Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Kembali hidup


__ADS_3

Menjelang pagi, di hebohkan dengan Dante yang ikut grandma nya memasak, begitu banyak hal yang di tanyakan oleh pria kecil itu, dan senantiasa mama Rosa menjawab setiap ke tidak tahuan calon cucunya.


Tak jauh dari sana ada pria paruh baya dengan wajah di tekuk nya sedang memegang ponselnya, ia kesal karena kegiatan malamnya harus terganggu oleh pria kecil yang sudah mencuri hati istrinya.


"Dante bantu bawakan! " kata Dante melihat beberapa pelayan akan menghidangkan makanan.


"Jangan!! itu panas dan berat! Dante duduk manis saja di sana! " kata mama Rosa yang di turuti Dante.


Pria kecil itu mudah sekali akrab dengan keluarga Anya, mungkin dari aura positif mereka dan kasih sayang yang mereka tunjukkan tanpa kepalsuan. Membuatnya nyaman dengan sendirinya.


"Terimakasih Tuhan! " batin Dante yang sangat bersyukur di pertemukan dengan orang-orang baik setelah bertemu dengan papanya, apalagi dia menjadi prioritas di rumah ini, berbanding terbalik dengan nasibnya dulu menjadi anak yang tak di inginkan.


Dante tidak merasa menyesal di perlakukan bukan layaknya manusia dulu jika di balas kebaikan sebesar sekarang oleh tuhannya, Sebenarnya ada sisi dewasa yang Dante sembunyikan karena sejujurnya pria kecil itu hanya haus akan kasih sayang yang belum pernah ia dapatkan dan ketidak kepercayaan dirinya.


"Dante suka buah apa? " tanya mama Rosa tiba-tiba.


"Semua buah Dante suka! " jawab Dante.


"Yang paling di suka? " tanya mama Rosa lagi.


"Yang paling di suka? " kata Dante sambil berfikir keras, yang malah membuat mama Rosa gemas sendiri. " mangga, apel, dan semangka! " jawab Dante.


"Grandma akan buatkan puding mangga untuk Dante! " kata mama Rosa dengan semangat.


"Wahhhh!!! puding!!! " kata Dante dengan mata berbinar.


Makanan manis dan teksturnya kenyal dengan rasa mangga mengundang air liur Dante yang mau tak mau ia harus meneguk nya dengan habis, Cookies nya saja belum habis, sudah di buatkan makanan lain yang tentunya Dante suka.


"Dante sudah bangun sayang! " kata Len yang tiba-tiba sudah datang, mengusap kepala sang anak dengan sayang dan memberikan ciuman di kening kecilnya.


"Iya! Dante bangun dari tadi pagi, terus nemenin grandma masak! "


"Kenapa masak sendiri mah, kan masih ada pelayan! jangan capek- capek! " kata Len perhatian dengan calon mertuanya.


"Tidak capek!! mama di rumah juga selalu masak sendiri!! " kata mama Rosa dengan santai.


"Pakailah pelayan jika mama kesulitan! " kata Dante lagi.


"Itu sudah pasti! " kata mama Rosa yang terlihat sibuk.


"Dante di buatkan puding mangga sama grandma! " kata Dante pada papanya.

__ADS_1


"Wahh, papa juga mau! " kata Len menggoda sang anak yang malah mendapatkan jawaban biasa dari sang anak.


"Boleh!! nanti papa boleh minta! " jawab Dante dengan senyumannya.


"Apa semua sudah selesai ma! maaf Anya kesiangan! " kata Anya yang baru datang berkumpul di dapur.


Yang membuat semua mata tertuju pada Anya, termasuk Len dengan tatapan memujanya, tak pernah sehari pun Anya tak mempesona meski hanya pakaian rumah an dan tanpa make up.


Pandangan sang papa tak luput dari penglihatannya yang memang ada di depannya tam jauh nyanya berdiri.


"Apa benar nyanya mau sama papa?? bukankah papa sudah tua untuk nyanya! " pikir Dante yang tau maksud ibu baru yang di katakan grandma nya tadi malam. "Nyanya cantik sekali! " kata Dante yang sengaja membuyarkan lamunan papanya.


"Terimakasih sayang! " kata anya mendekat pada dante dan mengelus kepala Dante dengan sayang.


"Buat apa ma?? biar Anya bantu! " kata Anya yang akan membantu mamanya.


"Tidak usah, ini juga sudah hampir jadi, siapkan loyang puding nya saja! " kata mama Rosa yang langsung di kerjakan oleh Anya.


"Kita ke grandpa sekarang! " kata Len yang melihat dua wanita itu sedang sibuk, menggendong sang anak menuju kursi yang di duduki papa Oscar .


"Pagi pa! " sapa Len.


"Pagi Len! " jawab papa Oscar. " Papa tak melihat Norbert dan Noberto? " tanya papa Oscar yang memang tau saudara kembar itu tinggal satu rumah dengan Len.


"Apa ada masalah? " tanya papa Oscar.


"Tidak! hanya mengawasi wanita itu dengan prianya! " kata Len sambil menatap sang anak, yang membuat papa Oscar paham maksud Len.


"Kau mengawasinya? " tanya papa Oscar.


"Sudah pasti! dia sudah menyakiti orang yang berharga di hidupku, hanya saja dia adalah umpan untuk mendapatkan ikan besar! " kata Len yang membuat papa Oscar mengangguk angguk.


Sebenarnya ada banyak yang ingin di tanyakan papa Oscar hanya saja waktunya yang tak tepat, yang membuat pria kecil itu sedih nantinya.


"Apa ada kendala berat di Indonesia pa? Len bisa membantu jika di butuhkan! " kata Len.


"Aku masih bisa mengatasinya!! hanya ulah oknum yang haus akan uang saja! " kata papa Oscar dengan santai.


"Guys!! makannya sudah siap!! Kita makan sekarang! " teriak Anya dari ruang makan.


Yang membuat papa Oscar geleng-geleng kepala, gadis itu tak ada jaim-jaimnya di rumah orang, apa lagi di rumah calon mantunya. Yang membuat ayah dan anak itu tertawa tertahan karena tak enak dengan papa Oscar.

__ADS_1


"Kalian bisa tersenyum sekarang! kalian juga akan merasakannya nanti! " skak papa Oscar sebelum beranjak dari sana.


Membuat dua pria beda generasi itu terdiam, membenarkan perkataan papa Oscar, tapi tak lama Len terkekeh geli membayangkannya. Seketika mansion nya akan ramai teriakan anya apalagi dengan hadirnya malaikat kecil di antara mereka.


"Pa ayo makan! " kata Dante membuyarkan lamunan Len.


"Astaga papa lupa, apa dante sudah lapar? " tanya Len sambil menggendong sang anak menuju ruang makan.


"Iya! Dante tak sabar mencicipi masakan grandma pa! " kata Dante.


"Kenapa lama sekali! " kata mama Rosa memprotes saat Dante dan Len baru sampai.


"Papa melamun! " kata Dante jujur, tapi tertawa dalam hati.


"Tidak kok!! ayo makan! " kata Len mengalihkan pembicaraan Dante.


"Anak kecil gak pernah bisa bohong seperti orang dewasa! " kata anya menyindir.


"Apa sih!! tidak ada yang bohong! " gelagapan Len.


"Mungkin papa ngelamunin cinta pertamanya! " kata Anya pada Dante yang memilih duduk di samping grandma nya.


Yang otomatis Len harus duduk di samping Anya, karena kursi kebesarannya yang biasanya sudah di duduki papa Oscar, yang memang di peruntukan orang yang paling tua.


"Cinta pertama itu apa pa? " tanya Dante yang tak mengerti tentang cinta.


"emm, papa juga tidak tau!! sekarang dante makan ya! " kata Len di angguki Dante.


Dari kejauhan pak pet melihat tuannya bahagia juga ikut bahagia, pria paruh baya itu telah lama mengabdikan hidupnya pada keluarga Becker bahkan sebelum ada tragedi di keluarga tuannya.


Pak pet merasa bahwa nona Anya adalah cahaya bagi kehidupan tuannya yang terpancar di wajahnya, mansion yang telah lama dingin kembali hangat dengan kehadiran nona nya, tak ada yang terucap kecuali rasa syukurnya pada Tuhan yang telah menciptakan wanita yang tepat untuk tuannya.


Ia akan tenang jika meninggalkan tuanya sewaktu-waktu ia pergi selama-lamanya dan ia akan terus mengabdi sampai hari itu akan tiba.


.


.


.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


__ADS_2