Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Bertengkar lagi


__ADS_3

Cukup lama mereka tertidur bertiga, tak ada yang merasa tak nyaman walau harus tidur berdesak-desakan, sampai matahari mulai menyembunyikan sinarnya pun tak ada tanda-tanda mereka bangun sedikit pun, bahkan masih dengan posisi yang sama terakhir mereka membuka mata mereka. Tapi tiba-tiba...


Gubrakkk...


Terdengar suara benda jatuh berasal dari satu-satunya wanita di sana yang ingin berpindah posisi, karena terlalu sempit membuat sang gadis harus mendarat di lantai dengan mulus tanpa hambatan.


"Aduuhhhh! " keluh Anya.


Dengan pendengaran yang sangat peka membuat len sudah pasti mendengar suara benda jauh itu, tapi ia mencari-cari suara itu berasal tak menyadari salah satu orang yang ada di sampingnya sudah berpindah tempat, sampai keluhan anya ter dengan, yang langsung membuat Len terduduk dari tidurnya tadi.


"Kamu tidak apa-apa? " pertanyaan konyol yang di tanyakan pada orang yang kesakitan.


Itu di lakukan Len yang notabennya adalah seorang Mafia sekaligus CEO yang tak di ragukan lagi kepintarannya, tapi sejatinya pria sepintar apapun akan menjadi bodoh jika virus cinta benar-benar menyerang hati dan pikirannya.


"Kau masih tanya!! udah tau kesakitan masih di tanya! " kata Anya berusaha berdiri dan menatap Dante yang tidur di samping sama seperti dirinya.


"Maaf! " kata Len mengindari kemarahan Anya.


"Ck, Cepat turun dari ranjang dan pindahkan Dante ke tengah, aku tak mau Dante akan bernasib sama sepertiku jika terus tidur dengan mu! " kata Anya dengan sewot.


Tanpa membantah Len turun dari ranjang sang anak yang masih betah dengan tidurnya, memindahkan ke tengah ranjang seperti yang Anya perintahkan.


"Semua gara-gara kamu!! sudah tau badan sebesar itu, masih aja tidur telentang!! Tidurnya di tengah lagi!! mana kasurnya sempit!! huh!! " keluh Anya sambil memunguti dia guling yang berjatuhan di lantai, tanpa berani Len menjawab.


Menaruhnya di setiap sisi samping Dante untuk pembatas kalau-kalau pria kecil itu tidur terlalu di pinggir, meminimalisir kejadian ia terjatuh tak terulang kembali.


Kemudian berjongkok di samping kasih, menjajarkan wajahnya dengan wajah Dante di ikuti Len yang ada di sampingnya persis.


"Bulu matanya panjang! " kata Anya tersenyum memperhatikan tidur Dante yang menggemaskan.


"Itu turunan ku! " bangga Len.


"cih!! asal tidak sifatnya saja yang menurun! " cibir Anya.

__ADS_1


"Kalau tidak menurun padaku, pada siapa? Mamanya?? aku malah tidak setuju jika menurun padanya!! " kata Len yang membuat Anya terdiam.


Anya di ingatkan kembali dengan wanita jahat itu, bagaimanapun juga wanita itu adalah ibu kandung Dante, yang nantinya Len akan terus berhubungan dengan wanita jahat itu karena ada Dante di antara mereka.


Pikirannya juga di ingatkan dengan niat Len yang akan menikahinya, sanggupkah ia menjalani bahtera rumah tangga dengan cinta pertama Len yang selalu ada di sekitar mereka, apalagi dengan kelicikan wanita itu.


Hidupnya tidak akan tenang nantinya, Anya mulai bimbang yang condong menolak, ia tipe orang yang lebih menghindari masalah, apa lagi mencari masalah dengan orang lain.


"Baby!!! hey!! kenapa diam?? Kata-kata ku ada yang menyinggung mu baby? " tanya Len hati-hati, membuyarkan lamunan Anya.


"Tidak!! Apa paman masih berniat menikahi ku? " tanya Anya tiba -tiba.


"Tentu saja akan menikahimu! " kata Len dengan semangat.


"Lebih baik pikirkan kembali! " kata Anya dengan tegas, membuat semangat Len luntur, yang secara tak langsung Anya sudah menolak niatnya untuk menikahinya.


"Kenapa? " jawab Len tanpa ekspresi.


"Kenapa harus menyesal? " tekan Len yang tak berani meninggikan suaranya.


Len sadar ada di mana sekarang, berdiri dari jongkok nya dan menarik pergelangan Anya untuk mengikuti langkahnya.


"Mau ke mana? " tanya Anya yang sudah di luar kamar Dante.


"Ke kamarku! " jawab singkat Len sambil menutup kembali pintu kamar Dante.


"Bicara di luar saja! aku tidak mau di kamarmu! " kata Anya tak setuju.


Tak ada jawaban dari Len yang malah menarik pergelangan tangan Anya agar terus mengikutinya menuju kamarnya.


Tak membiarkan itu terjadi, Anya memberontak sekuat tenaga tanpa mempedulikan sakit di pergelangan tangannya, dan Len juga tak membiarkan Anya lepas darinya, menariknya cukup keras di akhir dengan memasukkan Anya ke dalam kamarnya, yang tak lupa mengunci pintu kamarnya.


"Kenapa harus menyesal? " tekan Len menahan amarahnya yang akan meledak. "Kenapa kau suka membuatku marah! " kata Len sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Karena kau pemarah! " berani jawab anya.


"Apa kau sudah tak mencintaiku lagi!! kau menolak ku dengan tak jelas seperti ini! katakan!!!!!! " teriak Len di akhir, menatap tajam wanita di depannya.


"Ya! " jawab Anya tanpa ragu tapi tak berani menatap wajah Len. "Tuhan!! kuatkan aku!! " batin Anya yang merasakan sesak di dadanya, ia begitu mencintai pria di depannya tapi dengan munafiknya ia mengatakan tidak saat ini.


"Katakan dengan benar, dan tatap mataku! " kata Len yang tidak bisa Anya lakukan. " kau tak bisa bukan! Kau mengatakan tak mencintaiku tapi kau begitu perhatian padaku, kau mengatakan tak mencintaiku tapi kau diam-diam memperhatikanku, kau bilang tak mencintaiku tapi kau khawatir saat aku sedih, kau mengatakan tak mencintaiku tapi kau tak berani menatap Mataku!!! Marah Len menggebu-gebu.


Dengan Anya yang menunduk menahan rasa sesak dan menahan tangisannya walau air mata terus meluncur tanpa di minta yang sesekali ia hapus dengan kasar.


"Kenapa menangis?? bukankah kau tak mencintaiku!!! Katakan sebenarnya apa yang membuatmu ragu!! jangan di pendam, dan berasumsi sendiri!! itu sama sekali tidak benar!! katakan apa yang masih membuatmu ragu!!! kau tahu aku sangat-sangat mencintaimu! " lanjut Len.


Cukup lama Len menunggu tapi tak kunjung mendapatkan jawaban dari Anya, yang membuat kesabarannya yang tipis itu hilang seketika.


"Kau masih tak mau mengatakannya?? Apa kau tau, hatiku sakit saat mendengar keraguan di bibirmu, hatiku sangat sakit Anya!!!!!!! " teriak Len dengan mata memerah nya.


"Karena cinta pertamamu!! ya, karena dia hiks.. " kata Anya sambil mengelap air mata dan menahan tangisannya. " Bukankah dia akan selalu ada di sekitar rumah tangga kita karena dia ibu kandung Dante, kita akan selalu terhubung karena putranya ada bersama kita!! Aku tau kelicikan wanita itu apa lagi dia tidak menyukaiku saat pertama kali bertemu!!! hikks.. aku tak mau di tinggalkan lagi nantinya hiks.. hikss... aku tak mau menanggung rasa sakit itu sendiri!!! hiksss.. aku tak mau itu terjadi lagi...!!! hiks.. hiks.. bahkan aku akan memilih tak akan menikah seumur hidupku jika harus merasakan sakit seperti dulu lagi!! huhuhhuhhuhhhuuuuu" akhirnya tangisan anya pecah.


Pletak...


Suara sentilan pelan di mulut Anya yang tiba-tiba membuat pemilik bibir kaget sampai menghentikan tangisannya, dan sebuah badan besar memeluknya dengan begitu erat.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2