
"Aku mau ini! " kata len meremas pelan gunung sinyal Anya yang tak tertutup apapun.
Anya yang juga sudah di penuhi kabut gairah Anya bisa mengangguk dengan mata sayu nya, yang sebelumnya dengan sengaja melepas kaos Len hingga mereka sama-sama bertelanjang dada.
Dengan berlahan Len melahap salah satu gunung kenyal itu dengan rakus, memainkannya seperti Len bermain dengan lidah Anya tadi.
"Sshhhhhhhhh!!!! " ******* Anya terdengar pelan tapi sangat menikmati. " Ahhhhhh!! Uu.. udah da... daddy!! " kata Anya yang di rasa cukup untuk nya.
Tanpa mendengarkan perkataan Anya, Len tetap bermain semaunya, bergantian satu persatu dengan cukup lama sampai basah dengan air liur Len.
"Aku mau ini juga! " kata Len memegang bagian inti tubuhnya. "
"Ja.. jangan! " jawab Anya yang tak mau melakukan hal lebih tanpa ada ikatan pernikahan, menghalangi tangan nakal Len yang mengusap pelan bagian intinya.
"Hanya lihat saja ya! " kata Len memohon tapi di jawab gelengan kepala Anya. " Hanya sedikit saja ya?? plisss!!! " mohon Len.
"Aku ijin papa dulu bagaimana? " tanya Anya melucu di sela-sela gairah mereka.
"Apa?? kau mau daddy di bunuh oleh papamu apa!! come on!! boleh ya!! " mohon Len.
"Hanya lihat?? " tanya Len memastikan agar tak ada tindakan lebih dari pria itu.
"Iya! " jawab Len dengan semangat melepaskan celana panjang yang di pakainya, dan kembali memperlihatkan lapisan kain penutup segitiga bermuda berwarna senada dengan bra nya.
Mengelus pelan bagian itu, yang menimbulkan ******* sang pemilik.
"Ha.. hanya melihat! " kata Anya dengan sedikit grogi.
"Iya hanya lihat! " kata Len merebahkan tubuhnya dengan kepala berhadapan dengan inti Anya.
"Ma.. mau a.. apa? " tanya Anya melihat kelakuan Len.
"Hanya melihat kan! " kata Len sambil membuka kain terakhir milik Anya dengan berlahan sampai tertanggal sepenuhnya. "Kalau seperti ini aku tidak janji baby! " batin Len menelan ludahnya melihat pemandangan indah di depannya
__ADS_1
"Ini indah sekali baby! " puji Len yang membuat Anya tersipu malu, menambah kabut gairah yang sudah merasuki Len sedari tadi, dengan berlahan dia menyentuh buah peach itu dengan berlahan.
"Stop! " cegah Anya menutupi intinya.
"Jangan di tutup! " protes Len memindahkan tangan yang menutupi buah peach nya.
Tapi berlahan kedua tangan Len mengunci kedua pangkal paha Anya, dan sedikit mendekatkan wajahnya pada buah peach nya, dan melahap buah itu dengan segera sebelum sang pemilik sebenarnya protes.
"Akkkkhhhhh!!!! " geli Anya bercampur kaget membuatnya mencoba menahan kepala Len yang begitu dekat dengan intinya. " Ahhhhhh!! sssssttoooopp da.. dad!! " desah Anya yang tek terhindarkan karen kelakuan pria nya di bawah.
Len terlihat asik menikmati mainan barunya, tanpa mempedulikan pemilik tubuh yang bergerak tak karuan karena ulahnya, melahap nya tek tersisa seolah tak ada lagi hari esok.
"Sssttop!! Aku mau pipis!! ahhh!! A.. aku bilang stop! " kata Anya yang merasakan ada sesuatu dari intinya yang akan keluar.
Len yang lebih berpengalaman akan hal itu, malah semakin gila mempermainkan inti Anya, sampai suara erangan panjang bersamaan cairan manis keluar dari inti yang ia sesap sedari tadi.
"Aahhhhhhn!! " lega Anya dengan nafas naik turun dan badan yang sedikit melemas.
"Enak? " tanya Len yang selesai dengan kegiatannya, hanya ada jawaban anggukan dari wanita yang terkulai lemas itu, karena itu adalah pelepasan pertama untuk Anya.
Memeluk tubuh polos Anya dari bawah selimut sambil menatap wajah lelah Anya dengan beberapa butiran keringat di dahinya.
"Cepek hm? " tanya Len yang lagi-lagi tak ada jawaban dari Anya, hanya isyarat tubuh yang mengatakan ia lelah. "Tidur ya!! daddy temani malam ini!! daddy janji tidak akan berbuat jauh! " kata Len yang hanya di angguki Anya.
Sebenarnya ada sesuatu yang belum Len tuntaskan, yaitu si boy yang belum tidur setelah kegiatannya tadi, Len tak ingin memaksakan keinginannya untuk membantunya menuntaskan hasratnya atau nanti malah akan membuat Anya takut padanya. Len lebih memilih menahannya untuk sekarang, walau si boy masih tegak berdiri, yang berujung pening di kepala.
Tak lama Len mendengar suara dengkuran halus dari Anya yang menandakan ia sudah tertidur pulas.
"Lelah sekali hm?? sampai begitu cepat tidurnya!! bahkan tak peduli dengan keadaanmu sekarang baby! "
Cup...
Satu kecupan mendarat di bibir kecil Anya yang sedikit terbuka, sebelum Len beranjak ke kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang tidak bisa membuatnya tertidur sedari tadi.
__ADS_1
Selama 10 menit Len berada di kamar mandi, akhirnya pria itu keluar dengan wajah yang lebih segar, dengan bertelanjang dada Len berjalan ke ruang ganti Anya, mencari baju yang sekiranya mudah untuk ia pakaikan.
Tak butuh waktu lama Len mendapatkan piyama yang mudah untuk len pakaikan, Menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polos Anya, yang malah membuat Len melotot menatap pemandangan indah itu kembali.
"Jangan lagi!! " batin Len bicara pada si boy untuk tidak berdiri dengan tegak kembali.
Tapi kata-katanya tak singkron dengan tubuhnya, dengan mata menatap buat peach yang seolah melambai-lambai ingin di sentuh olehnya.
"Aku akui kau manis!! tapi tidak untuk sekarang! " kata Len pelan pada buah Peach yang sedikit memerah karena ulahnya.
Tapi sekali lagi buah peach itu membuat Len tergoda, dengan berlahan kembali menyentuhnya dengan jari-jarinya.
"Tidak!! tidak!! " batin Len menarik kembali tangannya yang menyentuh benda lembut itu. " Tolong jangan menggodaku oke! " kata Len seperti orang bodoh yang berbicara pada benda yang bahkan tak bergerak atau pun bicara.
Len berlahan mendudukkan tubuh Anya untuk memakaikan baju yang ia ambil tadi, dengan hati-hati Len memakaikannya agar tak menganggu tidur gadisnya.
"Huuuufftttt! " lega Len yang berhasil menutupi sesuatu yang harusnya di tutupi.
Walau tanpa pelindung di gunung tak berapi dan buah peach setidaknya bisa tertutup dari mata keranjang Len, otak mesum Len, dan iman len setipis tisu yang di bagi sepuluh .
Len kembali merebahkan tubuhnya di samping Anya dengan selimut yang menutupi tubuh mereka, sembari memeluk tubuh Anya yang malah tak sengaja menyentuh gunung tak berapi Anya.
"****!! " batin Len kesal dengan otak mesumnya, memilih menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari tubuh Anya, tanpa ada acara peluk memeluk. " Kau tidur sekarang sialan!! tanganku pegal menidurkan mulai tadi!! " batin Len berbicara dengan si boy sang mulai berdiri lagi.
Tanpa menghiraukan si boy yang on kembali, Len memejamkan matanya mengikuti Anya yang tertidur pulas di sampingnya, sampai kesadarannya menghilang dan benar -benar tertidur.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...