Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Di siang yang cukup terik, CEO perusahaan Bruno company di cemaskan dengan keadaan sang sekertaris yang tak bisa di hubungi dari kemarin , setelah di utus pergi ke perusahaan Becker company. Dengan harapan rencana kemarin berhasil.


Ditengah kecemasan nya, tiba tiba ada suara ketukan pintu dari ruangan Bruno. Yang ternyata seorang OB mengantarkan paket berukuran sedang, dengan pengirim bernama Backer Company, yang tak lain adalah Len sendiri.


Bruno menerima paket sang cukup berat itu terheran heran. "Apa Celia melayani dengan puas? hadiah macam apa! ". kata Bruno sedikit ragu dengan hadiah yang di bungkus sangat manis. apa lagi dengan sifat pria kejam itu, yang tiba tiba mengirimkan hadiah.


Dengan ragu Bruno mulai membuka kotak ukuran sedang itu. Bruno berteriak dengan keras setelah melihat isi hadiah itu, yang ternyata berisi kepala Celia beserta kedua bola matanya terlepas di tempatnya. Membuat Bruno ketakutan setengah mati. Terdapat secarik kertas yang di tulis sang pengirim, membuat bruno bergetar ketakutan. "death". isi urat yang di tulis menggunakan darah.


Di perusahaan Becker company, asisten Noberto baru selesai menerima telepon dari mata mata yang di tempatkan di perusahaan Bruno company, mengabarkan bahwa paket sudah sampai di tangan yang di tuju, membuat sang asisten tersenyum menyeringai.


" Paket sudah sampai di tujuan tuan. " Lapor sang asisten yang saat ini berdiri di hadapan tuannya, yang sedang duduk di meja kebesarannya.


"Bagus! Ke restoran A. "perintah Len dengan suara dinginnya. Setelah mendengar berita yang di tunggu, karena Len merindukan suara merdu gadis kecilnya.


Sambil berjalan menuju lantai bawah dan mobilnya di iringi sang asisten tanpa sekertaris seperti biasanya, Len selalu terpikirkan dengan wajah imut gadis kecilnya. " Hanya kamu yang membuatku seperti ini gadis kecil. " kata Len dalam hati.


Sampai di depan mobil, dengan sigap asisten Noberto membukakan pintu jok mobil belakang untuk tuannya. Dan masuk ke pintu kemudi, agar biasa menggerakkan mobil mewah berwarna hitam itu.


Di setengah perjalanan, mata Len tak sengaja melihat gadis yang dia cari sedang berdiri di depan mobil yang sedang berhenti di pinggir jalan itu. Membuat Len tersenyum kecil, lalu meminta sang asisten memberhatikan laju mobilnya.


Len turun dari mobil dengan gagahnya, menghampiri gadis kecilnya di barengi sang asisten yang ada di belakangnya, yang sepertinya mobil gadis kecilnya itu mogok.


"Ikut aku, aku mau ke restoran juga. " perintah Len pada Anya . yang membuat gadis itu menyembunyikan kedua tangannya ke belakang, saat Len akan menarik tangannya, sedikit menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Melihat itu, membuat pak buf menghadang len. "siapa anda? " kata pak buf, yang bingung dengan pria asing yang akan membawa nona nya itu.


"Tuan saya salah satu pelanggan di restoran A, dan berniat memberikan tumpangan pada nona anda. " jawab asisten Noberto mewakili tuannya, yang sedari tadi memperhatikan wajah imut Anya karena penolakannya tadi.


" Pak buf tidak apa apa di tinggal sendirian? Anya telat cukup lama ke restoran. "kata Anya yang tergiur dengan tumpangan orang dewasa di depannya, meskipun ada rasa sedikit takut. " salah sendiri, papa gak angkat telpon Anya. " kata Anya dalam hari, karena memang sang papa tak kunjung mengangkat telponnya. Dan hanya di jawab anggukan ragu dari pak buf.


Membuat Anya tersenyum. "ayo daddy. " kata Anya pada Len tanpa dosa, membuat ketiga orang yang mendengarnya terbentang dengan panggilan yang Anya berikan. Anya tak peduli dengan ekspresi ketiga pria itu, dan berjalan lebih duru menuju mobil mewah milik Len.


Len mengikuti langkah gadi kecilnya, dan membukakan pintu untuk Anya. "kau sekolah di mana gadis kecil? " tanya Len, saat mobil ditumpangi mereka baru melaju.


Yang awalnya hanya melihat pemandangan diluar mobil, membuat Anya menoleh ke sumber suara tersebut. "Tunas bangsa." jawab anya. " Anya sudah 17 tahun, Anya bukan gadis kecil daddy. "jawab Anya lagi,sedikit kesal pada pria di sampingnya itu.


" aku bukan daddy mu, aku tidak setua itu baby." kata Len.


"Wa....," kata Anya terhenti karena tak boleh sembarangan menyebut marganya pada orang asin. "Anya tak memiliki marga daddy. " kilah Anya yang hampir keceplosan dengan wajah imutnya itu. seolah tak takut bahaya bersama pria asing.


Len semakin yakin dari jawaban Anya,yang terkesan menutupi kalau gadis kecilnya bukan dari keluarga biasa. Tapi melihat wajah menggemaskan Anya, membuat Len menarik tubuh kecil itu ke pelukannya, dan menggigit pipi kecil Anya dengan gemas. "akkhhh." keluh Anya, merasa sedikit sakit di pipinya.


Anya memberontak di dalam pelukan len, mendorong, dan memukul dada bidang Len, yang tak berasa apa apa bagi pria kekar itu.


"Stop tuan, jangan seperti ini! " kata Anya dalam mode serius sekarang.


"Kenapa tuan baby, aku suka panggilan daddy yang kamu buat. " kata Len yang tak mau sama sekali melepaskan gadis kecil itu dalam dekapannya.

__ADS_1


Anya mendongakkan kepalanya melihat wajah tegas pria matang di depannya. dan tiba tibbbbaaaaaa. "cup." suara kecupan di bibir tebal Len bertemu dengan bibir kecil Anya. Membuat melongo asistennya yang hanya jadi penonton dari awal perjalanan.


"akkkhhhhhhh, Anya ga mau. ciuman pertama Anya! " jerit rontaan Anya lebih keras dari sebelumnya yang tidak Terima di cium pria asing di depannya. Dan tiba tiba menurunkan lekuk bibir nya pertanda akan menangis.


"cup, cup, cup. baby jangan nangis. " kata Len, menenangkan dengan super lembut. yang tau gadis kecilnya syok dengan perbuatannya.


"huhuhuhuuuhuuuu." tangis Anya pecah karena malu, malah membuat Len terkekeh kecil dengan sekap Anya.


"maaf ya, daddy gak akan ulangi lagi. " kata Len


"janji? ". tanya Anya, disela sela tangisannya.


"Ya." jawab singkat Len. "ya tidak janji. " kata Len dalam hati, melanjutkan kata katanya sendiri.


Tak berselang lama, mereka di tujuan. Dengan posisi Anya yang masih dalam pelukan daddy barunya itu, yang saling merasakan kenyamanan. saat Len akan keluar membuka pintu, dengan tiba tiba Anya memegangi tangan daddy barunya itu. " Nama daddy siapa? ". tanya Anya malu malu itu.


Len menoleh tak jadi membuka pintu. " Manfred Len Becker. " jawab Len dengan membalas genggaman tangan kecil itu. "daddy kan. " ralat Len yang menyukai panggilan barunya.


Anya tersenyum malu, dan keluar mobil beriringan dengan daddy Len, dengan di belakang di ikuti asisten Noberto, yang hanya di anggap patung oleh dua anak manusia di dedennya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2