
Sudah tiga hari gadis manis itu sakit dan tidak kemana-mana. Perlahan Ivanna sudah lebih baik, namun wajah murungnya tidak bisa di sembunyikan. Hingga siang menjelang, Ia hanya bolak balik melihat ponsel yang hening tanpa notifikasi khusus yang ia setting untuk Abang kesayangannya.
Apa Abang sudah lupa sama, Dede? hiks, kenapa Abang gak menghubungi Dede barang sebentar saja?. Bathin Ivanna.
"dek?" panggil Fajira lembut.
"iya, Buna?"
"di luar, ada teman kamu. Namanya siapa tadi ya, Bunda lupa nak!" ucap Fajira tersenyum.
"teman? Teman yang mana, Buna? Gak ada orang yang berteman tulus dengan Dede, Kalau gak karna harta, pasti karna followers," ucap Ivanna sedih.
"Terus yang kakak-kakak kata Dede itu, gimana?" tanya Fajira mengernyit.
"ah, iya hanya dia yang tulus berteman dengan, Dede, Buna. Bahkan di traktir aja dia gak mau," ucap Ivanna merebahkan kepalanya di pangkuan Fajira.
"eh, kok malah tidur, sayang? dibawa kan ada teman, Dede!" ucap Fajira. Namun ia tidak menolak kepala Ivanna untuk berbaring di pahanya.
"Siapa, Buna? apa kak Safira?" tanya Ivanna.
"Safira?, ah iya itu namanya Safira!" ucap Fajira yang kembali mengingat nama Safira.
"Buna, serius?" ucap Ivanna berbinar senang.
"kenapa ekspresi dede seperti itu. Langsung sembuh nih, kayaknya?" ucap Fajira terkekeh.
"hehe. Iya, Buna." Ivanna bangkit dan menghubungi bibi dan meminta untuk mengantarkan Safira ke kamarnya.
...πΊπΊ...
"Permisi, Nona Ivanna meminta, Nona untuk langsung ke kamarnya. Mari saya antar!" ucap bibi kepada Safira.
"eh, iya, Bu. Terima kasih," ucap Safira sopan.
Gadis manis itu berjalan sambil melihat betapa mewahnya rumah Ivanna. Begitu banyak foto yang terpajang di sepanjang dinding menjadi pemandangan tersendiri bagi tamu yang datang ke rumah itu.
Apa aku pantas berteman dengan Ivanna dengan kekayaannya. Tapi melihat sikapnya yang berbeda terhadapku, seperti Ivanna memang ingin berteman. Tapi aku takut, semoga saja tidak terjadi hal yang buruk nantinya. Bathin Safira.
Ia berjalan menapaki tangga menuju kamar Ivanna, sembari menenteng satu kantong buah-buahan segar.
Ada terselip rasa takut dalam diri Safira, jika Ivanna akan menjadikannya budak, seperti orang kaya yang lain. Namun ketika melihat Ivanna yang begitu antusias, Safira bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari dalam diri gadis manis itu. Bahkan sampai sekarang tidak ada lagi yang berani mengganggunya.
tok,... tok,... tok,...
"Nona?" ucap bibi mengetuk pintu kamar Ivanna.
"Masuk Aja, Bik. Gak di kunci!" ucap Ivanna dari dalam.
"Silahkan, Nona!" ucap ibu membuka pintu dan mempersilakan Safira untuk masuk ke dalam kamar Ivanna.
"Kak?" ucap Ivanna senang, Ia segera bangkit dari tidurnya dan berjalan menghampiri Safira lalu memeluknya
"Hai, aku dengar kamu sakit?" ucap Safira membalas pelukan Ivanna.
"Begitulah, kak. Yuk kita duduk di sofa!" Aja Ivanna.
"Bunda tinggal ya, sayang!" ucap Fajira tersenyuman berlalu dari sana.
__ADS_1
"iya. Bunda!"
"iya, Nyonya!" ucap Safira tersenyum dan mengiringi kepergian Fajira.
"Tadi itu, Bunda kamu, Na?" tanya Safira ketika melihat pintu sudah tertutup
"iya, Kak,"
"wah, pantesan kamu cantik!" ucap Safira berbinar.
"Iya, Abang lebih ganteng lagi karna mirip sama, Bunda!" ucap Ivanna kembali sendu.
"Kamu kenapa? apa masih pusing?" tanya Safira panik.
"gak kok, kak. Aku hanya merindukan Abang!" ucap Ivanna memaksakan senyumnya.
"Emang, Tuan Fajri kemana?"
"Abang, lagi membuat proyek di Desa Selimut selama dua bulan. Ini hari ke tiga dia di sana. Dan satupun aku belum mendapatkan pesan darinya," ucap Ivanna berkaca-kaca.
"Maaf ya, Aku gak tau!" ucap Safira merasa bersalah.
"gak papa, kak. Hanya saja aku khawatir dengan keadaan Abang di sana, soalnya gak ada signal ataupun alat komunikasi lainnya," ucap Ivanna memaksakan senyumnya.
"Ah iya, ini Aku membawa sedikit buah untuk kamu!" ucap Safira berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Wah, Terima kasih kak. Pasti habis ini aku sembuh deh!" ucap Ivanna senang.
Safira hanya membawa buah jeruk dan apel yang ia beli di pasar tadi. Ivanna tersenyum melihat Safira masih berusaha untuk membelikannya buah dan pergi menjenguk.
Apa benar keputusanku untuk menjodohkan Abang dengan kak Fira? Dia terlihat seperti gadis yang baik. Bahkan dia lebih memilih untuk membelikan aku buah, padahal untuk makan besok saja dia belum tentu ada. Bathin Ivanna.
Hingga Fajira datang dengan membawa beberapa cemilan dan minuman. Ia ikut bergabung di sana agar bisa mengenal siapa teman dari anak-anaknya.
"Diminum ya, nak!" ucap Fajira tersenyum.
"i-iya, Nyonya. terima kasih!" ucap Safira canggung.
"Panggil Bunda, saja ya!" ucap Fajira tersenyum.
deg,...
Ivanna dan Safira terkejut, dengan fikiran masing-masing. Terlebih Ivanna, ia yakin jika ibundanya menerima Safira di rumah ini. Begitu juga dengan gadis cantik itu ia masih melongo tidak percaya.
"kenapa bengong?" tanya Fajira mengernyit.
"Gak papa, Buna?" ucap Ivanna senang.
"Safira, tinggal dimana?" tanya Ivanna.
"Saya tinggal di gang ikan keseleo, Bunda,"
"yang di belakang supermarket itu, ya?"
"iya, Bunda,"
"Di sana, Safira mengontrak nak?"
__ADS_1
"iya. Bunda,"
"pasti mahal ya. Di dekat sana, Bunda ada rumah. Tapi sudah lama tidak dihuni, beberapa hari sekali ada orang yang membersihkannya. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di sana. Dari pada mengontrak," ucap Fajira tersenyum.
deg,....
"te-terima kasih, Bunda. Tapi,"
"lumayan kamu bisa hemat uang 500 ribu setiap bulannya," ucap Fajira.
"betul kata, Bunda, kak. Bagus kakak tinggal di sana. Di depan juga ada warung kecil kan, Bunda? apa itu bpleh di pakai sama kakak, Bunda?" tanya Ivanna.
"boleh! nanti biar Bunda kasih modal. kalau misalnya, kakak mau jualan!"
"wah, kak. Terima saja! lumayankan, untuk bantu-bantu ibu panti," ucap Ivanna.
"Ta-tapi," ucap Safira segan.
"Jangan segan, Kalau saya sudah menyuruh kamu memanggil Bunda. Berarti kamu juga anak saya!" ucap Fajira.
Safira menunduk, ia tidak bisa lagi menyembunyikan air mata bahagianya. Betapa beruntungnya ia bisa bertemu dengan Ivanna dan malaikat cantik ini.
"terima kasih, Terima kasih banyak, Bunda! semoga tuhan membalas semua kebaikan, Bunda dengan berlipat ganda!" ucap Safira mengusap air matanya.
"Sama-sama. Ivanna sudah banyak cerita tentang kamu. Jika nanti, bunda ada waktu senggang, ajaklah kami berkunjung ke panti dimana kamu di besarkan!" ucap Fajira tersenyum.
"iya, pasti akan saya bawa. Sekali lagi terima kasih banyak, Bunda!" ucap Safira.
Ia ingin memeluk bidadari cantik dan baik hati itu. namun ia sadar siapa dirinya saat ini, sehingga ia hanya bisa menahan itu semua.
"Nanti, Bunda akan kirim orang untuk memindahkan barang-barang kakak. Modalnya langsung Bunda belikan barang atau uang saja?" tanya Fajira.
"semuanya saya serahkan kepada, Bunda saja. Saya sudah merasa sangat bersyukur karna bisa di izinkan tinggal gratis di rumah, Bunda," ucap Safira.
"tidak usah sungkan, nak. Anggap saja saya sebagai, Bunda kamu!" ucap Fajira terenyuh.
Tes,...
Air mata Safira semakin menetes, ia sesegukan. Karna baru kali ini, ada orang yang memang benar-benar menganggapnya ada. Bahkan menganggapnya sebagai anak.
"Apa kamu tidak ingin memeluk, Bunda?" ucap Fajira membuat tangis Safira menjadi-jadi.
Ia segera berhamburan masuk kedalam pelukan hangat Fajira. Nyaman, itulah yang dirasakan oleh Safira kali ini. Ia sangat bersyukur karna mendapatkan orang baik dan tulus di sekitarnya.
"Buna?" panggil Ivanna cemberut.
Ada sedikit perasan cemburu yang timbul karna ibundanya memeluk orang lain.
"sini, sayang!" ucap Fajira terkekeh.
Sepertinya aku harus merelakan Bunda untuk berbagi kasih kepada kak Safira. Karna sebentar lagi, pasti dia akan menjadi kakak ku. Semoga Abang mau sama kamu, kak!. Bathin Ivanna memeluk Fajira dengan erat.
Mereka mengobrol dengan santai, hingga jam makan siang sudah masuk. Mereka segera turun ke bawah dan maka hanya bertiga saja hari ini, karna Irfan sudah memiliki janji untuk makan siang dengan rekan bisnisnya.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya gais ππ