
Di dalam mobil milik Len, papa Oscar dan Anya menunggu sang pemilik mobil dengan Anya yang masih seperti koala duduk di pangkuan papa Oscar, menyandarkan kepalanya yang terasa sakit di bahu besarnya.
Sampai papa Oscar mendengar tangisan kecil dari bibir sang anak.
"Hiks!! " tangis yang sedari tadi Anya tahan.
"Kenapa? cemburu hm? " tanya papa Oscar mudah menebak situasi, tapi sayangnya tak ada jawaban dari putri satu-satunya itu. " cemburu boleh, tapi berlebihan tak baik!!! secara tak sengaja itu akan menambah rasa sakit kedua belah pikah, apa lagi pihak yang cemburu sepertimu!!! jangan lama-lama nangisnya oke! " ucapnya lagi memberikan nasihat pada putrinya, yang sekarang di jawab anggukan kepala dari putrinya.
Tak butuh lama menunggu, papa Oscar bisa melihat dari dalam mobil kalau Len menghampiri mereka dengan sedikit tergesa-gesa.
"Begitulah wanita, terlalu rumit dan merepotkan! tapi konyolnya masih saja begitu mencintainya!! jadi berkaca saat melihat percintaan mereka!!! " batin papa Oscar setelah melihat wajah resah calon menantunya.
Ceklek..
Bukannya membuka pintu kemudi, Len malah memilih membuka pintu di mana papa Oscar dan Anya duduk, dan berjongkok untuk mengajarkan wajahnya pada Anya yang kebetulan menatap arah luar mobil.
"Hey!! baby, apa salahku? kenapa marah juga padaku!! aku tak melakukan apapun!! " ucap Len tak di hiraukan Anya, memilih memejamkan matanya.
"Selain merepotkan, cinta itu buta! buta keadaan, buta tempat, buta segalanya!!! ck, apa mereka tak memiliki kan aku yang ada di sini sedikitpun??? " batin papa Oscar kesal. " kita bicarakan di rumah saja, atau di dalam mobil, tak enak di lihat orang! " ucap papa Oscar yang memang selalu di pandangi orang yang berlalu lalang.
"Pa!! " protes Len untuk pertama kalinya.
"Kau tak lihat sekitarmu ha? " tanya papa Oscar yang semakin kesal. "Selain buta , juga membuat tak tau malu!!! " ucapnya lagi membatin menambah list kejelekan sebuah cinta.
"Anya duduk di kemudi bersamaku ya! " ucap Len terdengar meminta persetujuan.
"Tidak!! bagaimana bisa kau menyetir dengan memangku nya! kau ingin membunuh kami!! setir mobilnya dan pulang! " perintah papa Oscar dengan tegas yang menurutnya sudah berlebihan. "Dan selain tak tau malu, cinta membuatmu menjadi bodoh!! sangat bodoh!!! " lagi, paap Oscar menambah listnya.
Yang mau tak mau Len menutup pintu yang sempat ia buka tadi, dan berjalan ke arah berlawanan menuju kursi kemudi, saat sudah berada di kursi kemudi, bukannya menjalankan mobilnya ia malah mengelus elus pelan punggung calon istrinya itu.
Plak..
__ADS_1
Papa Oscar menggeplak tangan Len lebih dulu sebelum Len membuka suaranya.
"Jalan!!! " perintah papa Oscar dengan tegas.
Lagi-lagi dengan keterpaksaan Len menjalankan mobil yang ia kemudikan dengan sesekali membahas masalah kemarahan Anya padanya.
"Baby!! maaf kalau aku salah, tapi katakan apa salahku? " tanya Len lagi tak menyerah sebelum tau akar permasalahannya.
"Kau benar-benar tak tau?? " Anya kembali bertanya karena tak tahan dengan pertanyaan yang di lontarkan Len sedari tadi. " Kau bahagian di pandangi dokter centil itu kan?? aku melihat senyummu tadi!! kau tak bisa bohong denganku!! hiks!!! " kesal Anya menatap nyalanng pria yang akan jadi suaminya itu.
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini!!! Tuhan, hilangkan aku dari situasi ini!!! " batin papa Oscar merasa tak nyaman berada di tengah-tengah pertengkaran sang anak.
"Aku tersenyum karena melihatmu cemburu baby!! untuk pertama kalinya aku melihatmu cemburu seperti tadi! aku tersenyum untuk itu,bukan untuknya yanga bahkan aku tak peduli dengan keberadaannya! ini hanya salah paham oke! jangan marah lagi, dan lukamu harus mau di obati setelah ini! " jelas Len.
"Bagaimana aku percaya kata-katamu? bisa saja kau bohong! " ucap Anya sekenanya saat tau kesalahpahaman yang ia buat.
"Dari sini! " ucap Len menunjuk pada dadanya sendiri. " caranya dari sini, tanamkan kepercayaan dari sini! bukankah kita akan menikah lalu berkomitmen, dan kepercayaan adalah pondasi utama sebuah hubungan, semakin kamu percaya semakin juga pondasi itu akan kokoh!! jadi tanamkan sebanyak-banyaknya kepercayaan pada diri kamu! " ucap Len menjelaskan lagi.
"Ya, aku akan membuatmu percaya lagi padaku, sepenuhnya bahkan jauh lebih banyak! " ucap Len memberikan pengertian.
"Rumit bukan?? salah sendiri berkomintem dengan anak kecil, apa lagi tak memiliki pengalaman sama sekali, kesabaranmu akan terkuras habis setelah ini!!! " ucap papa Oscar yang hanya bisa membatin sedari tadi, mencibir percintaan dua sejoli dengan umur yang terpaut cukup jauh.
"Aku akan mencobanya! " ucap Anya mencoba mengakhiri pertengkaran mereka, yang di angguki pelan Len dengan mengelus pipi cubi Anya sebelum kembali memfokuskan padangannya ke arah depan.
Dan itu adalah percakapan terakhir mereka bertiga, setelah wanita satu-satunya yang biasanya begitu cerewet itu tiba-tiba tidur di pangkuan papa Oscar, sedangkan dua pria dewasa itu tak ada yang berucap sedikitpun di rasa memang belum ada yang di bicarakan, menciptakan keheningan di dalam mobil sampai di kediaman Waber sekalipun.
Dengan cukup hati-hati papa Oscar keluar dari dalam mobil dengan masih menggendong sang anak.
Baru saja masuk sudah di hebohkan dengan teriakan mama Rosa saat melihat ke adaan anaknya, yang padahal beberapa jam yang lalu masih baik-baik saja saat mereka berpisah, tapi sekarang ia melihat anaknya dengan luka dan darah di wajahnya yang sudah mengering.
"Tuhan, kenapa ini!! " teriakan mama Rosa yang mengakibatkan terbangun nya Anya dari tidurnya tadi .
__ADS_1
"ma! " panggil Anya dengan tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
"Kenapa bisa seperti ini sayang! hiks, siapa yang melakukannya!! Apa yang sebenarnya terjadi hiks, hiks!! " tangis mama Rosa pecah saat melihat keadaan putrinya dari arah dekat.
"Ma, biarkan Anya istirahat dulu, dokter akan segera kesini setelah ini! " ucap papa Oscar pada istri tercintanya.
" Ya, cepat bawa masuk! " kata mama Rosa bersamaan mengelap air matanya.
"Ayo sayang! " Ajak mama Rosa pada calon menantunya yang hanya diam di tempat. " kau tak apa kan? " tanyanya dengan begitu perhatian pada anggota keluarga barunya.
"Tak apa ma!! " jawab Len tersenyum kecil.
Di sela-sela langkah mereka menuju kamar milik Anya, tiba-tiba langkah mereka di hentikan oleh panggilan Dante yang masih memakai seragam sekolahnya.
"Mom! " panggil Dante yang terlihat khawatir sama seperti grandma nya.
"Mommy tak apa sayang! " bukan Anya tapi mama Rosa menjawab kekhawatiran cucunya, dan menggandeng nya untuk mengikuti langkah papa Oscar yang berada paling depan. " mommy hanya sakit sedikit, kita bantu menjaganya ya! " ucapnya lagi agar Dante tak khawatir walau dirinya sendiri juga begitu sangat khawatir.
Len kembali mendapatkan kebahagiaan saat melihat interaksi barusan, keluarga ini benar-benar memberikan aura positif padanya, memberikan banyak kebahagiaan yang tanpa mereka sadari.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1