah bisa menghasilkan 12 miliar ketika berusia 3 tahun, mana buktinya? apa jangan-jangan lo mengada-ngada lagi! hahaha" mereka kembali menertawakan Fajri.
pria tampan itu sudah mulai jengah, ia kembali meraih ponselnya dan mengirim artikel beberapa tahun lalu ke dalam grub kelas mereka, saat itu beritanya booming karna Fajri berhasil menjual dua puluh ribu unit barang dalam waktu kurang dari 1 minggu, Disana terpampang jelas fotonya berdiri bersama Irfan dan beberapa orang lainnya.
"ini, foto waktu saya memenangkan lomba cipta karya waktu usia dua tahun! dan mesin ini yangbsudah berhasil dua produksi dan sudah terjual hingga ke Europa!" ucap Fajri menahan senyum kemenangannya.
Seisi kelas itu bungkam dengan ekspresi terkejut karna tidak menyangka dengan apa yang mereka baca. Fajri tidak berhenti sampai di situ saja, ia juga mengirim artikel ketika peluncuran pesawat dan helikopter mainan.
__ADS_1
Mereka semakin terbelalak ketika pria tanpan itu menerima penghargaan dari Presiden secara langsung karna keberhasilannya dalam memproduksi pesawat komersil dan memiliki harga jual yang sangat fantastis.
"Bagaimana? apa masih mau ngebacot? semuanya saya hasilkan dengan berfikir, membaca dan banyak belajar dari kesalahan. Ayah saya hanya fasilitator dan distributor terhadap apa yang saya buat! jika tidak bisa menandingi saya tolong jangan sok hebat!" ucap Fajri dengan sarkas.
Mereka semakin bungkam dengan apa yang di perlihatkan oleh Fajri.
"saya tidak terima, jika pencapaian yang saya dapat itu, anda katakan karna kekuasaan yang dimiliki oleh orang tua saya! apa saya bisa berkata seperti itu untuk mengeluarkan kalian semua dari sekolah ini?" ucap Fajri tersenyum smirk.
deg...
Mereka melupakan hal yang satu ini. Orang yang tengah merek permalukan itu memiliki kekuasaan yang sangat tinggi di sekolah itu, bahkan bisa di katakan ia memiliki setengah kekuasaan dan bisa memutuskan apapun terhadap sekolah itu.
"Apa masih ada yang ingin mengatakan jika saya berada di sini karna kekuasaan orang tua saya?"
Semua siswa semakin bungkam mendengarkan ucapan pria genius itu.
"tolong, setelah ini jangan pernah merendahkan orang lain hanya karna anda ingin di pandang! Hiduplah dengan baik dan bersaing secara sehat! kalian membutuhkan IQ 225 untuk mengalahkan saya!" ucap Fajri kembali duduk di Bangkunya.
Tak lama guru kembali masuk, para murid kembali duduk di kursinya masing-masing dengan wajah yang masih terkejut, apalagi Syafa yang sudah kehilangan urat malunya di hadapan Fajri. Niat hati ingin membuat pria kecil itu malu, sekarang malah senjata makan Tuan! ia terkena batunya.
Pria kecil ini memang mewarisi mulut tajam dan pedas milik Fajira, namun Ia juga memiliki hati yang lembut dan pemaaf. Walaupun ia sudah tersakiti, namun ia tidak ingin membalas mereka dengan keburukan, sebab itu Fajri mendapatkan peringkat murid teladan di sekolahnya.
Huft... menyusahkan saja! aku jadi harus pamer untuk mempertahankan harga diriku!. bathin Fajri.
...πΊπΊ...
"ampun, Tuan! jangan pecat kami!" ucap dua orang laki-laki yang bertanggung jawab terhadap peoposal itu.
"tidak ada ampun lagi untuk kalian! silahkan keluar dari ruangan saya!" ucap Fajri dingin.
Ingin rasanya ia berteriak kasar kepada, mereka namun ia harus mengingat jika jantungnya masih belum stabil.
"saya, mohon Tuan! jangan pecat saya!" ucap pria berumur sekitar 40 tahunan itu.
"kau tau apa konsekuensinya ketika kau berbuat curang di perusahaan ini?" sarkas Irfan.
__ADS_1
"ta-tau Tuan! maafkan saya!" mereka berlutut untuk meminta pengampunan dari Irfan.
"Sudahlah, tidak ada kesempatan untuk kalian lagi! saya membenci penghianat! Bukankah gaji kalian sangat besar dengan berbagai tunjangan, apa itu masih kurang?"
"Maafkan kami, Tuan! maaf! tolong berikan kami kesempatan satu kali lagi, kami bersumpah tidak akan mengulangi kejadian ini lagi, Tuan! saya mohon!"
Irfan terdiam, mereka adalah salah satu karyawan terbaik di perusahaannya dan bahkan belum ada kesalahan yang mereka lakukan selama bekerja di perusahaan itu.
Ia mengambil proposal tadi dan melemparkannya ke arah dua orang yang tengah berlutut itu. Mereka terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Irfan.
"perbaiki itu hari ini juga! ini adalah peringatan pertama dan terakhir untuk kalian! Jika saya kembali menemukan kecurangan ini, jangan salahkan saya jika kalian memilih mati dari pada hidup penuh kesengsaraan!" ucap Irfan tegas.
"terima kasih, Tuan! terima kasih banyak!"
"sekarang pergilah perbaiki semuanya dan harus selesai hari ini juga! Jika masih melakukan kesalahan, saya akan kirim kalian ke penjara!"
"ba-baik Tuan! sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak, Tuan! terima kasih, permisi!" ucap mereka berlalu dari ruangan Irfan.
"Pandu?"
"saya, Tuan!"
"awasi pergerakan mereka, saya tidak ingin ada yang melakukan kecurangan di kantor ini!"
"baik, tuan!
Pandu segera keluar dari ruangan dan memerintah beberapa orang untuk mengwasi mereka.
Ia memijat pelipisnya karna menghadapi masalah yang cukup rumit saat ini. Irfan hanya bisa menghela nafas beratnya ketika jantungnya terasa sesak karna memikirkan beban perusahaan yang sangat berat. Ia mengambil nafas dengan perlahan sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh Fajira, ketika ia merasa sesak nafas secara tiba-tiba.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Jangan lupa tinggalkan jejak, agar author semangat untuk Updatenya.
__ADS_1
terima kasih π