Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Semakin Rumit


__ADS_3

Tak lama setelah Anya duduk di bangkunya, masuklah Berta, membungkukkan badannya menghadap guru tanda hormat, lalu duduk di bangkunya sambil melihat Anya penuh arti.


Anya yang melihat hanya tersenyum manis, lalu kembali fokus pada mata pelajarannya.


"are you oke? " tanya berbisik Rica, yang menyadari tatapan Berta tak biasa pada temannya itu. Hanya di jawab anggukan kepala dari Anya, yang memilih fokus pada pelajaran yang berlangsung.


Setelah menghabiskan 4 jam pembelajaran dengan 2 mabel, tiba saatnya bel panjang berbunyi menandakan pembelajaran hari ini berakhir. Setiap siswa siswi membereskan buku mereka masing masing untuk meninggalkan kelas dan sekolahan.


Anya berjalan beriringan dengan senta dan Rica menuju gerbang sekolah, tapi jalan mereka terhenti saat Berta menghadang jalannya.


"Tunggu hari esok! " kata Berta ambigu sambil menunjuk Anya dan berlalu pergi.


Membuat ketiga gadis bersahabat itu bingung. "Kenapa anak itu? " kata Senta bingung pada kedua sahabatnya.


"Apa karena kejadian di kamar mandi tadi! " Gumam Anya yang masih bisa terdengar oleh kedua sahabatnya.


"Kenapa? Ada apa? kamu di apain sama wanita gila itu? " tanya Rica, dijawab gelengan kepala oleh Anya.


"Anya, apa yang terjadi di kamar mandi tadi, cerita ok! " kata Senta dengan lembut agar Anya mau bercerita.


"iya Anya, cerita dong. Kita kan sahabat bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu." kata Rica yang tak sabaran berujung menyanyikan bait lagu, membuat kedua sahabatnya tersenyum dibuatnya.


"ya, ya, ya. Tapi sambil jalan guys! " kata Anya.


Mereka bertiga pun berjalan sambil anya menceritakan apa yang terjadi, tak lupa rekaman suara yang Anya sengaja rekam secara diam diam saat perdebatannya dengan Berta. Anya sangat peka jika dirinya berada dalam bahaya saat itu.


Senta dan Rica takjub mendengar cerita Anya dan mendukung tindakannya itu.


"Kau hebat kawan! " kata Rica dengan menepuk pundak kanan Anya dengan bangga.


"Apapun yang terjadi, kita akan selalu mendukungmu. " kata Senta menyemangati Anya.


Mereka pun berpisah saat sudah melewati gerbang sekolah, karena jemputan mereka masing masing.


"siang pa. " sapa Anya pada papa Oscar saat sudah masuk ke dalam mobil, karena mulai hari ini papa Oscar akan mengantar jemput putrinya itu, hingga keadaan di rasa kondusif. entah kurang kondusif karena pria asing waktu lalu atau memang papa Oscar yang terlalu posesif.

__ADS_1


"Siang sayang. " kata papa Oscar menjawab sapaan anaknya, dan melakukan mobilnya menjauh area sekolah. "Bagaimana sekolahmu hari ini? " tanya papa Oscar.


"Sangat tidak baik. " kata Anya dengan kesal, karena kembali mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami dalam satu hari ini.


"why? Apa karena papa yang dari awal sudah menghancurkan mood kamu? " tanya papa Oscar yang sangat peka akan perasaan putri kecilnya itu.


"Salah satunya. " kata Anya asal, yang tiba tiba termenung.


"Apa ada masalah serius sayang? " tanya papa Oscar, mengelus sayang kepala Anya dengan satu tangan, dan tangan satunya di gunakan untuk memegang kemudi.


"its oke, Anya masih bisa mengatasinya. " kata Anya dengan senyuman manisnya, karena ia belum mau menceritakan masalahnya.


Papa Oscar tersenyum dan memfokuskan dirinya pada laju kemudi nya. Cukup menempuh waktu setengah jam, mereka sampai di kediaman Waber. Dan melakukan rutinitasnya pada hari itu.


Malam harinya, dikamar Anya. Anya sedang memegangi ponselnya, menunggu seseorang menghubunginya, entah kenapa orang yang di tunggu tak kunjung menghubunginya.


Membuat Anya mondar mandir bingung di buatnya. "Apa Anya telpon daddy duluan ya? " tanya Anya dalam hati, dan bertanya pada dirinya sendiri. "Tapi Anya malu. " kata Anya lagi dalam hati.


Saat matanya terfokus pada ponselnya, tiba tiba ponsel Anya berdering, dan orang yang di tunggu tunggu akhirnya menelpon. Anya berjingkrak-jingkrak senang, lalu menetralkan emosinya dan kembali tenang.


"Hay baby. " kata len dari dalam telepon. "Apa kamu sudah makan baby. " dijawab anggukan kepala lucu oleh Anya.


Yang semula Anya video call sambil berdiri, tiba-tiba Anya tengkurap di ranjang dan menaruh ponselnya di depan wajahnya agak jauh. Memperlihatkan belahan gunung kenyalnya dengan satu kancing piyama yang tak sengaja terlepas. Membuat len memandang takjub keindahan ciptaan Tuhan.


Anya yang menyadari itu langsung menutup kembali kancing piyama yang terlepas. " Apa daddy melihatnya! "kata Anya bersungut-sungut melihat daddy len yang hanya diam saja.


" Tidak, daddy tidak melihat apapun selain wajah cantikmu baby. " kata Len berbohong.


Jawaban Len akhirnya membuat Anya menjadi lega. "Apa daddy sibuk, sampai tak bisa menghubungi Anya hari ini. " kata Anya protes. "Padahal Anya rindu daddy." Keceplosan Anya di akhir, Lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Hal itu membuat Len tersenyum kegirangan. "Kau merindukanku baby?? Jadi kau sudah mulai menyukaiku baby? " Tanya Len menggoda Anya, membuat pipi sang gadis bersemu merah, yang sangat ketara di layar ponsel.


Tiba tiba saat mereka asik berbicara, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Anya, di barengi suara teriakan papa Oscar, untuk membukakan pintu yang Anya kunci.


"Apa papa, aku matikan dulu daddy. " kata Anya berpamitan.

__ADS_1


"No, jangan di matikan. Aku akan menunggu baby, aku masih kangen. " kata Len yang memaksa.


"Ok, tunggu sebentar. " kata Anya tanpa pikir panjang, lalu menyembunyikan ponselnya di bawah bantal. "Ya pa, sebentar. " kata Anya berteriak pada sang papa dan beranjak membukakan pintu.


Setelah membukakan pintu, masuk lah sang papa dengan raut emosi, di ikuti mama Rosa yang terlihat panik. Membuat Anya bingung di buatnya.


"Apa yang kamu lakukan tadi di sekolah. " kata papa Oscar penuh penekan dan emosi.


"Anya tak melakukan apa pun. " Kata Anya, yang sebenarnya tau arah pembicaraan papanya, hanya saja Anya ingin melihat reaksi papa Oscar.


"Anya, jujur sama papa mama ya. " kata mama dengan nada lembut.


"Apa papa mendidik mu menjadi anak yang sesukanya menindas orang yang lemah! " kata papa Oscar dengan emosi melihat anaknya tak kunjung berbicara.


"Sabar pa. " kata mama lembut untuk meredam emosinya.


"Lihat perbuatan kamu. " kata papa Oscar menunjukan foto di ponselnya, sebuah tangan yang terlihat membiru di sana. "Pihak sekolah menelpon papa, mengadukan perbuatan kamu selama ini di sekolah, seperti ini kelakuanmu di sekolah Anya, mau jadi apa kamu ha! " kata papa Oscar yang sudah tersulut emosi, dan tak memikirkan perkataanya. "Papa kecewa sama kamu. " kata papa Oscar di akhir dengan suara bentakan menggelegar.


"Anya jauh lebih kecewa dengan papa. " kata Anya pelan, setelah mendengar penuturan papanya yang menyakiti hatinya. "Apa papa tau, apa yang Anya alami sebelum kejadian itu terjadi? " tanya Anya dengan menunjuk sebuah foto di ponsel papa Oscar, menatap nanar papanya dengan air mata yang mengalir. "Bukankah papa tau betul, seperti apa anak papa ini! Anya tidak akan memulai, kalau bukan dia yang memulai, Anya melakukan itu untuk melindungi diri Anya. " kata Anya tegas di depan papa Oscar.


Papa Oscar terdiam menyadari kesalahannya, papa Oscar melihat wajah anaknya yang di penuhi air mata, membuat perasaan bersalah sangat besar.


"Anya ma... " kata papa Oscar yang terpotong perkataan Anya.


"Anya mau sendiri dulu. papa mama bisa keluar dulu. " kata Anya dengan lembut.


"Ya sayang, tapi maafkan papa ya sayang. " kata mama lebih dulu sebelum papa Oscar berbicara, dengan mata berair nya itu. " Kita selesaikan besok ok. " kata mama menengahi pertengkaran ayah dan anak itu. Dijawab anggukan kecil Anya, dan segera menarik tangan sang suami, yang telah keterlaluan itu, dengan papa Oscar yang menunduk merasa bersalah itu.


Setelah orang tuanya pergi, Anya menutup pintu, lalu menguncinya dari dalam, merebahkan tubuhnya di ranjang, dan mulai menangis sejadi jadi, hingga iya tertidur.


Anya melupakan video call nya bersama Len, yang masih berlanjut sampai Anya tertidur. Membuat Len mendengar semua yang terjadi di kamar Anya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2