Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
137. Pulang Kampung


__ADS_3

Pagi ini, Fajira lebih sering termenung sambil mengusap perut buncitnya. Sementara Irfan dan Fajri tengah berada di luar, untuk mencoba helikopter yang akan segera di produksi masal dalam waktu dekat ini.


Televisi menyala begitu saja, mata cantik itu menatap lurus ke depan namun fikirannya melayang entah kemana.


Tanpa sadar Irfan dan Fajri sudah berada di samping kiri dan kanannya. Namun ibu hamil itu tidak kunjung menyadari kehadiran mereka.


Dua pria tampan itu saling menatap satu sama lain. Irfan memberi kode kepada Fajri untuk mencium pipi Fajira secara bersamaan.


Muach...


Fajira terkejut ketika mendapatkan kecupan manis dari dua pria tampannya.


"Bunda kenapa?" tanya Fajri lembut sambil menatap Fajira lekat.


"Bunda gak papa, sayang!" Fajira tersenyum dan mengelus kepala Fajri lembut.


"Apa sudah selesai mencoba helikopternya? apa sudah bisa terbang?" tanya Fajira kembali.


"sudah Bunda. Hari senin mau di urus berkas-berkasnya. Hmm... Apa Bunda haus?" tanya Fajri.


"Iya, sayang!"


"tunggu sebentar ya!"


Pria kecil itu berjalan dengan perlahan menuju ke dapur untuk mengambilkan ibundanya segelas air putih.


"kenapa, sayang? sini cerita sama aku!" ucap Irfan setelah kepergian Fajri.


"huft... Aku,,, Aku kangen orang tuaku," ucap Fajira berkaca-kaca.


deg...


Irfan terkejut, ia melupakan janjinya yang satu ini kepada Fajira. Janji untuk mengunjungi kampung halaman istrinya dan juga mengunjungi makam ke dua mertuanya.


"Maaf ya, Aku lupa untuk mengunjungi makam keluarga kamu!" Irfan menunduk, ia sangat merasa bersalah saat ini.


"gak papa, sayang. Jangan merasa bersalah seperti itu. Bagaimanapun juga mereka gak akan bisa kembali lagi. Tapi entah mengapa aku merindukan suasana rumahku dulu. Papa bilang, rumah itu sudah di beli lagi dan di perbaiki beberapa bagian-bagian yang mulai rusak. Aku ingin melihatnya sebelum melahirkan, Mas!"


"Berapa lama perjalanan kita kesana sayang?"


"sekitar tiga jam kurang lebih menggunakan mobil, kalau gak macet"


"bersiap-siaplah, kita pergi sekarang!" ucap Irfan tersenyum sambil membelai lembut perut buncit Fajira.


"ka-kamu serius Mas?" tanya Fajira sambil menatap Irfan serius.

__ADS_1


"iya sayang. mumpung besok masih libur. Jarang-jarang juga kita punya waktu seperti ini."


"Bunda ini minumnya!" ucap Fajri memberikan air minum itu kepada Fajira.


"terima kasih, sayang," ucap Fajira dan meminum air yang sudah di ambilkan oleh Fajri.


"sama-sama, bunda." Pria kecil itu merona sambil memperhatikan bidadari cantik itu.


Mereka segera bersiap-siap untuk berangkat menuju kampung halaman Fajira yang terletak pada daerah pedesaan yang masih asri dan sangat namun sejuk.


...🌺🌺...


"Kita jalan-jalan lagi, Bunda?" tanya Fajri antusias.


Kali ini Irfan membawa seorang supir dan juga seorang ART untuk berjaga-jaga agar Fajira tidak kesulitan untuk mengurus dirinya dan Fajri nanti.


"iya sayang. Kita akan ketemu sama nenek dan kakek, orang tua bunda," ucap Fajira.


"kita akan ke makam nenek sama kakek, Bunda?" ucap Fajri sendu.


"iya sayang. Nanti kita juga akan tinggal di rumah waktu Bunda kecil. nanti jug Abang juga akan bunda ajak jalan-jalan keliling kampung." ucap Fajira tersenyum dan menghibur putra kecilnya.


Ia sangat antusias dengan perjalanannya kali ini. Tak lupa mereka membawa bekal dan beberapa cemilan selama di perjalanan. Sementara Fajri hanya menatap ibundanya dengan tatapan sendu.


Bunda perempuan yang kuat ya. Apa Aji sanggup nanti kalau ayah dan Bunda pergi meninggalkan Aji? Tuhan jangan ambil ayah dan Bunda, Aji gak akan sanggup hidup tanpa mereka. Bathin Fajri.


"Aji kenapa nak?" ucap Fajira mengalihkan perhatian semua orang.


"ha? Aji gak papa bunda,"


"terus kenapa nangis? Sini cerita sama Bunda sayang!" ucap Fajira lembut mengusap mata yang kembali berair itu.


"Jangan tinggalkan Aji" ucap Fajri tercekat.


deg...


"apa Aji kepikiran sama Bunda karna nenek dan kakek udah gak ada?" tanya Fajira yang paham apa yang tengah di rasakan Fajri. Pria kecil itu hanya bisa mengangguk sedih.


Irfan segera mendekap erat Fajri. Ia juga ikut terbawa suasana mengingat nasib Fajira yang hidup luntang lantung tanpa orang tua.


Mereka segera mengalihkan pembicaraan agar Fajri tidak kembali sedih. Pria kecil itu sangat sensitif jika berhubungan dengan Fajira. Walaupun itu hanya hal yang kecil saja, fajri sudah menjadi kalang kabut bahkan menangis sampai terisak, wajahnya akan terlihat sendu hingga Fajira sembuh dari sakitnya.


Perjalanan terasa begitu menyenangkan karna Fajri tak hentinya membuat se isi mobil itu tertawa. Hingga 3 jam terlewati begitu saja.


Mobil perlahan berhenti di salah satu rumah yang terlihat sangat asri dan terawat. Karna Papa memang meminta sepasang suami dan istri untuk menjaga dan merawat rumah peninggalan itu dengan baik.

__ADS_1


Banyak pasang mata yang melihat bahkan mengikuti mobil mewah itu. Mereka penasaran, orang kaya mana yang mau membawa mobil mewahnya masuk ke dalam perkampungan mereka.


Ceklek...


Pintu terbuka, Irfan dan Fajri keluar sambil menegangkan ototnya, tak lupa mereka juga memakai masker dan kaca mata, agar ketampanannya yang paripurna tidak bisa di nikmati oleh banyak orang.


Ia menelisik sekitar, Fajira belum terlihat turun dari mobil. Ia kembali masuk kedalam mobil dan mengajak Fajira untuk keluar.


"sayang, Yuk kita keluar!" ucap Irfan mengulurkan tangannya.


"sebentar, Mas. Aku belum kuat untuk keluar" ucap Fajira bergetar.


Ia melihat satu keluarga yang sangat ia benci berdiri di depan rumah mereka yang persis berada tepat di samping rumah peninggalan orang tuan Fajira.


Kenangan buruk terlintas jelas, bagaimana mereka memperlakukan Fajira layaknya budak, dan bahkan mereka hampir menjual ibu hamil itu kepada pria hidung belang.


"Sayang, Jangan takut ya. Aku ada di sini bersamamu. Aku gak akan membiarkan mereka menyakiti kamu barang sedikitpun!" ucap Irfan meyakinkan Fajira.


"Lihat aku! Kamu bisa membuatku bertekuk lutut, bukankah kamu tau siapa aku di luar sana? Lalu kenapa kamu takut dengan mereka yang tidak sebanding denganmu?" sambung Irfan.


"Jangan jauh-jauh. Aku lagi hamil soalnya!" ucap Fajira tersenyum namun masih terselip rasa takut di dalam hatinya.


"Iya sayang. Yuk!"


Irfan membimbing Fajira turun dari mobil dengan hati-hati. Ibu hamil itu memperhatikan rumah lamanya yang sudah terlihat lebih bagus, namun tidak mengurangi kesan dan bentuk dari rumah lama itu.


"Akhirnya Aku bisa ke sini lagi, Mas!" ucap Fajira berkaca-kaca.


"Yuk kita masuk sayang. Abang tu kita mau!" Aja Irfan.


Fajira melepaskan maskernya, ia menatap sekeliling orang yang terlihat terkejut dan bahkan tidak terlalu mengenalinya.


"Fa-Fajira" lirih anggota keluarga yang berada di samping rumahnya dengan terkejut.


Dari arah belakang datang tiga buah mobil keamanan berlogo Dirgantara. Ada sekitar 20 orang turun dari sana dan segera mengamankan lokasi sekitar.


"Mas, kamu ngapain bawa mereka?" bisik Fajira.


"Aku hanya memastikan istri dan anakku aman dari apapun, sayang" ucap Irfan tersenyum.


Ia mengiring Fajira masuk ke dalam rumah yang sudah di sambut dengan sepasang suami istri yang sangat ia kenali. Namun ketika hendak berjalan masuk seseorang berteriak memanggil namanya.


"Fajira!" teriak seorang perempuan sebaya dengan ibu hamil itu.


"..."

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2