
"Kau tak bisa akan!! kau tak akan bisa mengembalikan semua seperti kala, jangan belaga kau bisa melakukannya dengan begitu mudah dari mulutmu itu!! " kata mama Anne dengan menggebu-gebu kembali memotong perkataan sang anak.
"Mama, dengarkan ucapan Carl dulu... "
"Ucapan mana lagi yang harus mama dengar? mama selalu mentolerir semua kenakalan mu, karena mama tau kebutuhanmu sebagai pria dewasa, tapi bukan cara memaksa gadis baik-baik itu Carl!! " ucap mama Anne dengan emosi yang mulai mereda, " apa selama ini mama yang salah mendidik mu? mungkin aku sudah gagal menjadi seorang ibu sekarang, atau bahkan jauh sebelum ini!!! " lanjutnya menatap lantang wajah sang anak yang masih berlutut satu langkah di hadapannya.
Carl dengan cepat menggelengkan kepalanya mendengar mamanya yang menyalahkan dirinya sendiri karena perbuatannya, dengan satu langkah ke depan dengan lututnya, Carl lalu merangkul betis sang mama dengan sedikit paksaan untuk memohon ampun.
"Tidak ma! mama tak salah apapun, kau adalah seorang mama terbaik di dunia ini, semua ini karena Carl sendiri yang nakal, Carl yang salah bukan mama!! maafkan anak mama ini yang telah menyakiti hatimu!! Carl janji akan memperbaiki segalanya, dan bertanggung jawab penuh akan kebahagiaan Senta nanti, aku tak akan melukainya sedikit pun ma! Carl janji tak akan membuat Senta menangis lagi ke kedepannya ma!! Carl janji!!! " ucap Carl yang masih berlutut memeluk betis mamanya.
Mama Anne yang marah dan kesal itu membungkukkan sedikit tubuhnya dan mulai memukul-mukul tubuh Carl bagian belakang.
"Dasar anak nakal, kenapa kau menyakiti gadis malang itu, kenapa kau membuatnya menderita seperti itu, kau anak nakal, bagaimana putraku bisa melakukan hal sekeji itu pada seorang perempuan!!! hiks, hiks!! kenapa nak??? " ucap mama Anne sambil terus memukuli punggung Carl, ia meluapkan semua kemarahan, kekecewaan, kekesalan hatinya yang selama beberapa hari ini hanya bisa diam dan menangis.
"Maaf ma!!! maaf!!! " ucap Carl terus meminta maaf dan terus diam menerima hukuman sang mama.
Menurut Carl hal ini jauh lebih baik dari pada mamanya yang hanya diam, karena ia sangat yakin peluang mendapatkan maaf sangat besar setelah mamanya melampiaskan kemarahannya.
Setelah puas memukuli sang anak, mama Anne kembali menangis dalam diam, membiarkan sang anak berlutut di kakinya, ia sangat sadar sepenuhnya kalau semua yang terjadi sekarang tak akan bisa di kembalikan seperti semula, dan pada akhirnya hanya bisa menangis sembari mendoakan yang terbaik untuk sang anak.
Semarah-marahnya seorang ibu pada anaknya, ia tak akan pernah tega membiarkan hal buruk terulang kembali pada sang anak, dan hal terbaik yang bisa ia lakukan hanya mendoakannya.
"Hiks, hiks!!! maafkan putra mama ini!!! " ucap Carl yang terus meminta maaf dalam tangisannya.
Mereka berdua menangis bersamaan dengan rasa sesak hati masing-masing, sampai mama Anne menyentuh pelan kepala sang anak.
__ADS_1
Hatinya merasa tak tega saat mendengar tangisan pilu seorang pria dewasa yang kekar, apalagi dengan keadaannya yang bentakan dan babak belur di wajah, mungkin juga di anggota tubuh lainnya.
"Berdiri!! " ucap mama Anne yang merasa cukup dengan pembahasan masalah putranya hari ini, sambil meredakan tangisannya, walaupun hatinya tak merasa perubahan apapun selain kecewa dan marah.
Tapi Carl malah menjawab dengan gelengan kepala dan semakin memeluk erat betis mamanya.
"Di bawah ada teman-temanmu, hari ini pesta pernikahan mu! jika kau tak ingin merayakannya, biarkan mama dan yang lainnya yang merayakan hari yang harusnya bahagia!!! " ucap mama Anne yang menohok.
Ucapan yang Carl dengar membuatnya dengan segera melepaskan pelukannya, tapi masih dengan keadaan berlutut di hadapan mamanya.
Tanpa menatap atau memberikan wejangan pada sang putra, mama Anne berjalan menuju meja rias yang terlihat masih baru untuk memperbaiki riasan dan air mata yang tersisa, bahkan sempat membuang ingus pada tisu yang tersedia.
Lalu dengan entengnya mama Anne berjalan melewati Carl yang masih berlutut menatap gerak geriknya berniat keluar dari kamar sang putra.
"Mama tak mengajakku? " tanya Carl sebelum mama Anne membuka kenop pintu, sedari tadi ia berharap mamanya membimbingnya untuk berdiri, memberikan masukan nasihat untuk hubungannya ke depan, tapi harapan tinggal lah sebuah harapan saat mamanya yang tak peduli dengan dirinya.
"Kau yang menyiapkan acara ini, kau sendiri yang merencanakan segalanya, dan kau yang punya acara, untuk apa mama mengajakmu!!! " jawab mama Anne sambil membuka pintu kamar sang anak.
Brak...
Suara bantingan pintu tertutup membuat Carl sedikit bertingkat kaget di tempat ia berdiri, lalu menatap pintu yang sudah tertutup dengan sekali helaan nafas.
"Lihatlah sayang! begitu banyak orang peduli dan sayang padamu, meski bukan orang tua yang membesarkan mu atau orang tua kandungmu sendiri, tapi sayangnya aku yang mendapatkan pelajaran bertubi-tubi dari orang-orang yang menyayangimu ini!!! " ucap Carl yang di tuju pada Senta meski ia bicara sendiri saat ini. " Aku sangat mencintaimu!! " ucapnya di akhir sebelum masuk ke dalam kamar mandi miliknya, untuk membersihkan tubuh yang sudah tak beraturan bentuknya.
Sedangkan di bawah, semua orang bersantai dan bercanda gurau sembari menunggu mempelai pria yang akan menjadi pemeran utama di pesta kecil yang akan berlangsung.
__ADS_1
Dengan Senta lebih sibuk dengan Mark setelah kedatangan mama Anne, karena papa bucinnya sudah dihadapkan oleh sang pasangan , duduk bersanding mesra tak yang tak mau kalah dengan pasangan pengantin baru dan anak muda yang sedang pacaran di tempat yang sama.
Cukup mengenaskan untuk Mike yang tak punya pasangan, atau setidaknya ada teman yang bernasib sama sepertinya, siapa lagi kalau bukan pria kembar yang memang tak hadir sekarang, dan pada akhirnya ia hanya sibuk dengan ponselnya yang padahal tak ada kesibukan apapun di sana.
Sampai orang yang di tunggu-tunggu tiba juga, Carl dengan jas rapi sepasang dengan gaun pengantin rancangan mamanya sendiri, berjalan ke arah sang istri yang begitu sibuk dengan adiknya.
"Wih, sejak kapan kau punya tatto di wajah? aku kira hanya di tempat yang bisa di sembunyikan!!! " ucap Len meledek sahabatnya yang babak belur itu.
Ucapan yang di lontarkan Len membuat semua tatapan orang tertuju pada Carl yang tadinya tak begitu sadar akan kehadirannya.
Carl hanya menghela napas panjang melihat berbagai ekspresi orang saat melihat keadaannya, ada yang syok, biasa saja, dan bahkan tertawa lucu padahal tak ada yang lucu di wajah babak belurnya.
"Shut up!! sebaiknya kita mulai acaranya!! " ucap Carl dengan malas pada sang sabahat.
Dan akhirnya acara BBQ untuk merayakan pernikahan Carl di mulai juga, walaupun di lakukan di siang hari, bercanda gurau tanpa ada yang menghakimi apa yang terjadi yang mengakibatkan mereka menikah, karena wajah Carl sudah menunjukkan penghakiman yang ia dapat.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...