
Kembali pada dinner setelah kejutan lamaran.
Len dan Anya saling menatap satu sama lain, saling mengagumi dengan pikiran masing-masing. Len yang tak menyangka dirinya akan menjalani hubungan serius dengan seorang wanita setelah yang ia alami sebelumnya, bahkan dulu sempat ada rumor bahwa dia gay karena tak pernah tertarik dengan seorang wanita.
Sedangkan Anya juga tak menyangka akan menjalani hubungan serius di usianya yang begitu muda, apalagi papanya yang over protektif pada pria yang mendekatinya, Tiba-tiba luluh dengan pria di depannya, membuat Anya semakin mantap menjalin hubungan dengan pria tampan di depannya.
"Kamu bahagia bersamaku? " tanya Len sesekali mencium punggung tangan Anya.
"Sangat bahagia! siapa yang tidak bahagia di cintai pria tampan dan kaya sepertimu! " kata Anya tersenyum lucu.
"Kaya? sepertinya aku harus memberikan semua rekening ku padamu baby! " kata Len menggoda Anya.
"Bagaimana papaku bisa begitu luluh padamu! padahal di orang pertama yang akan menentang semua pria yang mencoba mendekatiku? apa yang kau berikan pada papaku? " tanya Anya serius.
"emmm... Sebuah kepercayaan besar! " jawab Len.
"Hanya itu? " pikir Anya.
"Tidak, tapi aku juga tampan dan kaya! Orang tua akan selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya, jika papamu merestui ku berarti aku pria terbaik untukmu! " kata Len tak pernah bosan menatap wajah cantik Anya. " Kau sangat cantik malam ini! apa lagi nanti saat di pesta pernikahan kita! " lanjut Len.
"Berarti sebelumnya aku tidak cantik dong! " goda Anya.
"No!!!! Kamu cantik setiap saat, tapi hari ini lebih cantik, tapi jauh lebih cantik saat melihatmu bangun tidur! " kata Len memuji Anya.
"Memang aku cantik, kalau tidak kau tak akan memilihku saat ini! " kata Anya dengan percaya diri.
"Dan kau sangat seksi memaki baju apapun! Apa lagi malam ini, I like your ***!! "bisik Len dengan menggoda.
" Bisakah tak berfikir mesum di hari bahagiaku ini ha! " kesal Anya.
"Haa hahhahaa!! maaf baby! aku hanya bercanda! " kata Len
Yang tak lama makanan mereka datang, dengan pemandangan malam yang begitu indah, Anya dan Len menikmati makan malam romantis mereka. Tapi setelah menyelesaikan makannya, Anya malah fokus pada wine yang ada di depannya, dengan Len yang mengerti tatapan itu langsung ditolaknya.
"Tidak boleh! " ucap Len tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa sih! siapa suruh di taruh di meja! hanya coba sedikit masak tidak boleh, itu di hidangkan untuk di minum tau! " dumel Anya berniat mengambil gelas miliknya yang berisi wine.
"Aku pesanan yang lain! jangan yang ini! " ucap Len menjauhkan wine di jangkauan Anya.
"Kenapa sih hanya wine saja! umurku bahkan hampir 20 tahun, mau coba saja tidak boleh, kau saja tak apa saat meminum wine itu tentu saja aku tak akan kenapa-kenapa juga kan! cepat berikan padaku! aku hanya coba Sa.... "
Ucapan Anya terhenti saat Len meneguk habis wine miliknya, menatap sedih kelas kosong yang ada di depan mejanya.
"Jangan katakan apapun lagi! " ucap Len setelah menghabiskan wine milik Anya. " kamu mau apa baby? kau suka coklat bukan? aku pesan kan coklat panas saja oke! " Rayu Len yang melihat wajah sedih Anya.
"Tak perlu! aku kenyang! " jawab Anya seadanya, menatap hamparan luas lautan dengan malas.
"Hai, kamu tidak boleh meminumnya karena tak baik bagi tubuhmu! " Len beralasan.
"Tak baik di tubuhku berarti baik ditubuh mu begitu? Baik di tubuh kalian tapi tak baik di tubuhku sendiri! kalian mengatakan jangan tapi melakukannya di depanku! Apa agar aku terlihat podo dengan kesenangan kalian! " kata Anya yang tiba-tiba sensi, karena ia kesal selalu menjadi pengecualian padahal ia akan jadi seorang ibu setelah ini.
"Tuhan!! apa ini?? baru juga pasang cincin! " batin Len tanpa menjawab perkataan Anya, Len memanggil pelayan dan memesan satu botol wine sekaligus, Len tak marah pada Anya hanya saja ia akan membuktikan kalau wine tak baik bagi orang yang tak terbiasa seperti Anya.
Tak lama wine pesanan mereka datang, dengan dua gelas baru, Len mulai menuangkan satu gelas penuh wine di gelas milik Anya.
"Oke! " jawab Anya santai yang membuat Len melotot tak menyangkan Anya akan benar-benar melakukannya.
Yang setelahnya Anya meminum satu tegukan, dua tegukan, sampai lima tegukan Anya berhenti yang sepertinya mulai menyesali kengeyelannya tadi.
"Mana ada orang minum wine seperti minum susu!! ini yang membuatku melarang keras kau minum minuman seperti ini baby! " batin Len menatap Anya ayng sedikit aneh.
"Ini panas di tenggorokan! " kata Anya yang menghentikan minumnya di tegukan kelima.
"Bagaimana tidak panas kalau kau meneguk nya seperti orang kehausan! " Len lebih memilih membatin dari pada salah bicara lagi nanti. "Sudah ku bilang tidak baik untuk tubuhmu kan! bukan hanya tubuhmu, tapi tubuh-tubuh orang yang tak terbiasa dengan wine, sepertimu sekarang! " terang Len yang membuat Anya menunduk menyesal. "Bukan agar kamu terlihat bodoh, tapi rasa tak nyaman saat kamu meminumnya! apalagi jika kamu mabuk, kepalamu akan sangat pusing besok paginya! aku tak mau kamu merasakan hal tak nyaman di tubuhmu! " terang Len yang semakin membuat Anya menunduk sesal.
"Maaf! " cicit Anya, yang tak lama di barengi cekukan kecil dari bibir Anya.
"Kau mabuk! " batin Len menebak. "Baru juga lima teguk! " ucap Len membuat Anya mengangkat wajahnya.
"Apa? " tanya Anya yang mulai memegangi kepalanya
__ADS_1
"pusing? " Len malah bertanya balik.
"Ya, sedikit!! bintangnya semakin banyak saja!! terlihat lebih dekat! " Anya yang mulai mabuk.
"Kita pulang sekarang! " ucap Len tak mau berlama-lama di luar saat sang tunangan sedang mabuk.
"Tidak! tidak! aku mau lihat bintang dulu!! jarang-jarang bisa melihat bintang sedekat ini! " ucap anya menyangga kepalanya dengan kedua tangannya yang ia letakkan di atas meja.
"Kau imut sekali baby! dan seksi! " batin Len melihat pipi memerah Anya dengan mata cerahnya yang terlihat sayu.
Tapi tiba-tiba penyangga kepala itu goyah membuat kepala Anya jatuh pelan di atas meja.
"Kenapa hm? " tanya Len dengan menahan senyumnya.
"Kepalaku berat! " ucap Anya dengan mata yang mulai menutup.
"be.. benarkah? " ucap Len yang mati-matian menahan tawanya.
"Iya! mataku juga susah di buka!! ini.. ini gelap tau! " ucap Anya yang masih meletakkan kepalanya di atas meja.
"Bbhhhuuuhhhhahahahahahahaa! " tawa Len pecah melihat gadisnya yang sangat lucu saat mabuk. "Baiklah kita pulang oke! " kata Len yang sudah tak ada respon dari Anya.
Dengan perhatian Len melepaskan jas nya untuk ia tutupi di bahu Anya yang terbuka, membopong tubuh kecil Anya yang sudah tak berdaya, membawanya ke dalam mobil yang akan mengantarkan kembali di villa papa Oscar.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1