
"Emmmm...!! " gumam Len sambil berfikir sok keras. " Lets go!!!!! " jawab Len yang berlari lebih dulu menuju lift.
"Tunggu!!!!!! " kejar Dante yang ikut berlari mengejar papanya.
Anya hanya menggeleng-geleng melihat tingkah pria kejam itu yang berubah kekanak-kanakan, tak ada niat sedikitpun Anya untuk mengejar mereka yang lebih memilih membereskan piring-piring bekas yang masih tertinggal di meja.
Dengan telaten ia membereskan satu persatu dan membawanya ke dapur, yang malah tak sengaja berpas-pasan dengan pak Pet.
"Saya bantu nona. " tawar pak Pet.
"Tidak perlu, tolong buatkan saja coklat panas 3 dan 1 toples cookies, dan bawa ke atas!! kami akan nonton setelah ini! " Anya meminta tolong.
"Baik nona! " dengan senang hati pak Pet menjalankan perintah nona nya.
"Anya ke atas dulu pak, takutnya mereka menunggu! " pamit Anya yang sudah menyelesaikan bersih-bersihnya.
"Baik nona. " jawab pak Pet sedikit menundukkan kepala tanda hormatnya.
Dan benar saja, Anya bisa melihat dari kejauhan, ayah dan anak itu sedang menunggunya di depan lift dengan bersedekah dada, dengan tatapan mengintimidasi nya.
"Kalian benar-benar ayah dan anak! " pikir Anya melihat kekompakan mereka, dan wajah yang begitu mirip dengan mata tajam keduanya. "Ayo kita nonton! " ajak Anya sambil menggandeng tangan keduanya masuk ke dalam lift.
"Kenapa lama? " tanya Len dengan tatapan sama seperti tadi.
"Aku masih harus membereskan piring kotor kalian tadi!! sama nyuruh pak Pet buatkan coklat panas untuk kita nonton. " kata Anya dengan santai seolah tak terpengaruh dengan tatapan tajam mereka.
Tapi tatapan tajam mereka tak berlangsung lama setelah mendengar perkataan anya dengan raut wajah berbeda tentunya.
"Coklat panas!!! " pekik Dante senang.
"Kenapa tak bilang, aku bisa membantu kan? " kata Len yang berubah melembutkan.
"Iya coklat panas! " kata Anya mengelus kepala Dante dan menatap pria berbadan besar ke arah berlawanan. " Kau tadi lari, gimana ngomongnya! aneh!! " kata Anya sambil tertawa lucu.
Mendengar itu Len hanya bisa mengga garuk tengkuknya yang tidak gatal, menyadari tingkah absurtnya tadi.
"Papa kekanak-kanakan tadi! " kata Dante yang malah membuat Len malu di buatnya.
"Kau ikut-ikut papa tadi, kau juga kekanak-kanakan seperti papa! " kata Len membuat pembelaan.
"Wajar dong!!! " skak Dante pada sang papa.
"Mau nonton atau berantem, kalau mau berantem silahkan! anya mau nonton sendiri saja! " kata anya yang gerah mendengar perdebatan ayah dan anak itu, yang bertepatan dengan lift yang terbuka, anya berjalan mendahului dua manusia yang sempat bertengkar di lift, bahkan tak menoleh saat suara mereka memanggil.
__ADS_1
"Tunggu baby! " kata keceplosan len memanggil baby di depan sang anak.
"tunggu nyanya!" kata Dante hampir bersamaan dengan papanya, tapi ia mendengar perkataan papanya malah menatap sang papa dengan wajah bingung. " Baby?? menggelikan sekali! " kata Dante yang malah mencemooh papanya.
"Apa?? itu panggilan sayang papa!! " tak Terima len.
"Lebay! " singkat Dante.
"Apanya yang lebay itu tanda sayang, wajar orang dewasa membuat panggilan manis pada pasangannya, itu bukan lebay sayang! " kata Len menjelaskan.
" Ingat umur!! " kata Dante menyindir.
"Umur apa? papa tidak tua ya, papa baru 35!! papa itu pria matang, pria dewasa! bukan tua!! Pria MATANG!! " kata Len tersinggung perkataan anaknya yang menyinggung umurnya sampai menekan kata matang di akhir.
"Permisi tuan! " kata pak Pet tiba-tiba saat sudah ada di belakang ayah dan anak itu.
"Tunggu! mau kemana? " tanya Len pada pak Pet yang melupakan sesuatu.
"Nona meminta saya membawakan coklat panas ke ruang bioskop tuan! " kata pak Pet .
"Ya! " kata Len sedikit berteriak, mengingat acara menontonnya. " biar aku bawa saja! " kata Len mengambil nampan berisi coklat panas dan se toples cookies. " Ayo masuk! " ajak Len pada sang anak, tapi yang di ajak sudah pergi lebih dulu, yang membuatnya semakin jengkel di buatnya.
"Saya tuan? " tanya pak Pet di kira mengajaknya, karena hanya ada dia manusia yang berada di sekitar tuannya.
"Baik tuan! " kata Pak pet membungkuk hormat dan berlalu pergi.
Di barengi dengan len yang juga berjalan menuju bioskop pribadinya, berjalan dengan satu nampan di tangannya tak menghambat langkah cepatnya, ia buru-buru masuk karena anya yang menunggunya cukup lama saat perdebatannya dengan Dante.
Ceklek..
Suara kenop pintu yang Len buka, memperlihatkan dua manusia yang duduk manis di kursi yang begi nyaman dengan layar cukup besar di depan mereka.
"Ayo cepat, filmnya mau mulai! " kata anya yang duduk paling samping.
" Kalian tak menungguku! " kata Len dengan lesu, padahal ia berjalan cepat karena takut anya akan marah karena menunggunya, yang ternyata dia tak menunggunya sama sekali, dengan berjalan pelan ia duduk di kursi kosong sebelah anaknya.
"Kita sudah tak sabar menonton pa! " kata Dante dengan semangat.
"Ya! " jawab singkat Len dan menaruh mapan berisi pesanan anya tadi.
"Film horor?? berani sekali mereka!! " pikir Len yang ternyata mereka memilih film horor, dengan tenang mereka menikmati film di layar lebar dengan mereka.
10 Menit kemudian..
__ADS_1
"aaaaaaaaaaaaaa!!! " jerit anya
Membuat menatap sumber suara yang ada di samping sang anak. "Apa-apaan ini! " pikir Len melihat sang anak enak berpelukan dengan pujaan hatinya, dengannya yang di anggap seperti patung sedari tadi. Tak terlalu memusingkan, Len kembali fokus pada layar di depannya.
5 menit kemudian..
"aaaaaaaaaaaaaaaa!! " jerit anya yang di barengi Dante.
10 menit kemudian..
"aaaaaaaaaaaaaaa!!? " jerit mereka lagi.
"ck, berisik!! kenapa nonton kalau takut! " sebal Len sedari tadi terganggu dengan jerit takut mereka, sama seperti tanpanya yang gagah, Len tak merasa takut sedikitpun dengan film yang bahkan ia tak percaya dengan keberadaan hantu, apalagi adegan pembunuhan yang menurutnya kurang greget, yang malah terkesan membosankan baginya.
"aaaaaaaaaaaaaaaaa!! " baru saja Len membatin sudah terdengar jeritan lagi yang ia dengar.
10 menit kemudian..
"aaaaaaaaaaaa!! " jerit mereka kembali terdengar.
Hingga 20 menit kemudian tak terdengar lagi suara anya dan Dante menjerit kaget atau takut, 10 menit kemudian kembali tak ada lagi jeritan mereka, yang membuat Len bingung di buatnya, karena beberapa kali ada jump scare tapi tak ada suara jeritan dari mereka, dengan berlahan ia menengokkan kepalanya ke arah Dante dan anya berada.
"Ha??? Tidur!!! Astaga!!! " melongo Len melihat dua anak manusia yang asik tidur dengan berpelukan. " Kalian benar- benar ya!! " kata Len tak habis pikir dengan tingkah mereka berdua.
Tapi di sela-sela rasa sebalnya, ada rasa menghangat di hati kecilnya saat melihat dua anak manusia yang tidur saling berpelukan, walau tak ada darah yang mengalir di tubuh mereka tapi kasih sayang mereka begitu besar satu sama lain.
" Terima kasih untuk kasih sayangmu pada putra ku yang malang ini baby! dan terimakasih telah memaafkanku, walau tak terucap dengan lisanmu, tapi sikapmu mengatakannya dengan sendirinya! " kata Len yang menatap wajah ayu anya.
Len tanpa sadar tersenyum lebar memandangi mereka, ia berharap akan terus seperti ini sampai mau memisahkannya, kehangatan keluarga Becker kembali tumbuh dengan adanya dua malaikat kesayangan Len yang masih betah dengan tidurnya.
Tak ingin berlama-lama membiarkan mereka tidur di kursi, len mulai bergantian memindahkan anya dan Dante ke kamar masing- masing dengan anya yang terakhir.
" I love you baby! " kata len sambil mencium bibir anya dan membenahi selimut gadis yang ia sayangi sebelum kembali tidur di kamarnya sendiri.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...