Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Pergi untuk kembali


__ADS_3

Sudah dua hari lamanya mama Rosa dan papa Oscar tinggal di kediaman Len, banyak hal yang mereka lakukan dengan Len yang sengaja meliburkan diri dan ikut merasakan kebahagiaan keluarga utuh dua hari ini.


Bahkan mereka bahu-membahu mengatasi masalah di diri Dante, mencoba menumbuhkan kepercayaan diri Dante yang mereka selalu selipkan di setiap kegiatan mereka. Mesti terkesan singkat, tapi tidak bisa di pungkiri perubahan di diri Dante memang sudah terlihat.


Pada siang ini mereka harus terpisah sementara lagi dengan papa Oscar dan mama Rosa, walau sempat di warnai penolakan oleh Dante tak bisa merubah ke adaan sekarang.


Pria kecil itu tak mau berpisah dari grandma yang selalu menyayanginya, tapi yang beda tak ada Dante yang cengeng sekarang, pria kecil itu ingat pesan grandpa nya bahwa pria harus kuat untuk menjaga orang yang di sayanginya, pria tidak boleh menangis karena itu akan menunjukkan dia pria yang lemah, dan pria yang lemah akan kalah dengan pria yang kuat, jika itu terjadi dia akan kehilangan orang yang ia sayangi.


Kata-kata itu selalu terngiang di kepala kecilnya, ia berfikir dulu jika dia terus bersikap seperti anak kecil kasih sayang papa dan nyanya akan terus tertuju padanya, dan ternyata pikiran itu terpatahkan dengan kata-kata papa Oscar, Dante tak ingin kehilangan orang yang ia sayangi dengan pikiran kekanak-kekanakannya.


Sedangkan papa Oscar menyadari ada sisi dewasa yang Dante sembunyikan, karena beberapa kali tanpa sengaja pria kecil itu tunjukkan, dengan sengaja mengatakan hal itu memulai menjadi dirinya sendiri.


Dan benar, pria kecil itu tak menangis walau ada raut kesedihan di dalamnya, penolakan untuk di tinggalkan pun hanya sebentar karena perkataan papa Oscar, pria paruh baya itu berjongkok sedikit untuk menjajarkan tingginya dan tinggi Dante.


"Di sana grandma ada banyak masalah! bukankah masalah harus cepat di atasi? " tanya papa Oscar yang di angguki dante. "Di sana banyak orang yang bekerja untuk keluarganya seperti papamu, membahagiakan keluarganya dari uang bekerjanya, dan memberikan makan enak seperti Dante dengan uang bekerjanya! Grandpa dan grandma pergi untuk kepentingan banyak orang di sana! Dante mengerti sekarang? " kata papa Oscar dengan tegas.


"Ya! kalian pergi untuk sementara juga kan! " kata Dante sambil menyemangati dirinya sendiri.


"Tentu saja, karena rumah grandpa dan grandma ada di sini! " kata mama Rosa menimpali.


"Kau harus jadi anak yang baik, dan menjadi dirimu sendiri! " kata papa Oscar lagi, yang tentunya di angguki setuju oleh Dante, dan beralih pada putri semata wayangnya. " Jaga dirimu baik-baik saat papa tidak ada! " kata papa Oscar sambil memeluk sang anak.


"Tentu pa!" jawab Anya dan tak lama melepaskan pelukan mereka.


"Mama sayang Anya! " kata mama Rosa yang bergantian memeluk Anya.


"Tolong jaga putriku satu -satunya, kejarlah dengan cara yang sehat! dan ajari pria kecil kesayangan istriku ini jadi pria yang sebenarnya!! aku tau dia akan mewarisi bakatmu. " kata papa Oscar menyendiri di akhir. "Bakat kejam! " lanjut papa Oscar dalam hati.


"Tanpa di minta saya akan melakukan apa yang ada katakan! " kata Len yang menyakinkan.

__ADS_1


Tak ada acara peluk memeluk Len dengan papa Oscar, pria-pria perkasa itu terlalu gengsi untuk melakukannya, dan tak mungkin mama Rosa memeluk Len yang menimbulkan kecemburuan papa Oscar nanti, walaupun pada sang mantu sekalipun.


Mama Rosa menciumi seluruh wajah Dante sebelum mereka benar-benar pergi, terlalu berat untuk mama Rosa meninggalkan anak dan cucunya, tapi tidak dengan papa Oscar, karena ia merasa pria kecil itu selalu memonopoli istrinya, hingga fokus sang istri terbagi.


"Ayo berangkat! " kata papa Oscar karena mama Rosa tak kunjung bergerak.


"Mama di sini saja ya pa! " kata mama Rosa dengan memohon.


"Tidak bisa! " tolak papa Oscar dengan cepat, membuat mama lemas seketika.


Dengan malas wanita paruh baya itu mengikuti langkah sang suami yang masuk ke mobil dan meninggalkan kediaman Becker.


Dante terus memandang mobil yang di tumpangi grandma dan grandpa nya sampai tak terlihat, dan tetap berdiri di sana.


"Ayo masuk sayang! " kata anya melihat Dante tak kunjung beranjak, Anya tau kesedihan Dante tapi bukan berarti harus terus berdiri di sana.


"Apa di sana grandma akan lama? " tanya dante dengan raut sedihnya dan mencoba tak menangis.


"Tidak akan lama kalau masalahnya cepat terselesaikan! jadi Dante doakan pekerjaan grandpa cepat selesai agar cepat bertemu grandma lagi! " kata Anya sambil berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu. "Dante sedih? " tanya Anya melihat mata Dante yang memerah.


Tak ada jawaban pria kecil itu, ia sedang mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh, yang akan memperlihatkan kelemahannya.


"Sini sama nyanya! " kata Anya yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Dante, sedangkan Len memang bingung menyikapi tingkah anaknya. " kenapa di tahan tangisannya, hm? " tanya Anya sambil menangkup wajah Dante yang sudah ada di depannya.


"Kata grandpa pria kuat tidak boleh menangis, Dante harus kuat untuk melindungi semua orang yang Dante sayang, dante hiks, Dante tidak boleh lemah, hiks hiks Dante tidak boleh cengeng! " kata Dante sambil sesenggukan.


"Sayang! " kata anya sambil memeluk Dante yang sedang menahan tangisannya yang mulai keluar. " Kau tau, pria kuat terkadang juga menangis kok!! sekarang Dante boleh menangis, tapi tidak untuk besok! " kata Anya yang membuat tangisan Dante pecah.


"Kau memang bibit ku Dante! " batin Len dengan tersenyum kecil mendengar penuturan sang anak. " Sudah cukup! pria kuat tak selama itu menangis nya! " kata Len membuat tangisan Dante mereda, "Papa punya hadiah untuk Dante! " lanjut Len.

__ADS_1


"Hadiah apa? " tanya Dante dengan sedikit sesenggukan.


"Hadiahnya ada di lantai atas! kita sekarang ke sana! " kata Len sambil beranjak menggandeng Dante. Meninggalkan Anya yang duduk di ruang tamu.


" Nyanya ketinggalan! " kata dante menyadari tak ada Anya di sekitarnya.


"Ya Tuhan! sangking senangnya sampai lupa dengan gadisku! " kata Len spontan dan kembali ke ruang tamu.


" Gadisku apanya?? papa benar-benar suka dengan nyanya? " pikir Dante sambil menunggu papanya menjemput nyanya.


Di ruang tamu, Len masih melihat Anya yang duduk seperti terakhir ia tinggalkan, menghampiri gadisnya , tanpa permisi menarik pergelangan tangan anya untuk mengikuti langkahnya.


"Aku kira memang tidak di ajak! " sindir Anya .


"Aku lupa sangking bahagianya memberikan kejutan untuk Dante! " jawab Len.


"Belum apa-apa sudah di lupakan! " kata Anya lagi dengan jutek.


" Bukan begitu baby! ayo cepat, aku meninggalkan dante di depan lift! " kata Len.


Mereka terus berjalan dengan Len menggandeng tangan Dante sampai didepan pria kecil yang menunggunya sedari tadi, dengan bersamaan mereka bertiga menaiki lift untuk menunjukkan kejutan yang Len berikan pada sang anak.


.


.


.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


__ADS_2